TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 67. Dia Bernama Edward!


__ADS_3

Ditempat lain, Rendra sedang bersiap-siap untuk meninggalkan rumahnya demi tugas mengajar yang ia emban.


Menjadi seorang dosen, sudah menjadi cita-cita pria muda itu, sejak di bangku sekolah menengah atas.


Berat untuknya meninggalkan ibukota, setelah beberapa tahun terpisah dengan sang mantan kekasih, kini mereka harus terpisah kembali.


Mungkin mereka memang tidak berjodoh, karena itu begitu sulit untuk mereka bersama. Ibunya tidak menyukai Laura. Jika ia tetap memaksa, maka salah satu dari wanita itu akan tersakiti.


Rendra menyeret kopernya dari dalam kamar, menuju ruang keluarga rumahnya. Disana sudah ada sang mama yang sedang menonton televisi.


“Kamu sudah siap pergi rupanya.” Ucap sang mama melirik koper yang di bawa putranya.


“Berapa kali mama bilang, lebih baik kamu bekerja di perusahaan membantu papa kamu. Jadinya kan kamu tidak perlu pergi jauh-jauh begini.” Lanjut wanita paruh baya itu.


“Ma, mama tau kan jika menjadi dosen itu adalah cita-cita ku sejak lama. Jadi biarkan aku menjalani apa yang ingin aku jalani ma.” Rendra mendekat ke arah sang mama. Lalu ia duduk di samping wanita yang melahirkannya itu.


“Aku janji, di waktu liburku, aku akan pulang membantu papa. Bagaimanapun juga aku anak satu-satunya yang harus meneruskan usaha papa nantinya.”


Nyonya Pratama menghela nafasnya pelan. Ia tau, putra semata wayangnya ini memiliki sifat keras kepala seperti dirinya.


“Sampai saatnya tiba, tolong biarkan aku menjadi dosen sampai aku puas ma.” Imbuh pria muda itu.


Hening menghampiri pasangan ibu dan anak itu, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya bertahan pada ego masing-masing.


Hingga tayangan di televisi menampilkan berita tentang para pebisnis muda yang sedang di bicarakan saat ini.


“Kamu lihat itu. Mereka para pebisnis muda. Semuanya menurut, menjalankan bisnis yang di bangun orang tuanya.” Nyonya Pratama menunjuk ke arah televisi yang sedang menyala.


“Nah, apalagi yang ini. Dia sudah mengurus perusahaan keluarganya sejak umur 15 tahun. Sekarang usahanya berkembang pesat, mencakup ke semua bidang. Mama dengar, dia juga yang memiliki universitas tempat kamu bekerja.”


Mendengar ucapan sang mama, seketika Rendra mengalihkan pandangannya ke arah televisi besar itu. Ia ingin tau, siapa sebenarnya pemilik tempat ia mengajar. Kenapa begitu mendadak memindah tugaskan dirinya.


Deg…


Mata pria berusia 27 tahun itu membulat, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal. Melihat siapa yang muncul di layar televisi itu.


“Ma., siapa nama orang itu?” Tanyanya pada sang mama, ia memang tidak begitu mengikuti dunia bisnis. Jadi dia tidak banyak tau tentang orang-orang di dunia bisnis itu.


“Bagaimana sih, Ar. Masa kamu tidak tau nama atasan kamu sendiri.” Sang mama mencebikan bibirnya.


“Dia bernama Edward Alexander Hugo. Presiden Direktur Group Hugo. Mama dengar dia putra satu-satunya keluarga itu. Jadi sudah di pastikan, dia adalah pewaris semua bisnis keluarganya.” Jelas nyonya Pratama panjang lebar.


‘Oh pantas saja kamu menghindari ku, La. Ternyata pria yang bersama mu itu orang yang sangat kaya dan berpengaruh. Aku tidak menyangka, ternyata kamu gadis seperti itu, La. Kenapa kamu melakukan itu, La? Apa kamu begitu ingin hidup mewah?’


*****

__ADS_1


Laura kembali ke penthouse saat hari menjelang sore. Gadis itu membuka pintu penthouse dengan santai, ia lantas berjalan menuju arah dapur untuk mengambil air minum.


Belum sampai di dapur, gadis itu tersentak mendapati pemandangan dalam dapur yang bertema open kitchen itu.


Ia disajikan pemandangan punggung kekar Edward yang sedang sibuk depan kompor.


