
“Lepaskan!” Perintah Edward pada sang istri.
Namun kepala wanita muda itu hanya menggeleng.
Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Aku malu, papi.”
Edward terkekeh. Ini bukan lagi yang pertama kali untuk mereka. Namun sang istri berlagak seolah ini yang pertama.
“Lepaskan, atau aku akan merobeknya?”
Tangan pria itu sudah siap mencengkeram penutup terakhir tubuh sang istri.
Dengan cepat Laura membuka wajahnya, menuruti keinginan sang suami. Daripada kain itu dirobek. Harganya cukup mahal. Karena itu adalah pakaian tidur merk ternama.
“Sudah.” Ucap wanita itu lirih.
Ia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Saat melihat aksi suaminya.
Entah kenapa, rasa malu itu datang saat ini. Biasanya, Laura tidak pernah seperti ini. Ia bahkan sering membantu Edward mengenakan pakaiannya, saat hendak ke kantor.
Laura menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sesuatu yang biasa masuk, bergerak secara halus, memberi sentuhan agar terbiasa.
Suaminya keturunan orang luar, wajar saja sesuatu itu lebih besar.
Tangan Laura reflek mencengkeram bahu sang suami. Namun matanya masih terpejam. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara gaib.
“Buka matamu, dan berteriak lah seperti biasa. Kamar ini luas dan kedap suara. Lagi pula, ini sudah malam. Tidak ada pekerja dirumah ini.” Edward berbisik di telinga sang istri. Suaranya terdengar begitu serak.
“Edhh..mm”
Wanita muda itu sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Suaminya selalu bisa memberikan rasa yang memabukkan.
Pria itu tidak pernah kasar. Selalu memperlakukan Laura dengan lembut, penuh kasih sayang.
Edward mulai bekerja, memberikan rasa yang tidak akan pernah terlupakan. Tubuh sang istri sudah menjadi candu baginya.
Sebelum bertemu dengan Laura, pria itu tidak pernah memikirkan tentang hal seperti ini.
Dunianya hanya seputar keluarga dan bisnis. Meski punya teman dari kalangan pembisnis, ia tidak sampai ikut bergabung kedalam sebuah perkumpulan.
Waktunya terlalu berharga untuk di buang-buang, duduk di dalam klub malam hingga pagi menjelang.
Lebih baik ia gunakan waktu malamnya untuk beristirahat, karena pria itu sangat susah mendapatkan tidur yang berkualitas.
Dan setelah bertemu Laura, semuanya berbalik. Edward bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi bersama sang pujaan hati.
Wanita berusia 21 tahun, yang kehadirannya tidak pernah ia harapakan, kini menjadi prioritas utama dalam hidupnya.
Cinta Edward tak lagi hanya untuk keluarganya, tetapi sekarang cintanya terbagi untuk Laura. Bahkan lebih besar.
“Aku sshh.. mencintaimu.. mmm Laura..”
Edward menekan semakin dalam. Membuat tubuh Laura bergetar hebat. Sesaat kemudian, benda keras tak bertulangnya pun menumpahkan benih, bakal calon Edward yang baru di dalam perut sang istri.
Pria itu melabuhkan sebuah kecupan sayang di atas ubun-ubun sang istri. Tak hentinya kata cinta keluar dari bibir pria berusia 35 tahun itu.
Tanpa melepaskan yang masih tertanam, Edward membalik posisi, membuat sang istri berada di atasnya.
__ADS_1
Laura hanya diam, ia masih mengatur nafas dan menyiapkan tenaganya. Hampir seratus hari tidur bersama pria dewasa ini, membuat Laura mengerti banyak hal. Edward tidak akan cukup sekali. Tiga kali pertumpahan dari Edward, dan mungkin berkali-kali untuk dirinya, pria itu baru akan berhenti.
“Jangan minum obat itu lagi.” Ucap Edward sembari mengusap lembut punggung polos sang istri.
Laura menganggukkan kepalanya lemah. Dadanya masih naik turun dengan cepat. Paru-parunya masih kekurangan banyak oksigen.
“Pi, tolong turunkan suhu AC nya. Aku gerah.” Laura memerintah masih dengan posisi tengkurap di atas suaminya.
Edward terkekeh, tangan kanannya terulur meraih remote yang terletak di atas nakas.
“Besok kuliah jam berapa?” Tanya Edward setelah suhu sesuai dengan keinginan sang istri.
“Jam 9 pagi, pi.”
Pria itu menyeringai mendengar jawaban istrinya. Tangannya pun kembali beraksi memberikan sentuhan lembut, membuat sang istri kembali terpancing.
“Papi..mmhhh..”
“Relax, baby. Kita lanjutkan lagi. Aku belum lelah.”
“Dasar pria tua me*sum.”
