TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 70. Menolak Perjodohan


__ADS_3

“Ma, tidak bisa seperti itu. Aku sudah memiliki kekasih. Bahkan aku sudah menidurinya. Aku tidak mau berkenalan dengan gadis lainnya.”


Entah disadari atau tidak, Edward telah membuka aibnya sendiri.


“Apa katamu? Ulangi ucapanmu tadi, Edward Hugo!”


Suara sang mama terdengar sedikit meninggi. Wanita paruh baya itu memegang dadanya. Untung saja ia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Jika tidak, sudah di pastikan dia akan pingsan saat ini juga.


“Kamu meniduri anak gadis orang tanpa menikahinya terlebih dulu?” Geram nyonya Hugo.


“Aku mencintainya, ma.” Ucap pria itu lirih.


“Jika kamu mencintainya, kamu tidak akan merusaknya dengan begitu mudah.” Nyonya Hugo menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


“Astaga, Alex. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga putramu dengan baik.”


“Ma..” Felisha mendekat ke arah sang mama, ia kemudian mendekap tubuh renta itu.


Tidak ada yang bisa Felisha lakukan sekarang. Ia bagaikan telur di ujung tanduk. Entah ia harus berada di pihak siapa, baik Edward maupun mamanya, sama-sama orang yang ia sayangi.


“Maafkan aku, ma. Tetapi, itulah caraku mencintainya. Dengan aku yang merusaknya, dia tidak akan pernah pergi dariku.” Edward ikut menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Pandangannya menerawang jauh. Ia telah ceroboh mengakui kesalahannya pada sang mama. Seharusnya ia bisa menjaga ucapannya. Supaya sang mama tidak berpikiran buruk tentang gadisnya.


“Dan gadis itu? Apa dia juga mencintaimu? Kenapa dia begitu mudah menyerahkan tubuhnya padamu? Apa karena kemewahan yang kamu berikan?”


Nyonya Hugo kembali bersuara. Ia masih belum bisa menerima kelakuan putranya di luar sana.


“Ma..!” Suara Edward terdengar meninggi. Rahangnya sedikit mengeras, mendengar pertanyaan mamanya.


“Ed. Pelankan suara mu.” Seru Felisha. Ini untuk pertama kalinya ia mendengar sang kakak meninggikan suaranya pada mama mereka.


“Maaf.” Ucap pria itu lirih.


“Kamu tidak ingat, kamu mempunyai seorang adik perempuan, bagaimana jika seseorang melakukan hal yang sama kepada adikmu?”


“Ma, aku akan menikahinya.” Jawab Edward dengan cepat.


“Lalu bagaimana dengan gadis pilihan mama? Mama bahkan sudah berjanji kepada orang tuanya, akan menjadikan dia menantu di keluarga Hugo.”


“Mama yang membuat janji itu, kenapa mama melibatkan aku? Aku sangat mencintai kekasihku, ma. Aku mohon, jangan mempersulit keadaan.” Pria itu menoleh ke arah sang mama yang sedang di dekap oleh adiknya.


“Apa kamu pikir mama akan merestui hubungan kalian?”


“Ma..” kali ini Felisha yang ikut menegur sang mama.


“Ma, jangan seperti ini, kasian Ed. Dia sudah dewasa. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri.” Felisha berusaha membela sang kakak. Bagaimana pun juga, ia ikut andil dalam hidup pria itu. Edward melajang sampai saat ini, itu juga karena sikapnya kepada pria itu.

__ADS_1


“Jangan ikut campur, Fel. Ini urusan mama dan kakakmu. Kamu cukup urusi dirimu dan Devano.”


Felisha tersentak mendengar ucapan sang mama, ia seperti tidak mengenali wanita paruh baya itu. Bagaimana bisa sang mama menjadi keras kepala begini.


“Aku akan tetap menikahinya, dengan atau tanpa restu dari mama.” Ucap pria itu menyela perdebatan mama dan adiknya.


“Silahkan saja, tetapi jangan harap mama akan mengakui anak kalian sebagai cucu mama.”


Deg..


