
Ponsel di atas nakas terus saja berdenting, tanda ada begitu banyak pesan yang masuk. Laura yang baru saja keluar dari ruang ganti, merasa iba dengan benda pintar itu. Ia kemudian meraihnya.
Ponsel itu milik suaminya, dari layar kunci sudah terlihat. Disana masih terpasang foto Felisha dan Devano. Dan Laura tidak mempermasalahkan hal itu. Toh juga Felisha dan Devano bukan anak dan istri Edward yang lain.
Benda pintar itu kembali berdenting. Meski dalam keadaan terkunci, di layar depan ponsel itu Laura tetap bisa membaca pesan yang di terima.
Bagas.
Nama pengirim pesan. Dan Laura tau siapa pria itu. Pria bertubuh tegap, yang di tugaskan sang suami untuk berjaga di panti asuhan, atas permintaannya.
‘Bos, seorang wanita datang bersama anak laki-lakinya, kata pak Toto dia keluarga bos.’
Pesan teratas, yang artinya pesan yang paling terakhir Bagas kirimkan.
“Itu pasti mbak Felisha dan Devano. Maafkan mami, Dev. Mami ingkar janji lagi.” Gumam Laura masih memegang ponsel suaminya.
Saat hendak menaruh, benda pipih pintar itu kembali berdenting.
‘Bos, wanita yang bersama anak tadi, sepertinya sedang berdebat dengan wanita yang bernama ….’
Pesan itu terputus. Perlu membuka kunci layar untuk membaca keseluruhan pesan.
Merasa khawatir, Laura pun bergegas menghampiri sang suami yang masih asyik berendam di kamar mandi.
“Pi?” Laura masuk begitu saja. Dan Edward tengah membilas diri dibawah kucuran air.
Tak di dengar, Laura menutup kembali pintu kamar mandi. Ia menunggu pria itu di ruang ganti.
“Pi?” Serunya lagi, ketika pintu kamar mandi terbuka dari dalam.
“Ada apa, sayang?” Jawab Edward sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Berjalan mendekat ke arah sang istri.
Ragu.
Haruskah Laura bertanya tentang kata sandi ponsel suaminya? Benda pipih itu merupakan benda pribadi.
“Ada apa, mami sayang?” Pria itu mendekat. Mengecup sekilas pipi Laura yang kini semakin berisi.
“A-apa aku boleh tau, kata sandi ponsel papi?” Wanita itu menunjukkan ponsel yang ia genggam.
“Tentu. Sama seperti pin kartu kredit mu.” Pria itu kemudian berjalan ke arah meja rias. Mengambil lotion untuk ia usapkan pada tubuh kekarnya.
Diingatkan kartu kredit, Laura pun melontarkan sebuah pertanyaan. Namun tangannya tetap menekan 6 digit angka yang sudah ia hafal, di layar ponsel suaminya.
“Pi. Apa kata sandi ini, tanggal ulang tahunnya Devano?”
Edward menatap ke arah sang istri melalui pantulan cermin. Wanita muda itu pun melakukan hal sama.
“Iya, sayang. Semua akunku menggunakan tanggal itu. Aku lupa menggantinya. Aku berencana menggunakan tanggal pernikahan kita.”
Laura menggeleng. Ia mendekat ke sisi suaminya.
__ADS_1
“Tidak perlu. Lagipula papi dan aku sudah hafal dengan deretan angka ini kan? Ini juga papi gunakan sebagai kata sandi pintu kamar penthouse. Aku tidak masalah.” Jawab Laura sambil tersenyum.
“Benarkah?” Edward yang telah selesai mengusap lotion di tubuhnya. Kini menatap sang istri secara langsung.
“Ya. Termasuk juga lock screen ini.” Laura kembali mengangkat ponsel suaminya.
Edward mendekat. Mendekap erat tubuh semampai sang istri.
Pria itu merasa beruntung. Wanita lain mungkin akan marah dan menuntut supaya segala sesuatu yang di gunakan sang suami harus berkaitan dengan istrinya.
Namun tidak dengan Laura. Wanita itu justru tidak mengijinkan Edward mengganti kata sandi maupun foto layar kunci ponselnya. Sungguh Edward beruntung memiliki Laura sebagai istrinya.
“Terima kasih, sayang. Jika wanita lain, pasti sudah mengamuk dan menuntut supaya aku menggantinya.” Sebuah kecupan Edward hadiahkan pada kening Laura.
“Ini hanya hal sepele, pi. Buang-buang waktu dan tenaga saja, jika di perdebatkan. Lagi pula, papi sudah menjadi milikku. Tidak ada hal yang perlu di ragukan lagi.”
Laura mengerling nakal. Sontak membuat Edward kembali merengkuh tubuhnya dan mendekap hangat. Memberikan kecupan bertubi pada kening wanita muda itu.
“Sudah, gunakan pakaian papi. Ingat kita ada janji dengan kak Jo dan mbak Monica.”
