
“Mama.. aku merindukan papa dan Mami. Kenapa mereka tidak datang akhir pekan kemarin?”
Devano merajuk pada sang mama, saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju ke rumah, setelah pulang sekolah.
“Sayang, papa sedang sibuk. Banyak pekerjaan. Nanti pasti mereka mengunjungi kita.” Felisha berusaha memberi pengertian, jika dulu sang kakak hanya sibuk mengurus kantor, kini kesibukan pria itu bertambah. Ngurus istri mudanya.
“Lalu mami? Kenapa mami tidak datang? Kemarin mami pasti libur kuliah kan?”
Felisha menelan ludahnya kasar. Ia menggaruk kecil dahinya, sembari mencari jawaban.
“Sayang mungkin mami sedang banyak tugas kuliah. Kan mami sudah mau lulus kuliah, sayang. Jadi mami harus banyak belajar.”
“Aku mau menelpon mami.”
“Iya nanti sampai di rumah kita hubungi mami kamu ya.” Felisha mengelus kepala putranya. Sering kali wanita itu merasa sang anak memiliki sifat yang sama dengan saudara kembarnya. Segala keinginan harus di turuti, jika tidak, anak itu akan terus merajuk.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesuai perintah Edward sopir yang bekerja menemani kemana pun Felisha pergi, tidak boleh melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata.
Maka, kemana pun Felisha pergi, ia akan bersiap lebih dulu, agar tidak terlambat.
Setelah hampir setengah jam di perjalanan pulang, mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman rumah keluarga Hugo.
Devano turun dengan terburu-buru. Ia berlari memasuki rumah, tidak sabar ingin menghubungi sang mami, yang tidak datang akhir pekan kemarin.
Devano hanya anak kecil yang jika di janjikan akan menuntut janji itu.
Laura pernah menjanjikan akan selalu datang di hari liburnya, namun kemarin wanita itu tidak mengunjunginya.
“Dev, hati-hati.” Felisha ikut berlari mengejar sang putra. Namun Devano telah menghilang di ujung tangga.
Untung saja sang mama sedang tidak di rumah, jika ada, bisa di pastikan Felisha akan di ceramahi oleh nenek Devano itu.
Sampai di kamar, ia mendapati sang putra tengah mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian santai. Hal itu membuatnya menghembuskan nafas lega.
“Ayo mama, hubungi mami.” Devano menarik sang mama ke arah ranjang.
Meski sudah bisa menggunakan ponsel, namun Felisha belum memberikan benda pipih pintar itu kepada putranya. Ia tidak mau fokus belajar Devano menjadi terbagi.
Apalagi saat ini, begitu banyak hal bisa di jelajahi melalui benda pintar itu. Ia tidak mau putranya berselancar ke tempat yang salah.
“Iya, nanti kita hubungi. Sekarang Devano makan siang dulu ya.”
“Tidak! Aku tidak mau makan, sebelum bicara dengan mami.”
Astaga, batin Felisha terlonjak. Sang putra benar-benar duplikat dari Edward.
Dengan terpaksa Felisha mengambil ponselnya di dalam tas, kemudian menghubungi nomor kontak Laura.
“Panggilan video, mama.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Bukannya memanjakan Devano, namun Felisha tidak ingin terjadi keributan. Anaknya akan mengamuk jika tidak di turuti.
Panggilan pertama lolos. Tidak ada yang mengangkat. Devano meminta sang mama mengulangi lagi.
Dan pada panggilan ke empat, barulah muncul wajah di layar ponsel. Bukan Laura namun suaminya.
“Ada apa, Fel?” Tanya Edward dengan suara serak. Matanya terlihat masih sedikit memejamkan.
“Dimana Laura? Kenapa kamu yang menjawab?”
Terlihat di layar ponsel bibir Edward mencebik, kemudian layar turun dan menampakkan wajah Laura yang tengah terlelap di atas dada pria itu.
“Astaga.” Felisha terlonjak. Untung saja Devano belum melihatnya.
“Ini masih siang, apa kalian tidak punya pekerjaan lain?” Wanita itu menggerutu, saat melihat sang kakak dan istrinya, tanpa menggunakan baju.
“Ada apa? Kami sedang di negara tetangga, ada kunjungan kerja. Jadi aku manfaatkan sekalian untuk bulan madu.” Jelas Edward.
“Devano ingin berbicara dengan Laura. Kalian tidak pulang kemarin. Dan membuat anak itu merajuk.” Felisha menatap sang putra yang tengan duduk di atas ranjang. Sementara dirinya berada di dekat jendela.
“Mama, berikan ponselnya padaku.” Teriak sang putra.
“Kamu dengar? Ia bahkan tidak mau makan siang sebelum berbicara dengan maminya.”
Felisha membuang nafasnya frustrasi.
