TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 138. Kedatangan Leo.


__ADS_3

Laura termenung di depan cermin meja rias, di ruang ganti kamar mewahnya. Tiba-tiba, wanita yang tengah hamil muda itu teringat akan adiknya Leo, setelah ia melihat Damian dan Teresha bersama.


Apa mungkin ada hal yang di rencanakan mereka berdua?


Bagaimana hubungan mereka dengan Leo saat ini?


Dan masih banyak lagi tanya yang terlintas di benaknya.


“Sedang memikirkan apa, mi?”


Tanya Edward sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Setelah keluar dari kamar mandi, membersihkan wajah dan menggosok giginya, ia melihat sang istri berdiri mematung di depan cermin. Pria itu tau, pasti ada hal yang sedang calon ibu itu pikirkan.


“Pi?”


“Hmm?” Edward menumpangkan dagunya di atas bahu sang istri, dengan usil ia mengecup cerukan leher wanita itu dan sedikit menghisapnya.


“Aku memikirkan Leo.”


“Apa karena melihat Damian dan Teresha tadi?”


Laura mengangguk.


Edward menghela nafasnya pelan. Ia raih jemari tangan sang istri yang bertumpu di atas meja rias, kemudian mengecupnya.


“Besok aku akan meminta Bagas mengantar Leo kesini. Kamu bisa tanyakan hal yang mengganjal di hatimu pada adikmu besok. Sekarang jangan terlalu keras berpikir. Aku tidak mau kamu setres. Ingat, ada Hugo junior di dalam perutmu.” Telapak tangan besar Edward, menyelusup masuk ke dalam baju tidur berbahan satin yang Laura gunakan, kemudian mengusap lembut perut wanita itu.


“Terima kasih, papi selalu tau apa yang aku pikirkan.”


“Meski kita belum lama saling mengenal, tetapi aku selalu berusaha untuk memahami mu. Kita berbeda usia sangat jauh, terkadang, aku harus bisa menjadi teman, kakak, bahkan orang tua untukmu.”


Edward semakin mengeratkan dekapannya.


“Aku juga belajar banyak hal dari mu. Kadang aku harus menekan ego, supaya tidak menyakiti dirimu.” Lanjutnya lagi.


“Terima kasih, pi. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengan papi di kehidupan ini.”


“Hmm.. tidak hanya di kehidupan ini, di kehidupan sebelumnya, dan di kehidupan yang akan datang, kamu akan tetap menjadi milikku.”


Edward membalik badan sang istri, membuat wanita muda itu menghadap kepadanya. Seketika kedua tangan Laura melingkar di leher sang suami.


“Bukan hanya kamu, aku juga beruntung, bisa memiliki istri seperti dirimu. Tidak pernah menuntut, tidak pernah menghamburkan uang. Mungkin akan lain ceritanya jika aku menikah dengan wanita seumuranku. Saat bertengkar, pasti tidak ada yang mau mengalah. Karena mementingkan ego masing-masing.”


Laura tersenyum. Entah kenapa melihat bibir sang suami yang terus bergerak membuat pikirannya berubah kotor.


Dengan berani, Laura membungkam bibir suaminya dengan bibirnya sendiri.


Edward tersentak, namun sedetik kemudian ia menikmati perbuatan sang istri. Ia membiarkan saja apa yang wanita muda itu lakukan.


Hampir lima menit, ciuman yang tadinya lembut, kini semakin panas, dan semakin menuntut.


“Aku merindukan papi.” Ucap Laura dengan nafas tersengal. Ia menatap sayu wajah tampan sang suami.


“Mami yakin? Kita baru melakukannya kemarin.” Edward tidak mau mengambil resiko, meski ia juga menginginkan sang istri saat ini, namun ia tidak bisa sebebas sebelumnya dalam merasai raga wanita muda itu.

__ADS_1


Laura mengangguk.


“Asal selembut kemarin, aku tidak apa-apa,”


Laura kembali mengecup bibir sang suami yang nampak begitu ragu.


“Mungkin anak papi suka setiap hari bertemu dengan papi, jadi dia menginginkan di jenguk lagi.”


Edward mencebik. Anaknya bahkan masih berupa gumpalan darah. Istri kecilnya memang banyak akal.


“Aku tau, bukan anakku yang ingin di jenguk, tetapi maminya yang tidak tahan godaan.”


“Hmm.. siapa suruh papi begitu menggoda.”


Edward menyunggingkan sudut bibirnya, ia kemudian mengangkat tubuh semampai sang istri, dan membawa ke atas peraduan, untuk memenuhi keinginan wanita hamil itu.


