TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 62. Masih, Tentang Felisha.


__ADS_3

“Jangan tinggalkan aku, baby.”


“Aku masih disini, Ed.” Laura mengusap kepala hingga punggung pria itu.


Ketukan terdengar dari arah pintu. Laura melepaskan dekapannya.


“Sebentar, ya. Aku ambil makanannya dulu. Aku juga lapar.”


Pria itu menganggukkan kepalanya, dan ikut turun dari tempat tidur.


“Ayo kita makan dulu.” Ucap Laura sambil mendorong troli berisi makanan.


Mereka makan dengan tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pantas saja, perut kedua manusia berbeda usia itu minta diisi.


Hampir sepuluh menit, akhirnya acara makan malam selesai. Laura membereskan piring-piring kotor dan meletakkannya kembali pada troli. Dan membawanya kedepan kamar.


“Ayo kita mandi dulu. Kamu pasti belum mandi, kan?” Laura mengulurkan tangannya kehadapan pria itu.


“Kamu mengundangku?” Edward tersenyum licik. Dan meraih tangan gadis itu.


“Hanya mandi saja, tuan Hugo.”


Setelah mandi, mereka kembali ke atas tempat tidur. Dengan posisi kesukaan Edward. Duduk bersandar di kepala ranjang, dengan mendekap tubuh sang gadis.


Pria itu hanya mengenakan bathrobe, karena ia tidak membawa baju ganti.


“Kamu mau aku melanjutkan bercerita?” Tanya Edward sambil mengusap punggung gadisnya.


“Apa kamu mengijinkan aku untuk mengetahui tentang cerita hidupmu?” Gadis itu balik bertanya.


“Tentu, baby.” Sebuah kecupan ia labuhkan di atas kepala Laura.


“Kamu tau, aku sudah mulai belajar tentang bisnis sejak papaku meninggal, itu artinya saat aku berusia 15 tahun, saat anak-anak sebaya ku sibuk bermain, aku sibuk di perusahaan.”


“Kamu tidak menolak?” Tanya Laura.


“Aku ingin, tetapi tidak bisa. Aku anak laki-laki, satu-satunya.”


Seandainya bisa, ia juga ingin merasakan masa remaja seperti yang lainnya.


“Karena kesibukanku, aku tidak ada waktu untuk bersama Felisha. Hingga saat kami berulang tahun yang ke 20 tahun, Felisha mengatakan jika dia dan David telah berpacaran.”


Flashback On


“Hai, Ed. Kamu tidak ingin memberi ku selamat?” Felisha datang menghampiri Edward yang sibuk dengan komputer lipatnya.


“Selamat ulang tahun, sayang.” Ucap Edward yang tetap fokus dengan pekerjaannya.


“Ih, bukan.” Felisha memukul bahu Edward.


Edward memicingkan matanya.


“What ?”


“I’m officially David’s girlfriend.” Ucap Felisha dengan bahagia.


Flashback off.


“Hari itu, untuk pertama kali aku melihat kebahagiaan di wajah Felisha setelah papa meninggal. Jadi aku juga ikut bahagia untuk mereka.”


Tangan Laura terulur mengusap pipi basah pria itu. Ini juga untuk pertama kalinya ia melihat Edward menangis.


“Apa aku lemah, baby?” Edward menatap mata gadis itu dengan matanya yang masih berair.


Laura menggelengkan kepalanya. Sekarang berbalik, ia yang mendekap tubuh pria itu.


“Waktu terus berjalan, baby. Hingga setelah kami lulus kuliah, aku mengangkat David sebagai asisten ku.” Edward melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


“Hubungan Felisha dan David juga semakin dekat. Mama juga menyayangi David seperti putranya sendiri.”


Edward meraih jemari Laura dan menautkan dengan jemari tangannya.


“Mereka memutuskan menikah saat berusia 25 tahun. Aku sebagai saudara hanya bisa mendukung apapun yang membuat saudariku bahagia.”


“Ed.” Laura menyela ucapan Edward.


“Ada apa, hmm?”


“Apa kamu tidak punya kekasih sebelumnya? Saat kamu kuliah mungkin?” Tanya gadis itu penasaran.


“Baby, aku orang sibuk. Untuk bermain saja aku tidak sempat. Apalagi untuk berpacaran.” Ucap pria itu.


“Tidak ada gadis yang mendekatimu?”


“Kamu mau tau?”


Laura menganggukkan kepalanya.


“Yang mendekatiku banyak. Bahkan aku sering mendapatkan kiriman hadiah yang di letakan di atas meja belajar ku. Tetapi semua itu selalu aku berikan pada teman-temanku yang lain.” Edward mengedikan bahunya tanda tak acuh.


“Jahat sekali.” Gumam gadis itu.


