TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 108. Melamar Monica.


__ADS_3

Menjelang petang, Edward mengajak istri dan anaknya kembali pulang. Mereka akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Leo, mengingat hal yang ingin di bicarakan adalah masalah serius.


Begitu pula dengan ibu Maria. Wanita paruh baya itu juga akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Laura. Untuk sementara, ia meminta Damian agar tidak melakukan tindakan apapun itu. Dan pria itu pun menyanggupi, asalkan dia bisa tetap menemui Leo.


“Kami permisi, pulang dulu, bu. Nanti kami kembali lagi.” Ucap Edward berpamitan pada ibu Maria yang kini menjadi ibu mertuanya.


“Kenapa tidak menginap saja?”


“Aku ingin, tetapi besok kami ada acara keluarga. Aku harus menepati janji pada asisten ku, akan melamarkan kekasihnya. Dia juga seperti Laura, sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya.” Edward memberi penjelasan.


“Kamu memang pria yang baik. Ibu bersyukur, Laura bertemu pria sepertimu. Mungkin lain ceritanya jika Laura masih dengan yang dulu.”


Ibu Maria berucap sendu. Dalam rasa syukurnya, ia teringat kisah sang putri angkat, yang pernah di tolak bahkan di hina oleh ibu dari kekasihnya.


“Jangan mengingat masalalu itu lagi, bu. Apalagi mengenai pria itu, aku tidak suka.” Air muka Edward mulai berubah. Pria itu tidak pernah suka, jika ada yang membicarakan pria lain yang berhubungan dengan istrinya.


Ibu Maria mengulum bibirnya, ia melihat cinta Edward sangat besar untuk anak sahabatnya.


Laura datang bersama Devano, bocah itu terlihat lesu dan bibirnya hampir mirip seperti paruh burung.


“Ada apa, boy?”


“Aku belum mau pulang, papa. Masih ingin bermain bersama teman-teman.” Adunya pada sang papa.


“Sayang, ini sudah mau malam. Kita pulang dulu, ya. Besok kita ada acara, jadi tidak bisa menginap disini.” Laura mencoba memberi pengertian pada Devano. Wanita muda itu setengah berjongkok agar tingginya setara dengan sang putra.


Devano mendengus kesal. Mungkin karena ia jarang dapat bermain dengan anak sebayanya, jadi sekalinya dapat bermain, ia merasa kurang puas.


“Apa aku boleh tidak ikut? Aku ingin disini saja.”


“Boy.” Edward ikut mensejajarkan tinggi badannnya dengan Devano.


“Jangan begini. Nanti kita kembali lagi ke sini, tetapi besok, kita harus membantu om Johan dulu. Kamu ingat apa yang sering papa katakan?”


Devano menganggukkan kepalanya.


“Apa?”


“Kita harus saling membantu satu sama lain.” Ucap bocah itu dengan cepat.


“Pintar. Maka dari itu, kita pulang dulu sekarang. Nanti kita kesini lagi. Kalau papa dan mami tidak bisa, kamu bisa meminta mama atau nenek yang mengantar.”


Devano akhirnya mengangguk patuh. Mereka pun berpamitan kenapa ibu Maria.


Berjalan di halaman panti dengan beriringan. Tangan kanan Edward menggenggam tangan kiri Devano, sementara tangan kanan bocah itu bertautan dengan tangan kiri sang mami.

__ADS_1


Di depan pintu gerbang panti, Teresha yang berada di dalam mobil, melihat semua itu. Hatinya tersentak menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari keluarga kecil itu.


“Apa itu putra mereka?”


Dapat di lihatnya, Edward memperlakukan kedua orang berbeda usia itu dengan penuh kasih sayang.


Mata Teresha seketika memanas, jantungnya bergemuruh seperti ombak. Melihat pria yang selalu mengisi hatinya, kini bahagia bersama orang lain.


Tadinya, Teresha ke tempat itu untuk melihat perkembangan panti asuhan itu. Tetapi apa yang ia dapatkan? Sebuah kejutan besar yang menyayat hatinya.


Ia bahkan belum melihat bagaimana rupa sang putra yang kini telah beranjak remaja. Maksud hati ingin mencari tau tentang buah hatinya, tetapi ia justru mendapatkan sakit hati.


“Apa mereka punya hubungan dengan panti ini?” Wanita itu menatap mobil Edward yang keluar dari gerbang panti.


Perlahan ia menepikan mobilnya di dekat panti. Teresha melihat seorang pria paruh baya sedang menutup pintu gerbang. Wanita itu bergegas keluar dari mobilnya.


“Maaf, permisi pak?”


“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” Pak Toto bertanya dengan sopan.


“Itu, mobil yang tadi, maksudku apa mereka donatur panti ini?”


