TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 103. Kakak Johan.


__ADS_3

Waktu berlalu, tanpa terasa tiga hari telah terlewati dengan begitu indah untuk pasangan pengantin baru, Edward dan Laura.


Selama tiga hari di negara tetangga, Edward sangat memanjakan sang istri. Mengajaknya berjalan-jalan di tempat yang sudah terkenal ke penjuru dunia, berbelanja barang-barang bermerk nan mahal walau Laura menolak. Tak lupa juga mereka membelikan mainan yang di inginkan oleh putra mereka, Devano.


Setelah menikah, Edward dan Laura sepakat, menganggap Devano sebagai putra mereka, bukan keponakan. Mereka ingin memberikan kasih sayang orang tua yang lengkap untuk anak itu.


Baik Edward, maupun Laura, mereka memiliki nasib yang sama seperti Devano. Kehilangan sosok ayah di usia muda. Namun bocah kecil itu nasibnya lebih malang, karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah kandungnya.


Di hari keempat, pasangan berbeda usia itu telah tiba kembali di negaranya. Saat pergi mereka hanya membawa satu koper berukuran sedang, namun kini saat kembali mereka membawa tiga koper tambahan.


Johan yang menjemput pasangan yang baru menikah itu di bandara, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Bos, pulang bulan madu atau pindahan?” Seloroh Johan dengan kekehan kecil.


Edward memicingkan mata kepada sang asisten yang tak berakhlak itu.


Mereka pun berjalan beriringan, dengan Johan yang mendorong troli berisi koper-koper itu.


Saat mendekati parkiran, entah sengaja atau tidak. Laura kembali bertabrakan dengan wanita yang sama saat di restoran hotel kemarin.


“Baby, kamu tidak apa-apa?” Dengan sigap Edward menangkap tubuh sang istri yang sedikit terhuyung.


“Tidak apa-apa, pi. Terima kasih.” Laura kembali menegakkan tubuhnya.


“Laura?” Wanita itu berseru. Entah hanya berpura-pura terkejut atau memang benar-benar terkejut.


“Mbak Tere?” Laura berusaha mengingat. Dan sepertinya ia benar. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.


Edward kembali merasa tidak nyaman, ia pun mendekap pinggang sang istri, membuatnya menempel pada dirinya.


“Mbak mau kemana?” Tanya Laura.


“Aku dapat pemindahan tugas dari kantor. Jadi mulai sekarang, aku tinggal di negara ini.” Ucap wanita itu dengan riang, ia berusaha mencuri pandang pada Edward, namun pria itu sedikit pun tak menoleh padanya.


“Baby. Kita pulang sekarang.” Pria itu kembali berbisik. Entah kenapa ia selalu merasa tidak nyaman dengan wanita ini. Berbeda dengan teman istrinya yang lain.


Laura menggangguk, ia kemudian berpamitan kepada teman barunya. Namun sebelum berpisah, Tere meminta nomor kontak Laura. Tetapi sayang, wanita itu tidak mendapatkannya.


“Maaf, istriku tidak punya ponsel.” Sahut Edward dengan ketus. Ia lantas menarik sang istri memasuki mobilnya.


Teresha hanya mencebikan bibir melihat semua itu. Ia melihat cinta yang begitu besar di mata Edward untuk wanita muda itu.


“Mana mungkin istri orang kaya tidak punya ponsel?”


Wanita dewasa itu pun berlalu menuju taxi yang telah menunggunya.


****


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, lalu lintas juga terpantau ramai tetapi lancar. Tidak ada satupun yang bersuara di atara mereka.

__ADS_1


Laura mencoba memaklumi, mungkin sang suami tidak ingin ia dekat dengan orang yang baru ia kenal.


Setelah hampir satu setengah jam di perjalanan, mereka kini telah tiba di kediaman mewah pengantin baru itu.


Johan membantu membawa koper sang atasan.


Sampai di ruang tengah rumah mewah itu, Laura mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa.


“Pak Jo, sebentar.” Laura menahan Johan yang hendak menaiki tangga membawa koper mereka ke kamar.


“Budesa, budewa..” wanita itu berseru memanggil pekerja rumahnya.


Kedua wanita dewasa yang bertugas membersihkan rumah, datang menghadap sang majikan. Laura memerintahkan mereka membawa naik koper-koper itu sampai di depan pintu kamar yang ia dan suami tempati.