Dengan perlahan, Laura mendekati pria itu. Ide usil tiba-tiba muncul di benak gadis itu. Ia lantas menyusupkan kedua tangannya di pinggang pria itu.


“Kamu sudah pulang, baby?” Tanya Edward masih tetap fokus dengan pekerjaannya.


“Kamu tidak terkejut?” Bukannya menjawab, Laura malah bertanya balik.


“Hanya kamu yang bisa keluar masuk tempat ini, selain aku dan Johan.” Ucap pria itu terkekeh.


“Bagaimana jika nyonya Felisha yang datang?” Gadis itu masih setia menempel di balik punggung Edward.


“Felisha tidak pernah melakukan ini kepada ku. Kami hanya saling memeluk sebentar, mencium kening, menggenggam tangan.”


“Apa kalian pernah tidur bersama?” Tanya gadis itu lirih, namun masih di dengar oleh Edward.


Pria itu mematikan kompor yang menyala. Ia lalu membalik badannya. Mengangkat tubuh Laura ke dalam gendongannya.


Secara serta merta, tangan gadis itu melingkar di leher Edward.


“Kami sering tidur bersama, tetapi di tengah kami ada Devano. Bahkan aku sering mimpi buruk saat tidur bertiga.” Pria itu membenturkan kening mereka berdua.


“Tidak, baby. Aku akan memeluk Devano jika mimpi buruk itu datang. Felisha hanya akan mengusap lenganku sampai aku tertidur.”


Gadis itu memperhatikan wajah Edward.


“Kenapa?”


“Kamu tidak mirib dengan nyonya Felisha.” Ucap gadis itu. Ia menyentuh pipi Edward dengan telunjuknya.


“Felisha mirib dengan papaku, sedangkan aku, aku perpaduan antara mama dan papaku.” Ucap pria itu.


Laura menganggukkan kepalanya. Kini rasa yang mengganjal di hatinya telah sirna.


“Oh ya, kamu masih hutang penjelasan kepadaku. Kenapa kamu bisa berada di dalam kamar hotel ku.” Ucap gadis itu.


“Dasar gadis nakal. Pendendam sekali kamu ini.” Edward menggigit kecil hidung Laura.


“Nanti setelah makan malam aku jelaskan padamu.” Pria itu menurunkan Laura dari gendongannya.


“Sekarang kita makan dulu. Aku sudah lapar.”

__ADS_1


Edward kembali berkutat dengan kompor dan peralatan lainnya.


“Kita hanya berdua? Dimana pak Jo?” Gadis itu baru ingat, sepertinya penghuni penthouse ini ada yang kurang.


“Dia berada di rumah Monica. Gadis itu sedang di tinggal keluar kota oleh orang tuanya.” Jelas Edward yang kini menata makanan di meja makan.


Setelah selesai makan malam. Mereka menghabiskan waktu di tepi kolam renang.


“Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” Edward menyodorkan segelas coklat hangat pada gadis itu.


“Terimakasih.” Laura menerima minuman hangat itu dengan senang hati. Ia memang menyukai semua yang memiliki rasa coklat.


“Aku tau, kamu pasti sudah melacak keberadaanku. Aku tidak akan menanyakan hal itu. Yang ingin aku tau, bagaimana bisa kamu masuk kedalam kamarku?” Tanya gadis itu setelah ia menyeruput coklat hangatnya.


“Aku mengatakan pada resepsionis jika kamu istriku yang sedang merajuk. Mereka sempat tidak percaya. Tetapi aku menunjukkan ini.”


Edward memperlihatkan ponselnya. Disana terlihat foto Laura yang sedang tidur di dekapan pria itu.


Mata Laura membulat. Seketika itu ia tersedak minuman yang baru saja ia minum.


Edward meraih gelas ditangan gadis itu. Kemudian meminum sisanya. Ia terkekeh melihat tingkah gadis itu.


“Ed.. kamu—,” Laura mengepalkan tangannya, lalu memukul bahu pria itu.


“Sakit, baby. Kenapa menyerangku?.” Edward menangkap tangan Laura, lalu memeluknya.


“Aku ingin semua orang tau, jika kamu milikku.” Pria itu melabuhkan kecupan sayang di atas kepala Laura.


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift

__ADS_1


Terimakasih semuanya 🤗🤗


I LOVE YOU FULL ❤️❤️❤️


__ADS_2