TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 124. Anda Yang Telah Membuangku.


__ADS_3

Acara pernikahan Johan telah usai. Para tamu juga telah kembali ke rumah masing-masing.


Untuk pasangan pengantin baru, mereka bergegas menuju hotel Hugo, untuk menginap selama dua hari.


Edward sudah menawarkan Johan dan Monica untuk melakukan bulan madu. Namun pasangan pengantin baru itu menolak. Mereka tau, pekerjaan di kantor saat ini sedang banyak-banyaknya.


Selain itu, mereka juga merasa tidak enak hati. Sudah di beri hadiah milyaran rupiah oleh Edward.


“Yakin kalian tidak mau pergi berbulan madu?” Edward kembali bertanya, saat hanya tersisa keluarga mereka saja di aula pernikahan.


“Iya, bos. Untuk apa juga bulan madu? Jika di rumah masih bisa di lakukan.” Ucap Johan terkekeh.


Monica refleks mencubit pinggang sang suami.


“Aw, sakit sayang.”


“Pak Edward, terima kasih sudah memberikan hadiah yang sangat besar untuk anak-anak saya.” Pak Gunawan membuka suara. Sedari tadi pria paruh baya itu hanya menjadi penonton, tak berkesempatan berbicara pada Edward yang juga menjadi atasannya.


“Saya merasa tidak enak hati, pak Edward begitu baik kepada mereka. Semoga di kemudian hari, mereka tidak mengecewakan pak Edward.”


“Tidak masalah, pak Gunawan. Aku ikhlas memberikan hadiah itu untuk Johan dan Monic. Selama ini, mereka telah banyak membantu ku. Terutama Johan. 8 tahun sudah dia bersamaku, banyak hal yang telah kami lalui bersama. Aku rasa, hadiah berupa rumah itu masih kurang, mengingat apa yang selama ini Johan lakukan untukku.”


Suasana kembali menjadi haru. Agar tidak lagi ada pertumpahan air mata, nyonya Hugo pun berinisiatif membubarkan.


“Ah, aku lelah sekali. Bagaimana jika kita beristirahat sekarang.” Wanita paruh baya itu melirik arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


“Ah, iya. Anda benar, nyonya. Mari kita beristirahat sekarang.” Sambung nyonya Gunawan.


Mereka pun berjalan ke arah pintu. Kemudian menuju lobby, dan berpisah disana.


Pasangan pengantin baru telah memasuki mobil yang telah berhias bunga mawar. Diikuti dengan mobil keluarga Gunawan.


“Mama mau pulang kemana?” Tanya Laura kepada sang mertua.


“Terserah Felisha saja.”


“Nenek, aku mau menginap di rumah baru papa. Aku mau tidur dengan papa dan mami.” Devano memberi jawaban.


“Dev, besok kamu sekolah.” Felisha merasa tidak enak hati, jika sang putra menganggu Edward dan juga Laura. Bagaimana pun mereka masih tergolong pengantin baru.


“Cuti sehari tidak apa-apa, Fel. Lagi pula, kami belum pernah tidur bertiga.” Edward memberi keputusan.


“Tapi, Ed—,”


“Tidak apa-apa, mbak. Sekali-kali kami juga libur, tidak masalah.” Bisik Laura pada Felisha.


“Baiklah. Ayo kita ke rumah baru papa dan mami.”


Mereka pun memasuki mobil yang berbeda. Nyonya Hugo bersama Felisha. Sementara Devano ikut papa dan maminya.


****


Di lain tempat, tepatnya di panti asuhan. Keadaan masih belum berubah. Leo masih suka menyendiri. Ia hanya akan berbicara saat mengajari adik-adiknya tugas sekolah, setelah itu kembali menjadi pendiam.


Seminggu telah berlalu, Damian memang tidak menampakkan diri di depan Leo. Namun pria itu tetap memantau keadaan sang putra.


Selama seminggu ini, Damian akan datang, namun tidak masuk ke dalam panti asuhan.

__ADS_1


Namun, hari ini pria dewasa itu tidak bisa membendung lagi rasa rindu yang telah memenuhi relung hatinya.


Ia pun bergegas turun dari mobil yang ia parkir di luar pintu gerbang panti asuhan.


Saat hendak menyeberang jalan, manik mata Damian tanpa sengaja melihat seorang wanita yang baru keluar dari sebuah taxi.


“Teresha?” Damian merasa mengenali wanita itu. Ia pun bergegas menghampiri, kemudian mencekal pergelangan tangan wanita itu.


Teresha tersentak. Ia ingin marah. Namun matanya membulat sempurna saat melihat wajah orang yang mencekal tangannya.


“Damian?” Gumamnya, namun masih bisa di dengar oleh pria itu.


“Kamu masih mengingat ku?” Alis Damian terangkat, dan bibirnya mencebik.


“Lepaskan tanganku, Dam.”


