TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 137. Keputusan Teresha.


__ADS_3

Seminggu kemudian. Hari ini tepat dua minggu setelah pengajuan syarat yang Leo berikan kepada kedua orang tuanya.


Selama dua minggu kebelakang, Teresha benar-benar memikirkan syarat yang sang putra berikan. Dan ia telah mengambil sebuah keputusan.


Selama 16 tahun ia telah menelantarkan darah dagingnya begitu saja, meski menjadi donatur di panti tempat putranya di besarkan, tak akan cukup untuk menebus segala kesalahan yang telah ia perbuat.


Kini Teresha sudah berusia 35 tahun. Usia yang sudah cukup matang, sudah saatnya mengambil keputusan yang tidak menyakiti orang tercintanya. Dengan tidak lagi memikirkan diri sendiri.


Di dunia ini, Teresha hanya memiliki Leo. Kedua orang tuanya telah lama meninggal. Ia bahkan tidak mempunyai saudara kandung, meski mempunyai saudara sepupu, mereka juga memiliki hidupnya masing-masing.


Teresha mengambil ponsel di dalam tas tangan yang ia bawa. Kemudian mencari nama kontak seseorang.


Menghela nafasnya pelan. Wanita itu pun menghubungi nomor kontak itu. Setelah tiga kali deringan. Suara maskulin terdengar menyapa dari seberang panggilan.


“Hallo, Te?” Ucap Damian lembut.


Ya, Teresha menghubungi Damian. Ia ingin berbicara dengan pria yang pernah menjadi suaminya dulu.


“Hallo, Dam.. apa kita bisa bertemu? ada hal yang ingin aku bicarakan.” Tanya Teresha langsung pada intinya.


“Hmm.. kapan?” Tanya pria itu.


“Nanti malam. Aku akan mengirimkan alamat dimana kita bertemu.”


“Tentu..”


Menyimpan kembali ponsel kedalam tas, Teresha yang tengah duduk di atas kursi kerja, pun menyandarkan punggungnya.


Pandangannya menerawang jauh. Wajah Leo pun melintas di benaknya. Sungguh Teresha ingin sekali memeluk remaja itu. Menyalurkan semua kerinduan yang selama ini terpendam.


****


Malam tiba, setelah membereskan meja kerjanya, Teresha bergegas menuju tempat dimana ia membuat janji dengan Damian.


Masih dengan menggunakan setelan kerja. Wanita berusia 35 tahun itu memacu mobil dengan kecepatan sedang. Hingga 20 menit berkendara, ia tiba di sebuah restoran bintang lima.


Sengaja Teresha memilih tempat makan berbintang itu, agar bisa memilih tempat tertutup untuk berbicara berdua.


Melangkahkan kakinya memasuki pintu restoran, rasa gugup tiba-tiba menghampirinya. Perasaan seperti baru pertama kali melakukan pertemuan dengan seorang pria. Padahal beberapa kali ia sudah bertemu dengan Damian akhir-akhir ini.


“Meja atas nama Teresha Hadi.” Ucapnya kepada pramusaji yang menyapa di depan pintu.


Ia pun di arahkan ke sebuah ruangan VIP, yang sudah di pesannya.


Deg!!


Jantung Teresha berpacu lebih cepat, kala mendapati Damian telah berada di dalam tempat itu. Pria yang sedari tadi menunduk membaca buku menu itu, mengangkat kepalanya, melihat siapa yang datang.


Pandangan mereka seketika beradu. Terkunci beberapa detik, namun kemudian pria itu memalingkan wajah, memanggil pramusaji yang mengantar mantan istrinya, memesan makanan untuk mereka berdua.


Hening melingkupi ruang makan privat itu, setelah kepergian sang pramusaji. Tak ada satupun dari dua orang itu berinisiatif untuk memulai obrolan.


Hingga lima menit berlalu, Damian pun membuka percakapan. Menatap lekat pada wanita yang duduk di hadapannya.


“Apa yang ingin kamu katakan, Te?” Tanyanya langsung tanpa berbasa-basi walau sekedar menanyakan kabar.


“Mm…” Teresha menghela nafasnya pelan.


“Dam.. ini tentang syarat yang Leo berikan kepada kita.”


Damian menatap wajah Teresha yang sedikit menunduk.


“Ada apa?”

__ADS_1


“Aku—,”


Ucapannya terjeda, kala seorang pramusaji datang dengan mendorong troli berisi makanan yang telah di pesan oleh Damian.


“Kamu masih ingat makanan kesukaan ku?” Tanya Teresha saat melihat hidangan yang tersaji di atas meja.


“Kamu masih menyukai makanan ini?” Damian berbalik melontarkan pertanyaan.


“Ya.”


“Aku kira kamu tidak mau memakan makanan ini lagi. Karena dulu kamu sering menolak pemberian ku.”


Teresha hanya mampu menggeleng kecil. Mereka kemudian makan dengan tenang. Tanpa obrolan, hanya terdengar suara alat makan yang sedang beradu di atas piring.


Hampir 20 menit menghabiskan semua makanan, dan hidangan pencuci mulut. Damian kembali bertanya, apa yang ingin di bicarakan oleh mantan istrinya.


“Aku, aku setuju dengan syarat yang Leo berikan kepada kita.” Ucapnya sembari menunduk, sembari memainkan jemari tangan yang saling bertaut di atas meja.


“Masih ada dua minggu untuk berpikir, Te.. jangan terburu-buru. Aku tidak mau kamu mengambil keputusan karena terpaksa.”


