
Akhir pekan.
Di sekolah Devano sedang ada kegiatan siswa dan orang tuanya, Felisha dan nyonya Hugo pergi ke sekolah Devano, maka Edward dan Laura memutuskan untuk pulang ke panti terlebih dulu.
Mereka akan memberitahu keluarga Hugo nanti sore tentang kehamilan Laura.
“Leo?” Laura memanggil Leo yang kebetulan melintas di perpustakaan.
“Kakak?” Pemuda itu menoleh, kemudian mendekat ke arah sang kakak.
Sejenak kemudian mereka berdua saling memeluk.
“Kamu apa kabar? Kenapa terlihat lebih kurus?” Ucap Laura sambil mendekap bahu sang adik.
“Aku baik, kak. Aku makan tidak begitu banyak.”
“Jangan begitu. Kamu harus tetap makan seperti biasa. Jangan sampai kamu sakit.”
“Iya, kak.”
Mereka pun melerai pelukan. Leo kemudian beralih menyapa kakak iparnya.
“Ikut kami bertemu ibu, ada yang ingin kakak sampaikan kepada kalian.”
Leo mengangguk, ia pun mengikuti sang kakak dan kakak iparnya menuju ruang tamu panti.
“Apa kabar, nak?” Ibu Maria mendekap sejenak tubuh Laura.
“Kabar ku baik Bu.” Ucap Laura.
Hal yang sama juga ibu Maria lakukan bersama Edward. Tak berselang lama, bibi Lily datang dengan nampan berisi beberapa cangkir teh di tangannya.
“Bu, bibi, Leo. Ada berita penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian.”
Laura sedikit merubah raut wajahnya, sehingga membuat para penghuni panti itu bertanya-tanya. Ada apa dengan wanita muda itu.
“Ada ada nak?” Tanya ibu Maria khawatir.
Laura menoleh ke arah sang suami, pria itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Aku hamil, Bu.”
Ibu Maria, bibi Lily, dan Leo saling tatap satu sama lain. Sedetik kemudian mereka tersadar dengan ucapan Laura.
“Nak?” Ibu Maria menghamburkan tubuhnya memeluk Laura.
“Selamat, nak. Ibu bahagia sekali mendengar berita ini.” Wanita paruh baya itu beralih kepada sang menantu, “selamat nak Ed. Jaga Laura baik-baik.”
“Tentu, Bu. Aku pasti akan menjaga istri dan anakku dengan baik.” Jawab pria itu.
Bibi Lily juga ikut memberi selamat kepada sepasang suami istri itu.
“Kak?”
Leo nampak berkaca-kaca. Ia kemudian menghambur memeluk kakaknya.
__ADS_1
“Selamat ya kak. Sebentar lagi kakak jadi ibu. Jangan nakal-nakal lagi.” Ucap pemuda itu terkekeh.
“Terima kasih, dek. Kakak sudah tidak nakal lagi, kok.”
“Ayah dan ibu pasti senang mendengar berita kehamilan kakak. Mereka akan punya cucu. Aku akan jadi om.”
“Iya, dek. Mereka pasti senang. Kamu mau kan nanti jagain anaknya kakak?”
Leo melepaskan pelukannya. Ia kemudian mengangguk.
“Tentu, kak. Kalau dia cowok, aku akan menjadi temannya, kalau dia cewek, aku akan jadi pengawalnya.”
“Benar ya, Leo. Aku akan ingat kata-katamu.” Edward ikut menyahuti ucapan adik iparnya.
Pemuda itu mengangguk. Mereka pun kembali saling memeluk. Berbagi kebahagiaan bersama.
Setelah makan siang, Laura mengajak Leo untuk berbicara berdua. Selain ingin menyampaikan kabar kehamilannya, tujuan Laura pulang ke panti asuhan juga untuk berbicara kepada sang adik perihal orang tua pemuda itu.
“Kakak mau berbicara apa?” Tanya Leo membuka pembicaraan mereka.
Laura mengajak Leo duduk di depan kamar wanita itu. Agar suasananya lebih tenang.
Sebelum menjawab sang adik, Laura menarik dan membuang nafasnya pelan. Mungkin hal yang akan di sampaikannya akan terasa berat untuk Leoa.
“Dek, kakak mau kamu memaafkan kedua orang tua kamu. Mereka pasti sangat ingin merasakan hangatnya sebuah keluarga.”
Leo yang duduk di sebelah kiri Laura, menoleh ke arah wanita muda itu.
“Apa kakak mengusirku dari panti ini?”
“Bukan begitu, dek. Kakak hanya minta kamu memaafkan mereka. Kakak tidak meminta kamu tinggal bersama mereka, dek.” Laura kembali menghela nafasnya pelan. Ia harus hati-hati dalam mengeluarkan kalimat, salah sedikit, akan di artikan lain oleh adiknya.