Damian berdecak sebal. Ia pun menarik tangan wanita itu, membawanya menjauh dari depan panti, jangan sampai orang-orang panti melihat, apalagi Leo.


“Lepas, Dam.” Damian pun menghempas tangan Teresha, setelah mereka berada di balik mobil Damian yang terparkir tak jauh dari panti.


“Apa yang kamu lakukan di tempat ini, Te?”


“Bukan urusan mu.”


“Menjadi urusanku, jika itu menyangkut putraku.”


“Apa maksudmu?” Teresha pura-pura tidak mengerti.


“Jangan berpura-pura, Teresha. Aku sudah tau. Bahkan kami sudah melakukan tes DNA.”


Teresha tersentak, matanya membulat mendengar ucapan Damian. Kepalanya pun menggeleng kencang.


Damian menyunggingkan sudut bibirnya.


“Bahkan Edward, Laura dan putraku tau.”


“Darimana kamu tau anakku ada disini?”


“Takdir. Tuhan menginginkan aku untuk tau yang sebenarnya. Dan Tuhan pun mempertemukan aku dengannya.”


Kepala Teresha kembali menggeleng. Bagaimana Damian yang bertemu lebih dulu dengan anak mereka?


“Tetapi karena ulahmu—,” Damian menunjuk wajah Teresha. “Putraku tidak mau berbicara denganku, karena ulahmu.”


“Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana bisa kamu menuduhku?”


“Ya, itu karena kamu membuangnya dulu. Andai saja kamu memberikan dia padaku. Aku tidak akan keberatan merawatnya. Kamu bebas kemana pun kamu pergi.”


Pria itu meremat rambutnya sendiri. Sebagai pelampiasan amarahnya. Andai lawan bicaranya ini seorang pria, sudah di pastikan Damian akan meninjunya saat ini juga.


“Tidak.. dia membenci mu itu karena ulahmu sendiri. Bukan karena aku. Kamu memang pantas di benci, karena memaksakan kehendakmu kepada wanita yang tidak mencintaimu.” Teresha berbalik menunjuk Damian.


“Ya, aku akui, aku memang salah. Aku bahkan sudah meminta maaf dan bertanggung jawab padamu. Jika kamu tidak ingin bersamaku, setidaknya jangan buang putraku. Dia tidak tau apa-apa.”


“Aku tidak membuangnya. Aku hanya melindunginya supaya kamu tidak menemukan dia. Bahkan selama ini, aku menjadi donatur luar negeri untuk panti ini.”


“Omong kosong—.” Belum selesai Damian berbicara, seseorang telah menyela ucapannya.

__ADS_1


“Cukup! Jangan buat keributan disini.”


Damian tersentak ia tau betul, siapa pemilik suara itu. Membuat pria itu menoleh ke arah sumber suara.


“Nak? Sejak kapan kamu di sini?” Tanyanya kepada Leo, yang berada di belakang mereka.


“Sejak kapan itu tidak penting. Tapi tolong jangan buat keributan di sini.”


Leo yang tadi hendak membeli sesuatu ke mini market di dekat panti, tanpa sengaja melihat Damian dan seorang wanita, sayup-sayup ia mendengar mereka menyebut tentang anak. Karena itu, remaja itu mendekat.


“Leo?” Gumam Teresha. Wanita itu mendekat, hendak menyentuh lengan remaja itu.


Namun Leo menghindar.


“Maaf, anda siapa?” Tanya remaja itu.


“A-Aku, aku mama mu, nak.”


Leo mencebik.


“Mama?” Kepala pemuda itu menggeleng. “Maaf, aku tidak punya mama. Aku hanya memiliki seorang ibu. Dan itupun sudah meninggal dunia.”


Teresha menggeleng. Ia meraih bahu Leo.


“Aku mama mu, nak. Aku yang telah melahirkan mu.”


“Tetapi anda juga yang telah membuang ku. Iya, kan?”


Deg…


Teresha hanya bisa diam.


“Kenapa anda diam? Tidak bisa menjawab?”


“Leo, dengarkan aku dulu—,” Leo mengangkat tangannya, sebelum Damian selesai berbicara.


“Kalian berdua tolong pergi. Jangan pernah mendatangi panti asuhan ini lagi.”


“Tidak, nak. Jangan katakan itu.”


“Pak Damian, bukannya aku sudah mengatakan, jika aku tidak ingin bertemu anda dulu?”


Damian mengangguk.


“Maka dari itu, pergilah. Atau kalian tidak akan pernah bertemu dengan ku lagi.”


“Tapi, nak—,”


“Te, turuti apa kata Leo. Jangan sampai kita kehilangan dia.”


Dan Teresha pun mengangguk pasrah. Mereka berdua pergi, meninggalkan Leo. Dan tanpa sadar, Teresha ikut menumpang di mobil Damian.


“Kalian berdua sama saja. Egois! Aku benci kalian!”


.


.

__ADS_1


.


T. B. C


__ADS_2