TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 150. Jangan Sakiti Leo, Lagi!


__ADS_3

Beberapa hari lalu, Damian dan Teresha kembali menemui Leo. Mereka mengatakan siap memberikan adik untuk remaja itu. Dan Leo, remaja berusia 16 tahun itu tak lagi memperlambat rencana orang tuanya.


Sudah cukup ia menguji kedua orang yang telah membuatnya ada. Semakin cepat mereka bersatu, semakin cepat pula Teresha sibuk dengan Damian. Begitulah yang Leo pikirkan.


Dan, tak terasa waktu berlalu begitu saja. Kini, pernikahan Damian dan Teresha hanya tinggal menghitung jam saja, kurang dari dua puluh empat jam, kedua orang tua Leo akan kembali mengucapkan janji suci pernikahan.


Kesibukan telah terlihat di panti asuhan sejak kemarin pagi. Taman belakang panti, di sulap menjadi tempat dimana Damian akan kembali memperistri Teresha.


Sementara itu, hari ini juga Edward mengajak sang istri untuk pulang ke panti asuhan. Edward tidak mau jika Laura terlalu lelah, maka sehari sebelum acara, mereka akan menginap di panti asuhan.


“Dimana Leo?” Edward bertanya pada Bagas yang tengah mengawasi para pekerja dari salah satu Wedding Organizer yang di kirim oleh Damian.


“Sepertinya sedang mengobrol bersama nona, bos.” Bagas menunjuk ke sudut lain taman, dimana Leo sedang duduk bersama sang kakak.


Edward melihat ke arah yang di tunjuk bawahannya itu, pria itu pun menganggukkan kepalanya.


Di tempat mereka duduk, Laura kini menyandarkan kepalanya di pundak sang adik. Hal biasa yang mereka lakukan, jika merasa sedang sedih.


Entah kenapa, hati Laura menjadi sangat sedih. Padahal bukan sang adik yang akan menikah. Wanita itu takut, jika setelah pernikahan ini, Leo akan pergi dari panti dan ikut dengan orang tuanya.


“Ada apa? Apa kak Ed menyakiti kakak?” Pemuda itu bertanya, karena tau sang kakak dalam keadaan sedih.


Wanita itu menggeleng.


“Kakak hanya rindu saat-saat kita dulu. Menghabiskan sore bersama ibu. Kemudian tidur bertiga di kamar ibu.” Laura membuang nafasnya pelan.


“Aku juga rindu. Tetapi semuanya tidak bisa kembali lagi.”


Laura mengangguk. “Dek.. apa kamu akan ikut dengan orang tua mu setelah mereka menikah?”


Leo menghela nafasnya pelan. Ia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu.


“Untuk saat ini, tidak kak.”


Mendengar jawaban sang adik, Laura kemudian menegakkan tubuhnya.


“Kenapa?”


“Aku meminta mereka membuatkan aku seorang adik. Jadi, aku tidak mau menganggu mereka. Mungkin jika adikku sudah ada, aku akan memikirkan kembali untuk tinggal bersama mereka.”


Laura menganga mendengar jawaban sang adik.

__ADS_1


“Kamu ingin memiliki adik?”


Leo mengangguk. “Hanya satu adik kandung, setidaknya mereka berdua merasakan bagaimana mengurus seorang bayi. Mereka tidak pernah mengurusku saat aku bayi, jadi biarkan mereka tau rasanya di repotkan oleh seorang bayi.” Remaja itu terkekeh, ia tidak mungkin mengatakan jika tujuannya menyatukan kembali orang tuanya untuk menjauhkan Teresha dari Edward.


Laura kembali menganga mendengar ucapan sang adik. Entah darimana remaja itu mendapatkan pemikiran seperti itu.


“Apa keponakan ku sehat?” Leo menatap perut sang kakak.


Laura tersenyum. Perlahan tangannya mengusap perutnya sendiri.


“Dia sehat. Sayang sekali belum bisa mengetahui jenis kela*minnya.”


“Memang kapan bisa ketahuan?”


“Kata dokter setelah empat bulan.” Jelas wanita itu kepada sang adik. Dan Leo pun mengangguk.


Laura dan Leo kembali mengobrol, hingga Edward datang menghampiri mereka.


