TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
ExtraPart. Piknik Dadakan.


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan. Setelah semalam pasangan berbeda usia, Edward dan Laura menghabiskan malam dengan berbagi peluh bersama, dan pagi ini mereka bangun sedikit terlambat.


Waktu menunjukan pukul 9 pagi, ketika Edward keluar dari kamar, hendak mengambilkan sarapan untuk sang istri yang tengah membersihkan diri di kamar mandi.


Pria itu ingin memanjakan istrinya hari ini, untuk menebus waktu seminggu ke belakang, karena ia selalu sibuk bekerja.


Namun, belum sampai di ruang makan, alis pria berusia 35 tahun itu mengerenyit, kala mendapati sang sekretaris, Monica berada di ruang tamu rumahnya.


Edward yang hendak pergi ke ruang makan pun, memutar langkah menemui istri Johan Purnomo itu.


“Ini hari minggu, Monic. Untuk apa pagi-pagi begini kamu datang?” Tanya Edward tanpa basa-basi terlebih dulu. Ia memindai penampilan sang sekretaris, wanita itu menggunakan setelan pakaian santai, kemeja dan celana berbahan rayon, dengan warna senada, coklat muda.


“Ah, selamat pagi, pak Ed. Aku ada janji dengan nona.” Ucap wanita yang tengah hamil muda itu.


Dahi Edward kembali berkerut. Janji dengan sang istri?


“Mau kemana kalian?” Selidik pria itu.


“Tidak kemana-mana, hanya piknik di halaman belakang rumah ini.”


Edward menganga mendengar jawaban sang sekretaris. “Kamu serius? Kapan kalian membuat janji? Kenapa aku tidak tau?” Ia mencecar Monica dengan rentetan pertanyaan.


Monica menghela nafasnya pelan.


“Semalam. Nona mengirimi aku pesan, katanya dia suntuk sendirian. Pak Ed selalu sibuk, mungkin saja hari ini, bapak menghabiskan waktu di ruang kerja lagi, jadi nona mengajakku piknik di halaman belakang.”


Deg..


Edward tersentak. Ucapan Monica seperti menyindirnya. Ternyata, sang istri begitu membutuhkan perhatian, dan seorang teman.


“Pak? pak Ed?” Monica mengibaskan tangannya di depan wajah sang atasan. Pria itu seketika tersadar dari lamunannya.


“Kamu tunggu sebentar, aku akan memanggil istriku. Apa kamu sudah sarapan?”

__ADS_1


“Tadi sudah, pak.”


Edward mengangguk, ia kemudian kembali ke kamar untuk memanggil sang istri.


“Sayang.” Edward mendekat, kemudian mendekap tubuh sang istri dari belakang. Wanita itu tengah mematut diri di depan cermin.


“Ya, pi?”


“Ada Monica di bawah.” Sebuah kecupan Edward labuhkan pada pipi sang istri. Tangan kekarnya pun bergerak mengusap perut Laura yang mulai membuncit.


“Mbak Monica sudah datang?” Mata wanita muda itu terlihat berbinar. Rasa bersalah semakin menghinggapi hati Edward.


“Ya.. maafkan aku, Ra.” Ucap pria itu kemudian.


Alis Laura hampir menyatu mendengar ucapan sang suami.


“Maaf untuk apa, pi?”


“Maaf karena aku terlalu sibuk. Maaf karena aku tidak punya waktu untukmu.”


“Aku tidak masalah, jika papi sibuk karena bekerja. Bagaimana pun juga, papi bekerja untuk aku, dan keluarga kita. Aku memaklumi itu, tetapi jika papi sibuk bersama wanita lain, maka aku tidak akan mentoleransi lagi. Papi tinggal pilih, aku atau wanita itu.”


Edward tersenyum mendengar ucapan sang istri. Ia pun kembali mengecup pipi wanita itu dengan gemas.


“Hanya kamu. Tidak ada yang lain.”


****


Dengan di bantu oleh para asisten rumah, piknik dadakan yang di rancang oleh Laura pun terealisasi di halaman belakang rumah mewah miliknya.


Beralaskan sebuah karpet, Laura dan Monica duduk dengan bersila, dan saling berhadapan. Di tengah-tengah mereka, terdapat beraneka ragam buah yang bisa di gunakan untuk membuat rujak. Tak lupa, sebuah cobek berukuran sedang, dan bumbu-bumbu rujak yang siap di olah di atas batu berbentuk cekung itu.


Ya, tema piknik dadakan para ibu hamil itu adalah memakan rujak buah.

__ADS_1


Setelah menyiapkan alat dan bahan piknik, para asisten rumah tangga, ingin membantu sang majikan membuat rujak, setidaknya mereka memotongkan buah dan mengulek bumbu, namun Laura menolak. Wanita itu ingin dia dan Monica yang melakukan sendiri.


Edward menelan ludahnya susah payah. Ini masih bisa di bilang pagi, namun kedua wanita itu dengan lahap memakan buah-buahan yang terasa asam itu.


Sesekali pria itu bergidik, kala melihat sang istri menggigit potongan mangga muda, yang telah di cocol ke dalam kubangan bumbu rujak.


“Ra, jangan terlalu banyak. Nanti kamu muntah.” Peringat Edward, pria itu duduk tak jauh dari para wanita.


“Apa papi mau mencobanya?” Laura mengulurkan tangan berisi potongan mangga. Namun, kepala Edward menggeleng dengan cepat.


“Bos.” Johan datang menghampiri sang atasan.


“Darimana saja kamu? Lihatlah kelakuan mereka. Ini masih pagi, apa gigi mereka tidak ngilu?”


“Aku tadi memeriksa beberapa berkas yang bos kirim semalam.”


Edward menghela nafasnya pelan. Semalam, setelah sang istri terlelap, ia kembali ke ruang kerja sebentar, untuk mengirim pekerjaannya kepada sang asisten.


“Kak Jo?” Laura berseru sembari melambaikan tangan. Dan Johan pun membalasnya.


“Ayo ikut bergabung, kita sudah lengkap.” Seru istri Edward itu lagi. Namun, para suami mereka tak bergeming dari tempatnya.


“Jadi kalian tidak mau menuruti keinginan ku? Padahal, aku jarang sekali meminta kepada kalian. Sekalinya meminta, susah sekali menurutinya.” Nada suara Laura terdengar bergetar. Monica pun mengusap lengan wanita yang lebih muda darinya itu.


“Astaga, Jo. Drama sudah di mulai. Jika tidak di turuti, dia akan merajuk.” Edward menggerutu, pria itu kemudian bangkit dari duduknya. Johan mau tidak mau mengikuti sang atasan.


“Siapa bilang tidak mau? Kami dengan senang hati menuruti keinginan para mami hamil.” Edward pun menghempaskan tubuhnya di samping sang istri. Dan Johan di samping Monica.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2