
Setelah semua ketegangan mencair, dan telah di ambil keputusan Edward dan Laura akan menikah minggu depan.
Nyonya Hugo telah memutuskan pernikahan itu akan di langsungkan secara sederhana. Hanya akan di hadiri oleh keluarga dan kerabat dekat kedua belah pihak.
Laura mengajukan satu permintaan, ia ingin pernikahannya di langsungkan di panti asuhan. Ia ingin, semua keluarganya di panti bisa menyaksikan hari penting dalam hidupnya.
Nyonya Hugo menyanggupi keinginan sang calon menantu. Apapun yang gadis itu inginkan, akan di turutinya.
Lagipula, tempat tinggal nyonya Hugo juga berdekatan dengan panti asuhan itu.
“Mama mau minum sesuatu? Biar aku buatkan.” Gadis itu menawari sang calon mertua.
“Apa ada teh hijau?”
Laura mengangguk. Ia segera bergegas menuju dapur.
“Kamu tidak menawari suami mu juga, baby.” Edward berucap saat sang gadis mulai menjauhi ruang tamu itu.
“Kamu belum menjadi suamiku, Ed.”
Suara gadis itu terdengar dari kejauhan.
Edward terkekeh mendengar jawaban gadis itu. Ia sangat suka menggoda sang pujaan hati.
“Jangan menyakitinya, Ed. Mama orang pertama yang akan memisahkan kalian jika kamu berani menyakitinya.”
“Tidak akan pernah, ma. Maksudku, aku akan selalu berusaha agar tidak menyakitinya di kemudian hari. Dia gadis yang rapuh, di balik kemandiriannya. Dia akan mudah menangis jika menyangkut keluarganya.”
Edward menghela nafasnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
“Aku sudah berjanji, jika tidak akan ada penolakan lagi untuknya di masa depan. Tetapi, rencana mama kemarin membuat kami hampir saja pergi meninggalkan negara ini.”
“Apa maksudmu, Ed?” Nyonya Hugo menoleh ke arah sang putra.
“Maafkan aku, ma. Seandainya mama tidak merestui hubungan kami, aku berencana membawa Laura ke luar negri. Dan memulai hidup kami dari awal. Meski harus memulai dari bawah. Yang terpenting, aku bersama gadis itu.”
Nyonya Hugo mencebikan bibirnya mendengar ucapan sang putra. Ternyata rasa cinta Edward kepada Laura begitu besar hingga pria itu rela meninggalkan keluarganya demi gadis itu.
“Apa kamu begitu mencintainya?”
“Sangat, ma. Mungkin karena ini untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Sehingga aku ingin melakukan apapun untuknya.”
Nyonya Hugo merasa bangga pada putranya. Pria itu mengabdikan diri untuk keluarga dan tidak pernah memikirkan urusan pribadinya. Tetapi sekali putranya ini jatuh cinta, ia bagaikan orang yang tidak waras.
“Apa kamu tau tentang dia?”
“Aku tau semua tentangnya, ma. Karena itu, aku ingin selalu melindunginya. Aku ingin menjadi orang pertama yang selalu ada saat dia kesusahan.”
Laura menyeka air matanya. Ia yang sudah selesai membuatkan teh hangat untuk kedua orang itu, menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan ibu dan anak itu.
‘Terimakasih, Ed. Semoga kamu memang pria yang di kirim Tuhan untuk menjagaku.’
Setelah gadis itu bisa mengembalikan perasaannya. Ia mendekat ke arah mereka. Entah kenapa Laura sangat bahagia mendengar ucapan Edward.
“Silahkan, ma.” Laura meletakkan sebuah cangkir di hadapan nyonya Hugo.
“Silahkan, Ed.” Satu cangkir lagi ia letakkan di hadapan Edward.
“Kamu tidak membuatnya, baby.” Edward meraih cangkir itu kemudian menyesapnya.
Kepala gadis itu menggeleng, ia hanya tersenyum kepada pria itu. Hatinya kini tengah berbahagia. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung, bisa bertemu dengan Edward.
Menjelang sore, nyonya Hugo berpamitan kepada Edward dan Laura, untuk kembali pulang.
__ADS_1
Laura meminta wanita paruh baya itu untuk tetap tinggal. Namun, nyonya Hugo menolak dengan alasan tidak ingin membiarkan Felisha dan Devano berdua di rumah.
“Felisha belum tau tentang semua ini. Ia hanya tau mama akan menemui gadis yang ingin mama jodohkan denganmu, Ed.”
Wanita paruh baya itu berdiri dan mengambil tas tangannya.
“Mama juga harus menyiapkan pernikahan kalian setelah ini. Kalian tidak perlu khawatir, semuanya mama dan Felisha yang urus. Kalian tinggal datang saja ke tempat acara.”
Nyonya Hugo memeluk mereka berdua secara bergantian.
“Jaga Laura baik-baik, Ed.” Pesannya pada sang putra.
“Tentu, ma.”
“Hubungi mama jika bocah tua ini menyakitimu, La.” Ucapnya kepada sang calon menantu pilihannya.
Laura menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih telah menerimaku, ma.”
