TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 65. Terimakasih, Sudah Mencintaiku!


__ADS_3

Edward mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kanannya memegang kemudi, sementara tangan kiri menggenggam tangan kanan Laura.


“Ed..?”


Pria yang memakai kacamata hitam itu menoleh sebentar ke arah gadis disampingnya. Kemudian ia kembali fokus pada jalanan.


“Ada apa, baby?”


Laura meletakan tangan kirinya di atas tangan kiri Edward. Gadis itu mengusap tangan besar yang sering memberikan sentuhan lembut kepadanya.


“Apa dirumah mu tidak ada foto papanya Devano? Sehingga Devano tidak tau tentang papanya?”


Gadis itu masih penasaran dengan cerita keluarga Edward.


“Banyak, baby. Tetapi semuanya disimpan di kamar Felisha dan David. Semenjak David meninggal, Felisha tidak lagi menempati kamar mereka. Dia menggunakan kamar yang lain.” Jelas Edward.


“Lalu, apa nyonya Felisha tidak pernah kembali ke kamar itu?”


“Sering, baby. Saat Devano tidak di rumah. Felisha akan membuka kamar itu. Membersihkan semua bingkai-bingkai foto David.” Edward menghela nafasnya.


“David sangat menyukai kebersihan, karena itu setiap saat Felisha akan membersihkan kamar mereka. Ia selalu menganggap David akan datang kesana untuk beristirahat. Tetapi, ia sendiri belum siap untuk tidur disana.” Ucap pria itu panjang lebar.


Laura mengusap tangan Edward. Memberi kekuatan pada pria itu.


“Lalu, kenapa nyonya Felisha tidak mau tinggal di kota bersamamu, Ed?” Tanya Laura lagi.


“Itu karena dia tidak mau jauh dari David, baby. Semua kenangan pria itu ada disana. Makamnya pun ada disana bersama makam papa dan ayahnya. Karena itu Felisha ingin tetap disana.”


Mata Edward kembali memanas. Ia sama seperti Laura, saat mengingat tentang keluarganya ia akan menangis.


“Nyonya Felisha sangat mencintai suaminya, ya.”


Edward mengangguk membenarkan ucapan gadis itu.


“David adalah cinta pertamanya Felisha. Begitu juga kamu, Laura. Kamu adalah cinta pertamaku.”


Laura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipinya merona sempurna, mendengar pengakuan yang keluar dari bibir Edward. Tetapi, ia belum bisa menjawab ungkapan hati pria dewasa ini.


Bukan tanpa alasan, gadis itu pernah mengalami penolakan dari keluarga mantan kekasihnya. Ia tidak mau hal itu terulang kembali.


Apalagi setelah ia mendengar cerita Edward tentang Felisha yang posesif kepada pria itu. Ia tidak mau berharap terlalu banyak kepada Edward.


Pria itu mungkin saja mencintainya, tetapi bagaimana dengan mama dan saudari kembarnya? Apa bisa menerima gadis yatim piatu yang tidak memiliki warisan seperti dirinya?


*****


Tanpa terasa perjalanan mereka selama 3 jam lebih, kini mereka telah tiba di parkir bawah tanah gedung penthouse yang ditempati oleh Edward.


Gedung itu adalah salah satu properti yang dimiliki oleh pria itu. Karena itu ia menempati unit paling mewah di gedung itu.


“Kamu lihat, mobilmu sudah terparkir cantik disini?” Edward menunjuk ke arah mobil tua milik Laura.


Mereka keluar dari dalam mobil. Edward mengeluarkan koper gadis itu. Lalu mengunci mobilnya.


Seorang petugas keamanan yang berjaga disana, datang menghampiri mereka.

__ADS_1


“Permisi, bos. Ini ada titipan kunci.”


Petugas itu menyerahkan kunci mobil milik Laura kepada Edward.


“Terimakasih, pak.” Ucap Laura dan Edward bersamaan.


Mereka menaiki lift menuju unit yang ditempati. Sesampainya di penthouse kedua manusia berbeda usia itu berjalan beriringan menuju kamar.


Edward membawa koper itu kedalam ruang ganti. Laura meletakan ranselnya di meja yang biasa ia gunakan untuk belajar.


Gadis itu berjalan menuju tempat tidur. Ia meletakan ponselnya di atas nakas.


Deg..


Laura tersentak melihat benda yang ada di atas nakas samping kanan tempat tidur itu. Ia lalu menoleh ke arah nakas yang di sebelah kiri tempat tidur.


Lagi-lagi ia tersentak.


“Ed..” teriak gadis itu seketika.


“Ada apa, baby?” Pria yang tadinya ingin memasukkan barang-barang Laura kembali pada tempatnya, segera berlari menuju ke arah ranjang, ketika mendengar teriakan gadis itu.


