
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa hari ini adalah akhir pekan ke empat Laura tinggal di penthouse mewah milik Edward.
Hubungannya dengan Edward juga berjalan seperti biasa, hampir setiap malam mereka habiskan dengan melakukan perjalanan menuju puncak.
Setiap kali melakukan kegiatan itu, benak Laura tidak hentinya meminta maaf kepada wanita yang ada di ponsel Edward.
Gadis itu sebenarnya ingin menolak, tetapi ia teringat akan uang yang telah pria itu berikan untuk menebus sertifikat panti asuhannya. Dengan setengah hati Laura pun memenuhi tugasnya, memberi kepua*san pada Edward.
Dan di pagi harinya, Laura tidak pernah lupa meminum obat pencegah kehamilan.
Akhir pekan, harusnya Laura pulang ke panti. Tetapi tamu bulanan yang datang pagi ini, membuat ia mengurungkan niatnya.
Setiap kali datang bulan, ia pasti akan merasa malas melakukan sesuatu. Karena rasa nyeri yang menyerang perut bawahnya.
“Baby, aku membuatkan air jahe hangat untuk mu.” Edward masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah secangkir.
Ia meletakan benda itu di meja nakas, di samping Laura. Karena gadis itu tidak beranjak dari tempat tidur.
“Terimakasih, Ed.”
Pria itu mengecup kening Laura. “Aku mau mandi dulu. Jo sedang membuat sarapan. Nanti kita sarapan bersama.”
Beberapa saat setelah Edward menghilang di balik pintu ruang ganti, ponsel yang terletak di samping cangkir air jahe itu berdenting. Menandakan sebuah pesan telah diterima.
Laura menoleh ke arah ponsel itu, dan ia tau jika benda pipih pintar itu, adalah milik Edward. Karena gadis itu telah mengganti soft case ponselnya dengan warna hijau army.
Rasa penasaran menuntun Laura meraih ponsel itu. Ia menekan tombol Power yang terletak di sisi kanan ponsel.
Deg…
“Apa kamu tidak pulang hari ini?”
“Devano menunggu mu, katanya kalian akan berkuda hari ini?”
“Apa kamu belum bangun tidur?”
Tiga pesan yang ia baca di layar ponsel tanpa membuka kunci ponsel itu.
“Felisha?” Gumam Laura.
“Apa wanita itu bernama Felisha? Dan Devano? Apa itu nama anak laki-lakinya?”
Laura melihat kembali layar ponsel yang masih terkunci itu. Lock screen ponsel itu masih sama, menampilkan seorang wanita dewasa yang sedang tersenyum bersama seorang anak laki-laki.
Laura menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya kasar.
Ia meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya.
“Ingat, jangan sampai kamu jatuh cinta dengannya, Laura.”
Hampir 30 menit, pintu ruang ganti kembali terbuka. Menampilkan Edward yang telah siap dengan pakaian santainya.
Laura memberikan sebuah senyuman kepada pria itu.
Edward mendekat dan meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Alisnya hampir menyatu setelah membaca pesan-pesan dari Felisha.
‘Bagaimana aku bisa lupa, jika hari ini aku berjanji mengajak Devano berkuda?’
“Baby,.”
Ia pun mengetikan sesuatu pada ponselnya. Lalu memadukan ke dalam saku celananya.
“Maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu di rumah.” Pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Lalu meraih tangan Laura yang bertaut di atas pahanya.
“Apa ada pekerjaan penting?” Laura pura-pura tidak tau apa yang pria itu baca di ponselnya.
__ADS_1
“Iya, baby. Aku lupa, jika hari ini aku ada janji dengan— ,” Edward menjeda sejenak ucapannya. Sepertinya sekarang belum saat yang tepat untuk ia mengatakan pada gadis ini. Karena kisah hidupnya begitu panjang.
“Dengan siapa, Ed? Apa dengan istri mu?” Laura terkekeh saat mengucapkan hal itu.
Deg…
“Tidak, baby. Aku ada janji dengan—,” ia merasa sedikit ragu. “Aku ada janji dengan keponakan ku.” Edward berusaha tersenyum di akhir ucapannya, ia merasa sedikit gugup.
‘Keponakan?’
“Benarkah? Kamu punya keponakan?”
Edward menganggukkan kepalanya kecil. “Sebelum kita menikah nanti, aku akan mengenalkan mu pada keluarga ku, baby.” Pria itu berkata dengan cepat, lalu mengecup tangan Laura dengan lembut. Berusaha mengalihkan pembicaraan agar Laura tidak banyak bertanya.
‘Kamu tidak perlu repot-repot, Ed. Aku juga tidak ingin mengenal keluargamu.’
“Ayo kita turun untuk sarapan.” Pria itu membantu Laura untuk turun dari tempat tidur.
Edward dan Laura menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Sampai di ruang makan, disana sudah terlihat Johan yang sedang menata sarapan di meja makan.
“Selamat pagi, pak Jo.” Ucap Laura ramah.
