TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 75. Jangan Menyakitinya!


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Johan kembali berlari ke ruangan sang atasan. Baru beberapa menit tiba di ruangannya sendiri, ia di kagetkan dengan pesan yang masuk ke ponselnya.


“Pak Jo, ada apa?” Tanya Monica sang sekretaris direktur, yang bertugas tepat di depan ruangan sang atasan.


“Nanti aku ceritakan.” Pria itu berucap tanpa menoleh ke arah sang kekasih. Dan berjalan begitu saja ke ruangan Edward.


“Bos.” Ucap pria itu saat membuka pintu.


Di dalam ruangan itu, sang atasan tidak sendiri. Nampak ada dua orang lain di sana. Mereka adalah sang manejer keuangan dan manejer pemasaran.


“Dimana sopan santun mu, Johan Purnomo?” Ucap Edward dingin. Pria itu memicingkan matanya pada sang asisten.


“Maaf, tetapi ini darurat bos.”


Edward yang sudah tau sepak terjang sang asisten pun, tidak berbicara lagi.


Ia memerintahkan kedua bawahannya yang lain untuk meninggalkan ruangan itu.


Setelah ke pergian dua rekannya, Johan mendekat ke arah sang atasan. Ia menyodorkan ponselnya pada pria dewasa itu.


“Bos.. Lihatlah.”


Edward mengambil ponsel itu. Matanya membulat sempurna melihat gambar pada ponsel asistennya.


“Darimana kamu mendapatkan foto ini, Jo?” Tanyanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Maaf bos. Setelah nona kembali, aku meminta seseorang untuk mengikutinya. Aku takut jika nona kabur lagi.” Jawab Johan dengan menunduk. Ia tau dirinya telah lancang, jika pun harus di hukum oleh atasannya, ia telah siap.


Edward mengembalikan ponsel sang asisten, ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan ruangannya.


“Bos, aku ikut.” Johan menyusul sang atasan.


“Kirimkan aku alamat tempat itu, Jo. Kamu tetap disini urusi pekerjaan yang masih tersisa. Ini urusan pribadiku.”


Edward meninggalkan ruangannya dengan tergesa-gesa. Di ikuti oleh Johan dari belakang.


“Sayang, ada apa?” Monica mencegat sang kekasih. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara atasan dan juga kekasihnya.


“Semoga nona Laura baik-baik saja, sayang.”


“Apa terjadi sesuatu?” Tanya gadis itu lagi.


“Mama, maksudku nyonya Hugo sekarang sedang bersama nona Laura. Aku sendiri tidak tau darimana nyonya besar tau tentang nona.”


Johan meraup wajahnya sendiri. Ia merasa kecolongan. Sampai-sampai nyonya besarnya tau tentang keberadaan Laura.


“Mungkin dari nyonya Felisha, sayang.” Monica berusaha menenangkan pria itu.


“Tidak mungkin, sayang. Nyonya Felisha tidak mungkin memberitahukan keberadaan nona Laura.” Pria itu berjalan menuju ruangannya sendiri.


“Astaga, semoga nona Laura baik-baik saja.” Monica mengikuti langkah kaki sang kekasih.


******


Di perjalanan Edward merasa frustrasi, ia sedang terburu- buru, tetapi kondisi jalanan tidak mendukungnya.


Arus lalu lintas padat merayap di beberapa titik. Segala umpatan dan makian pria itu lontarkan dari dalam mobilnya.


Hatinya kini sedang tidak tenang. Bagaimana bisa sang mama bertemu dengan sang kekasih? Apa mamanya menyelidiki Laura?


Pria dewasa itu sungguh bimbang, jangan sampai sang mama menyakiti hati kekasihnya. Apalagi sampai menghina keluarga gadis itu.


“Tidak, tidak. Mama bukan orang seperti itu.”


Edward berusaha meyakinkan hatinya. Menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya kasar.

__ADS_1


“Sial, kenapa jalanan harus padat begini.” Pria itu memukul setir mobil mewahnya untuk melampiaskan kekesalannya.


Hampir 30 menit berada di jalanan, kini Edward telah tiba di halaman restoran mewah yang menjadi tempat bertemu antara sang mama dan kekasihnya.


Pria itu bergegas memasuki tempat makan itu, namun seorang pramusaji mencegatnya di depan pintu.


“Maaf, pak. Ada yang bisa di bantu?” Ucapnya ramah.


“Aku sedang buru-buru.” Jawab pria dewasa itu.


“Maaf, apa anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?” Tanya pramusaji itu lagi.


“Astaga.” Edward menjambak rambutnya.


“Mama dan kekasihku ada di dalam.” Geram pria itu.


“Boleh saya tau siapa namanya?”


‘Sial.. jika bukan seorang wanita, sudah aku pastikan dia habis ditanganku.’


