
Nyonya Hugo kini tengah bersiap, sesuai rencana, ia dan Felisha sang putri akan pergi ke panti asuhan, Angel Heart untuk melamar Laura.
Wanita paruh baya itu meminta sang asisten pribadi, yang bernama pak Indra, untuk menyiapkan sebuah hadiah yang akan di bawa ke panti itu.
“In, apa yang kamu belikan untuk calon besan ku?” Nyonya Hugo melangkah ke arah sang asisten yang tengah menunggunya di ruang tamu.
“Aku tidak tau harus membawakan apa, nyonya. Maklumlah aku belum pernah melamar anak gadis orang.” Pria berusia 50 tahun itu terkekeh. Ia memang sering bercanda kepada sang nyonya, yang sudah ia temani selama 20 tahun ini.
“Bagaimana mau melamar anak gadis orang, anakmu sendiri gadis semua.” Nyonya Hugo memicingkan matanya.
“Apa belum ada yang datang melamar salah satu anak gadis mu? Kamu di kasih apa oleh calon besan mu?” Lanjutnya lagi.
Pak Indra mengedikan bahunya tanda tak acuh. Sampai saat ini belum ada yang datang melamar putri-putrinya meski sudah berusia 25 tahunan.
“Jadi apa yang kamu persiapkan untuk aku bawa?” Nyonya Hugo kembali bertanya. Ia juga belum pernah melamar seorang gadis.
Wanita paruh baya itu juga tidak terlalu bergaul dengan wanita-wanita sosialita. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melakukan kegiatan sosial dan amal.
Bersembunyi di balik nama Samantha, ia lebih banyak bergaul dengan kalangan menengah kebawah.
“Aku membelikan satu set perhiasan emas.” Pak Indra menunjuk kotak merah berukuran 30 cm di hadapannya.
Tangan nyonya Hugo terulur meraih kotak itu. Dengan hati-hati, ia membuka kotak beludru berwarna merah itu.
Matanya berbinar ketika melihat sebuah kalung, sepasang anting, sebuah cincin dan sebuah pin, di dalam kotak tersebut.
“Kamu memang selalu bisa di andalkan, In.”
Terdengar langkah kaki mendekat menuju ke arah mereka berdua.
“Wah. Cantik sekali, ma.” Felisha mengambil tempat duduk di samping sang mama. Ia ikut meraba kotak perhiasan itu.
“Pak In, pintar sekali memilih perhiasan. Pantas saja ibu Rani sangat menyayangi pak In.” Ujar Felisha memuji asisten mamanya.
“Itu Rani sendiri yang memilihkan, nyonya. Jujur aku tidak mengerti hal-hal seperti ini.”
Nyonya Hugo mencebikan bibirnya. Baru saja ia dan putrinya memuji sang asisten, ternyata orang lain yang memilihkannya.
“Ya sudah tunggu apalagi. Ayo kita pergi ke panti. Aku sudah tidak sabar melamar gadis itu.” Nyonya Hugo bangkit dari duduknya. Tangan kirinya menjinjing tas bermerk dan tangan kanannya memegang kotak perhiasan.
“Biar aku bawakan, nyonya.” Pak Indra merasa tidak enak hati melihat sang nyonya kerepotan membawa barang-barang.
“Tidak usah. Ini untuk calon beda ku, biar aku yang membawanya.”
Felisha melihat hal itu hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Sifat sang mama selalu mengingatkannya dengan Edward. Mereka sama-sama pemaksa dan juga posesif.
Memakan waktu kurang dari 20 menit, mobil mewah yang tumpangi oleh nyonya Hugo, Felisha dan pak Indra telah tiba di halaman panti asuhan.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Aktivitas di panti terlihat lengang. Mungkin karena kebanyakan anak-anak masih bersekolah.
“Selamat pagi, nyonya.” Pak Toto menyapa tamunya yang baru keluar dari dalam mobil. Ia sudah sangat hafal dengan nyonya ini. Donatur yang tidak pernah absen mengunjungi panti asuhan meski hanya sebulan sekali.
__ADS_1
“Pagi, pak. Apa ibu Maria ada?” Pak Indra membalas sapaan sang tukang kebun panti, sekaligus menanyakan keberadaan sang pengurus panti.
“Ada, pak. Mari saya antar.”
“Sepertinya ada yang berubah dengan panti ini?” Nyonya Hugo berujar di sela perjalanan menuju ruang tamu panti.
Pak Indra menganggukkan kepala tanda setuju. Hampir setiap bulan menemani sang nyonya menyambangi panti ini, ia sudah hafal seluk beluk rumah bagi anak yatim itu.
“Itu nyonya, ada seorang donatur yang merenovasi panti ini.” Jelas pak Toto.
Felisha tidak ikut memberi komentar, ia hanya memperhatikan saja sekitarnya. Karena ini untuk pertama kalinya ia mengunjungi tempat tinggal calon iparnya.
“Silahkan, nyonya, pak.” Sang tukang kebun mempersilahkan tamunya memasuki ruangan tamu. Ia kemudian berpamitan untuk memanggil ibu Maria.
“Jadi Laura tumbuh disini?“ Felisha bertanya kepada sang mama, sembari ia melihat ke sekeliling ruangan itu.
“Iya, ini hanya ruangan yang di gunakan untuk menerima tamu. Anak-anak memiliki tempat tinggal di belakang, kamar Laura juga terpisah dari adik-adiknya.” Nyonya Hugo menjelaskan panjang lebar.
