
Sementara itu, di tempat bermain golf. Edward kehilangan minatnya untuk bermain. Bagaimana tidak, klien yang mengundangnya bermain ternyata atasan Teresha, dan wanita itu juga ada disana.
Ya, ini lah pekerjaan penting yang tidak bisa di tinggalkan. Atasannya meminta ia ikut menemaninya bermain golf, bersama Edward Hugo. Teresha telah menolak. Namun sang atasan memohon supaya ia tetap ikut.
“Kenapa kamu tidak mengatakan jika yang mengundang kita bermain golf itu, pak Aditama? Hmm?” Edward menggerutu di telinga Johan yang berdiri di sampingnya.
“Aku sudah akan mengatakannya di telpon kemarin, tapi bos memutuskan panggilan begitu saja.”
Edward merotasikan bola matanya dengan malas. Ia teringat semalam saat Johan menghubunginya, Laura merengek meminta dirinya untuk mengajak wanita itu membeli steak, di salah satu restoran bintang lima.
Pria itu membuang nafasnya kasar. Ia tak pernah menolak undangan klien. Tetapi jika tau, pak Aditama yang mengundangnya, mungkin Edward akan mencari alasan untuk tidak datang.
“Apa kabar, pak Edward?” Pak Aditama mendekat dan mengulurkan tangan ke arah Edward.
“Aku baik, anda sendiri?” Edward membalas uluran tangan itu.
“Aku juga baik.”
Teresha yang melihat interaksi atasannya dengan Edward, hanya menundukkan pandangannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak lagi memikirkan Edward.
Fokusnya sekarang hanya untuk Leo. Ia hanya ingin bahagia bersama putra semata wayangnya.
Edward dan pak Aditama mulai bermain. Sementara, Johan dan Teresha mengamati dari pinggir lapangan.
“Mm, apa kamu sudah lama bekerja dengan Edward?” Teresha mencoba membuka obrolan dengan Johan.
“Ya, delapan tahun. Tahun ini, memasuki tahun ke sembilan.” Jawab Johan sambil tetap fokus melihat sang atasan bermain.
Teresha menganggukkan kepalanya.
“Sudah lama juga, ya.” Ucap wanita itu.
“Kenapa? Apa anda ingin mengorek informasi tentang atasanku?”
Alis Teresha mengerenyit hampir menyatu. Ketika mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh asisten Edward itu.
“Apa maksudmu?”
“Aku tau tentang anda, nyonya. Anda memiliki perasaan lain kepada atasanku. Tetapi, aku sarankan, anda untuk mengubur semua perasaan yang anda miliki itu. Karena selamanya tidak mungkin terbalas.”
Teresha mencebikan bibirnya.
“Aku sudah tidak mengharapkan Edward lagi, karena aku tau itu hal yang tidak mungkin. Kamu tenang saja. Aku tidak akan menganggu rumah tangga atasanmu, jika itu yang kamu takutkan.”
Johan menatap lekat ke arah wanita yang lebih tua darinya itu.
“Baguslah kalau begitu. Tetapi, jika itu hanya sebuah kalimat tanpa perbuatan nyata, aku tidak akan segan membuat perhitungan dengan anda.”
“Sepertinya kamu begitu perduli dengan Edward?” Tanya Teresha dengan mencebik.
“Aku tidak hanya perduli dengan Edward. Tetapi, aku juga memikirkan istrinya, Laura. Aku sudah menganggap wanita itu seperti adikku sendiri. Aku akan melindunginya seperti seorang kakak yang melindungi adiknya.”
Johan berbicara panjang lebar. Ia ingin, wanita di hadapannya ini, benar-banar mundur dan menjauh dari kehidupan Edward.
Setelah hampir satu jam, Edward dan pak Aditama menyudahi permainan golf mereka.
Melihat sang atasan mendekat, Johan menyerahkan sebotol air mineral kepada atasannya. Edward menerima botol itu, kemudian meneguk isinya hingga tandas.
“Apa istriku menghubungi mu?” Tanyanya kepada sang asisten. Edward tak perduli jika masih ada orang di sekitarnya.
__ADS_1
“Tidak, bos.”
Edward menghela nafasnya pelan. Begitu sifat Laura, wanita itu tidak seperti kebanyakan wanita lainnya, yang setiap menit, menghubungi suaminya. Laura hanya akan menghubungi Edward di saat keadaan darurat, dan mendesak. Selebihnya, wanita itu memberi kepercayaan penuh kepada sang suami.
Beberapa saat kemudian, Edward dan pak Aditama saling berpamitan. Saat akan meninggalkan lapangan, Teresha meminta ijin untuk berbicara berdua dengan Edward.
“Ada apa?” Tanya Edward yang menyanggupi ajakan dari wanita itu. Mereka berdiri di pinggir lapangan.
Sementara, Johan mengamati tak jauh dari sana.
“Aku akan menikah dengan Damian.” Ucap Teresha tanpa basa-basi.
Edward mencebik.
“Bukan urusan ku.” Jawabnya pandangan pria itu jatuh ke tengah lapangan hijau. Ia tak sedikit pun menatap lawan bicaranya.
“Hmm.” Teresha mengangguk. “Ini memang bukan urusanmu. Tetapi kami menikah demi Leo. Anak itu meninta kami menikah, maka dia akan memaafkan kami.” Teresha menjelaskan tanpa diminta.
“Sudah aku katakan, tidak ada urusannya dengan ku. Itu urusan kalian.”
Edward menghela nafasnya pelan.