“Baby, mungkin saat itu aku merasa jika jodohku baru memasuki sekolah dasar.” Edward mencuri sebuah kecupan dari pipi Laura.


“Apa sih, Ed.” Laura memalingkan wajahnya.


“Aku mencintaimu, baby.” Ucap pria itu tulus.


Laura hanya diam mendengar ucapan pria itu. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang ia rasakan untuk Edward.


Edward sendiri tau, mungkin ini terlalu cepat. Ia akan memberikan waktu, dan tidak akan mendesaknya.


“Ed..”


“Ya?”


“Dia—,” suara Edward seperti tercekat di tenggorokannya.


Mungkin ini memang saatnya ia menceritakan kepada Laura, agar tidak ada kesalahpahaman lagi.


“Dia sudah bersama papa dan ayahnya di surga.” Ucap pria itu lirih.


Laura menganga mendengar ucapan Edward.


“Ed?” Gadis itu mendekap tubuh pria itu.


“Aku yang telah membunuhnya, baby.” Ucap pria itu terisak.


“A-apa maksudmu, Ed?” Laura tidak mengerti apa maksud dari ucapan Edward.


‘Membunuh?’


“Baby, saat itu. Aku dan David menemui klien untuk sebuah proyek besar. Demi mendapatkan proyek milyaran itu, aku dan David rela bertemu dengannya di luar kota. Kami berhasil meyakinkan mereka dan mendapatkan proyek itu.”


Laura meraih botol air mineral yang ada di meja nakas sampainya. Ia pun memberikan kepada pria itu.


“Minumlah dulu.”


Edward meneguk separuh dari isi botol tersebut dan mengembalikannya pada Laura.


“Thanks, baby.”


“Saat itu, Felisha sedang mengandung. Usia kandungannya memasuki bulan ke 8. Kamu tau, bahkan aku yang paling excited saat itu.” Ucap Edward sambil tersenyum.


“Aku selalu ikut memeriksakan kandungan Felisha. Sampai-sampai dokter bingung, siapa sebenarnya suami Felisha.”

__ADS_1


Flashback On


“Nyonya Felisha Darmawan.” Terdengar suster memanggil nama Felisha.


David membantu menuntun sang istri untuk berjalan menuju ke dalam ruangan dokter kandungan.


“Tunggu, aku ikut.” Seru Edward ketika pintu akan ditutup oleh suster.


“Maaf pak, anda siapa? Hanya suami pasien yang boleh ikut kedalam” jelas sang suster.


“Aku saudara kembar wanita hamil itu. Jadi aku harus ikut kedalam.” Edward menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.


Flashback Off.


“Apa kamu juga ingin punya anak waktu itu, Ed?” Tanya Laura terkekeh. Ia merasa cerita Edward begitu lucu.


Pria itu menggeleng.


“Aku hanya ingin selalu ada untuk saudari ku saja. Aku sudah berjanji di atas makam papa, jika aku akan selalu menjaga mama dan Felisha.” Jelas Edward.


“Lanjutkan ceritamu, Ed.”


“Kamu tidak mengantuk? Ini sudah malam.” Edward melihat jam sudah menunjukkan pukul 9.45 malam.


“Nanti saja. Lagipula besok aku masih libur.”


Edward menganggukkan kepalanya.


“Kamu tau, pertemuan dengan klien di luar kota itu hingga larut malam. David sudah menyarankan untuk menginap saja disana. Tetapi aku tidak mau. Aku ingin pulang. Felisha dalam keadaan hamil besar. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya.”


Edward mengeratkan pelukannya pada tubuh Laura. Ia berusaha menguatkan hatinya untuk membuka kembali luka lamanya.


“Di perjalanan yang hampir memasuki tengah malam, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Lagi-lagi David menyarankan untuk menepi. Tetapi aku juga meyakinkan dia untuk tetap melaju, menerobos hujan itu.”


Mata Edward kembali memanas. Tangan Laura kembali mengusap kepala pria yang berada di dalam dekapannya.


“Hingga di tengah perjalanan, mobil kami tergelincir dan menabrak pembatas jalan.” Suara Edward mulai terdengar berat.


“Ed?”


“David yang berada di belakang kemudi. Dia—,” suara pria terputus. Berganti dengan isakan tangis.


“Sstt.” Laura berusaha menenangkan pria dewasa itu.


“Jangan di teruskan jika itu menyakitkan untukmu, Ed.”


.


.


.


T. B. C


———


Sudah dua bab ya Genks.. ketemu besok lagi 🤗🤗


Terimakasih untuk semua dukungannya. ❤️❤️


Jangan lupa


Like


Komen


Vote dan Gift

__ADS_1


I LOVE YOU TILL THE END


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2