Edward menurut. Melepaskan sang istri, kemudian mulai mengenakan satu persatu pakaian yang telah di siapkan oleh Laura untuk dirinya.
“Untuk apa menanyakan kata sandi ponsel ku? Kamu mencurigai ku, hem?”
Laura yang duduk di sofa, tak jauh dari suaminya mendongak dengan memicingkan matanya.
“Ini ada banyak pesan dari pak Bagas. Katanya mbak Felisha dan Devano datang ke panti. Setelah itu—.”
“Pi..” Wanita itu berdiri dan mendekat ke arah suami yang sedang menggunakan jam tangan mahalnya.
“Ada apa?”
Laura menunjukkan pesan terakhir dari Bagas. Yang mengatakan jika Felisha berdebat dengan wanita yang bernama Teresha.
Edward meraih ponselnya, mengecek pesan-pesan yang dikirim pria berbadan tegap itu. Ada beberapa pesan yang mengatakan jika Teresha telah datang ke panti asuhan.
Laura ikut membaca. Setelah itu mereka saling menatap.
Ada juga pesan yang mengatakan jika Damian dan Leo telah pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
“Pi, bagaimana ini?”
“Bagaimana apanya? Masalah tes DNA?”
Laura menggeleng.
“Teresha.” Ucapnya lirih.
Edward menuntun sang istri duduk di atas sofa yang tersedia.
“Apa yang kamu takutkan?”
__ADS_1
“Bukan takut, hanya saja aku heran darimana dia tau tentang panti. Perdebatan kami terakhir kali, aku hanya mengatakan jika aku hidup dengan putranya selama 16 tahun. Apa itu artinya dia mencari tau tentang aku? Pi, bagaimana jika dia berbuat sesuatu pada anak-anak di panti?”
Edward merangkul bahu sang istri. Mengusapnya lembut. Serta melabuhkan sebuah kecupan di atas ubun-ubun wanita muda itu.
“Tenanglah, aku sudah meminta Bagas waspada. Dia sudah membawa dua foto orang-orang yang patut di waspadai. Kamu jangan khawatir Bagas tak hanya penjaga, dia juga seorang penguntit.”
Laura mengangguk, namun tetap saja perasaannya tidak tenang.
*****
Hari ini, rencananya Edward dan Laura akan menemani pasangan Johan dan Monica mencari gedung untuk acara pernikahan mereka.
Johan sebenarnya ingin mengadakan pesta sederhana seperti pernikahan Edward dan Laura. Namun, sang calon mertua, pak Gunawan ingin mengadakan pesta yang besar dan mewah untuk anak dan menantunya. Maklum, Monica putri mereka satu-satunya, jadi pak Gunawan ingin memberikan yang terbaik untuk sang putri.
Sang calon mertua juga mengatakan pada Johan untuk tidak mempermasalahkan tentang biaya. Semua di tanggung pak Gunawan. Johan sudah menolak, karena sudah seharusnya sebagai mempelai pria, dia yang bertanggung jawab.
Namun pak Gunawan mengancam akan membatalkan pernikahan dan memutuskan hubungan mereka, jika Johan tidak menerima pemberian sang calon mertua.
Asisten Edward itu hanya bisa pasrah, dia sangat mencintai Monica, begitu juga sebaliknya. Dengan terpaksa ia menurut kepada ayah dari kekasihnya itu.
“Bagaimana pak, bu? Gedung ini bisa menampung sampai seribu orang.” Seorang petugas EO menjelaskan. Ini merupakan gedung kedua yang mereka kunjungi.
Gedung pertama mereka kunjungi sebelum makan siang, namun tidak sesuai dengan yang di inginkan, dan gedung kedua mereka datangi setelah makan siang.
“Papamu rencananya mengundang berapa orang, Monica?” Edward bertanya kepada sekretarisnya. Meski bukan pernikahannya, tetapi pria itu ikut pusing mempersiapkan segala sesuatu.
“Aku kurang tau, pak. Kata papa, mungkin 500 orang dari teman-teman papa dan mama.”
Johan menganga. Ia saja tidak punya teman sampai 100 orang, tetapi sang mertua justru memiliki lebih banyak.
“Apa papamu mengundang seluruh isi kampus?” Sebuah pertanyaan bernada sindiran Edward lontarkan. Membuat kepala Monica menggeleng.
“Papi, jangan begitu.” Laura berbisik di telinga suaminya.
“Ya sudah. Kita ambil gedung yang ini.” Edward memberi keputusan.
Pembicaraan pun berlanjut membahas konsep dekorasi yang akan menghiasi ruangan luas itu.
Monica dan Laura memberi pendapat, dan yang mereka inginkan konsep yang sama.
Edward memperhatikan, dalam benaknya merasa bersalah. Harusnya, wanita muda itu memilih konsep untuk pernikahannya sendiri. Tetapi malah memilih untuk pernikahan orang lain.
‘Maafkan aku, baby. Aku tidak bisa memberikan pesta pernikahan impian untukmu.’
.
.
.
T. B. C
__ADS_1