TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 25. Apa Kamu Mengidam?


__ADS_3

Malam yang indah, kini telah berpamitan berganti dengan pagi yang sangat cerah.


Pagi ini di Bali, matahari tersenyum begitu cerahnya, meski belum terlalu siang.


Dua insan berbeda usia dan jenis kela*min, masih setia berpelukan di bawah selimut hangat yang di sediakan oleh petugas villa.


Jam menujukkan pukul 8 pagi waktu Bali, tetapi kedua manusia yang tidak memiliki status hubungan itu, masih enggan untuk bangun.


Semalam, setelah keduanya melakukan makan malam di restoran pinggir pantai, Edward mengajak Laura berjalan-jalan berkeliling sejenak di sekitar daerah Jimbaran. Dengan menyewa sepada motor di dekat villa yang mereka tempati.


Mereka kembali ke villa hampir tengah malam.


“Enghh” Laura menggeliat. Ia perlahan membuka matanya.


“Ed.. bangun..” Laura mengusap kepala pria dewasa yang berada di atas dadanya.


Namun pria itu tak bergeming, mungkin mimpinya begitu indah. Sampai-sampai ia tidak terusik oleh usapan dari Laura.


Laura meraih ponselnya yang berada di meja nakas. Ia terbelalak ketika melihat waktu yang sudah mendekati siang.


“Ed, bangun.” Ia mengusap sekali lagi kepala Edward, tetapi pria itu malah mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di ‘bantal kenyal’ milik Laura.


“Ed.. ayolah bangun, ini sudah siang.” Usapan Laura turun ke punggung pria itu. Bisa saja dia mendorong tubuh Edward, tetapi ia tau itu tidak sopan.


“Engh” Edward akhirnya terbangun.


“Kenapa menganggu tidurku, Ra?” Suara pria itu terdengar serak, ciri khas orang yang baru bangun tidur.


“Ini sudah mau siang, Ed.”


“Memangnya kenapa? Ini hari libur. Untuk apa bangun pagi”. Pria dewasa itu kembali membenamkan wajahnya pada ‘bantal kenyal’ yang sekarang menjadi kesukaannya.


“Huh.” Laura membuang nafasnya kasar.


“Aku lapar, Ed. Ini sudah lewat jam sarapanku”. Rengek gadis itu. Ia mencubit-cubit kecil punggung tanpa busana milik Edward.


Semenjak hubungannya dengan Laura menjadi ‘setengah panas’ Edward sering tidur tanpa menggunakan baju. Ia hanya akan menggunakan celana tidurnya.


Pria itu mendongakkan kepalanya. Ia menatap wajah cantik alami Laura yang tanpa riasan. Entah dapat bisikan dari mana, Edward tiba-tiba saja mengecup rahang Laura dan sedikit menye*sapnya. Tampak kulit rahang itu sedikit memerah.


“Ed, ayolah. Aku benar-benar lapar.” Laura mengusap kepala pria itu lagi.

__ADS_1


Merasa kasian pada Laura, pria dewasa itu lalu menyibakan selimutnya. Ia melepaskan tubuh semampai gadis itu.


“Bangun lah, buat sarapan apa yang kamu inginkan”.


Laura turun dari ranjang empuk itu. “Kamu mau sarapan apa?” Tanya gadis itu sembari mengikat rambutnya asal.


“Apa saja yang kamu buat, aku akan memakannya”.


‘Kalau begitu aku akan meracuni mu, Ed.’


Laura pun berlalu keluar dari kamar tanpa membersihkan dirinya.


Hampir satu jam Edward menunggu, tetapi Laura tidak kunjung memanggilnya untuk sarapan. Pria itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.


Ia melihat gadisnya sedang sibuk menata makanan di atas meja makan. Edward pun mendekat, dan memeluk pinggang gadis itu dari belakang.


“Kenapa memasaknya lama sekali, hmm?” Ed membenamkan hidungnya di ceruk leher Laura.


“Aku membuat nasi goreng, jadi aku harus memasak nasinya dulu”. Laura yang sudah tau kalau yang memeluknya pastilah Edward, jadi dia tidak terkejut lagi. Karena gadis itu tau, tidak boleh ada orang lain yang masuk ke villa ini tanpa perintah dan ijin dari Edward.


