TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 140. Kami Menerima Syarat Mu.


__ADS_3

Dua hari berlalu, hari ini Damian mengajak Teresha untuk menemui putra mereka yang tinggal di panti asuhan.


Damian meminta mantan istrinya itu untuk meminta ijin pulang lebih awal dari kantornya, mengingat jarak ke panti asuhan Angel Heart dari kota memerlukan waktu tempuh selama dua jam.


Jam 3 sore, Damian sudah berada di dalam unit apartemen yang Teresha tempati. Tadinya, ayah dari Leo itu ingin menjemput Teresha ke tempatnya bekerja, namun wanita itu melarang, karena ia juga membawa mobil.


Teresha meminta Damian menunggu di apartemennya, dengan memberitahu kode pintu unit itu. Tanggal lahir Leo, yang akhirnya membuat Damian tau kapan tepatnya putra mereka lahir.


Damian menunggu sang mantan yang akan menjadi istrinya kembali di ruang tamu. Pria itu mengamati setiap penjuru apartemen itu, sangat tidak terlalu besar, karena Teresha hanya menyewa unit yang paling murah.


Hanya ada ruang tamu yang langsung berdampingan dengan dapur dan meja makan. Di unit itu juga hanya terdapat satu kamar tidur yang terletak di dekat ruang tamu.


Hampir dua puluh menit menunggu, Damian memutuskan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Melepas sejenak lelah yang merayapi raganya.


Tanpa ia kehendaki, matanya terpejam membuat jiwa terbang ke alam mimpi.


Entah berapa lama ia terpejam, hingga pria itu merasakan sebuah usapan pada lengannya yang hanya berbalut kemeja putih.


“Dam.” Samar-samar, ia mendengar suara mantan istrinya, membuat pria itu mengerejapkan mata beberapa kali, hingga terbuka sempurna.


“Ah, kamu sudah pulang?” Tanya Damian sembari menegakkan posisi duduknya.


“Ya, kamu pasti sudah lama menunggu. Hingga ketiduran begini.”


“Aku tiba jam 3 tadi.”


Teresha mengangguk. “Kamu mau meminum sesuatu? Biar aku buatkan.”


“Apa kamu punya kopi?”


“Hmm, sebentar.”


Teresha membuatkan kopi untuk Damian, setelah itu ia meminta ijin untuk membersihkan diri terlebih dulu. Ia ingin terlihat segar di mata Leo nanti.


30 menit kemudian, Teresha keluar dari kamarnya dengan menggunakan dress bermotif floral, yang hanya setinggi lututnya.


Damian yang mendengar suara langkah kaki, kemudian berdiri. Namun. Sesaat kemudian ia terpaku, melihat tampilan mantan istrinya yang terlihat cantik, meski dengan riasan yang sederhana.


“Apa aku terlihat jelek?” Tanya wanita itu di depan Damian. Ia melihat mantan suaminya yang tak berkedip menatapnya.


“Dam.” Teresha melambaikan tangannya di depan wajah Damian, membuat pria itu terlonjak.


“Ada apa, Te?”


“Apa aku terlihat jelek? Kenapa kamu menatapku begitu?”

__ADS_1


Kepala Damian menggeleng. “Kamu terlihat cantik. Karena itu aku sampai terpesona.”


Teresha berdecih. Dengan sebuah senyum yang terbit di bibirnya.


“Apa kamu sedang merayuku?”


“Untuk apa merayu? Bukannya kamu sudah setuju untuk menikah dengan ku?”


“Ya.”


Mereka pun keluar dari apartemen itu, memasuki lift, kemudian berjalan menuju mobil milik Damian.


“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Leo.” Ucap Teresha saat mobil mulai melaju.”


Damian menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak sabar bertemu dengan putranya yang sudah beberapa hari tak di lihatnya.


Hari beranjak petang, saat mobil yang di kendarai oleh Damian tiba di halaman panti asuhan.


Seperti biasa pak Toto menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Pasangan mantan suami istri itu, mengutarakan keinginan mereka untuk bertemu denga Leo.


