TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 121. Sebuah Kenyataan.


__ADS_3

“Dek.. tunggu.”


Laura mengejar Leo, diikuti oleh Edward dan Damian.


Leo duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman panti. Remaja itu menundukkan kepalanya. Meremas rambutnya dengan kedua tangan. Ia menyalahkan takdir, kenapa begitu kejam baginya.


Selama ini ia hanya anak yang di buang oleh orang tuanya. Bukan anak kandung ayah dan ibunya.


Dalam diam pemuda itu menangis.


“Dek?” Laura mendekat. Ia duduk di samping sang adik.


“Kak?” Leo mengangkat kepala kemudian memeluk sang kakak.


Tangis remaja 16 tahun itu pecah di atas pundak Laura. Sementara wanita itu hanya bisa menenangkan dengan mengusap punggung adiknya.


“Maafkan kakak.”


Leo menggeleng. Keluarganya di panti tidak pernah salah. Apalagi kakak dan orang tuanya. Mereka yang paling mencintai Leo dengan tulus.


“Kak.. kenapa aku bukan adik, kakak? Kenapa aku harus jadi anak orang lain?”


“Kamu tetap adik, kakak. Tidak ada yang bisa merubah semua itu.”


Mereka berdua pun menangis bersama.


Edward dan Damian melihat dari jarak yang tidak begitu jauh.


“Semua ini karena dirimu.” Damian berujar di samping Edward.


“Apa maksudmu?”


“Karena Teresha begitu mencintaimu, hingga ia tega membuang putraku.”


“Aku bahkan tidak mengenal wanita itu.”


Damian mencebik.


“Meski kamu tidak mengenalnya, tetapi dia mencintaimu. Karena ingin bersamamu, dia tega membuang anaknya sendiri.” Suara Damian tiba-tiba meninggi. Hingga Laura dan Leo dapat mendengarnya.


Leo menoleh, ia melihat Damian sedang memegang kerah kemeja yang kakak iparnya gunakan.


Remaja itu pun bangkit dan mendekat. Diikuti pula oleh Laura.


“Apa yang bapak lakukan? Lepaskan kak Ed.” Leo menarik tangan Damian dari leher Edward.


“Jangan membelanya, nak.” Nafas Damian memburu. Ia siap meluapkan segala emosi yang memenuhi kepalanya.


“Aku membela kakak iparku.”


Damian kembali mencebik.


“Pria yang kamu bela itu, adalah orang yang menyebabkan kamu di buang oleh ibumu.”


Deg..


Laura tersentak. Leo tidak seharusnya tau dengan cara seperti ini.


Tak hanya Laura, Leo pun ikut terkejut mendengar ucapan Damian.


“Apa maksud bapak?”


“Dia—,” Damian menunjuk wajah Edward. “Ibumu sangat mencintai pria ini, karena itu dia tega membuang anaknya sendiri, supaya bisa bebas bersama pria ini.”


“Aku bahkan tidak tau kamu masih hidup, nak. Ibumu meninggalkan aku saat kamu masih berusia 8 bulan dalam kandungannya. Tetapi, sebulan kemudian dia mengirim surat cerai kepadaku, dan mengatakan jika bayi kami telah meninggal dunia.”


Leo menatap sang kakak ipar. Ia mencari jawaban atas tuduhan yang di layangkan Damian kepada pria itu.

__ADS_1


“Kak Ed, apa yang dia katakan itu benar?”


“Sudah aku katakan, aku tidak mengenal wanita itu.” Edward ikut meninggikan suaranya. Pria itu tidak tahan, dia bukan penyebab Leo di buang.


Laura tersentak.


“Aku bahkan tidak pernah tau, ada wanita yang mencintaiku begitu dalam. Entah dia benar cinta atau hanya terobsesi padaku.”


Laura mendekat ke arah suaminya, ia mengusap lengan kokoh pria dewasa itu.


“Pi, sabar.” Bisiknya.


“Leo, kamu boleh percaya siapa saja. Kamu bahkan berhak percaya dengan dia— menunjuk Damian. “Karena dia adalah ayah kandungmu. Tetapi aku benar-benar tidak mengenal ibumu.”


Edward menghela nafasnya pelan.


“Memang kami bertiga, aku, ayahmu, dan ibumu, kami satu kelas dulu. Tetapi aku tidak pernah mengenal mereka berdua. Aku hanya bergaul dengan saudari kembarku, dan juga kekasihnya.”


“Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada saudariku, Felisha. Dia saksi hidup, aku tidak pernah mengenal mereka berdua!”


Leo terdiam, ia berusaha mencerna semua ini. Semua ini begitu mengejutkan untuk dirinya.


“Kak.” Leo beralih kepada Laura.