“Selamat pagi, nona. Apa nona sudah baikan?” Tanya Johan khawatir. Ia tau bagaimana jika seorang wanita sedang datang bulan, karena Monica sering mengeluh padanya.
“Masih pak Jo, ini hari pertamaku.”
“Duduklah, Ara. Biar aku yang mengambilkan sarapan mu.
Johan yang melihat itu memicingkan matanya. Apa benar ini atasannya??
“Jo?” Edward membuyarkan lamunan Johan.
“Iya, bos?”
“Kamu tidak sarapan?” Tanya Edward yang melihat asistennya hanya diam.
“Jo, hari ini aku ada urusan. Kamu hubungi Monica, minta dia kemari menemani Ara.” Ucap Edward di sela-sela sarapannya.
“Siapa Monica?” Tanya Laura.
“Dia sekretaris ku, Ara.”
“Dan juga kekasihku, nona.” Ucap Johan bangga. Entah kenapa ia selalu ingin membanggakan kekasihnya di depan Laura, supaya gadis itu tidak merasa jika dia memiliki perasaan dengan Edward.
“Tidak perlu repot-repot, Ed. Mbak Monica pasti membutuhkan libur juga.” Tolak Laura secara halus. “Lagipula disini ada pak Jo yang menemani ku.” Ucapnya lagi.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan mu berduaan dengan Johan. Pokoknya, Monica harus kesini.” Ucap Edward tegas.
“Hah” Laura membuang nafasnya kasar.
‘Aku lupa jika kamu tidak suka mendengar penolakan, tuan Hugo.’
“Tentu, bos. Setelah ini aku akan menghubungi Monica.” Ucap Johan, supaya suasana tidak memanas.
*******
Tubuh tegap nan gagah itu, menghilang di balik pintu masuk penthouse. Laura hanya diam mematung di ruang tengah melihat bayangan Edward yang semakin menjauh.
Pria dewasa yang berusia 35 tahun itu begitu banyak rahasia. Untuk bertanya satu hal saja, Laura tidak mendapatkan jawabannya.
Mungkin karena ia hanya menjadi teman tidur pria itu, jadi Edward tidak ingin Laura tau lebih dalam tentangnya.
“Nona?”
Seruan Johan membuyarkan lamunan gadis muda itu. Ia membalik badannya dan perlahan mendekat ke arah Johan.
__ADS_1
“Ini aku buatkan air rebusan kunyit. Sudah aku campur madu juga, jadi rasanya tidak terlalu pahit.” Johan menyerahkan sebuah cangkir kepada Laura.
Dengan senang hati gadis itu menerimanya. “Terimakasih pak Jo. Ayo kita duduk disana.” Laura menunjuk ruang tamu.
“Tetapi nona—,” Johan merasa tidak enak jika Edward tau.
“Tidak ada bantahan pak Jo. Lagipula tuan otoriter itu sedang tidak disini.”
‘Dia memang tidak disini nona, tetapi matanya terpasang di setiap sudut ruangan.’
Dengan ragu Johan mengikuti gadis itu. Ia memilih duduk di sofa single, supaya tidak memperkeruh suasana.
“Pak Jo, tau darimana tentang wanita haid?” Tanya gadis itu sembari menyeruput minuman hangatnya. Matanya terpejam saat merasakan rasa pahit dari kunyit.
“Dari Monica. Dia juga mengalami hal yang sama dengan nona, jika datang bulan.”
Laura menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu.
“Pak Jo, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Tentang apa nona?” Johan mencondongkan sedikit tubuhnya dengan tangan yang bertumpu di pinggiran sofa.
“Hmm, itu.. apa Edward dulu sering mimpi buruk?”
Deg…
Johan tersentak mendengar pertanyaan Laura. Ia bingung harus menjawab apa. Karena ia sudah bersumpah kepada Edward tidak akan menceritakan masalah pribadi Edward kepada orang lain.
‘Bersumpahlah, Jo. Jika kamu tidak akan menceritakan masalah pribadi ku yang kamu ketahui kepada orang lain. Sekalipun itu keluargaku sendiri.’
‘Aku bersumpah bos. Atas nama mendiang ibuku, aku tidak akan menceritakan masalahmu kepada siapapun.’
“Aku tidak tau, nona.” Ucap pria itu dengan santai. Ia tidak mau terlihat gugup di depan Laura.
.
.
.
T. B. C
————
“Hah.” Hidupmu udah kayak kepingan puzzle aja bang Ed. 🤨🤨
Disini rahasia.. disana Rahasia.. Di tengah-tengahnya pulau jawa… ehhh 🤭🤭
*malah pantun
😅😅😅😅
Thank you banyak-banyak untuk yang selalu memberi dukungan pada ku 🤗🥺
Jangan lupa ritual setelah baca
Like
Komen
Vote atau Gift
🤗🤗🤗🤗🤗
I LOVE YOU SAMPAI PUNCAK KEJAYAAN
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️