********
“Budadu, teh untuk suamiku, ganti teh hijau ya. Maaf kemarin aku lupa memberi tau.” Laura mengembalikan cangkir yang telah terisi teh hitam kepada pekerja dapur yang lebih muda.
Ia kemudia kembali ke meja makan, menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Nasi goreng dengan telur mata sapi, dan irisan timun sebagai pelengkapnya.
Tenaga mereka cukup terkuras tadi malam. Sehingga pagi ini, memerlukan asupan karbohidrat yang banyak.
“Ini nyonya.” Sang pekerja kembali menyerahkan cangkir yang kini berisi teh hijau kepada majikannya.
“Terima kasih, Bu. Aku mau naik dulu sebentar.”
Laura meninggalkan meja makan, kemudian kembali ke kamar membantu sang suami menggunakan pakaian kerjanya.
Meski belum berpengalaman, namun Laura berusaha belajar memahami tugasnya sebagai seorang istri.
Taat dan patuh kepada suami. Selalu melayani suami, baik kebutuhan jasmani maupun biologisnya.
Laura sudah tidak mempunyai orang tua lagi, maka yang harus ia patuhi sekarang hanya suaminya. Selain menjadi suami, Edward juga berperan sebagai orang tua bagi Laura. Mendidik dan mengarahkan wanita muda itu, ke jalan yang benar.
Tak berselang lama, pasangan suami istri itu pun telah kembali menuruni anak tangga rumah mereka, dengan saling bergandengan tangan.
Sampai di ujung tangga, mata Laura menangkap sosok lain sedang duduk di salah satu kursi meja makannya.
Dengan serta merta, wanita muda itu melepaskan tautan tangannya dengan sang suami.
“Pak Jo?”
Wanita muda itu berseru, membuat Johan menoleh, kemudian ia pun berdiri.
Matanya membulat sempurna ketika istri dari atasannya itu menghambur kedalam pelukannya.
“Pak Jo, apa kabar? Aku merindukanmu.”
Belum sempat Johan menjawab, sebuah suara menggelegar di dalam rumah itu.
__ADS_1
“JOHAN PURNOMO.”
“Astaga, tamatlah riwayatku.” Johan menggerutu. Buru-buru ia mendorong tubuh Laura agar menjauh darinya.
“Nona, kenapa membuatku dalam masalah?” Pria muda itu memejamkan matanya. Jantungnya bergemuruh kencang. Jika Edward adalah sang penguasa hutan, sudah bisa di pastikan, Johan akan habis di makan bulat-bulat olehnya.
“B-bos.”
Lidah Johan terasa kelu. Selama ia bekerja dengan Edward, mungkin hanya hari ini ia tidak punya nyali untuk melawan.
Dengan langkah lebar Edward mendekat ke arah sang asisten. Tangannya sudah terkepal, rahangnya mengeras. Ia ibarat bom yang telah siap untuk meledak.
“Papi, jangan.” Laura berseru. Melerai cekalan tangan sang suami di kerah kemeja sang asisten.
‘Papi? Astaga, aku melewatkan banyak hal.’
Johan berusaha menyembunyikan senyuman dengan mengulum keras bibirnya.
Ia merasa geli mendengar sang nona memanggil bosnya dengan sebutan papi.
“Apa maumu, Johan Purnomo? Ingin di pecat? Hah?” Mata Edward membulat seolah akan melompat keluar. Dirinya benar-benar diliputi rasa cemburu yang berlebihan.
“B-bos.. a-aku tidak salah. Nona yang tiba-tiba memelukku.” Johan berusaha membela diri. Demi apapun dia tidak pernah ingin memeluk istri atasannya ini.
“Papi, yang di katakan pak Jo itu benar, aku yang memeluknya duluan, jadi marahi aku. Pak Jo tidak salah.” Laura ikut berbicara membela asisten suaminya.
“Kamu—,” Tangan Edward menunjuk ke arah sang istri. Seketika Laura memasang wajah memelasnya.
Melihat itu membuat Edward mengurungkan niatnya untuk memarahi sang istri.
“Jangan berani-berani kamu melakukan itu lagi, Laura Anastasia. Ingat batasanmu. Kamu bukan wanita lajang lagi.”
Laura mengangguk patuh. Ia pun memberanikan diri mendekat ke arah sang suami.
“Maafkan aku, papi. Aku hanya spontan memeluk pak Jo, sudah lama kami tidak bertemu. Percayalah, aku hanya menganggap pak Jo seperti kakakku sendiri. Tidak ada rasa yang lain.”
Setelah memberikan penjelasan itu, Laura memberanikan diri mengecup bibir sang suami di depan Johan. Hanya ini cara satu-satunya meredam amarah bocah tua itu. Laura menyingkirkan segala rasa malu yang ia punya.
‘Maafkan aku pak Jo. Demi supaya pak Jo tidak di amuk, aku harus melakukan ini.’
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
Terimakasih banyak ❤️
__ADS_1