
Keesokan harinya, Laura tengah menemani Teresha bersiap. Seorang perias dan seorang asistennya membantu Teresha merias diri.
Dengan gaun putih panjang, hingga menyapu lantai, Teresha terlihat sangat cantik. Rambutnya di sanggul, kemudian dihiasi dengan sebuah mahkota kecil dan juga kain tipis yang nantinya jug akan menutupi wajahnya.
Laura juga ikut berias, namun ia hanya meminta riasan tipis. Ia tidak suka riasan yang terlalu tebal.
“Mbak sangat cantik.” Ucap Laura memuji penampilan Teresha.
“Terimakasih, La. Kamu juga cantik.”
Tak berselang lama, seorang anak perempuan berusia 12 tahun datang memanggil Teresha dan Laura. Ia mengatakan jika pengantin pria telah tiba.
Hati Teresha berdebar. Ini memang bukan pernikahan pertamanya dengan Damian. Namun, ini untuk kali pertamanya ia menikah tanpa paksaan dari siapa pun.
“La.” Teresha menarik tangan Laura yang hendak berjalan menuju pintu.
“Ada apa, mbak?” Laura merasakan tangan Teresha berkeringat.
“Apa mbak gugup?” Tanyanya lagi, dan Teresha menjawab dengan anggukan kepala.
“Tidak apa-apa. Semua orang pasti gugup di hari pernikahan. Aku juga begitu.” Laura menggenggam tangan Teresha dengan lembut. “Tarik nafas yang dalam, kemudian hembuskan.”
Teresha menuruti perkataan Laura. Hingga ia merasa lebih tenang.
“Ayo. Pak Damian pasti sudah tidak sabar menunggu kedatangan mbak Tere.”
Mereka pun berjalan keluar dari kamar tempat dimana Teresha berhias.
Di depan pintu, pak Toto menunggu. Ini untuk kedua kalinya ia menjadi ayah pengganti untuk mempelai wanita.
Teresha merangkul lengan pria paruh baya itu. Sementara seorang anak perempuan lainnya, memberikan satu buket bunga kepada calon pengantin wanita itu.
Berjalan memasuki taman belakang panti yang telah di sulap menjadi tempat pernikahan, jantung Teresha kembali berdebar dengan cepat. Begitu banyak pasang mata yang kini menatapnya.
Namun, langkah Teresha terhenti kala mendapati dua pria berbeda usia tengah menunggunya di depan sana. Damian dan Leo, berdiri saling bersisian menunggu kedatangan wanita itu.
“Ayo, mbak. Pengantin pria sudah menunggu.” Ucap Laura di samping Teresha. Seketika membuat wanita itu tersadar. Dan kembali melanjutkan langkahnya.
Kembali melanjutkan langkahnya, membuat Teresha semakin gugup. Apalagi ketika Damian dan Leo terlihat semakin dekat dengannya.
‘Tenang Te, semuanya pasti berjalan dengan lancar.’
Teresha tiba tepat di depan Leo dan Damian. Pak Toto menyerahkan pengantin wanita itu kepada pengantin pria.
__ADS_1
“Kamu cantik.” Ucap Damian saat tangan Teresha sudah di genggamnya. Membuat wanita dewasa itu tersipu malu.
Leo berdehem, membuat kedua orang tuanya kembali bersikap biasa saja. Ia kemudian meninggalkan kedua orang yang akan mengucap janji suci pernikahan itu.
Sementara itu, di salah satu meja, tepatnya di meja yang di tempati oleh Laura, Edward, ibu Maria dan bibi Lily. Edward terlihat menatap sang istri tanpa berkedip. “Kamu cantik sekali, mi. Bagaimana jika kita ke kamar saja?” Edward berbisik di telinga sang istri. Membuat Laura seketika membulatkan matanya.
Wanita itu menoleh kesamping kirinya, ia mendapati wajah sang suami dengan tatapan memangsa. Laura tau, jika sudah begitu, ada sesuatu yang sedang di tahan oleh sang suami.
“Acaranya belum di mulai, pi.” Wanita itu ikut berbisik. Tak mau ibu Maria dan bibi Lily mendengarnya. Ia merasakan tangan Edward mulai meremat jemari tangannya.
“Tidak perlu ikut, kita pergi saja.” Suara Edward terdengar semakin berat. Ia tidak mampu menahan. Entah kenapa, ia melihat sang istri begitu menggoda pagi ini. Gaun ketat berwarna peach dengan bahu yang terbuka, membuat Laura terlihat se*si, dengan bagian perut yang terlihat sedikit buncit, apalagi rambut wanita itu yang tersanggul di belakang kepalanya, membuat leher Laura semakin terekspos.
