TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 122. Satu Saja Belum Jadi.


__ADS_3

Laura dan Edward membiarkan Leo pergi. Mereka memberikan waktu kepada pemuda itu untuk menerima semua ini.


Memang tidak mudah untuk menerima semua ini, selama ini Leo tau dirinya adalah anak pemilik panti dan adik dari Laura.


Andai, Leo tau dari dulu jika dia bukan anak pemilik panti, mungkin saat ini dengan mudah ia menerima kenyataan yang ada.


“Kamu yang sabar. Biarkan Leo sendiri dulu.” Edward kembali berucap. Ia menuntun sang istri kembali ke ruang tamu.


Disana masih ada ibu Maria, namun kini telah di temani bibi Lily.


“Nak?”


“Bu?”


Laura menghambur memeluk ibu Maria. Wanita paruh baya itu pun membalas pelukan Laura.


“Nak, maaf tadi ibu sengaja mendengarkan pembicaraan kalian.” Ibu Maria mengurai pelukan, dan mengajak Laura duduk di atas sofa.


Bibi Lily dan Edward pun ikut mengambil tempat.


“Tidak apa-apa, bu. Sekarang, hanya ibu dan bibi yang kami miliki. Tidak ada hal yang harus kami sembunyikan dari kalian.”


Ibu Maria mengangguk.


“Nak, tadi ibu mendengar nama ibu kandung Leo itu Teresha Hadi. Apa wanita itu yang pernah tinggal di negara tetangga?”


“Darimana ibu tau?”


“Dua minggu lalu, ada seorang wanita datang ke sini. Ia mengaku bernama Teresha Hadi. Dan dia adalah donatur luar negeri yang selama ini membantu kita.”


Ibu Maria menghela nafasnya pelan.


“Kira-kira, sudah hampir 10 tahun.” Lanjutnya lagi.


Laura mengerenyitkan dahinya, begitu pula Edward. Terasa ada kejanggalan disini. Bagaimana bisa Teresha menjadi donatur selama itu?


Pasangan suami istri itu pun saling tatap. Berkomunikasi melalui tatapan mata.


“Bu, apa waktu dia datang kesini, sempat bertemu dengan Felisha?” Edward melontarkan sebuah pertanyaan.


“Ya nak Ed. Mereka juga sempat berbincang.”


Bibi Lily tiba-tiba teringat sesuatu.


“Tunggu, apa benar wanita itu menyukai nak Ed waktu sekolah dulu?” Bibi Lily bertanya.


“Darimana bibi tau?”


Bibi Lily menceritakan percakapannya dengan Felisha dua minggu lalu.


“Laura tau, bi. Aku tidak menyembunyikan apapun dari anak kalian.” Jawab Edward.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan mu, La?” Bibi Lily beralih ke arah Laura.


“Aku tidak apa-apa, bi. Lagipula, Ed tidak pernah mengenal wanita itu. Sekarang aku hanya berusaha melindungi apa yang menjadi milikku supaya tidak di ambil orang lain.” Ucapnya sambil menatap sang suami.


Ibu Maria tersenyum bangga pada Laura. Ternyata putri sahabatnya itu sudah cukup dewasa.


“Ibu harap, tidak ada rahasia di dalam hubungan kalian. Segala sesuatunya, kalian harus bicarakan berdua. Ingat nak, suami mu adalah kepala keluarga. Sekarang, dia lah yang harus kamu patuhi.”


Laura mengangguk.


“Bu, aku titip Leo ya. Tolong, ibu dan bibi awasi dia. Sekarang dia sedang terguncang. Aku takut dia nekat.”


“Kamu tenang saja, La. Bibi akan mengawasi Leo. Lagipula, sudah ada Bagas juga disini. Kalian jangan khawatir.”


“Iya, bi. Aku akan meminta Bagas untuk ikut memantau keadaan Leo. Bagaimana pun juga, Leo masih labil.” Edward menambahkan.


Mereka pun kembali berbincang. Hingga waktu makan siang tiba. Laura dan Edward juga Devano ikut bergabung bersama keluarga panti.


Meski dalam hati gundah, karena sang adik tidak ikut makan siang, namun ada sedikit hal yang membuat senyum mereka tetap terkembang. Melihat Devano begitu akrab dan bahagia bersama teman-temannya.


“Baby, lihat. Sepertinya kita harus membuatkan banyak adik untuk Devano. Dia sangat bahagia sekali, ada temannya.” Edward berucap sembari menunjuk Devano dengan dagunya.


“Satu saja belum jadi. Apalagi banyak?” Celetuk Laura.


“Kamu meremehkan kemampuan suamimu?”