“Ada apa, baby?” Edward memegang kedua bahu gadis itu.


“Itu..” Laura menunjuk ke arah nakas bergantian.


“Oh..” Edward tersenyum manis. Ia lalu berjalan ke arah nakas yang berada di kanan dan meraih benda itu.


“Cantik ya?” Edward menunjuk benda itu. Sebuah bingkai foto dimana memperlihatkan Laura yang tengah menggunakan toga saat kelulusan SMA nya.


“Itu juga cantik.” Edward menunjuk bingkai yang satunya lagi. Bingkai yang ia curi dari dalam kamar gadis itu. Kemarin saat ia meninggalkan panti asuhan, ia menyuruh orang untuk membawa bingkai-bingkai itu kepada Johan. Setelah itu, ia meminta Johan untuk meletakan di kamarnya.


“Menurutmu darimana, baby?” Edward menyeringai. Ia meletakan kembali bingkai foto itu pada tempatnya.


“Jangan katakan jika kamu—,” Edward menganggukkan kepalanya sebelum Laura selesai berbicara.


“Kapan kamu kesana?”


Edward menarik tubuh Laura, membawanya ke atas ranjang, dan mendudukkannya di atas pangkuan pria itu. Dengan posisi Laura menghadap ke depan.


Edward memeluk erat pinggang gadis itu dari belakang. Menumpangkan dagunya di atas bahu Laura.


“Malam dimana kamu meninggalkan tempat ini, aku pergi mencarimu. Tujuan pertamaku adalah meminta penjelasan kepada Felisha, untuk apa dia datang kesini tanpa memberitahuku. Setelah itu, aku pergi ke panti untuk mencarimu. Dan ibu Maria meminta ku beristirahat di kamarmu. Aku pun mencuri bingkai itu dari sana.” Pria itu terkekeh di akhir ucapannya.


“Tunggu, kamu bilang nyonya Felisha kemari tanpa memberitahumu?”


Edward menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak tau jika saudari kembarnya itu datang ke kota.


Biasanya wanita itu tidak pernah mau datang ke kota. Felisha tidak mau meninggalkan rumahnya terlalu lama. Takut jika mendiang David pulang, ia tidak ada dirumah.


Edward sebelumnya sudah mencoba membawa Felisha ke tempat konsultasi kejiwaan. Tetapi wanita itu menolak. Ia bukan wanita gila yang harus di periksa mentalnya.


“Tetapi, Ed. Waktu itu nyonya Felisha mengatakan jika dia akan menemui mu di kantor.” Jelas Laura.


“Baby, dia sengaja kesini untuk menemui mu.” Ucap Edward.

__ADS_1


“A-apa? Jadi dia tau tentang aku?”


“Iya.”


Edward menceritakan apa yang Felisha pernah ceritakan padanya tempo hari.


“Dia mulai curiga denganmu ketika kamu mengirimi aku pesan, menanyakan aku sudah makan siang?”


“Lalu kamu jawab apa waktu itu?” Tanya gadis itu lagi. Ia ingat Felisha mengatakan jika Edward mengatakan jika dirinya adalah seorang asisten rumah tangga.


“Baby, maaf. Waktu itu aku mengatakan jika kamu—,”


“Jika aku adalah asisten yang mengurus rumah ini.” Potong gadis itu dengan cepat.


“Maafkan aku, baby. Aku tidak bermaksud.” Edward menenggelamkan wajahnya di punggung gadis itu.


“Aku hanya takut, dia akan melakukan sesuatu padamu. Baby, percayalah. Tidak ada niatku untuk merendahkanmu. Aku sangat mencintaimu, karena itu aku tidak—,”


Laura membalik badannya, ia meraup kedua pipi pria itu. Dan melabuhkan sebuah kecupan di bibir Edward.


“Aku mengerti, Ed. Kamu hanya ingin melindungiku. Terimakasih. Karena kamu sudah mencintaiku begitu dalam. Tetapi, aku mohon, beri aku waktu. Aku belum siap, ini terlalu cepat untukku. Kita baru mengenal selama sebulan lebih beberapa hari.” Ucap gadis itu panjang lebar.


“Aku akan selalu menunggu mu, baby. Dan aku pastikan, kamu hanya akan menjadi milikku.”


.


.


.


T. B. C


————


Belum End kok, Genks.. 😅


Laura masih belum ketemu sama calon keluarga barunya.


Entah dia akan ditolak lagi atau langsung di suruh nikah 🤔🤔


Yang manis-manis saja dulu.


Siapa tau nanti ada nangis-nangis lagi 🤭🤫


———


Genks.. ingat ritual setelah baca..


Tinggalkan jejak kalian dengan


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Gift


TerimaGaji ❤️❤️


__ADS_2