Pak Toto mengantar tamunya ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian ibu Maria datang. Berbincang sebentar dengan kedua tamunya, ibu Maria mengijinkan mereka untuk bertemu dengan Leo.


Kini, Damian, Teresha, dan putra mereka Leo, tengah duduk di dalam ruang perpustakaan. Tempat dimana Leo sering menghabiskan waktunya. Baik sendiri, maupun saat mengajari adik-adiknya.


“Apa yang ingin kalian bicarakan?” Tanya remaja itu. Leo duduk bersandar pada sandaran kursi, dengan kedua tangan bersedekap di dada.


Wanita itu menghela nafasnya pelan, sebelum ia mulai berbicara.


“Nak, kami sudah sepakat untuk menikah kembali. Kami menerima syarat yang kamu berikan. Kami ingin menebus segala kesalahan yang telah kami lakukan kepadamu selama ini.”


Leo mencebikan bibirnya. Ia kemudian menegakkan posisi tubuhnya. Menatap bergantian kedua orang tuanya.


“Apa kalian sudah memikirkan dengan serius? Aku tidak mau kalian melakukannya karena terpaksa.” Jawab pemuda itu menganggapi ucapan ibunya.


Teresha menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Kami sudah memikirkan dengan baik, nak. Kami akan segera menikah.”


Leo mencebikan bibirnya.


“Jangan terlalu terburu-buru. Aku ingin melihat keseriusan kalian.”


“Kami tidak terburu-buru, nak. Kami sedang melakukan pendekatan.” Kali ini giliran Damian yang berbicara.


“Baguslah. Aku ingin saat kalian menikah nanti, tidak ada lagi yang terpaksa.”

__ADS_1


Damian dan Teresha mengangguk secara bersamaan. Mereka akan melakukan apapun untuk membuat Leo, bisa menerima mereka sebagai orang tua kandungnya.


****


“Mami sedang apa?” Edward datang menghampiri sang istri yang tengah berkutat dengan komputer lipatnya di ruang kerja.


Pria itu baru saja pulang kerja, namun tak mendapati sang istri yang menyambutnya seperti biasa. Ia juga tak menemukan wanita yang di cintainya itu di dalam kamar. Dan ternyata wanita hamil itu tengah sibuk di ruang kerja.


Laura mengalihkan pandangannya dari depan laptop, menatap ke arah sang suami.


“Stop!!” Satu tangan wanita itu terangkat. Mencegah Edward untuk mendekat.


“Ingat peraturan ku, pulang kerja langsung mandi, ganti baju. Baru mendekat padaku.”


Edward berdecak kesal. Ia sangat lelah seharian ini, sampai di rumah ingin langsung melepas penat dengan wanita muda itu, namun, Laura masih teringat peraturan yang ia buat.


“Apa sebentar saja tidak boleh?” Tanya pria dewasa itu, sembari menatap lekat wajah sang istri.


“No!! Sana mandi dulu. Setelah itu, sepuasnya papi bisa memeluk ku dan anakmu.”


Edward menghela nafasnya pelan. Lebih baik dia di repotkan dengan keinginan sang istri saat hamil, daripada seperti ini.


“Baiklah. Aku akan mandi. Tetapi, kamu yang harus memandikan aku, Ara.”


Deg!!


Jantung Laura tiba-tiba bergemuruh mendengar Edward kembali memanggilnya dengan nama itu.


Pria itu merotasikan tubuhnya, berjalan menuju pintu keluar.


“Lima menit dari sekarang, temui aku di kamar mandi, Ara.”


“Baiklah tuan Hugo.” Jawab Laura, yang kemudian menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia kembali teringat akan awal-awal kebersamaannya dengan sang suami.


Pria dewasa yang memperlakukannya dengan sangat baik, meski mereka baru saja saling mengenal.


“Ah, tuan Hugo. Kamu terlalu sempurna untuk aku tolak.”


Ia pun bergegas bangkit menyusul pria dewasa itu.


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2