TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 34. Percayalah Padaku, Ara!


__ADS_3

Pagi harinya, Laura terbangun karena mendengar deringan ponsel yang begitu keras. Ia lalu melepas belitan tangan Edward dari pinggangnya. Dan menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Meraih ponsel yang berada di atas meja nakas sebelah kanannya, mata Laura terbuka sempurna saat melihat siapa yang menghubunginya pagi ini.


Dengan gugup ia menjawab panggilan itu.


“Ha-hallo. Selamat pagi, Bu.” Laura membuat suaranya senormal mungkin. Seketika kini hatinya merasa bersalah. Ia telah mengkhianati kepercayaan orang tuanya dan kepercayaan ibu Maria.


“Hallo. Lala, kamu apa kabar, Nak?” Tanya ibu Maria dari seberang panggilan.


“A-aku baik, Bu. Ibu dan yang lainnya apa kabar?” Laura berusaha sekeras mungkin untuk tidak menangis.


“Kami baik, Nak. Syukurlah, Nak. Kamu baik-baik saja. Perasaan ibu dari kemarin tidak enak. Ibu takut terjadi sesuatu denganmu.” Jawab ibu Maria panjang lebar.


Deg…


Hati Laura merasa teriris. Sesuatu memang telah terjadi padanya. Hal paling berharga dalam dirinya telah hilang, karena ia berikan kepada pria yang bahkan bukan siapa-siapa baginya.


‘Maafkan aku, Bu.’ Batin Laura menjerit. Tanpa ia sadari, air matanya turun membasahi pipinya begitu saja.


“Jangan khawatir, Bu. Aku baik-baik saja. Aku sekarang sudah berada di ibukota. Akhir pekan nanti aku akan pulang, Bu.” Jawab gadis itu. Ia tidak mau ibu Maria semakin khawatir padanya.


“Iya, nak. Ada yang ingin ibu bicarakan juga dengan mu nanti, setelah kamu tiba disini.”


“Iya, Bu. Sampaikan salamku kepada bibi Lily dan adik-adik, Bu. Aku merindukan kalian.”


“Jaga dirimu baik-baik, nak.” Ucap ibu Maria di akhir panggilan.


Laura yang tak kuasa mendengar ucapan terakhir ibu Maria pun tidak bisa lagi membendung air matanya.


Ia terisak, menggigit selimut yang menutupi tubuhnya, supaya Edward tidak mendengar tangisannya.


‘Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku telah menyakiti kalian’


Laura tak sanggup lagi, ia ingin menangis dengan keras. Ia pun beranjak dari tempat tidur, namun baru satu kakinya yang menapaki lantai, satu tangan kekar menarik tangannya dan membuat ia terjatuh kembali ke atas ranjang.


“Jika kamu ingin menangis, menangis lah disini.” Edward membawa gadis itu kedalam dekapannya.


Tangis gadis berusia 21 tahun itu pun pecah. Ia di rundung rasa bersalah yang begitu besar.


“Maafkan aku, Ara. Aku berjanji padamu. Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu. Menjadikan kamu istriku. Tetapi beri aku waktu. Aku akan menikahimu, begitu kamu lulus kuliah.” Pria dewasa itu mengecup berulang kali ubun-ubun Laura.


Edward mendengar percakapan telepon antara Laura dan ibu Maria. Ia juga telah terbangun saat mendengar deringan ponsel tadi.


“Percayalah padaku, Ara.”

__ADS_1


*****


Laura melamun di meja belajar di dalam kelasnya. Banyak hal yang tiba-tiba bermunculan di pikirannya.


Kini Laura tidak hanya seorang anak yatim piatu, tetapi ia juga bukan seorang ‘gadis’ lagi.


Tidak ada hal yang bisa ia banggakan pada dirinya sendiri. Ia hanya mempunyai kebanggaan pada kedua orang tuanya yang memiliki kasih sayang yang begitu besar kepada para anak yatim piatu.


Menyesal…??


Tentu tidak, Laura akan lebih menyesal jika ia tidak bisa menyelamatkan panti asuhan orang tuanya. Hanya saja, gadis itu menempuh jalan yang salah untuk menyelamatkan panti asuhannya.


“La..” sebuah tepukan mendarat pada bahu gadis itu. “Kamu kenapa, La? Apa ada masalah?” Tanya Melani. Mereka berteman sudah lama. Jadi satu sama lain akan tau, jika salah satu dari mereka ada masalah.


“Tidak ada, Mel. Hanya saja aku sedang memantapkan hatiku untuk berhenti bekerja di tempat mbak Yulia.” Dusta Laura. Ia memang terbiasa berbagi masalah apapun dengan Melani. Tetapi kali ini, entah kenapa ia tidak ingin membagi masalahnya dengan sahabatnya itu.


