TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 146. Monica Hamil.


__ADS_3

Laura dan Edward kini tengah makan malam bersama. Setelah tadi menjelaskan tentang keterlambatannya pulang dari kantor, Edward lantas membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia juga sudah meminta sang istri untuk makan malam terlebih dulu, karena waktu makan malam wanita itu sudah terlambat.


Namun, Laura enggan. Wanita itu justru menemani sang suami di dalam kamar mandi, meski ia tidak ikut mandi.


“Tadi siang, Johan memberiku undangan dari Damian dan Teresha. Mereka menikah dua minggu lagi, di panti asuhan.” Edward menjelaskan di sela aktivitasnya menikmati hidangan yang di sajikan oleh asisten rumahnya.


Tangan Laura yang hendak menyuap makanan kedalam mulutnya, tiba-tiba terhenti di udara mendengar ucapan sang suami.


“Kenapa tidak ada yang memberitahu ku?” Ucapnya lirih.


“Aku sudah menghubungi Bagas. Dia mengatakan, di panti juga tidak ada yang membahas masalah pernikahan. Damian dan Teresha juga tidak terlihat ke panti, setelah beberapa waktu lalu, berbicara dengan Leo.” Edward tidak ingin istrinya terlalu kepikiran. Karena itu ia langsung memberi penjelasan.


“Menurutku, mungkin karena pernikahan mereka masih dua minggu lagi, jadi mereka belum mendatangi panti.” Pria itu meletakkan alat makannya, kemudian meneguk sedikit air putih di dalam gelas di hadapannya.


“Kamu ingat pernikahan kita? Juga di persiapkan dalam waktu singkat, bukan?” Imbuhnya sembari tersenyum.


Laura menganggukkan kepalanya.


“Sudah jangan banyak berpikir, fokus pada kehamilan mu. Aku tidak mau, terjadi sesuatu dengan Hugo junior.”


“Iya, pi.” Laura kembali melanjutkan makannya.


“Bagaimana dengan skripsi mu?” Tanya sang suami lagi.


“Sudah 80%.” Jawab Laura dengan senyum bahagianya.


“Kamu yakin tidak ingin melanjutkan kuliahmu?” Edward sempat meminta sang istri untuk melanjutkan kuliah, bahkan hingga wanita itu memiliki gelar doktor. Namun Laura menolak, karena wanita itu ingin menjadi ibu rumah tangga.


“Tidak, untuk apa punya gelar tinggi. Toh, pada akhirnya aku hanya akan diam dirumah.”


“Kamu tidak ingin bekerja?” Tanya Edward lagi. Ia sama sekali tidak membatasi ruang gerak sang istri. Wanita itu bebas melakukan apapun, asal ingat batasan, dan kembali pulang sebelum Edward tidur.


“Untuk apa bekerja? Bukannya suami ku salah satu orang kaya di kota ini? Jadi, biarkan dia yang tetap bekerja, aku hanya tinggal menghabiskan uangnya saja.” Ucap wanita itu terkekeh.


Laura hanya bercanda. Ia memang tidak ingin bekerja, untuk apa juga bekerja? Karena sang suami sudah menjamin hidupnya. Lebih baik dia di rumah mengurus anak-anaknya, melihat tumbuh kembang mereka, karena masa balita sang buah hati tidak akan terulang dua kali.


Edward mencebikan bibirnya. Ia tau sang istri hanya bergurau. Wanita itu tidak mungkin menghabiskan uangnya. Bahkan, kartu yang ia berikan saja, sangat jarang Laura gunakan. Wanita itu sangat pandai mengatur keuangan, ia tidak akan berbelanja, jika itu memang tidak penting.


“Habiskan lah, jika kamu mampu, Ara.”


*****


Keesokan harinya, setelah selesai sarapan dan mengantar Edward hingga di pintu rumah, Laura memutuskan berkunjung ke rumah Johan.


Edward mengatakan jika hari ini, ia memberikan cuti kepada Monica sampai wanita itu kembali sehat.


Laura berjalan menyusuri halaman depan rumahnya yang begitu luas. Tukang kebun bahkan menawari mengantar wanita itu menggunakan motor, namun Laura menolak. Ia ingin berjalan kaki, membiasakan dirinya agar tidak manja.

__ADS_1


Menyeberangi jalan beraspal, meski tidak ada kendaraan yang lewat, Laura tetap berhati-hati.


Rumah pemberian Edward untuk Johan dan Monica. Tidaklah sebesar rumah yang ia tempati dengan Edward. Namun, rumah Johan masih bisa di katakan mewah.


Menekan bel sebanyak dua ksli, Laura di sambut oleh nyonya Gunawan, ibu dari Monica. Yang semalam datang, karena di kabari jika sang putri jatuh pingsan.