“Tunggu sebentar lagi.” Laura berusaha menenangkan sang suami. Ia mengusap lembut paha pria itu. Untung saja, ada meja berlapis kain yang menutupi.
Namun, Laura tidak sadar, perbuatannya itu justru membuat sang suami semakin menjadi-jadi.
“Sebentar saja, mi.” Pria itu memohon. Ia pun mulai mengecupi pundak terbuka sang istri.
“Pi, banyak anak kecil.”
“Maka dari itu, kita ke kamar sebentar. Aku janji akan cepat.”
Laura membuang nafasnya kasar. Edward tetaplah Edward, pria yang tidak mau mendengar bantahan apapun.
“Hanya sebentar?”
Laura mengangguk, ia pun bangkit. Kemudian meminta ijin kepada ibu Maria untuk ke kamar sebentar karena Edward merasa pusing. Dan membutuhkan obat.
Leo datang menghampiri ibu dan bibinya. Kedua alis remaja itu hampir menyatu, kala ia tak mendapati kakak dan kakak iparnya disana.
“Kakak dimana, Bu?” Tanyanya sembari menghempaskan bokongnya di salah satu kursi, di samping ibu Maria.
“Oh, kakakmu ke kamar. Nak Ed membutuhkan obat, dia merasa sedikit pusing.” Ibu Maria menjelaskan. Dan Leo hanya menganggapi dengan anggukan kepala.
****
Pengucapan janji suci pernikahan pun dimulai. Setelah mengikrarkan janji sehidup semati, dan menyematkan cincin pada masing-masing jari, kini Damian dan Teresha telah resmi menjadi suami istri kembali.
Para tamu yang menghadiri acara pernikahan orang tua Leo itu bertepuk tangan, kala Damian mengecup hangat kening Teresha. Ya, hanya mengecup kening. Bahkan selama mereka kembali dekat, Damian belum pernah mencium bibir Teresha.
Meski ingin, namun Ia tidak mau memaksakan kehendaknya. Damian ingin hubungan mereka terjalin tanpa adanya rasa keterpaksaan.
Setelah selesai, Damian dan Teresha menghampiri putra mereka yang sedang duduk bersama ibu Maria dan bibi Lily.
__ADS_1
“Selamat nak Damian, nak Teresha.” Ibu Maria menyalami pengantin baru itu secara bergantian. Begitu pula bibi Lily juga ikut memberikan selamat kepada pasangan itu.
“Nak?” Damian menatap sang putra. Dan Leo pun bangkit dari duduknya.
“Selamat untuk kalian berdua. Papa dan Mama.” Leo mengulurkan tangannya kehadapan Damian dan Teresha. Namun, mereka berdua mematung. Ini untuk pertama kalinya, mereka mendengar Leo memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama.
“Nak, bolehkah kamu mengulangi sekali lagi?” Tanya Teresha penuh haru.
“Tentu. Mulai sekarang, aku akan memanggil kalian seperti itu. Papa dan Mama.”
Secara bersamaan, Damian dan Teresha menghambur, memeluk tubuh putra mereka. Rasa haru tak dapat lagi di sembunyikan. Tidak ada hadiah pernikahan yang lebih indah, selain penerimaan dan pengakuan dari putra mereka.
“Kami menyayangimu, nak.”
“Ya, buktikan mulai sekarang. Ingat, aku menantikan hadiah dari kalian.”
“Tentu, nak. Doakan, semoga papa dan mama bisa cepat memberimu hadiah.”
Mereka pun mengurai pelukan. Teresha menunduk mengusap sudut matanya yang mulai basah.
“Jangan menangis. Nanti riasan mama luntur.”
Deg!!
Teresha tersentak. Bukan Leo yang memanggilnya mama, tetapi Damian. Wanita itu mengangkat wajahnya.
“Ya, mulai sekarang, aku akan membiaskan diri memanggil mu mama. Supaya, anak-anak nanti juga terbiasa.” Ucap Damian dengan senyum.
“Oh, ya. Dimana Ed dan Laura? Aku tidak melihat mereka?” Teresha mengalihkan pembicaraan, karena ia merasa pipinya sangat panas, setelah mendengar ucapan suaminya.
“Kami disini.” Edward dan Laura datang dari belakang mereka.
“Maaf, tadi aku sedikit pusing, dan meminta istriku untuk mengobati.” Jelas Edward dengan raut wajah tanpa dosa.
Damian dan Teresha bukanlah remaja belasan tahun yang tak mengerti maksud Edward. Apalagi setelah melihat wajah pria itu yang nampak segar.
“Selamat ya, pak Damian dan mbak Teresha.” Laura menyela dengan mengulurkan tangan. Ia tidak mau pembahasan pusing dan obat itu berlanjut.
“Terima kasih, La.” Teresha menyambut uluran tangan Laura, mereka juga saling berpelukan.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C