“Oh, itu tadi mobil menantu dari pemilik panti ini. Kebetulan, putri pemilik panti ini, menikah dengan orang yang punya mobil tadi.” Jelas pak Toto tanpa curiga.


Deg..


Batin Teresha menjerit, bagaimana bisa wanita yang ia benci karena merebut hati Edward, adalah anak pemilik panti, orang-orang yang paling berjasa dalam hidupnya?


“Maaf, ada apa ya, bu? Apa ibu mengenal mereka?” Tanya pak Toto kembali.


“Ah, tidak. Mobilnya mirip dengan mobil orang yang aku kenal.” Teresha memberikan senyum palsu di akhir ucapannya.


‘Apa itu artinya putraku mengenal istri Edward?’


Teresha pun meninggalkan tempat itu dengan batin yang masih bertanya-tanya. Ia memutuskan akan kembali lagi nanti, mungkin di siang hari supaya ia bisa melihat anak-anak panti dengan jelas. Wanita itu yakin, anak laki-laki tertua di panti ini adalah putranya.


*****


Hari telah berganti, seperti yang telah di rencanakan, siang ini keluarga Hugo akan pergi ke kediaman keluarga Gunawan untuk melamar putri mereka.


Butuh waktu berkendara selama satu jam dari kediaman keluarga Hugo menuju kediaman keluarga Gunawan.


Dengan menggunakan pakaian senada, keluarga Hugo yang terdiri dari empat orang dewasa, dan satu orang anak kecil telah tiba di rumah orang tua Monica. Tak lupa, tangan menantu keluarga Hugo, membawa buah tangan yang akan mereka berikan kepada calon besannya.


Terlihat di teras rumah itu, sang calon mempelai pria telah menunggu kedatangan keluarga Hugo.

__ADS_1


Johan, pria muda berusia 30 tahun itu terlihat berbeda siang ini. Pakaian formal yang sering ia gunakan, kini berganti dengan pakaian yang lebih santai, berbalut blazer berwarna abu-abu.


“Selamat siang, nyonya.” Johan menyalami nyonya Hugo terlebih dulu. Kemudian menyapa Edward, Felisha, Laura dan Devano secara bergantian.


“Kak Johan terlihat lebih tampan dengan setelan seperti ini.” Sebuah pujian terlontar dari bibir tipis Laura, membuat Johan tersipu, namun mampu membaut Edward terbakar cemburu.


“Beraninya kamu memuji pria lain di hadapan suamimu, nyonya?” Edward mendelik ke arah sang istri.


Laura hanya memberikan sebuah kedipan mata genit sebagai jawabannya. Hal itu membuat api yang menyulut Edward, padam seketika.


“Ayo kita masuk. Aku sudah tidak sabar bertemu calon besan.” Nyonya Hugo memecah ketegangan yang terjadi.


“Iya, ma. Ayo.” Felisha ikut menimpali.


Mereka pun akhirnya masuk kedalam kediaman keluarga Gunawan.


Di ruang tamu, Monica telah menunggu kedatangan sang kekasih bersama kedua orang tuanya.


Para tamu pun di persilakan duduk. Dihadangkan teh hijau, sesuai interuksi dari Johan.


Edward yang telah di kenal oleh keluarga Gunawan, memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.


Perbincangan ringan pun di mulai, berbasa-basi ria. Hingga pembicaraan berlanjut ke hal yang lebih serius.


“Jadi, pak Gunawan, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri bapak satu-satunya untuk Johan, asisten putraku yang telah aku anggap seperti anakku sendiri.” Nyonya Hugo berbicara serius. Ini untuk kedua kalinya, ia melamar anak gadis seseorang.


“Melihat hubungan yang telah terjalin di antara keduanya sudah cukup serius, aku berharap pak Gunawan menerima lamaranku.” Imbuh wanita paruh baya itu.


Pak Gunawan tersenyum manis mendengar deretan kalimat yang terucap dari bibir nyonya Hugo.


“Tentu, nyonya. Jika anak-anak bahagia, kami pun ikut bahagia.” Jawab papa dari Monica itu.


“Kami sangat menyetujui hubungan mereka, dan kami pun menerima lamaran dari anda nyonya.” Mama dari Monica ikut menimpali.


Pembicaraan pun berlanjut membahas pernikahan kedua bawahan dari Edward Hugo itu. Dan telah di sepakati, upacara penyatuan dua insan saling mencintai itu di laksanakan bulan depan.


Setelah mencapai kata sepakat. Nyonya Hugo menyerahkan buah tangan kepada calon besannya. Mama dari Monica merasa sungkan, namun nyonya Hugo mengatakan jika itu sudah menjadi tradisi di keluarganya.


Dan lamaran indah itu pun di tutup dengan acara santap siang bersama oleh dua keluarga.


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2