Ya, keinginan yang menguntungkan bagi Edward.


******


“Rumah kakak besar sekali.” Ucap Leo terheran melihat rumah yang di tempati kakak dan kakak iparnya.


“Ini rumah kak Ed, dek.”


“Sama saja. Kalian suami istri.”


Laura tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia mengajak sang adik duduk di ruang keluarga.


“Baik, nyonya.” Wanita paruh baya itu undur diri.


“Kenapa datang sendiri?” Tanya Laura sembari duduk di samping adiknya.


“Ibu ada kegiatan amal bersama mertua kakak. Bibi di rumah menjaga adik-adik.”


Laura mengangguk paham, kemarin mama mertuanya juga sempat menghubungi, mengatakan tidak bisa datang karena ada kegiatan amal, Felisha dan Devano juga ikut bersama.


“Apa itu video games, keluaran terbaru, kak?” Tanya Leo dengan mata berbinar melihat ke arah televisi.


“Ya.. kamu mau bermain? Tunggu kak Ed pulang, dia sedang bermain golf, bersama kliennya.”


“Boleh?”


“Tentu. Benda itu jarang terpakai, kak Ed membelinya juga untuk kalian jika datang berkunjung.”


Bu desa datang membawa dua gelas jus jeruk, dan satu mangkuk kripik kentang. Sejak hamil, Laura selalu minta di buatkan kripik kentang, karena itu, tanpa di minta pun asisten rumah akan selalu menyiapkan.


“Bagaimana kabar bayi kakak?”


Laura menganga mendengar pertanyaan sang adik, mungkin maksud remaja itu, kabar kandungannya. Hanya cara bertanyanya saja yang sedikit keliru.


“Baik, dek.”


Leo mengangguk. Tangannya terulur meraih gelas jus di atas meja. Kemudian menyeruputnya. Sementara Laura meraih kripik kentang kesukaannya.

__ADS_1


“Dek?”


“Ya?”


Ada sedikit keraguan di hati Laura untuk bertanya, karena menurut laporan dari Bagas, sudah beberapa hari ini Damian dan Teresha tidak pernah terlihat di sekitar panti.


“Bagaimana hubungan kamu dengan pak Damian dan mbak Teresha?”


Tangan Leo yang hendak mengambil kripik kentang, menggantung di udara. Pemuda itu menarik kembali tangannya, dan meletakan di atas lututnya.


Menghela nafasnya pelan, ia kemudian menjawab pertanyaan sang kakak.


“Aku meminta mereka menikah lagi kak, baru aku akan memaafkan mereka.”


Laura tersentak mendengar ucapan sang adik. Bagaimana bisa remaja seusia Leo memikirkan syarat seperti itu.


“Tapi dek—.”


“Aku tau mereka tidak saling mencintai, mungkin lebih tepatnya hanya pak Damian yang mencintai nyonya Teresha. Karena itu aku ingin mereka bersama.”


‘Aku hanya tidak ingin nyonya Teresha terus mengharapkan kak Ed. Apalagi sampai menyakiti kakak. Jika mereka menikah, maka waktu nyonya Teresha hanya akan untuk pak Damian. Dia tidak akan punya waktu menganggu kalian.’ Leo melanjutkan ucapannya dalam hati.


“Apa kamu yakin dengan permintaan mu? Kamu tidak takut mereka saling menyakiti lagi?”


Leo menggeleng.


“Mereka sudah sama-sama dewasa. Harusnya sudah bisa berpikir dewasa juga kan?”


“Apa setelah mereka menikah, kamu akan ikut dengan mereka?” Perasaan Laura tiba-tiba sedih, membayangkan jika Leo akan meninggalkan panti dan ikut kedua orang tuanya.


Kepala pemuda itu menggeleng. Membuat sang kakak mengerenyit penuh tanya.


“Mungkin hanya sesekali. Atau di akhir pekan.”ucapnya sembari mengedikan bahu. “Yang jelas aku tidak akan meninggalkan panti.” Imbuhnya lagi.


“Tapi dek, bagaimana jika mereka tidak setuju, dan meminta kamu ikut?”


Leo menyeringai kecil.


“Aku punya cara agar mereka menuruti keinginan ku kak.” Ucapnya dengan kekehan kecil.


“Apa?” Tanya Laura dengan tatapan curiga.


“Tinggal aku ancam saja. Turuti keinginan ku, atau jangan pernah temui aku lagi.” Ucapnya tergelak.


Laura menganga mendengar jawaban sang adik. Ia sungguh tak percaya, jika adiknya yang di kira lugu, ternyata memiliki sifat licik juga.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2