“Apa kalian sudah selesai? Ini sudah saatnya makan siang.” Ucap Edward sembari menunjukkan arloji mahal di pergelangan tangannya.


“Sudah. Ayo.. anakmu ingin di suapi oleh papinya.” Laura mengulurkan tangan kanannya ke arah sang suami. Pria itu menyambut sembari mencebikan bibir.


Bibir Laura mengerucut. Suaminya selalu saja tau jika ia hanya beralasan dengan membawa-bawa calon bayi mereka.


“Baiklah, Tuan Hugo. Nyonya muda Hugo mau di suapi makan siang oleh tuan Hugo.” Wanita itu berjalan mendahului sang suami.


*****


Teresha tiba di panti asuhan tepat pukul 5 sore. Sesuai rencana wanita itu akan menginap di panti malam ini. Sementara Damian akan tiba besok pagi.


Kedatangan Teresha disambut oleh Laura. Istri Edward itu sengaja menunggu kedatangan ibu dari adiknya, karena ia ingin berbicara berdua dengan wanita itu.


“Apa yang ingin kamu bicarakan, La?” Tanya Teresha, memecah keheningan yang tercipta di antara mereka, yang kini sedang duduk di ruang tamu panti.


Laura menghela nafasnya pelan, sebelum mulai berbicara.


“Tolong jangan sakiti Leo lagi, mbak. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Bahkan aku tidak pernah ingin mengungkap tentang jati dirinya. Tetapi takdir berkata lain. Kehadiran kalian, mengharuskan aku mengungkapkan rahasia yang selama ini ingin aku pendam.”


Laura menundukkan pandangannya. Kedua tangan wanita hamil itu, bertautan di atas pangkuannya.


“Jujur, aku ingin egois. Aku tidak ingin Leo ikut bersama kalian. Karena bagiku, dia adikku. Tetapi, aku tidak boleh begitu. Leo berhak merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya.” Lanjut Laura lagi. Tiba-tiba matanya memanas, dan siap menumpahkan air mata.

__ADS_1


Teresha meraih jemari Laura. Kemudian menggenggamnya. Membuat Laura menatap wajah wanita yang seumuran dengan suaminya itu.


“Terima kasih, La. Kamu begitu tulus menyayangi anakku. Kamu tau, beberapa hari setelah aku meninggalkan Leo di depan rumahmu. Aku selalu datang, memastikan keadaannya. Apa baik-baik saja? Apa dia di sayangi?”


Teresha menjeda ucapannya, ia kemudian menarik dan membuang nafasnya pelan.


“Aku sangat lega, ketika melihat orang tuamu begitu menyayangi putraku. Bahkan, setiap hari aku berdoa agar Tuhan membalas membalas kebaikan mereka.” Imbuhnya lagi.


“Maafkan aku telah merepotkan kalian. Aku sangat menyayangi putraku.” Ucapnya sendu.


“Jika menyayanginya, lalu kenapa membuangnya?” Laura berkata dengan pelan. Namun, Teresha masih bisa mendengarnya.


“Aku hanya tidak mau Damian tau tentang keberadaan anak itu. Aku takut Damian mengambil putraku. Dan menjauhkannya dari ku.”


Laura melepaskan tangannya dari tangan Teresha, ia kemudian mendekap tubuh wanita itu.


“Aku mohon, jaga Leo dengan baik, mbak. Sama seperti selama ini aku menjaganya.”


Teresha menganggukkan kepalanya.


“Tetapi, jika mbak menyakiti Leo lagi, aku tidak akan segan untuk memisahkan kalian lagi.” Ucap Laura, saat pelukan mereka terlepas.


“Apa kamu mengancam ku?”


Laura menggeleng.


“Aku bukannya mengancam. Tetapi, ini sebuah peringatan. Mbak tau siapa suamiku, kan? Aku bisa saja meminta dia mengirim Leo ke luar negri, dan menutup akses kalian untuk bertemu.”


Teresha menelan ludahnya kasar. Ucapan Laura terdengar tidak main-main.


“Aku janji, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti Leo. Aku ingin menebus semua waktu kami yang tidak pernah kami lewati selama 16 tahun ini.”


“Ya, aku harap, mbak menepati ucapan mbak.”


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2