
Waktu berlalu begitu saja. Hari ini adalah akhir pekan ketiga untuk Laura tinggal di penthouse mewah milik Edward.
Ia terbangun di pagi hari dengan mendekap tubuh kekar Edward. Mereka baru saja menyelesaikan satu kali perjalanan menuju puncak, saat waktu sudah mendekati subuh.
Seperti biasa di hari Jumat, pria dewasa itu mengambil pekerjaan lembur, supaya ia bisa berlibur di akhir pekan. Hal hasil, saat Edward pulang ke penthouse menjelang tengah malam, ia mendapati gadisnya telah terbang ke alam mimpi.
Karena tidak ingin menganggu tidur sang pujaan hati, Edward memutuskan untuk ikut tidur di samping gadis manis itu. Tetapi saat menjelang subuh, entah siapa yang memulai, perjalanan menuju puncak pun tidak dapat di hindari.
“Morning, baby”. Suara maskulin itu terdengar serak, yang menandakan sang empunya baru saja bangun dari tidurnya.
Pria itu mengecup ceruk leher Laura, yang membuat gadis itu menggeliat.
“Jangan bergerak baby, atau kita akan ke puncak sekali lagi.” Pria itu mengeratkan pelukannya.
“Ed.. bolehkah aku pulang hari ini.” Laura mengusap-usap punggung lebar Edward.
“Tentu boleh, baby. Bukankah sudah aku katakan, lakukan apapun yang membuat hatimu senang. Asalkan itu tidak melukai dirimu.” Edward mengangkat wajahnya, lalu mengecup pipi Laura berulang kali.
‘Aku sungguh jatuh cinta padamu, Laura. Apapun akan aku lakukan supaya kita bisa hidup bersama. Sekalipun aku harus menyakiti perasaan Felisha.’
“Kenapa melihatku begitu, Ed?” Tanya Laura ketika melihat pria itu menatapnya lekat.
“Tidak. Hanya saja, kamu sangat cantik saat baru bangun tidur.” Pria itu bangkit dari ranjang besar itu. Lalu mengangkat tubuh polos Laura dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah hampir setengah jam, acara mandi pun selesai.
“Ed, kamu mau menggunakan pakaian yang mana?” Gadis itu menujukan sebuah kaos dan sebuah kemeja di tangan kiri dan kanannya.
“Kaos dan blazer saja. Hari ini aku tidak bekerja.” Pria itu melepas bathrobe yang ia kenakan. Lalu menggunakan lotion di seluruh tubuhnya.
Melihat itu, Laura pun menyerahkan sebuah celana da*lam kepada pria itu.
Tidak ada kecanggungan lagi diantara keduanya, karena mereka sudah sering bersama dalam keadaan polos.
“Kamu mau kemana hari ini?” Tanya gadis itu sambil menyerahkan sebuah celana jeans kepada Edward.
Edward tidak langsung menjawab pertanyaan Laura, ia menerima celana itu lalu memakainya.
“Aku juga mau pulang ke rumah mamaku.” Jawab pria itu setelah selesai menggunakan celana jeansnya. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin meja rias.
Laura menghampiri pria itu, memberikan sebuah baju kaos berwarna abu-abu dan blazer berwarna hitam.
Pria ini selalu nampak gagah saat menggunakan pakaian setelan warna gelap.
‘Terlihat seperti seorang mafia dalam film’
Laura menyunggingkan bibirnya.
Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di bibir tipis milik gadis itu.
“Apa yang kamu pikirkan, Ara?”
“Bukannya kamu tau apa yang aku pikirkan, Tuan Hugo.” Laura mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
“Jangan merayu ku sekarang, Ra. Atau kita tidak akan pergi kemana-mana hari ini.”
Laura menggeleng, “Tidak bisa Ed. Aku sudah janji dengan ibu Maria akan pulang hari ini.”
“Kamu tidak ingin mengenalkan ku kepada keluarga mu di panti, hmm?” Edward merangkul bahu gadis itu.
Laura menggelengkan kepalanya. “Belum saatnya, Ed.” Ucap gadis itu.
‘Setidaknya sampai status kita jelas.’ Sambung gadis itu dalam hatinya.
“Aku mengerti, Ra. Ayo kita turun untuk sarapan. Aku sudah lapar.” Pria itu mengecup hangat kening Laura.
******
Laura bersenandung riang saat menapaki kakinya di halaman panti asuhan. Ia menenteng beberapa kantong oleh-oleh untuk keluarganya.
“Selamat siang, pak.” Sapa gadis itu kepada pak Toto, sang tukang kebun panti asuhan. Laura tiba di panti saat hampir tengah hari. Di perjalanan ia sempat membeli oleh-oleh untuk keluarganya di panti.
“Selamat siang, non.” Jawab pria paruh baya itu.
“Ini untuk bapak.” Gadis itu menyerahkan satu kantong ukuran sedang kepada pak Toto.
“Terimakasih, non.” Pria itu menerima dengan senyuman manis.