“Tetapi jika kalian sampai menyakiti Leo, maka itu akan menjadi urusanku. Karena Leo adalah adik istriku. Itu artinya dia juga adikku.”
Setelah mengucapkan hal itu, Edward meninggalkan Teresha tanpa permisi.
****
Sesampainya di rumah, Edward di sambut oleh sang istri yang nampak terlihat cantik dengan menggunakan daster sederhana.
Laura terlihat seperti seorang ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Dan Edward tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya. Pria dewasa itu, kemudian merengkuh tubuh semampai sang istri. Mendekap erat, sembari melabuhkan kecupan bertubi diatas ubun-ubun Laura.
“Pi, ih.. ganti baju dulu. Bau minyak wangi papi.” Laura mendorong tubuh sang suami. Namun, Edward tak bergeming, beberapa hari ini ia melihat sang istri sudah tidak terlalu terganggu dengan aroma minyak wangi.
Edward seketika melerai pelukannya.
“Dimana anak itu? Apa kalian sudah makan siang?”
“Leo ada di ruang keluarga. Dia menunggu papi, untuk bermain games. Sedangkan, Aku menunggu papi, untuk makan siang. Anakmu ingin di suapi papinya.” Tangan wanita muda itu mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
“Selalu saja, anakku yang kamu jadikan kambing hitam.” Ucap Edward mencebik.
Mereka pun menuju ruang keluarga, memanggil Leo, kemudian makan siang bersama. Setelah makan siang, Edward mengajak adik iparnya untuk bermain video games.
“Wah, ini benar-benar luar biasa kak.” Ucap Leo takjub, kala mendapati para pemain sepak bola di dalam permainan itu terlihat begitu nyata.
“Kamu suka?” Tanya Edward menatap adik iparnya.
Pemuda itu mengangguk dengan cepat.
“Apa mau aku belikan untuk di panti?”
“Jangan, pi.” Laura yang duduk di belakang mereka menjawab dengan cepat. Ia merasa sungkan, karena Edward sudah memberikan banyak hal untuk mereka.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau, nanti adik-adik malah sibuk bermain video games, daripada belajar. Biar saja mereka bermain dengan permainan yang sudah papi sediakan disana.” Laura mencari alasan yang masuk akal untuk di ungkapkan.
Edward mengangguk, ia kemudian melanjutkan bermain dengan Leo. Merasa bosan menunggu dua pria berbeda usia itu bermain. Laura meminta ijin untuk beristirahat di kamar.
__ADS_1
“Istirahat lah dulu, ada kamar yang bisa kamu tempati, tunggu kakakmu bangun. Baru kamu pulang.” Ucap Edward kepada Leo, saat mereka sudah puas bermain.
“Iya kak.
Edward kemudian mengantar Leo, ke kamar tamu. Setelah itu ia pergi ke kamar untuk menyusul sang istri ke alam mimpi.
Sebelum bergabung di atas ranjang, Edward membersihkan diri terlebih dulu. Ia tidak mau Laura kembali mual mencium aroma minyak wangi, meski beberapa hari ini sudah tidak begitu menganggu wanita itu.
Selesai membersihkan diri, pria itu kembali ke tempat tidur, dengan perlahan Edward merebahkan tubuhnya di samping sang istri, supaya wanita itu tidak terusik.
Namun seperti memiliki magnet, tiba-tiba tubuh sang istri berbalik posisi tidur dengan sendirinya. Kemudian mendekap erat tubuh sang suami.
Senyum terkembang di bibir pria tampan itu. Ia pun membalas pelukan sang istri.
“Leo sudah pulang?” Tanya Laura dengan suara seraknya.
“Kamu sudah bangun?” Bukannya menjawab, Edward justru melontarkan pertanyaan balik.
“Hmm.”
“Leo istirahat di kamar tamu. Kita tidur dulu, biarkan dia istirahat sebentar.”
Laura mengeratkan pelukannya, sungguh tubuh sang suami sangat nyaman untuk di peluk.
“Mi..”
“Ya?”
“Tadi aku bertemu Teresha.”
Ucapan Edward membuat mata Laura terbuka sempurna. Ia mendongak menatap sang suami yang kebetulan juga menatapnya.
“Dimana?”
“Tempat bermain golf, ternyata pak Aditama yang mengundangku.” Jelasnya
“Apa wanita itu menganggu papi?” Laura mengangkat sedikit kepalanya untuk dapat melihat wajah Edward dengan jelas.
“Tidak, tetapi dia mengatakan jika dia akan menikah dengan Damian. Katanya itu syarat dari Leo.”
Laura mengangguk. Ia sudah tau itu dari adiknya.
“Ya, Leo juga sudah mengatakan hal itu padaku.”
Wanita itu kembali merebahkan kepalanya di atas dada sang suami.
“Kita tidak perlu ikut campur, itu urusan mereka. Kita hanya perlu ikut campur, jika mereka menyakiti Leo.” Ucap Edward sembari mengusap kepala sang istri.
“Hmm.. meski ada rasa tidak ikhlas, tetapi aku tidak boleh egois. Leo juga berhak merasakan kasih sayang orang tua kandungnya kan?” Laura berujar lirih.
“Dengan siapapun dia tinggal nanti, Leo tetap adikmu. Sayang.” Ucap Edward yang mengetahui kegundahan hati istrinya.
.
.
.
T. B. C
__ADS_1
Keluarga Hugo, mengucapkan Selamat hari Raya Idul fitri untuk para Readers yang masih setia membaca kisah mereka sampai saat ini.
Mohon maaf Lahir dan Bathin 🙏