“Sebentar, aku bangunkan dia dulu. Nanti aku hubungi lagi. Katakan pada Devan, jika maminya akan bicara, jika dia sudah di meja makan.”
“Mami tidak mau berbicara denganmu, jika kamu tidak mau makan. Dia mau berbicara jika kamu sudah di meja makan.” Felisha menyodorkan ponsel kepada Devano.
Bocah itu mendengus kesal. Terpaksa ia menuruti perkataan sang mama, turun menuju meja makan. Agar bisa berbicara dengan maminya.
*****
Sementara itu di kamar hotel, Edward membangunkan sang istri yang sedang berkelana di dalam mimpi.
Dengan lembut Edward mengusap pipi sang istri. Memberi gangguan agar wanita itu tidak terkejut.
Laura menggeliat kecil. Ia merasa tidurnya mulai terganggu.
“Baby, sayang. Bangun.” Edward berujar. Kemudian melabuhkan kecupan di dahi Laura.
“Aku masih mengantuk, pi. Lagi pula ini masih siang kan?” Wanita itu menyerukan wajahnya ke leher sang suami.
“Sayang, tidurnya nanti lagi, ya. Devano ingin berbicara dengan mu. Dia merajuk karena kita tidak pulang kemarin.”
Mendengar deretan kata yang terucap dari bibir sang suami, membuat mata Laura terbuka sempurna.
Bagaimana ia lupa mengabari Devano jika akhir pekan kemarin ia sibuk mengerjakan tugas kuliah karena terlalu sering libur.
“Mana ponselnya, pi?” Laura bangkit dan meraih ponsel yang ada di atas nakas.
__ADS_1
“Sayang, gunakan dulu bajumu. Apa kamu mau Devano melihatmu begitu?” Edward yang posisinya kini tengah duduk bersandar di kepala ranjang, menunjuk ke arah tubuh bagian atas Laura yang terpampang indah tanpa penghalang.
“Astaga?” Wanita itu tersentak melihat tampilannya. Dengan cepat, istri dari Edward itu meraih baju yang teronggok di atas karpet bulu, memakainya kemudian merapikan rambutnya.
“Yang bawah tidak?” Edward menatap rakus pada bagian bawah nan indah itu.
Dengan cepat Laura masuk kedalam selimut. Menutupi tubuh bawahnya. Dan kembali meraih ponsel, untuk menghubungi Felisha.
“Lakukan panggilan video.” Bisik Edward di telinganya.
Laura menurut. Beberapa saat kemudian, terlihat Devano sedang melahap makan siangnya.
“Sayang.. mami kangen.” Ucap Laura pertama kali. Namun Devano acuh, dan tetap mengunyah makanannya.
“Sudah aku katakan dia merajuk.” Edward kembali bersuara.
“Sayang, maafkan mami, ya. Kemarin mami banyak mengerjakan tugas kuliah. Mami lupa mengabari Devano. Maafkan mami, sayang.”
Laura berucap sendu. Meski baru mengenal Devano, namun ia sudah sangat menyayangi anak itu.
Terlihat Devano meletakkan alat makannya, meminum air putih yang tersedia. Kemudian tangannya mengambil alih ponsel dari tangan sang mama.
“Kalau begitu, kapan mami akan pulang?” Tanyanya dengan mengerucutkan bibir.
“Apa kamu tidak merindukan papa, boy?” Edward menyela di antara mereka. Ia menumpangkan dagunya di pundak sang istri agar bisa melihat wajah putranya.
“Tidak. Sudah ada mami. Papa tidak penting.” Tukas Devano dengan kesal.
“Maafkan kami, boy. Papa dan mami tidak bermaksud melupakan mu. Sekarang papa sedang berada di luar. Kamu mau oleh-oleh apa? Nanti papa belikan.”
Cara yang selalu Edward gunakan untuk merayu bocah berusia 8 tahun itu, apalagi kalau bukan mainan.
“Benarkah, pa? Aku mau mainan yang banyak. Kalau tidak, aku tidak mau bertemu papa dan mami.”
Laura tersenyum mendengar ultimatum yang keluar dari bibir Devano. Anak itu sangat mirib dengan suaminya.
“Iya, sayang. Nanti mami belikan mainan. Nanti Devan kirimkan gambar mainan apa yang Dev mau.” Laura ikut merayu sang putra agar berhenti merajuk.
“Yey.. makasi mami, makasi papa. Nanti aku kirim gambarnya. Aku sayang kalian.”
“Kami juga menyayangimu, Dev.” Ucap Edward dan Laura serempak. Hal itu membuat mereka saling pandang kemudian tertawa bersama.
Obrolan pun berlanjut, Devano membawa ponsel sang mama kemana-mana. Bahkan saat bermain, sambungan telepon itu pun masih terhubung.
Laura dan Edward hanya bisa tersenyum dari seberang panggilan. Membayangkan suatu saat mereka mempunyai anak, mungkin akan sama seperti Devano.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C