Laura hanya menjawab dengan mengedikan bahunya.


Wanita itu harusnya sudah mendapatkan periodenya sejak dua hari lalu. Namun sampai sekarang tamu bulanan itu belum datang.


****


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Mereka bertiga juga sudah kembali dari panti sore tadi.


Kini, setelah makan malam bersama. Edward, Laura, Felisha dan nyonya Hugo, tengah berbincang di ruang keluarga, sembari menikmati teh hangat.


Laura menceritakan hal yang telah terjadi di panti hari ini, kepada mama mertuanya.


Tiba-tiba Felisha tersedak. Ia terkejut mendengar saudari iparnya mengatakan jika orang tua Leo adalah Damian dan Teresha.


“La, kamu tidak bohong kan?”


“Leo sudah melakukan tes DNA dengan pak Damian, dan hasilnya 99% cocok.”


“Tunggu, itu artinya Teresha tau jika Leo anaknya?”


“Maksudmu apa Fel?” Edward berbalik melontarkan pertanyaan.


“Bukannya Teresha menjadi donatur sudah hampir sepuluh tahun? Itu artinya, dia sudah tau anaknya ada disana. Karena itu dia menjadi donatur. Ed, La. Ini bukan suatu kebetulan, panti hanya memiliki satu orang donatur tetap dari luar negeri. Bukankah ada kejanggalan disini?”


Edward mengangguk, ia mulai menangkap apa yang saudari kembarnya ucapkan.

__ADS_1


“Ya. Itu artinya, memang wanita itu yang meletakkan Leo di depan rumahmu waktu itu, baby. Kemungkinan setelah itu, dia selalu memantau keadaan disana. Sampai panti di bangun, dia baru meninggalkan negara ini.”


“Ya, mama sependapat dengan kamu, Ed. Wanita itu tidak mungkin menjadi donatur luar negeri terlalu lama, jika memang tidak ada maksud tertentu. Dia pasti melakukan itu untuk anaknya.”


“Lalu aku harus apa, ma?” Laura meminta pendapat pada mama mertuanya.


“Sebaiknya, biarkan Leo bertemu mamanya terlebih dulu. Setelah itu, biarkan pemuda itu yang memutuskan. Bagaimana pun juga, dia berhak atas dirinya sendiri.”


Laura menganggukkan kepala kecil. Ia tidak boleh egois. Leo juga berhak hidup bersama kedua orang tuanya, jika pemuda itu menginginkannya.


“La, apa kamu pernah bertemu dengan Teresha?” Felisha penasaran.


“Pernah, mbak. Pertama kali, waktu itu saat menemani Ed ke negara tetangga. Setelah itu, kami bertemu kembali di bandara. Dan terakhir, ternyata dia bekerja dengan klien Ed, yang akan membangun rumah sakit di kota.” Jelas Laura panjang lebar.


“Lalu.. apa kamu tau, jika—.” Felisha ragu untuk bertanya. Dia takut, kakak dan iparnya bertengkar setelah ini.


“Aku tau, mbak. Wanita itu pengagum berat Ed saat sekolah dulu. Mbak mau mengatakan hal itu kan?” Laura melirik sang suami.


“Kamu tidak marah?”


Laura menggeleng.


“Ed sudah mengatakan, jika dia sama sekali tidak mengenal wanita itu. Jadi tidak ada alasan untuk aku marah.”


Felisha menghela nafasnya lega. Hal yang dia takutkan ternyata tidak terjadi.


Laura juga menceritakan tentang dirinya saat bertemu dengan Teresha terakhir kali.


Felisha dan nyonya Hugo menganga mendengar penuturan istri dari Edward itu.


“Wah, kamu benar-benar luar biasa, La. Aku mendukungmu. Berantas calon-calon ulet keket.”


Ketiga wanita yang di cintai Edward itu pun tertawa bersama. Membuat Edward ikut menyunggingkan senyumannya.


Hampir dua jam bercengkerama, akhirnya anggota keluarga Hugo, memasuki kamar mereka masing-masing.


Sebelum tidur, Edward menyempatkan diri menghubungi Bagas, memberi perintah supaya pria bertubuh tegap itu, lebih fokus memantau pergerakan Leo. Edward juga meminta, supaya Bagas mengikuti dari jauh setiap Leo keluar dari panti. Meski untuk bersekolah.


“Ayo.” Edward menghampiri sang istri yang tengah bersolek di depan meja rias. Pria itu meraih jemari Laura yang baru selesai mengoles krim malam pada wajahnya.


“Kemana?” Tanya wanita muda itu.


“Membuat adik untuk Devano.”


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2