“Apa kakak tau siapa ibuku?”


“Kakak—.”


“Ibumu bernama Teresha Hadi.” Damian memotong ucapan Laura.


“Aku tidak bertanya pada anda, pak. Aku bertanya pada kakakku.” Ucap Leo tanpa menoleh pada Damian.


“Jawab aku kak? Apa kakak tau ibu kandungku?”


Laura mengangguk. Ia sempat ragu, tetapi Damian telah mengatakan sendiri.


“Apa kakak pernah bertemu dengannya?”


“Ya, tetapi itu tanpa sengaja. Saat itu kakak juga belum tau jika dia ibumu.”


Leo mengangguk. Jadi dia masih mempunyai orang tua lengkap? Tetapi sayangnya dia malah di buang.


Remaja itu pun beralih pada Damian, pria yang memiliki kecocokan DNA dengan dirinya.


“Jadi anda ayah kandungku?”


Damian seketika mengangguk. Matanya berbinar, akhirnya sang putra berbicara padanya.


“Lalu dimana wanita yang melahirkan ku?” Entah kenapa, lidah Leo terasa kelu untuk menyebut kata ibu, untuk wanita yang telah melahirkannya.


“Dia ada nak, yang papa dengar, dia tinggal di negara tetangga.” Damian menjawab sesuai yang ia tau, ia bahkan tidak tau jika Teresha sekarang sudah berada di negara ini.


Leo mencebik mendengar kata papa yang di ucapkan oleh Damian.


“Kita tidak sedekat itu, kata papa untuk anda masih jauh.”


“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu menerima ku, nak?“


“Menjauh dari ku, aku tidak ingin bertemu dengan anda dulu.”


“Tapi nak—,”


“Aku mohon. Aku tidak mau bertemu dengan bapak dulu. Aku belum bisa menerima semua ini.”


Leo menatap Damian penuh harap. Hatinya benar-benar tidak merasa bahagia bertemu dengan orang tua kandungnya.


“Aku sangat menyayangimu, selama ini aku selalu berharap anakku masih hidup. Dan Tuhan mengabulkan harapanku.”

__ADS_1


Leo berdecak kesal, tangannya pun mulai terkepal.


“Pak Damian, aku mohon dengarkan apa kata Leo. Tolong beri waktu untuk adikku menerima semua ini.”


Damian menatap Laura, mata wanita itu nampak memelas. Membuat Damian menurut. Dengan pelan kepalanya mengangguk.


“Baiklah, nak. Aku akan memberimu waktu. Tetapi tolong, jangan terlalu lama. Aku tidak bisa.”


Pria itu mendekat ke arah Leo.


“Bolehkah aku memelukmu sebentar saja, setelah itu aku akan pergi. Aku akan kembali lagi nanti.”


Leo menghela nafasnya pelan. Ia pun menganggukkan kepalanya. Lebih cepat pria dewasa itu pergi, akan lebih baik.


Damian tersenyum, ia kemudian mengikis jarak diantara berdua.


Mendekap erat tubuh sang putra yang selama 16 tahun ini, ia kira telah tiada. Menumpahkan segala kerinduan yang beberapa hari ini telah memenuhi relung hatinya.


Namun Leo tak bergeming, kaku, mematung bak manusia yang di kutuk menjadi batu.


Hampir lima menit memeluk dan tak mendapat balasan. Damian pun melepaskan pelukannya


“Jaga dirimu, nak. Aku selalu menyayangimu.”


Pria itu menatap sepasang suami istri yang berdiri di sisi sang putra.


“Edward, Laura. Aku titip putraku pada kalian. Tolong jaga Leo dengan baik.”


“Pak Damian tenang saja, mereka semua menjaga ku dengan baik disini. Jika tidak, mungkin anda tidak akan pernah bertemu denganku saat ini.”


Bukan Laura ataupun Edward yang menjawabnya, tetapi Leo sendiri.


“Aku tau, nak. Karena itu aku sangat berterima kasih pada keluargamu disini. Karena telah menjaga putraku dengan baik—.”


“Jika bapak ingin berterima kasih, tolong cepat tinggalkan tempat ini.” Leo memotong ucapan Damian.


“Baiklah nak. Aku permisi. Sampai jumpa lagi nanti.”


Damian pun berlalu meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri di taman itu.


“Dek..”


“Aku ingin sendiri dulu, kak.” Leo berlalu meninggalkan kakak dan juga kakak iparnya.


“Tapi, dek—,”


“Sayang, sudah. Biarkan Leo sendiri dulu. Dia perlu waktu untuk menerima semua ini.” Edward mencegah sang istri yang hendak mengejar adiknya.


Laura pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift

__ADS_1


Terima kasih banyak teman Readers ❤️❤️


__ADS_2