Laura melanjutkan langkahnya menuju pintu utama panti asuhan. Disana sudah terlihat beberapa adik-adiknya membantu para pekerja yang lainnya untuk bersih-bersih.
“Selamat siang, semuanya. Kakak pulang.” Seru gadis berusia 21 tahun itu.
“Selamat siang, kak Lala. Selamat datang” Sahut mereka serempak.
“Baik, non.”
Gadis itu melanjutkan kembali langkahnya memasuki panti asuhan. Kini tujuannya adalah ruangan ibu Maria.
Laura mengetuk pintu ruangan ibu Maria sebelum ia memasukinya.
“Selamat siang, ibu, bibi.” Ucapnya lalu menghampiri ibu Maria dan bibi Lily. Ia memeluk bergantian ibu dan bibinya itu.
“Apa kabar kamu, nak?” Ucap ibu Maria. Meski beberapa hari lalu ia sudah menghubungi gadis itu.
“Aku baik-baik saja, Bu.” Gadis itu mengurai pelukannya.
“Oh ya bi, ini aku ada membeli beberapa makanan ringan. Maaf hanya sempat membeli itu.” Gadis itu menyerahkan satu kantong besar untuk bibi Lily. Bibi Lily pun keluar membawa kantong itu, sembari membuat teh hangat.
“Dan ibu, ini ada sedikit bekal untuk menutupi kekurangan biaya adik-adik.” Laura menyerahkan sebuah amplop berisi uang kepada ibu Maria.
“Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini, nak? Bukannya kamu juga harus membayar kuliahmu?” Tanya ibu Maria.
Deg..
Gadis itu tersentak saat mendengar pertanyaan ibu Maria.
“Itu uang gajiku dari tempat mbak Yulia, Bu.” Ia berusaha tersenyum manis.
__ADS_1
“Lalu uang kuliahmu?” Tanya ibu Maria lagi.
“Hah” Gadis itu menghela nafasnya kasar. Sudah banyak kebohongan yang ia ucapkan kepada ibunya ini. Ia tidak mau semakin keterusan berbohong.
“Aku membayar kuliah dengan uang gaji yang aku dapatkan di tempat atasanku yang baru, Bu.”
“Ah ya,. Karena kamu sudah mengatakan itu. Ada hal yang ingin ibu tanyakan padamu.” Ucap ibu Maria.
Wanita yang berusia mendekati 50 tahun itu, menatap lekat pada anak sahabatnya itu. Ia sudah berjanji akan menjaga Laura seperti anak kandungnya sendiri kepada mendiang Angelina, ibu dari Laura.
“Ada apa Bu?” Laura menoleh ke arah ibunya itu.
“Ini minum dulu sebelum kalian mengobrol.” Bibi Lily menyela pembicaraan mereka berdua.
“Apa yang ingin kamu katakan pada Laura, Maria?” Tanya bibi Lily.
“Hah, itu masalah pekerjaan mu, Nak. Apa kamu bekerja di dua tempat sekaligus?” Tanya ibu Maria sambil meminum tehnya.
“Memangnya ada apa, Bu?” Tanya gadis itu.
“Minggu lalu, nyonya Samantha datang ke sini, ia mengatakan jika ia bertemu dengan mu di tempat kamu bekerja. Bukannya kamu bilang, kamu bekerja dengan orang lain yang memberikan pinjaman uang itu? Kenapa kamu masih bekerja juga di tempat Yulia ?” Tanya ibu Maria panjang lebar.
Suara Laura seakan tercekat di tenggorokannya. Ia lalu meminum sedikit teh hangatnya.
“Ibu, itu. Ya, sebelumnya aku memang bekerja di dua tempat.” Gadis itu menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya lagi.
“Karena atasanku yang baru jarang ada di rumah, jadi dia mengijinkan aku tetap bekerja di tempat mbak Yulia. Tetapi, akhir-akhir ini tugas kuliahku semakin banyak. Jadi aku memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat mbak Yulia.” Sebisa mungkin Laura menjawab dengan tenang supaya tidak terlihat gugup di depan ibu dan bibinya.
“Kamu dengarkan Maria? Apa yang Lala katakan? Sudah aku katakan padamu waktu itu. Kamu terlalu mengkhawatirkan sesuatu.” Sela bibi Lily.
“Sudah aku bilang Lily, aku hanya tidak mau Lala bekerja begitu keras dan mengabaikan kuliahnya.”
“Ibu dan bibi tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja.” Gadis itu memberi senyuman termanisnya.
‘Maafkan aku ibu, bibi. Aku sudah membohongi kalian’
.
.
.
To be continue
Terimakasih untuk yang sudah mampir dan memberi dukungan.
Sayang kalian banyak-banyak..❤️
Selain like & komen, ngasih Gift atau vote juga boleh kok 😁
( ga banyak-banyak , setangkai bunga atau secangkir kopi pun boleh )
*Maruk 😅🤭
__ADS_1
I love you all 🤗❤️