Edward tersentak mendengar ucapan dari wanita yang telah melahirkannya itu. Nafasnya seketika memburu. Amarah perlahan merayapi jiwanya. Jika bukan ibu kandungnya, mungkin pria itu akan meluapkan amarahnya sekarang juga.


“Ma, kenapa mama jadi begini? Aku seperti tidak mengenailmu.” Edward berusaha meredam amarah yang perlahan naik, dan siap untuk meledak.


“Mama hanya tidak mau melanggar janji mama, Ed.” Ucap nenek dari Devano itu.


“Lalu bagaimana dengan aku, ma? Aku juga sudah berjanji akan menikahinya. Ma, kami tidur bersama tidak hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali. Tidak akan ada pria lain yang akan menerimanya, ma.”


Edward masih berusaha meruntuhkan kekeras hatian sang mama, berharap sedikit saja mamanya memberikan restu.


“Salah siapa tidak bisa menjaga diri? Sebagai seorang gadis harusnya bisa menjaga diri, bukan sembarangan mengobral pada pria sebelum di nikahkan.”


“MA..!” Kali ini amarah Edward benar-benar tidak bisa di bendung lagi. Ia tidak suka mendengar penghinaan terhadap gadisnya.


Tangan pria itu sudah terkepal sempurna, bahkan sampai terlihat memutih. Ia memilih bangkit dari sofa itu, agar tidak melukai sang mama.


Belum jauh kaki pria itu melangkah, suara seruan terdengar dan menghentikan langkahnya.


“Papa…!”


Deg…


Suara bocah delapan tahun yang selalu bisa menjadi obat penenang baginya, menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik dan melihat ke sumber suara.


Dengan tampilan khas bangun tidur, Devano berdiri di ujung tangga. Bocah itu seketika berlari menerjang sang papa.


“Aku rindu papa.” Ucapnya setelah berada di dekat pria dewasa itu.


Mendengar itu, amarah Edward menguap entah kemana. Tangan terkepalnya perlahan terbuka dan mengusap kepala bocah itu.


Ia meraih tubuh Devano dan membawa kedalam gendongannya.


“Papa juga merindukanmu, boy.” Tangan pria itu mendekap tubuh bocah 8 tahun itu. Ia mengusap punggung putranya dengan lembut. Berusaha menekan sekeras mungkin emosinya.


“Apa papa akan pergi?” Tanya Devano di ceruk leher pria itu.


“Tidak boy. Papa akan menemanimu. Apa kamu mau menemani papa istirahat? Papa lelah sekali.”

__ADS_1


Devano menganggukkan kepalanya. Seketika itu, Edward membawa Devano kembali menaiki tangga, tanpa melihat ke arah sang mama dan juga adiknya.


Sampai di kamar yang biasa di tempati oleh Felisha dan Devano, Edward merebahkan tubuhnya dengan mendekap putranya.


Dalam benak pria dewasa itu, masih terus berputar-putar ucapan sang mama. Ia merasa mamanya telah berubah.


“Papa tidak tidur?” Devano mendongak menatap wajah papanya.


“Iya, nak. Papa akan tidur. Ayo.” Edward meletakan tubuh Devano di atas tubuhnya. Sama seperti saat bersama Laura.


Perlahan pria itu memejamkan matanya. Berharap setelah ia bangun nanti, semua beban kepalanya akan sirna.


Entah berapa lama, mata Edward tidak kunjung terlelap. Ia sudah berusaha, namun kembali mata itu akan terbuka.


Ia melihat Devano sudah terlelap kembali. Perlahan Edward meletakan tubuh bocah itu di atas ranjang.


Edward kemudian merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


Laura.


Hanya nama gadis itu yang ada di benaknya saat ini. Ia kemudian menghubungi gadis itu.


Setelah dua kali panggilannya tidak terjawab, kini di panggilan ketiga, suara gadis itu baru terdengar. Seketika segala keresahan yang melanda pria berusia 35 tahun itu sirna.


“Hallo, Ed. Ada apa?” Tanya Laura dengan lembut.


“Aku merindukanmu, baby.”


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Terimakasih banyak-banyak… ❤️

__ADS_1


Selamat berakhir pekan, bagi yang merayakan 😝😅


__ADS_2