TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 29. Masih, Amarah Edward.


__ADS_3

Rendra yang melihat hal itu, membulatkan matanya. Ia tidak habis pikir, gadis polos yang ia cintai kini sedang berpagutan mesra dengan seorang pria begitu saja.


‘Apa-apaan ini? Siapa sebenarnya laki-laki ini, kenapa sepertinya tidak asing?’


Pria muda berusia 27 tahun itu lantas mendekat dan menarik tubuh tegap Edward. Tindakan Rendra membuat pagutan Laura dan Edward terlepas.”


“Sial..” Edward mengeram karena ada yang menganggu kesenangannya.


Bugh..


Satu pukulan melayang ke arah perut Edward. Laura yang melihat itu menjadi histeris. Ia berusaha melerai perkelahian itu.


Saling serang terjadi di areal parkir restoran milik Yulia. Keributan itu membuat banyak orang melihat keluar restoran. Termasuk Yulia sang pemilik restoran.


“Ada apa ini?” Tanya Yulia kepada salah satu pegawainya.


“Ada yang bertengkar mbak, sepertinya memperebutkan Lala.” Jawab pegawai itu.


“Astaga, jangan-jangan..” Yulia pun mendekat ke arah sumber keributan.


Baku hantam masih terjadi, Laura terus berusaha memisahkan kedua pria itu.


“Ed, kak Arga aku mohon berhenti.” Ia berusaha agar bisa memisahkan keduanya.


“Menjauhlah, Ara.”


“Jangan ikut campur, La.”


Sahut kedua pria itu bersamaan.


Laura mendekat ke arah Johan yang berdiri santai sambil bersedekap.


“Pak Jo, kenapa diam saja? Tolong pisahkan mereka.” Laura menarik lengan Johan.


“Untuk apa di pisahkan, nona? Mereka sudah sama-sama dewasa. Kalau mereka lelah, pasti berhenti.” Johan mengedikan bahunya tak acuh.


“Iya pak Jo, tetapi ini banyak orang yang melihat. Bagaimana jika ada yang mengenali Edward? Bisa-bisa—“


“Astaga, aku lupa. Kenapa nona baru memberitahuku?” Asisten itu lantas mendekat ke arah dua pria yang masih saja saling pukul.


“Bos, sudah cukup.” Johan menarik tangan Edward yang terkepal di udara.


“Jangan ikut campur, Jo.”


“Bos, banyak orang mulai melihat ini, bagaimana jika ada yang mengenalimu?” Bisik Johan.


Kepalan tangan Edward perlahan melemah. Ucapan Johan ada benarnya, jika sampai ada orang yang mengenalinya atau ada orang yang merekam dan menyebar luaskan kejadian ini, itu tidak akan baik untuk dirinya terlebih lagi untuk Laura.

__ADS_1


Edward pun melepaskan cengkeram tangan kirinya pada kerah kemeja yang Rendra gunakan, lalu begitu saja menghempaskan pria itu.


“Aku peringatkan padamu, jangan coba-coba kamu berani menyentuh Laura sedikit pun. Jika itu terjadi lagi, aku akan menghabisi mu dengan tanganku.”


Edward berlalu menuju ke arah Laura.


“Ikut aku pulang sekarang!” Pria itu menarik tangan Laura.


“Ed, sebentar aku mengambil tas ku dulu.”


“JOHAN..”


“Iya bos?” Johan mendekat ke arah atasannya.


“Kemari kan kunci mobilnya. Dan ambil barang Ara yang ada di dalam. Kamu pulang dengan mobil Ara.”


“Baik, bos.” Johan menyerahkan kunci mobil kepada Edward lalu berlalu menuju ke dalam restoran.


Edward masih menarik tangan Laura. Ia tidak perduli dengan beberapa orang yang masih menatapnya.


Rendra masih mematung di tempatnya. Ia sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Siapa sebenarnya pria dewasa ini. Kenapa Laura begitu patuh padanya. Banyak hal yang ingin Rendra ketahui jawabannya.


Johan telah berada di dalam restoran, ia menghampiri salah satu pramusaji yang sedang bekerja.