******
Setelah kepergian nyonya Hugo, kini tinggal dua insan berbeda jenis itu di dalam penthouse.
Senyuman tidak pernah pudar dari wajah gadis manis itu. Setelah mendengarkan pembicaraan Edward dengan sang mama.
“Aku perhatikan dari tadi kamu terus saja tersenyum, Ra.”
Edward yang kini berdiri menyandarkan tubuhnya di meja mini bar penthousenya. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.
Laura mendekat ke arah Edward, kemudian menghambur memeluk tubuh kekar pria itu.
Edward mengerenyitkan dahinya. Ia bingung melihat tingkah gadisnya.
Edward melepas lipatan tangannya, kemudian membalas pelukan gadis itu.
“Terimakasih, Ed.” Ucap Laura sambil tetap mendekap pria itu.
“Terimkasih untuk apa?” Edward mengecup ubun-ubun gadis itu.
“Untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Aku merasa beruntung telah bertemu denganmu. Andai ibuku tidak memiliki hutang sebanyak itu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu.” Laura berbicara panjang lebar.
“Kenapa tidak? Bukannya mama sudah punya rencana menjodohkan kita, bahkan sebelum kita saling mengenal?”
Laura mengangguk tanda ia menyetujui ucapan pria itu.
Edward mengangkat tubuh gadis itu. Membawanya kedalam gendongannya. Secara serta merta Laura mengalungkan tangannya pada leher pria itu. Ia juga melingkarkan kakinya pada pinggang Edward.
“Aku berat, Ed.” Ucap gadis itu mengencangkan pegangannya.
“Tidak ada yang lebih berat daripada hidup tanpamu, baby.”
Laura mencebik. Bagaimana bisa pria tuanya mengeluarkan gombalan seperti itu.
Perlahan Edward berjalan, membawa tubuh Laura menaiki tangga.
“Ed, ini masih sore. Kita juga harus memasak makan malam.” Gadis itu mulai was-was ketika langkah Edward semakin mendekati tangga.
“Kita makan di luar saja nanti.” Edward tak hentinya memandangi wajah cantik milik pujaan hatinya.
“Perhatikan jalannya, Ed. Atau kita akan jatuh.”
“Aku sudah hafal setiap jengkal lantai penthouse ini.” Kaki panjang pria itu mulai menapaki satu persatu anak tangga.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Laura.”
“Terimakasih.” Jawab gadis itu.
“Hanya itu?” Edward masih saja memperhatikan wajah sang gadis.
Di perhatikan seperti itu, membuat wajah gadis itu memanas. Laura kemudian menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Edward.
“Jangan menggodaku, baby. Atau kita akan menghabiskan malam ini hanya di dalam kamar.” Pria itu mulai terpancing saat nafas Laura menerpa lehernya.
“Silahkan saja, tuan Hugo. Aku siap menuju puncak tiga kali putaran.” Gadis itu berbisik, juga memberikan sentuhan lembut di telinga Edward.
“Sial.” Pria itu menggeram. Laura memang selalu bisa memancingnya.
“Buka pintunya, baby.”
Laura melepaskan satu tangannya dari leher pria itu. Menekan beberapa angka pada tombol yang tersedia di gagang pintu, kemudian membukanya.
Setelah melewati pintu, Edward menggunakan kakinya untuk menutup kembali pintu itu.
Dengan langkah lebar dan tergesa, pria itu membanting tubuh Laura di atas peraduan. Ia sudah tidak sabar ingin menghabisi gadisnya.
Satu persatu ia melepaskan kain-kain yang menempel pada tubuhnya. Dan membuang begitu saja di lantai marmer yang berlapis karpet tebal.
“Ed.. bolehkah aku bertanya sesuatu?” Gadis itu berucap saat tangan pria itu mulai bekerja pada tubuhnya.
“Hmm.”
“Apa benar aku yang pertama untukmu?”
Edward menghentikan kegiatannya. Ia menatap dalam pada manik mata Laura. Ia melihat keraguan di mata gadis itu.
“Aku tau, aku tidak bisa memberikan bukti kepadamu, seperti bukti yang kamu berikan. Tetapi aku bersumpah, kamu memang wanita pertama dan mungkin akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku.”
Setelah mengatakan hal itu. Edward melabuhkan sebuah kecupan di kening Laura. Sebagai ungkapan sayangnya kepada gadis itu. Dan sebagai awal di mulainya perjalanan menuju puncak ke*****tan.
.
.
.
T. B. C
———
Hem hem...
Tadi ada yang komen lagi, katanya gai*rah bacanya menghilang, karena cerita ini putus-putus kayak sinetron.
“Huhh”
Namanya juga cerita masih ON GOING ya, wajar dong putus-putus?
Maaf aku baperan, entah kenapa aku Down aja gitu baca komen begituan.
Otak ku ya, otak cetek. Dapat nulis 2 bab aja sehari sudah bersyukur.
Coba aku tantang yang komen itu buat cerita sendiri, 1 hari buat 10 bab, dan semuanya 1000 kata per bab. Sanggup ga?
———
Kalian boleh mengkritik aku apa saja, tetapi kalau kalian minta cerita ini ga putus-putus, maaf aku nyerah!! 🙏🙏
__ADS_1