Kepala Teresha menggeleng. Hatinya telah mantap untuk menikah dengan Damian. Meski cinta itu belum tumbuh, ia ingin menebus dosa kepada sang putra.


“Aku sudah memikirkan dengan baik. Mari kita kembali bersama untuk Leo. Kita sudah sama-sama dewasa. Tak penting apa yang kita rasakan, yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan putra kita.”


Wanita itu kembali menghela nafasnya.


“Setidaknya, dengan kita kembali bersama, Leo mau bersikap baik kepada kita. Hanya dia yang kita miliki saat ini.”


Damian mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir Teresha. Hingga ia dapat menyimpulkan, mereka kembali bersama hanya demi Leo. Bukan karena cinta.


“Coba tegakan wajahmu, dan tatap mataku. Katakan sekali lagi, jika kamu ingin kita menikah kembali.” Perintah Damian.


Dengan perlahan, Teresha menegakan wajahnya. Menatap ke depan, hingga netranya beradu dengan milik Damian.


“Katakan.”


“Damian Wicaksana, mari kita menikah kembali.” Ucap wanita itu lantang.


“Kamu tidak membawa cincin untuk melamar ku?” Tanya pria itu terkekeh.


Teresha merasa jengah, ia pun memalingkan wajahnya. Kesannya memang seperti ia melamar pria itu.


“Aku hanya bercanda.”


Hening kembali menyelimuti. Kedua manusia itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Apa kamu sudah benar-benar memikirkannya? Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Aku tidak mau ada perpisahan lagi.” Damian bersuara.


Teresha mengangguk.


“Aku sudah memikirkannya dengan matang. Asalkan bisa hidup bersama putraku, aku tidak akan menyesal.”


Damian mengangguk. Ia paham, wanita itu belum mencintainya, dan ia takkan memaksakan kehendaknya lagi. Biarlah cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu.


“Kalau begitu, kapan kita akan menemui Leo untuk memberitahunya?”


“Hmm, besok sampai lusa aku masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Nanti aku kabari setelah pekerjaan ku selesai.” Ucap Teresha.


Damian kembali mengangguk.


“Apa boleh aku melakukan penjajakan?” Tanyanya di selingi kekehan kecil.


Alis Teresha sedikit berkerut, namun sesaat kemudian kepalanya mengangguk. Mereka memang perlu pendekatan lagi kan?

__ADS_1


“Kita memang perlu melakukan hal itu, supaya tidak terlihat kaku di depan Leo.” Ucap wanita itu.


Mereka pun kembali mengobrol. Hingga tak terasa waktu berlalu.


“Ayo kita pulang. Sepertinya kamu belum mengganti pakaian kerjamu?” Tanya Damian sembari memindai penampilan sang mantan.


Wanita itu terkekeh. “Ya, dari kantor aku langsung kesini.”


“Apa begitu ingin bertemu dengan ku?” Goda Damian. Namun, Teresha tak menjawab.


Mereka pun keluar dari ruangan VIP itu. Damian meminta Teresha menunggunya sebentar, karena pria itu yang akan membayar tagihan. Teresha setuju. Ia pun menunggu pria itu.


Memindai setiap penjuru restoran mewah itu, netra Teresha tanpa sengaja melihat Edward dan Laura yang sedang menikmati hidangan di salah satu meja.


Mereka terlihat begitu bahagia, dengan Edward yang begitu perhatian kepada istrinya. Sesekali mereka terlihat saling menyuapi.


“Kamu sangat bahagia dengan istrimu, Ed. Maka dari itu, tidak ada alasan untukku mengharapkan kamu lagi. Aku akan memulai semuanya dari awal bersama Damian dan Leo. Semoga aku juga bisa bahagia seperti mu.”


Wanita itu bermonolog, tanpa ia sadari Damian telah berada di belakangnya. Pria itu mendengar apa yang Teresha ucapkan.


“Ayo?”


Teresha tersentak.


‘Sejak kapan Damian ada disini? Apa dia mendengar ucapanku?’


“Sejak kapan—


“Baru saja.” Ucap pria itu memotong dengan cepat. Kemudian menuntun sang mantan istri berjalan mendekat ke arah pasangan Edward dan Laura berada.


“Hai, Ed, Laura.” Damian menyapa terlebih dulu. Membuat pasangan suami istri itu menoleh.


Laura yang terlanjur tidak suka dengan tatapan Damian kepadanya saat pertama kali bertemu, pun merapatkan duduknya ke sisi sang suami.


“Makan malam yang terlambat?” Terka Damian, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


“Ah, tidak. Istriku sedang mengandung, dia mudah sekali lapar. Biasanya makan di rumah, tapi malam ini dia mengidam ingin makan daging di restoran ini.” Jelas Edward tanpa di minta.


Ucapan Edward sedikit mencubit hati Teresha.


“Wah, kalau begitu selamat untuk kalian berdua.” Damian mengulurkan tangan ke arah pasangan suami istri itu, namun hanya Edward yang membalasnya.


“Selamat, Ed. Laura.” Teresha juga mengulurkan tangan, namun kali ini dengan cepat Laura yang menyambutnya, ia tidak mau sang suami bersentuhan dengan wanita itu.


“Terima kasih, mbak Tere.”


“Kalau begitu, lanjutkan makan malam kalian, kami permisi dulu.”


Edward dan Laura mengangguk secara bersamaan.


“Apa mami begitu tidak ingin aku bersentuhan dengannya?” Tanya Edward dengan mengulas sebuah senyuman.


“Ya, papi hanya milikku, tidak akan aku biarkan wanita itu mengharapkan papi lagi.”


“Aku juga tidak mau, mami. I’m yours, for a lifetime.”


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2