“Kenapa kamu berhenti bekerja, La? Apa dia melarangmu bekerja?” Dia yang dimaksud oleh Melani sudah pasti Edward Hugo.


“Tidak, Mel. Dia tidak pernah melarangku bekerja. Hanya saja, tugas kuliah yang akhir-akhir ini menumpuk, membuatku susah mengatur waktu.”


Melani mengangguk-anggukan kepalanya. Ia setuju dengan yang di ucapkan Laura. Tugas kuliah akhir-akhir ini memang sedang banyak-banyaknya.


“Ya, lakukan yang terbaik menurutmu saja, La. Lagipula, kartu yang dia berikan padamu, isinya tidak akan ada habisnya.” Gadis itu terkekeh.


“Oh ya, La. Kemarin kamu kemana? Untung saja dosen kemarin juga tidak datang mengajar.” Tanya gadis itu lagi.


“Kita ke kantin saja, Mel. Aku lapar sekali.” Laura mengalihkan pembicaraan, ia menarik tangan Melani dan meninggalkan kelas.


Saat akan berbelok ke arah kantin, langkah mereka di cegat oleh seseorang.


“Aku ingin kita bicara, La.” Ucap Rendra, orang yang telah mencegat jalan mereka.


“Maaf pak, saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Semuanya sudah jelas sekarang.” Laura kembali menarik tangan Melani menuju ke arah kantin.


“Apa laki-laki dewasa kemarin yang membuatmu menghindari ku, La?”


Ucapan Rendra membuat langkah Laura terhenti. Ia menoleh ke arah pria itu.


“Maaf, aku menghindari mu jauh sebelum aku mengenal orang itu. Jadi jangan kamu menyangkut pautkan dia dalam hal ini.”


Laura pun berlalu begitu saja, ia bahkan meninggal Melani yang diam mematung.


“La.. tunggu..” Melani mengejar sahabatnya itu.


Mereka sampai di kantin lalu memesan mie goreng dan es jeruk untuk makan siangnya.

__ADS_1


“La, apa yang terjadi? Kalian sudah menyelesaikan masalah kalian?” Tanya Melani penasaran.


“Sudah Mel. Aku sudah mengatakan semua padanya.” Sahut gadis itu. Ia menyeruput es jeruknya, entah kenapa tenggorokannya terasa sangat kering.


“Lalu, kenapa dia menyebut laki-laki lain tadi? Apa dia bertemu dengan— Melani sengaja menjeda ucapannya dan menoleh ke arah Laura.


Laura mengangguk, ia menceritakan apa yang terjadi dua hari yang lalu di parkirkan restoran milik Yulia.


“Astaga..” Melani memasukkan satu gulungan mie goreng ke dalam mulutnya.


“Sepertinya pak Rendra juga tidak tau kalau laki-laki dewasa itu, seseorang yang berpengaruh.” Ia berbicara di sela kunyahannya.


“Aku tidak perduli, Mel. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang. Tanpa di kejar-kejar lagi olehnya.” Tatapan Laura menerawang jauh. Ia benar-benar harus meneguhkan hatinya.


*****


“Bos, laki- laki itu, anak dari keluarga Pratama.” Johan memberitahu Edward hasil penyelidikan dari orang suruhannya.


“Keluarga Pratama?” Edward mengerenyitkan dahinya.


“Yang mana?” Tanya pria itu lagi.


“Ish.. aku kira bos tau.” Jawab Johan.


“Kamu kan tau, aku begitu sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting.” Edward menyadarkan punggungnya di sandaran sofa di ruangan kerjanya.


“Keluarga Pratama memiliki usaha di bidang interior, bos. Bahkan mereka sempat mengikuti tender pembangunan hotel kita yang di selatan ibukota, tetapi mereka tidak mendapatkannya.” Sahut Johan panjang lebar.


“Heh.” Edward menyeringai. “Keluarga sekelas mereka, berani-beraninya menghina Laura. Apa mereka pikir, mereka sudah paling kaya?”


“Mungkin mereka orang yang baru merasakan hidup menjadi orang kaya, bos.” Timpal Johan.


“Tidak penting untukku, Jo. Yang terpenting sekarang, awasi gerak-gerik laki-laki itu. Jangan sampai dia menyentuh Ara lagi.”


“Tentu, bos.”


‘Awas saja jika laki-laki itu berani menyentuh milikku lagi, akan aku pastikan dia habis di tanganku.’


.


.


.


To be continue

__ADS_1


Terimakasih untuk semua yang sudah memberi dukungan.


I love you all ❤️


__ADS_2