
Laura mendekat ke arah sang suami, ia dengan lancang duduk di atas pangkuan pria dewasa itu. Calon ibu muda itu pun melingkarkan kedua tangan pada leher sang suami.
“Memangnya kenapa? Bukankah kita memang harus memiliki rencana masa depan?” Ucapnya sembari meneliti wajah tampan sang suami.
‘Dia sudah berumur, tapi masih saja tampan.’
Edward meladeni sang istri, ia pun ikut melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.
“Lalu jika anak kalian berjenis sama, apa kamu masih ingin menjodohkan mereka?”
Laura menggeleng. Membayangkannya saja membuat wanita muda itu bergidik ngeri.
“Kita jodohkan anak yang lain. Bukannya aku masih bisa hamil lagi.. pokoknya sampai memiliki anak yang berbeda dengan kak Jo dan mbak Monica.” Wanita itu berucap dengan nada yang menggebu.
Ucapan sang istri membuat Edward menyeringai. Apa wanita itu sadar dengan ucapannya? Itu artinya, ia mengijinkan Edward menghamilinya terus menerus?
“Apa itu artinya kamu membiarkan aku menghamili mu terus menerus?” Tanya Edward sembari meneliti wajah sang istri.
Kepala Laura mengangguk. Namun, seketika ia membulatkan matanya, tersadar akan ucapan panjang yang telah ia keluarkan.
“Papi, itu. Maksudku, bukan mmm.” Ia pun kini bingung dengan ucapannya. Wanita berusia 21 tahun itu menggaruk dahinya yang tidak gatal. Mencari kalimat yang tepat untuk di ucapkan.
“Jawaban pertama tidak bisa di tarik lagi.” Pria itu mengecup pipi Laura yang mulai membulat.
“Aku dengan senang hati memberikan mu anak setiap tiap tahunnya. Lagi pula, aku memang memerlukan banyak penerus.” Ucap pria itu lagi.
Laura mencebikan bibirnya. Ia pun mendengus kesal. Seorang pria memang bisa dengan mudah untuk berucap, tetapi mereka tidak merasakan susahnya membawa perut besar kemana-mana.
“Kita memang perlu memikirkan masa depan, sayang. Dan aku sudah memikirkan itu jauh hari. Bahkan sebelum kamu hamil. Dan untuk masalah perjodohan, aku tidak mau memaksa. Itu urusan anak-anak nantinya.”
Mata Laura berbinar mendengar ucapan sang suami. Wanita itu pun kembali melingkarkan tangannya pada leher sang suami.
“Apa itu artinya papi mengijinkan anak kita menikah dengan anak kak Jo?” Tanyanya penuh harap.
“Kenapa tidak? Apa kamu berpikir aku seorang pria yang memikirkan latar belakang seseorang?” Dan Laura pun mengangguk.
“Jika aku seperti itu, bukan kamu yang duduk di pangkuanku saat ini, tetapi wanita lain. Wanita yang lebih segalanya dari kamu.”
Edward mengeratkan belitan tangannya, namun tak begitu keras, supaya tak menyakiti calon anak mereka.
“Yang paling utama itu, hati. Jika hati kita sudah yakin, tak perduli darimana asalnya, dan siapa orang tuanya, jika dia memiliki hati yang tulus, maka aku akan mengijinkannya.”
Laura tersenyum mendengar ucapan sang suami. Pria itu realistis dalam hidupnya. Meski dia orang kaya, tak sekali pun Laura melihat sang suami gengsi berbaur dengan orang di bawahnya.
“Cium saja. Aku tau kamu ingin menciumku. Apa perlu aku ajari caranya?” Ucap Edward dengan menyunggingkan sudut bibirnya.
__ADS_1
Laura mencebik, pria dewasa ini selalu bisa menebak isi pikirannya. Ia kemudian melakukan apa yang suaminya katakan.
“Pi..?”
“Hmm..”
“Aku ingin—
“Ini masih pagi, kita baru sampai. Aku ada meeting dengan para Staff jam 9 ini.”
Laura memukul dada sang suami. Ia belum selesai berbicara, tetapi pria dewasa itu sudah memotongnya dan mengambil kesimpulan sendiri.
“Kenapa memukulku?” Edward menangkap tangan sang istri. Kemudian mengecupnya.