Tak berselang lama, ibu Maria datang bersama bibi Lily. Mereka saling menyapa untuk sekedar berbasa-basi.
“Senang bisa bertemu dengan anda lagi, nyonya Samantha.” Ujar ibu Maria.
Nyonya Hugo mencebikan bibirnya. Ibu Maria pun tidak tau jika wanita di hadapannya ini, adalah nyonya Hugo. Ibu dari Edward Hugo sang calon menantu.
“Oh ya, Maria. Perkenalkan ini putriku, yang tinggal bersamaku disini. Namanya Felisha.”
“Hallo, Bu. Aku Felisha. Senang bisa bertemu dengan kalian.” Felisha menyalami kedua wanita pengurus panti itu bergantian.
“Senang juga bertemu dengan anda, nona.” Ucap ibu Maria dengan sopan.
“Baiklah, nak Felisha.”
Seorang pekerja panti datang menyela obrolan mereka, untuk menyajikan teh hangat.
Setelah itu, obrolan pun kembali di mulai.
“Maria, aku langsung saja pada intinya. Tujuan ku datang kesini, tidak lain adalah untuk melamar putrimu, Laura Anastasia untuk aku jadikan menantu. Aku sangat berharap kamu akan merestuinya.” Wanita paruh baya yang mempunyai nama lengkap Aurora Ervitha itu, berbicara mengungkapkan tujuannya datang ke panti itu.
“Seperti yang sudah aku rencanakan dulu. Aku ingin Laura menjadi putriku.” Imbuhnya lagi.
Deg..
Ibu Maria tersentak. Ia menoleh ke arah bibi Lily. Bagaimana pun juga, Laura telah lebih dulu di lamar oleh Edward dan ibu Maria telah menyetujui lamaran itu.
Bibi Lily yang mengerti arti tatapan sang sahabat, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Maaf, nyonya. Aku tidak bisa menerima lamaran anda. Bukannya aku tidak tau diri, tetapi putriku sudah lebih dulu di lamar oleh kekasihnya.” Ibu Maria berusaha menolak secara halus lamaran dari wanita yang ia ketahui bernama nyonya Samantha.
Nyonya Hugo menyunggingkan senyumannya. Ia kemudian meminta Felisha menujukkan foto keluarga mereka.
“Bu, lihatlah. Apa pria ini yang telah melamar Laura?” Felisha menyodorkan ponselnya kepada ibu Maria.
Ibu Maria dan bibi Lily melihat gambar itu. Kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mengembalikan lagi benda pintar itu pada pemiliknya.
__ADS_1
“Pria yang mengaku sebagai kekasih putrimu itu adalah putraku, Maria. Dia saudara kembar Felisha. Dia putra yang selalu aku ceritakan padamu.”
“Apa?” Ibu Maria menutup mulutnya tak percaya. Dunia seakan begitu sempit. Orang-orang yang ia kenal ternyata saling berhubungan satu sama lainnya.
“Jadi anda nyonya Hugo?” Bibi Lily bertanya di tengah keterkejutan sang sahabat.
Lagi-lagi ibu Maria tersentak.
‘Astaga, dia nyonya Hugo?’
Nyonya Hugo menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menceritakan tentang identitasnya yang ia sembunyikan selama ini.
“Jadi selama ini, seorang nyonya dari keluarga tersohor di negara ini yang sering mengunjungi kami?” Bibi Lily ikut tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Lily, tidak perlu seperti itu. Aku dan kalian sama saja. Ini lah kenapa aku lebih suka menggunakan nama Samantha, orang-orang tidak akan enggan dengan ku.”
“Maafkan aku, nyonya. Aku masih sedikit kaget dengan semua ini.” Jelas bibi Lily.
“Lalu bagaimana, Maria? Apa kamu menerima lamaran ku?” Nyonya Hugo kembali bertanya.
“Aku sudah bertemu putrimu tempo hari di kota. Aku dan mereka pun sudah sepakat, minggu depan mereka menikah di panti ini. Jadi, kamu tidak ada alasan untuk menolak lamaranku.”
Nyonya Hugo tidak membiarkan calon besannya untuk menolak. Bagaimana pun caranya, kata setuju harus terucap dari bibir ibu angkat Laura itu.
Ibu Maria menghela nafasnya pelan. Ia tidak punya kuasa untuk menolak. Laura bukanlah putri kandungnya, ia tidak berhak ikut campur terlalu dalam urusan gadis itu.
“Jika Laura sudah setuju, aku pun setuju, nyonya. Lagipula aku sudah menerima lamaran putramu terlebih dulu.” Ujar ibu Maria.
“Baguslah, Maria. Memang itu seharusnya yang kamu ucapkan.” Nyonya Hugo meraih kotak merah beludru di atas meja. Kemudian menyodorkan kehadapan sang calon besan.
“Terimalah, Maria. Anggap sebagai hadiah seorang ibu kepada calon besannya.”
Ibu Maria meraih benda itu.
“Terimakasih, nyonya. Aku berharap Laura dan Edward akan selalu saling menyayangi.”
Obrolan pun berlanjut, membahas acara pernikahan yang akan di gelar minggu depan di panti ini. Nyonya Hugo pun menyusun segala sesuatunya agar berjalan sesuai yang ia inginkan.
.
.
.
T. B. C
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Gift
Terimakasih ❤️❤️