“Kita tidak akan terlihat rendah, hanya karena memaafkan kesalahan orang lain. Dengan memaafkan, kita juga membebaskan hati dari rasa benci. Kakak mau kamu memaafkan mereka. Kakak yakin, kedua orang tuamu pasti diliputi rasa bersalah yang sangat besar.”
Leo mendengarkan rangkaian kalimat yang di ucapkan sang kakak.
“Tetapi aku masih boleh tinggal disini kan, kak?”
Laura berbalik menatap sang adik, ia mengambil kesimpulan. Mungkin Leo berpikir jika orang tua kandung telah di temukan, maka anak panti harus ikut mereka.
“Tentu, dek. Panti ini milik kamu. Selamanya kamu boleh tinggal disini.”
Leo secara serta merta memeluk sang kakak.
“Aku akan memaafkan mereka, kak. Tetapi aku tidak akan ikut mereka. Rumah ku disini. Selamanya akan tetap begitu.”
“Iya, dek. Terserah padamu. Kakak akan mendukung apapun yang menjadi keputusanmu.”
*****
Hari menjelang sore. Edward mengajak sang istri untuk berpamitan. Karena mereka akan mengunjungi kediaman Hugo.
“Bagaimana tadi? Apa Leo mau berbicara dengan orang tuanya?” Tanya Edward yang sedang memegang kemudi.
“Ya. Dia mau memaafkan mereka. Tetapi tidak mau meninggalkan panti. Mungkin selama ini, dia memiliki ketakutan akan di bawa oleh pak Damian atau mbak Teresha. Makanya dia bersikap dingin dengan mereka.”
__ADS_1
Edward mengangguk paham. Ia telah mendapat kabar dari Bagas sebelumnya, jika Leo sudah tau siapa ibu kandungnya. Dan pemuda itu enggan bertemu.
Setelah 20 menit berkendara, tibalah mereka di hunian mewah keluarga Hugo.
“Selamat sore, tuan, nyonya.” Seorang asisten membuka pintu untuk mereka berdua.
Di ruang tamu, telah menunggu nyonya Hugo, Felisha dan Devano.
“Selamat sore, semuanya.” Ucap Laura memasuki area ruang tamu.
“Mami.” Pekik Devano, ia pun berlari menuju sang mami.
Melihat itu, dengan sigap Edward menghalangi dan menangkap tubuh sang putra.
“Ah papa. Aku mau sama mami.” Devano meronta.
“Iya Dev. Nanti sama maminya. Tetapi tidak boleh melompat ke tubuh mami.”
“Ya, ya.” Jawab Devano dengan kesal.
Edward pun menurunkan Devano. Bocah 8 tahun itu beralih kepada sang mami. Laura sedikit menunduk untuk memeluk sang putra.
Mereka kemudian mendekat ke arah nyonya Hugo dan Felisha yang sedang duduk santai di atas sofa.
“Ada berita apa? Sampai-sampai kamu melarang mama pergi?”
Semalam, Edward menghubungi sang mama, mengatakan jika ia dan Laura akan datang dan membicarakan sesuatu. Jadi tidak ada yang boleh meninggalkan rumah satu orang pun.
Edward, Laura dan Devano mengambil tempat duduk di salah satu sofa panjang. Sementara, nyonya Hugo duduk di sofa single, dan Felisha duduk di sofa yang tidak terlalu panjang.
“Ma, Fel. Aku ingin menyampaikan sebuah kabar bahagia untuk kita semua.” Edward memulai pembicaraan. Ia menatap bergantian mama dan suadari kembarnya.
“Aku telah berhasil menghamili Laura. Maksudku, Laura telah hamil anakku. Cucu mama, keponakan Felisha dan adik Devano.”
Nyonya Hugo menganga. Hanya mengatakan jika Laura hamil saja, putranya berucap panjang lebar. Wanita paruh baya itu bangkit kemudian melayangkan pukulan pada lengan sang putra.
“Aw. Kenapa memukulku, ma?”
“Kamu terlalu berbelit-belit.” Nyonya Hugo pun duduk menyela di tengah-tengah putra dan menantunya, membuat tubuh Edward sedikit bergeser.
“Selamat sayang. Mama senang sekali. Akhirnya, keluarga Hugo ada yang meneruskan. Mama sebelumnya khawatir, jika Ed tidak menikah, bagaimana nasib keluarga ini?”
Nyonya Hugo pun memeluk sang menantu.
Setelah itu, Felisha juga melakukan hal yang sama. Memberi selamat kepada saudari iparnya.
“Jadi aku akan punya adik?” Yee,, makasi mami. Aku akan punya adik.” Devano berucap riang. Ia juga ikut memeluk sang mami.
“Hei, kenapa kalian hanya mengucapkan selamat kepada wanita itu? Yang bekerja keras bukan hanya dia. Tanpa usaha ku, Hugo junior tidak mungkin ada di perutnya saat ini.” Protes Edward kala tak satupun dari mereka yang mengucapkan selamat padanya.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C