“Nasi Goreng?” Ed menatap hidangan di meja, dengan posisi yang masih menempel dengan Laura.


“Iya. Tiba-tiba saja aku ingin makan nasi goreng.”


Plak…


Laura memukul tangan Ed yang membelitnya.


“Siapa yang mengidam sih”.


*****


Di kediaman Hugo, nampak Felisha sedang mengawasi Devan yang sedang berenang. Bocah berusia 8 tahun itu sudah mahir berenang sejak berusia 6 tahun.


Devan berenang kesana kemari dengan lincahnya. Sesekali kepalanya terlihat menyembul keluar dari air, dan sesekali kepalanya menghilang didalam air.


“Apa Edward tidak datang lagi hari ini?” Suara wanita paruh baya menginterupsi pandangan Felisha. Ia menengok ke arah sampingnya, nampak Nyonya Hugo, berdiri ikut memandang ke arah cucunya yang sedang berenang.


“Tidak, ma”. Felisha menjawab di sertai gelengan kepala. “Dia sedang berada di Bali.” Imbuhnya lagi. Ia juga kembali menatap putranya yang sedang bermain air.


Kening nyonya Hugo berkerut. Ia menengok ke arah lawan bicaranya. “Dia pergi sendiri? Tidak mengajakmu dan Devan?” Tanyanya heran. Biasanya, jika putranya itu melakukan kunjungan ke pulau dewata, pasti akan mengajak Felisha dan juga Devano ikut serta.

__ADS_1


“Katanya dia ada pekerjaan lain, setelah kunjungan kerjanya selesai, ma”. Wanita berusia 35 tahun itu menghela nafasnya. “Lagipula aku tidak ingin terlalu mengekang Ed, ma.”


“Lakukan apapun yang membuat hati kamu merasa bahagia, sayang. Mama hanya ingin kamu dan Edward bahagia”. Nyonya Hugo mengusap lembut bahu Felisha.


“Iya, ma.” Felisha membalas dengan senyum manisnya.


“Sayang, ayo sudah cukup berenang nya.” Felisha mendekat ke arah kolam renang. Ia berjongkok di sisi kolam sambil merentangkan handuk untuk putranya.


“Oke, mama.” Sahut Devan dari ujung kolam renang lalu ia berenang ke arah sang mama berada.


Canda tawa terdengar saat Felisha mendekap tubuh Devano dengan handuk. Nyonya Hugo yang melihat itu, merasa terharu. Melihat Devano, selalu mengingatkan ia pada Edward di masa kecilnya.


“Alex.. dimana pun kamu berada, lihatlah cucu kita sangat mirib dengan Edward saat ia kecil”. Wanita paruh baya itu berbicara sendiri, ia seolah memberitahu mendiang suaminya, Alexander Hugo. Yang telah meninggal saat Edward berusia 15 tahun. Setelah suaminya meninggal dunia, wanita yang memiliki nama asli Aurora Ervitha itu kini lebih sering di sapa nyonya Hugo.


“Bantu aku menjaga mereka di saat Edward berada jauh dari kami, Alex.” Wanita paruh baya itu pun mengelap sudut matanya, saat melihat sang cucu mendekat ke arahnya.


“Nenek..” seru bocah itu saat melihat neneknya berada disana.


“Apa nenek melihatku berenang tadi?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah kolam renang.


“Tentu, sayang”.


“Apa aku hebat, nek?”


“Iya, kamu sangat hebat. Seperti papamu”. Nyonya Hugo mengusap kepala cucunya.


“Yey… aku sudah mirib papa” Devan bersorak gembira.


“Kamu harus bisa lebih hebat dari papa mu, nak. Bila perlu kamu kalahkan dia.”


“Oke, nek. Aku akan belajar lagi. Dan aku akan mengalahkan papa nanti.”


“Harus sayang. Ayo kita kedalam. Nenek sudah membuatkan kue kesukaan mu”.


“Let’s go, nenek, mama”. Devano menggenggam tangan kedua wanita yang menyayanginya, sang nenek di sebelah kanan, dan sang mama di sebelah kiri.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2