Pria itu membuang nafasnya kasar.


“Nyonya Aurora Hugo.”


Pramusaji itu mengecek daftar tamu yang berada di dalam restoran itu.


“Maaf pak, tidak ada nama tamu yang bapak sebutkan tadi.” Ucap gadis itu sopan.


“Kamu—,” tangan pria itu sudah terkepal ingin meninju obyek di depannya, namun pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada dua orang wanita berbeda usia di dalam restoran itu, ia melihatnya melalui dinding kaca.


“Lihatlah, mereka mama dan juga kekasihku.” Tunjuk Edward ke arah dua orang yang sedang bercengkerama di dalam sana.


“Nyonya Samantha dan nona Laura?” Tanya gadis itu lagi.


Deg..


“Iya.” Pria itu berjalan menerobos ke dalam restoran.


“Maaf nyonya, tetapi aku tidak bisa. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkannya.”


“Apa kamu begitu mencintainya? Hingga kamu tidak mau meninggalkan pria itu?”


Wanita paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Tinggalkan pria itu, La. Aku akan memberikan apapun padamu dan panti asuhan mu. Aku yakin tidak ada yang lebih baik dari putraku untuk mendampingi mu.”


‘Astaga, Tuhan. Sikap nyonya Samantha mengingatkan ku pada pria tua itu.’


Kepala Laura menggeleng. Ia tidak bisa menerima lamaran nyonya Samantha, meski belum tentu keluarga Edward akan menerimanya. Bagaimanapun juga, sekarang dirinya sudah tidak pantas untuk pria lain.


“Maafkan aku, nyonya. Aku tidak bisa.” Ucap gadis itu lagi.


“Kamu tau, apa yang bisa aku lakukan pada keluarga mu?” Nyonya Samantha mulai mengeluarkan jurus terakhirnya. Meminta secara baik-baik tidak di terima, maka ia akan menggunakan cara lain yang lebih kejam.


Tidak ada hal yang tidak bisa wanita paruh baya itu dapatkan. Segala sesuatu yang ia inginkan selalu ia dapatkan.


Tetapi ia belum pernah melakukan cara kotor untuk memenuhi keinginannya. Jika sekarang harus menggunakan cara itu untuk mendapatkan yang ia mau, kenapa tidak?


Kepala Laura kembali menggeleng. Ia tidak mau terjadi apapun dengan keluarganya.


“Nyonya, aku mohon jangan sakiti keluargaku.”


Nyonya Samantha mencebikan bibirnya. Sangat mudah memperdaya gadis ini, jika membawa-bawa keluarganya.


“Turuti keinginan ku, maka tidak akan terjadi apapun pada keluarga mu. Bahkan aku menjamin, keluarga mu akan hidup lebih baik setelah ini.”

__ADS_1


“MA..”


Suara bariton menggelegar di ruangan itu. Kedua wanita itu menoleh ke arah sumber suara.


Deg..


Laura mengerenyitkan dahinya. Entah kenapa jantungnya kini berdetak lebih kencang.


Sementara itu, nyonya Samantha tersenyum cerah mendapati sang putra berada disana.


“Ed..” kedua wanita itu menyebut nama Edward secara bersamaan.


Nyonya Samantha menoleh ke arah Laura. Ia tersentak. Apa gadis itu mengenal putranya?


“Kamu mengenalnya?” Wanita paruh baya itu masih sempat bertanya.


Laura menganggukkan kepalanya.


‘Apa jangan-jangan, nyonya Samantha—,’


Edward mendekat ke arah kedua wanita itu. Ia langsung menarik lengan Laura, membuat gadis itu berdiri dan menyembunyikan tubuh gadis itu di balik punggungnya.


“Apa yang kamu lakukan, Ed?” Nyonya Samantha ikut berdiri.


“Jangan menyakitinya. Ini urusan kita berdua, jangan coba-coba menyakitinya apalagi mengancam dengan membawa-bawa keluarganya” Edward menggenggam tangan Laura di balik punggungnya.


“Ed..” gadis itu berbisik.


“Tunggu, ada apa ini, Ed? Siapa yang menyakitinya?” Tanya nyonya Samantha bingung.


“Kamu mengenal gadis ini?” Tanyanya lagi.


“Dia kekasihku, ma.”


Deg…


‘Apa? Mama?’


.


.


.


T. B. C


———


Hahaahaa sudah pada ke tebak semua ya 😅


Aku sudah bilang, aku baru belajar nulis. Bikin konflik juga belum bisa.


Dan percayalah.. tidak ada orang ketiga di cerita ini..


Yang ada hanya orang ke empat, ke lima dan seterusnya 😅😅 *canda 😝😝


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift.

__ADS_1


TerimaNasib ❤️❤️


__ADS_2