
Setelah kembali dan mendekati meja, Laura melihat suami dan asistennya, telah berjabat tangan dengan pak Aditama. Perjanjian kerja sama Aditama Corporation dengan Hugo Group telah mencapai kata sepakat. Yang artinya, proyek pengerjaan rumah sakit bertaraf internasional itu akan di tangani oleh Edward.
Hal itu membuat Laura semakin waspada. Karena kedepannya, Teresha pasti akan selalu berkeliaran di sekitar suaminya.
Wanita dalam pikiran Laura itu pun, juga telah kembali dari toilet. Kemudian merapikan berkas-berkas sang atasan. Menyimpan ke dalam tas kulit yang ia bawa.
Laura menatap tak acuh pada wanita dewasa itu. Ia sudah memberikan peringatan, jika wanita itu tidak mengindahkan, maka Laura tidak segan untuk bertindak.
“Senang bisa bekerja sama dengan anda, pak Edward.” Pak Aditama menjabat tangan Edward dan Johan bergantian.
Melihat hal itu, Teresha juga melakukannya, tetapi ia hanya mendapat jabatan tangan balasan dari Johan.
“Papi, apa kita jadi check in?” Laura berseru dan bergelayut dengan manja pada suaminya.
Sengaja ia mengeraskan sedikit suaranya, supaya wanita pengagum suaminya itu bisa mendengarkan.
Edward mencebikan bibirnya, ia menatap jengah sang istri.
“Kita makan siang dulu.”
“Wah rupanya pak Edward sudah memiliki janji kencan dengan sang istri, ya?” Pak Aditama berceletuk, mengancingkan jas yang ia gunakan, kemudian sedikit menggeser kursi di belakangnya.
“Ah, iya pak.” Laura menjawab dengan berpura-pura tersipu malu.
“Suamiku selalu sibuk. Kami hanya sempat bertemu di malam hari. Kebetulan hari ini pekerjaannya tidak banyak. Jadi ya, di manfaatkan.” Wanita muda itu menjawab dengan mata yang tertuju pada Teresha.
Ia sangat senang melihat wanita dewasa itu kepanasan. Namun lain halnya dengan Johan, ia justru mencebikan bibirnya kesal.
‘Pekerjaan tidak banyak apanya? Pekerjaan suamimu selalu banyak nona. Enak sekali ya kalian mau check in. Sementara akulah yang akan mengerjakan pekerjaan suamimu.’
Untung Laura hanya adik angkat, jika adik kandung, mungkin Johan akan menjewer telinga wanita muda itu.
“Kalau begitu, kami permisi dulu, pak Edward, pak Johan dan Nyonya—,” pak Aditama menjeda ucapannya karena tidak tau nama istri dari Edward itu.
“Ah iya, kita belum berkenalan pak. Aku Laura, lebih tepatnya, Laura Anastasia Hugo.” Sambil menekankan kata Hugo, wanita itu kembali menatap Teresha.
“Baiklah, senang bertemu dengan anda nyonya Hugo.” Balas pak Aditama. Bak gayung bersambut, ucapan pria yang terlihat lebih tua dari Edward itu ikut memanasi hati Teresha.
Ia pun mengajak sang asisten pamit. Dan pak Aditama tak menyadari jika wajah asistennya sedang memarah menahan marah.
Setelah kepergian kliennya, Laura melepaskan belitan tangannya pada lengan Edward. Wanita muda itu menghempaskan bokongnya di atas kursi.
Edward mengreyitkan dahi melihat tingkah sang istri.
“Bos, apa bos akan kembali—,”
__ADS_1
“Tidak, aku ada janji kencan dengan istriku.”
“Tapi bos—,”
“Apa kamu mau pernikahan mu di undur lagi?”
Johan tak membantah lagi ucapan sang atasan. Ia kemudian pamit kepada pasangan suami istri itu, untuk kembali ke kantor.
“Sial, sekarang dia punya cara baru untuk mengancam ku.” Gerutu asisten Edward itu sembari terus melangkah menuju parkir.
“Ada apa?” Edward mengambil tempat di sisi sang istri. Ia menatap lekat wanita yang sangat ia cintai itu.
“Aku sedang kesal, pi. Berani-beraninya tante girang itu mencuri pandang kepadamu.” Laura tersungut, tangannya tiba-tiba terkepal di atas meja.
Edward mengulum bibirnya dalam. Ia senang karena sang istri tidak suka ada wanita lain yang memperhatikan dirinya.
“Jangan di pikirkan, lagi pula aku tidak perduli dengan wanita lain.”