“Kenapa memotong ucapanku? Dan Siapa juga yang ingin begitu?”
Edward menyeringai.
“Lalu?”
“Aku ingin jalan-jalan di gedung kantor ini. Boleh?”
Edward menatap lekat sang istri. Sorot mata wanita itu terlihat penuh permohonan. Membuat Edward mau tidak mau harus mengijinkan.
Laura tersenyum, ia kembali melabuhkan kecupan di atas bibir sang suami.
“Terima kasih, papi.” Wanita itu bangkit, kemudian mengambil ponsel di dalam tasnya. Lalu keluar dari ruangan sang suami.
Edward menatap kepergian sang istri dengan kepala menggeleng. Sungguh ia lup jika istrinya itu adalah seorang wanita berusia 21 tahun. Yang terkadang masih bisa bersikap seperti anak kecil.
****
Sementara itu, Damian dan Teresha kini tengah duduk di taman panti asuhan. Mereka termenung, berkutat dengan pikirannya masing-masing.
“Dam..” Teresha memecahkan keheningan diantara mereka. Pandangan wanita itu masih fokus menatap kedepan.
“Ada apa?” Damian menoleh ke samping kiri, dimana mantan istrinya duduk.
“Soal permintaan Leo.”
“Kenapa? Apa kamu tidak mau?”
Teresha menggelengkan kepalanya. Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan.
“Mau kah kamu mengantar aku ke dokter kandungan? Aku ingin periksa, apa aku masih bisa hamil.”
__ADS_1
Damian menatap lekat wajah Teresha dari samping. Karena tak mendengar jawaban, Teresha pun menoleh ke samping kanannya. Pipi wanita itu memanas, ketika mendapati Damian menatapnya tanpa berkedip.
“Apa kamu mau mengantarku?” Ulangnya lagi.
Damian mengangguk. Membuat Teresha tersenyum. Wanita itu meraih bahu Damian kemudian memeluk pria itu. Damian pun membalasnya.
“Tentu aku mau, Te. Apa kamu ingin mengandung anakku lagi?”
“Tentu. Tidak ada alasan untuk aku menolaknya, bukan?”
Damian mengangguk. Ia mengeratkan pelukannya. Mereka bahkan lupa tengah berada di taman panti asuhan.
Tak jauh dari sana, Sedari tadi Leo mengamati orang tuanya. Remaja itu mencebikan bibirnya, kala ia mendengar ucapan Teresha.
“Aku akan membuat ibu Teresha tetap sibuk bersama pak Damian. Sehingga dia tidak punya waktu untuk memikirkan kak Ed lagi. Aku akan melakukan apapun untuk menjaga kak Lala. Kebahagiaan kak Lala paling yang utama.” Leo bermonolog. Ia memang sengaja melakukan semua ini. Leo tidak mau Teresha merusak rumah tangga kakaknya. Karena itu, ia meminta Damian dan Teresha menikah. Dan sekarang dia meninta adik, agar Teresha sibuk, dan tidak memikirkan Edward lagi.
“Ayah, ibu, aku akan menjaga kakak dengan baik. Bantu aku ya. Aku ingin kakak bahagia bersama keluarga barunya.” Remaja itu mendongakkan kepalanya, seolah berbicara kepada langit, dimana orang tua angkatnya berada.
Ia kemudian pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berpelukan.
“Kapan mau ke dokternya?” Tanya Damian melepas pelukan mereka.
“Apa hari ini kamu sibuk?” Teresha melontarkan pertanyaan balik.
Damian menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, bagaimana jika hari ini? Kita kembali ke kota. Makan siang, setelah itu pergi ke dokter.” Ucap Teresha.
“Apa kamu tidak bekerja?”
“Aku ijin cuti sehari.”
“Baiklah, ayo kita kembali.” Damian bangkit, ia kemudian mengulurkan satu tangannya ke arah wanita itu. Dengan penuh senyuman Teresha menyambut tangan mantan suaminya.
‘Leo, sayang. Tunggu mama, mama akan memberikan hadiah yang kamu inginkan, nak.’ Batin Teresha.
‘Leo, terima kasih, nak. Tanpa sengaja kamu telah membantu papa mendapatkan mama mu kembali. Papa akan memberikan apapun padamu. Papa janji.’
.
.
.
T. B. C
__ADS_1