“Ada apa, nona?” Tanya Johan.


“Julurkan tangannya.” Perintah sang nona.


Johan menjadi bingung. Ia kemudian menoleh ke arah sang atasan yang berada tidak jauh dari sana.


Edward hanya mengedikan bahu tanda tak acuh.


Dengan ragu, Johan menuruti keinginan Laura. Menjulurkan tangan kanannya agar lebih sopan. Wanita itu kemudian menunjukkan sebuah gelang berbentuk rantai, yang terbuat dari perak.


Pada bagian tengah gelang rantai itu, terdapat ukiran huruf yang bertuliskan Brother.


Laura memasangkan gelang itu pada pergelangan tangan Johan.


“Aku akan berhenti memanggilmu pak Jo. Mulai sekarang, aku memanggilmu kakak.” Ujar wanita itu dengan senyuman yang terkembang indah di wajahnya.


“Tetapi, nona.” Johan melirik pada Edward. Ia takut kejadian beberapa hari lalu terulang kembali.


“Terimalah, Jo. Sebelum aku berubah pikiran.” Jawab Edward yang mengerti arti tatapan sang asisten.


“Papi, apa aku boleh memeluk kak Johan?” Laura menatap suaminya dengan tatapan memelas.


Dengan terpaksa Edward mengangguk kecil.


“Tidak boleh lebih dari satu menit!” Perintahnya.


Laura menganga mendengar ucapan sang suami. Ia kemudian mengangguk setuju. Daripada tidak di ijinkan.


“Kak Johan.” Ucapnya mendekap asisten sang suami.


Dengan ragu Johan membalas, mengusap punggung istri atasannya. Namun seketika ia hentikan tatkala melihat mata Edward yang membulat sempurna padanya.


“Sudah.” Pria itu menarik sang istri, meraih pinggang ramping wanita itu dan mendekapnya.


‘Dasar pria tua pencemburu.’

__ADS_1


Batin Laura dan Johan seakan terhubung, mengucapkan kalimat yang sama.


Tak berselang lama, salah satu asisten rumah datang, mengatakan jika makan siang telah siap.


Mereka bertiga pun menuju ke ruang makan, dan menyantap makan siangnya dengan tenang.


Setelah makan siang usai, Edward meninggalkan sang istri di rumah. Ia harus kembali ke kantor karena ada pertemuan penting.


Laura membiarkan saja. Ia mengerti tugas dan tanggung jawab suaminya sangat besar. Ada ribuan orang yang bergantung penghidupan pada pria dewasa itu.


Laura mengumpulkan semua pekerja di rumahnya. Ia membagikan satu persatu buah tangan yang ia beli khusus untuk mereka.


Para pekerja merasa senang. Karena sang majikan begitu baik.


“Terima kasih, nyonya.” Ucap mereka serempak.


“Sama-sama.” Balas wanita muda itu.


Meski ia membelikan oleh-oleh itu dengan uang suaminya, namun wanita itu cukup bahagia melihat senyuman di wajah para pekerjanya.


“Semoga Tuhan membalas kebaikan tuan, dan nyonya.” Ucap budesa.


“Amin.” Sahut yang lainnya dan juga Laura.


“Terima kasih juga, karena kalian telah bekerja dengan baik disini. Aku hanya membalas kebaikan kalian. Namun jika kalian mempunyai niat jahat, biarlah tangan Tuhan yang membalasnya.”


“Kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk tuan dan nyonya. Jika ada kesalahan kami, tolong tegur kami, nyonya.” Ucap budatu.


Laura mengangguk.


“Begitu juga aku. Jika kalian melihat aku dan suamiku melakukan kesalahan, tegur lah kami. Anggap kami seperti anak-anak kalian, kami tinggal jauh dari orang tua, kalian yang lebih tua dari kami wajib mengingatkan jika kalian merasa yang kami lakukan salah.”


Suasana haru menyelimuti ruang tengah rumah mewah itu. Laura mencoba untuk bisa menjadi keluarga bagi para pekerjanya, bukan menjadi majikan yang setiap saat membuat jantung pekerjanya bergemuruh.


.


.


.


T. B. C


Janga lupa


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Gift


Terimakasih banyak untuk yang masih setia disini ❤️❤️ I LOVE YOU FULL ❤️❤️


__ADS_2