“Papi memang tidak perduli, tetapi dia? Dia itu mencintai papi sejak kalian di bangku sekolah menengah atas, dia bahkan rela membuang anaknya demi terbebas dari Damian. Bisa saja, sampai sekarang dia masih menyimpan rasa sama papi. Jika di lihat dari cara dia menatap. Seperti wanita genit saja.”
Edward menganga. Istrinya berbicara panjang lebar, seperti orang yang sedang berceramah.
“Ayo..” Edward meraih jemari sang istri.
“Kemana?” Tanya Laura yang enggan bergeming.
“Aku tidak mau—,” Laura dengan sengaja menjeda ucapannya.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak mau check in, papi.”
“Kamu menolak suamimu?” Emosi Edward mulai tersulut.
Laura menggeleng, ia mendekatkan wajahnya pada sang suami. Kemudian berbisik manja.
“Aku tidak mau check in, aku mau kita ke penthouse. Tempat dimana pertama kali kita melakukannya.” Rangkaian kalimat itu Laura akhiri dengan meniup lembut telinga sang suami.
Pria itu seketika bangkit dan menyeret lengan sang istri. Wanita itu benar-benar nakal, ia telah membuat sesuatu mendidih di dalam tubuh Edward dan memberontak ingin di lepaskan.
******
Sesampai di penthouse, Edward bahkan tak memberi kesempatan pada sang istri untuk melepas rindu pada tempat tinggal mereka yang lama itu.
Masih berada di ruang tamu, pria dewasa itu sudah tak bisa di hentikan lagi. Ia mendorong tubuh semampi Laura, hingga terjerembap ke atas sofa. Dengan terburu-buru, Edward melepas satu persatu kain yang menutup raga kekarnya.
__ADS_1
Laura menelan ludahnya kasar, ia masih berusaha menolak, tidak mau melakukannya di ruangan itu.
“Papi, ini di ruang tamu. Bagaimana jika kita ke kamar?” Laura berusaha memberi penawaran, namun sang suami sudah polos.
“Aku tidak peduli.” Pria itu mendekat. Di tariknya kaki jenjang sang istri. Ia lepaskan satu persatu alas kaki yang melindungi telapak kaki wanita itu.
“Tapi, pi. Bagaimana jika ada yang datang?”
“Tidak akan ada yang bisa masuk ke tempat ini tanpa kartu akses.” Tangan pria itu berpindah menuju pinggang ramping istrinya.
“Bagaimana jika kak Johan melihat dari rekaman kamera pengawas?” Kali ini Laura yakin, suaminya akan sadar.
“Ponsel itu ada padaku.” Lepas sudah penutup tubuh bawah wanita itu.
Laura menggigit bibir bawahnya, saat sang suami bekerja keras di bawah sana. Pria itu benar-benar tidak waras. Bagaimana bisa tanpa merasa ji*jik ia berjongkok di depan sana.
“Pihhh.. Mmmhh.”
Kepala pria itu muncul di depan wajah istrinya. Ia melabuhkan kecupan hangat di atas kening wanita pujaan hatinya.
“Nikmati, baby. Kamu tau, ini adalah salah satu fantasiku. Menghabisi mu di setiap sudut tempat ini.”
Lagi-lagi Laura susah untuk menelan ludahnya. Ia teringat ucapan Edward yang mengatakan, jika pria itu memiliki banyak fantasi terhadap dirinya.
Mereka belum sempat membeli seragam SMA, sebab itu, Edward mewujudkan fantasinya yang lain.
Pria itu terus bekerja keras, memberi sentuhan lembut kepada Laura. Ia ingin, satu fantasinya terwujud hari ini.
“Pihh, apa serius ingin disini?” Laura kembali bertanya di sela kesadarannya yang kian menurun.
“Ya, bahkan setelah ini, kita akan melakukannya di dapur, meja makan, mini bar, di tangga, bahkan di balkon.” Ucap Edward sembari meloloskan kaos putih yang membelenggu bantal kentalnya.
Kepala Laura menggeleng kencang saat mendengar kata, di balkon.
“Di balkon? Apa papi ingin orang lain melihat tubuh polosku?”
Edward yang hampir mengulang masa balitanya, terpaku. Benar juga apa yang di ucapkan sang istri. Tidak! Ia tidak mau dan tidak rela orang lain melihat tubuh indah milik Laura.
“Tidak jadi. Aku hapus balkon dari daftar fantasiku.”
.
.
.
__ADS_1
T. B. C