“Selamat pagi, Bu.”


“Selamat pagi, nak Laura. Mari Silahkan masuk.”


Mereka memasuki rumah itu. Ini bukan pertama kalinya Laura berkunjung. Jadi dia sudah tau seluk, beluk rumah itu.


“Mbak Monica dimana, Bu?” Tanya Laura saat tak mendapati sang tuan dan nyonya rumah.


“Monic di kamar, nak. Ayo, ibu antar.” Nyonya Gunawan menuntun istri dari atasan menantu dan putrinya itu menuju ke kamar Johan dan Monica.


“Apa kak Jo sudah berangkat?”


“Ya, katanya ada meeting penting. Jo sudah pergi sejak tadi.”


Nyonya Gunawan membuka pintu kamar putrinya. Terlihat, Monica sedang duduk bersandar di atas ranjang.


“Mbak?” Sapa Laura memasuki kamar.


“Nona?” Monica menyambut wanita yang tengah hamil 8 minggu itu.


Kedua wanita muda itu menganggukkan kepalanya. Laura duduk di samping Monica.


“Mbak. Sakit apa? Kata papi, mbak kemarin pingsan?” Tanya Laura sembari mengusap lengan istri dari Johan itu.


“Aku tidak apa-apa.” Ucap Monica tersenyum.


“Mbak, apa kelelahan bekerja? Apa papi memberikan banyak pekerjaan?”


Kepala Monica menggeleng. Senyumnya semakin melebar mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Laura.


“Aku hamil.” Ucapnya kemudian.


Perkataan Monica sontak membuat Laura menganga, namun sedetik kemudian ia tersadar.


“Benarkah?” Dan Monica menganggukkan kepalanya. Laura pun memeluk wanita yang 5 tahun lebih tua darinya itu.


“Selamat mbak. Aku senang sekali. Itu artinya, anakku nanti akan punya teman.”


“Terima kasih, nona.” Monica membalas pelukan Laura.


Nyonya Gunawan kembali datang dengan membawa dua cangkir teh dan satu piring kecil biskuit. Kemudian meletakan di atas nakas.

__ADS_1


“Bu, selamat ya. Sebentar lagi akan menjadi oma.” Ucap Laura meraih tangan wanita paruh baya itu.


“Terima kasih. Nanti kalau jenis kelam*in anak-anak kalian berbeda. Bagaimana jika kita jodohkan saja?” Gurau nyonya Gunawan.


“Ma, aku bahkan baru hamil satu bulan, bagaimana bisa mama sudah merencanakan perjodohan?” Ucap Monica tak percaya.


“Ini kan baru rencana.” Nyonya Gunawan ikut duduk di atas tempat tidur.


“Aku setuju, mbak. Jadi keluarga kita akan semakin besar dan semakin erat.”


Mereka pun kembali mengobrol, Laura bercerita mengenai pengalamannya yang dulu mengandung.


****


“Monica sakit apa, Jo?” Tanya Edward saat sang asisten muncul dari balik pintu ruangan kerjanya.


Johan mendekat dengan senyum cerah di wajahnya. Membuat sang atasan mengerutkan dahinya.


Edward heran, bagaimana seorang suami bisa tersenyum secerah itu, sementara istrinya kemarin jatuh pingsan.


“Bos.. ucapkan selamat padaku..” Ucap Johan menjulurkan tangan ke hadapan Edward. Suami dari Laura itu merasa tak asing dengan ucapan sang asisten.


“Apa Monica hamil?” Dan Johan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Membuat Edward meraih tangan sang asisten, kemudian merangkul bahu pria yang 5 tahun lebih muda darinya itu.


“Selamat, Jo. Akhirnya kamu menyusulku menjadi seorang calon ayah.”


“Terima kasih, bos. Tentu saja aku tidak mau kalah dengan mu.” Pria muda itu terkekeh.


“Sudah berapa bulan?” Tanya Edward sembari melepas pelukannya.


“4 minggu, itu artinya 1 bulan, kan?”


Edward menganggukkan kepalanya tanda paham. Pria dewasa itu kemudian menuju kursi kebesarannya.


“Yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.” Ucap Edward lagi sembari mendudukkan pantatnya.


“Apa bos?” Tanya Johan penasaran. Ia pun mengambil tempat di seberang meja atasannya.


“Aku menunggu kamu kerepotan memenuhi keinginan Monica yang tak masuk akal. Jadi, aku tidak sendirian, saat keluar rumah di tengah malam mencari makanan yang di inginkan istriku.” Edward pun tergelak di akhir kalimat. Sementara, Johan hanya mampu mencebikan bibirnya.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2