Namun belum sampai pada pramusaji itu, langkah Johan di cegat oleh Yulia.


Johan mengreyitkan dahinya. “Maaf, saya sedang terburu-buru.” Jawabnya.


“Apa anda mencari barang-barang milik Laura?” Tanya Yulia.


“Bagaimana anda tau?”


“Saya Yulia, pemilik tempat ini. Saya membutuhkan penjelasan dari anda atas keributan yang terjadi di depan restoran saya.” Ucap Yulia to the point.


“Tidak ada yang perlu di jelaskan, Ibu Yulia. Saya mewakili atasan saya, meminta maaf atas keributan yang terjadi. Kami akan membayar ganti rugi atas apa yang kami lakukan.” Jawab Johan sopan.


“Anda tidak perlu membayar apapun, pak. Asalkan, anda memastikan kalau tidak terjadi sesuatu apapun dengan Laura.”


“Saya jamin nona Laura aman seratus persen, ibu Yulia.” Jawab Johan dengan tetap tersenyum.


“Sekarang, tolong tunjukan pada saya dimana tempat tas nona Laura berada. Lebih cepat saya pulang, lebih cepat juga saya bisa melihat keadaan nona Laura.”


“Mari saya antar, pak.”


*****


Edward masih menggenggam tangan Laura ketika memasuki penthouse mewah miliknya. Ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


‘Habislah kamu malam ini, Laura Anastasia. Kenapa kamu begitu bodoh, membiarkan dirimu di peluk kak Arga’ batin Laura menjerit.


Tanpa ia sadari, kini mereka sudah ada di dalam kamar tidur milik Edward. Suara pintu yang di banting menyadarkan Laura.


‘Astaga, pria tua ini sangat marah’


Edward kembali menyeret tangan Laura dan membawanya ke dalam kamar mandi. Lalu menyalakan air yang ada di bathtub.


Laura menjadi sangat gugup, apa yang akan di lakukan Edward padanya? Mungkinkah ia akan di tenggelamkan di dalam bak mandi besar itu.


Laura menggelengkan kepalanya.


“E-Ed.. a-apa yang ingin kamu lakukan?” Ia memberanikan diri untuk bertanya.


“Buka bajumu!” Seru pria itu.


“A-apa?”


“Aku katakan buka bajumu Laura Anastasia. Apa kamu tuli?” Desis Edward.


‘Astaga’


Dengan tangan gemetar Laura membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan.


Merasa yang Laura lakukan begitu lambat, Edward pun mengambil alih, dan membuka kemeja itu. Lalu membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi itu.


Laura menganga melihat apa yang Edward lakukan. Kemeja itu, baru beberapa hari yang lalu ia beli dengan Melani. Dan baru ia gunakan hari ini untuk bekerja. Tetapi nasibnya kini berada di dalam tempat sampah.


“Jangan sekali-kali kamu berani menggunakan baju itu lagi. Aku tidak mau ada bekas pria lain di tubuhmu, Ara.” Pria itu lalu mencengkeram kedua pipi Laura dengan satu tangannya. Yang membuat bibir gadis itu mengerucut.


Pria dewasa itu lantas menye*sap bibir tipis gadis itu. Secara alami Laura membalas se*sapan itu, ia pun mengalungkan tangannya di leher Edward.


Semakin lama, pagutan itu semakin panas. Tangan keduanya juga ikut memberi sentuhan-sentuhan pada tubuh lawan jenisnya.


Edward menggendong Laura di depannya, seperti induk koala, tanpa melepas pagutannya.


Perlahan, Edward membawa tubuh Laura ke dalam bathtub. Ia pun ikut masuk kedalamnya. Ia menurukan tubuh Laura kedalam air, dengan masih saling bertukar saliva. Edward melepas jas yang ia kenakan, membuang begitu saja di lantai kamar mandi, ia juga melepas kemejanya dan membuangnya begitu saja.


Mereka perlahan meluruhkan diri kedalam air. Merasa pasokan oksigen telah menipis, kedua makhluk berbeda usia itu pun menyudahi aksi mereka.


“Kamu miliki ku, Laura Anastasia.” Bisik Edward dengan nafas yang masih tersengal.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2