
Beberapa hari berlalu. Kini usia kandungan Laura telah memasuki minggu ke delapan. Dokter mengatakan jika kondisi kandungan Laura sehat dan baik-baik saja.
Semakin hari, Edward semakin memanjakan istri mudanya itu. Apapun yang wanita itu inginkan dengan senang hati, pria berusia 35 tahun itu akan memenuhinya.
“Papi?” Laura mendekat ke arah sang suami yang sedang sibuk dengan komputer lipat di ruang kerja di rumah mereka. Hari ini tanggal merah, sehingga Edward tidak pergi ke kantor.
“Ada apa, mi?” Jawab Edward. Tetapi pandangan dan tangannya tetap fokus dengan laptop di hadapannya.
“Aku ingin makan bebek betutu, pi.”
Edward mengangguk. “Carilah di restoran mana kamu ingin makan. Setelah ini, kita pergi.”
“Aku mau yang di resto-.” Laura menyebutkan nama sebuah restoran bebek yang terkenal di Bali.
“Aku mau makan langsung di restoran itu.”
Mendengar ucapan sang istri, jemari Edward yang tadinya bergerak lincah, perlahan melemah.
“Bukannya mereka memiliki cabang disini?”
Laura menggeleng dengan kencang.
“Aku mau makan langsung di restoran yang pertama kali mereka dirikan.” Ucap Laura dengan nada tegas tak ingin di bantah, sembari bersedekap.
Edward kemudian mencari tau alamat dimana restoran yang istrinya sebutkan berada.
“Ubud, Bali.” Gumam pria itu. Namun masih dapat di dengar oleh Laura.
“Iya.”
“Mami, mereka juga punya cabang di daerah Jimbaran, Bali. Tidak terlalu jauh dari bandara. Bagaimana kalau kita makan disana—.”
“Aku maunya yang di Ubud, Bali. Mereka pertama kali buka di sana.”
Wanita muda itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Menahan kesal karena sang suami seolah enggan menuruti keinginannya.
“Lagi pula selama ini, aku selalu menginginkan makanan daerah, yang mudah di temukan, yang gampang di buatkan oleh ibu di bawah. Ini sekalinya minta yang mahal, susah sekali dituruti.” Laura lupa, ia pernah merengek minta makan steak daging, di salah satu restoran bintang lima, dimana mereka bertemu dengan Damian dan Teresha.
Edward tersentak mendengar kalimat panjang lebar yang keluar dari bibir sang istri. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya. Dan mendekati wanita hamil yang tengah merajuk.
“Jadi mami mau kita makan di sana?”
“Bukan aku, tetapi anakmu.” Nada suara Laura terdengar bergetar. Ia merasa Edward tak ingin menuruti keinginannya. Mungkin dengan membawa-bawa janin itu, Edward akan memenuhi keinginannya.
Edward menghela nafasnya pelan. Benar apa yang dikatakan oleh dokter kandungan, perasaan wanita hamil sangat sensitif.
“Ayo, kita bersiap. Kita akan makan bebek betutu sepuasnya.”
“Benarkah?” Mata yang berkaca-kaca itu mulai menampakkan binarnya.
__ADS_1
“Iya. Jangan lupa bawa beberapa potong baju ganti. Kita disana sampai besok.” Tidak mungkin Edward mengajak Laura pulang pergi Jakarta-Bali dalam satu hari. Apalagi jarak dari bandara I Gusti Ngurah Rai- Bali, menuju restoran yang ingin di kunjungi sang istri memakan waktu 1 jam 30 menit.
Kepala Laura mengangguk kencang. Ia bergegas pergi ke kamar, mengemasi beberapa pakaian untuk di bawa ke Bali.
Edward hanya mampu menggeleng. Secepat itu mood istrinya berubah. Edward lantas menghubungi dokter kandungan yang menangani Laura, untuk menanyakan apa boleh wanita hamil itu melakukan perjalanan udara. Karena pria itu terlanjur mengiyakan keinginan Laura.
Dan untungnya, dokter mengatakan boleh, mengingat kondisi kehamilan Laura yang baik-baik saja.
Ia lantas memesan tiket pesawat secara online. Kemudian menghubungi asistennya.
“Jo, kamu dimana?” Tanya Edward melalui sambungan telepon.
“Aku di rumah, bos. Ada apa?”
“Datang ke rumah ku sekarang, antar aku dan Laura ke bandara.”
Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten, Edward memutuskan panggilan begitu saja.
Pria itu kemudian menyusul sang istri ke kamar mereka.
Hampir satu jam bersiap, pasangan suami istri itu pun akhirnya turun dengan Edward yang membawa sebuah koper kecil di tangannya.
“Tuan dan nyonya akan pergi?” Tanya Bu desa yang sedang membersihkan ruang tamu rumah itu.
“Kami akan pergi sebentar, Bu. Besok baru kembali. Jaga rumah baik-baik, ya.” Jawab Laura dengan riang gembira.
Hal itu lagi-lagi membuat Edward menggeleng.
****
“Kami mau ke Bali. Aku ingin makan bebek betutu dari salah satu restoran bebek yang sudah terkenal di Bali.” Laura menjawab pertanyaan asisten suaminya itu.
“Restoran bebek?” Tanya Johan mengerenyit.
Edward menyebutkan nama restoran yang ingin di kunjungi sang istri.
Dan sama seperti reaksi Edward sebelumnya, pria berusia 30 tahun itu mengatakan jika di ibukota juga ada cabangnya.
Namun, seketika Edward menendang kursi bagian belakang yang di tempati oleh sang asisten. Setelah Edward mendapati air muka Laura berubah.
“Istri dan anakku ingin makan disana.” Ucap Edward sembari menatap Johan dari kaca spion. Ia memberi kode dengan lirikan mata, untuk melihat Laura yang telah memalingkan wajahnya.
Johan mengerti. Ia juga sudah di beritahu oleh istrinya, jika mood wanita hamil itu gampang berubah.
“Ah, iya. Makan langsung ke restoran aslinya pasti lebih enak, nona.” Ucap Johan kemudian.
“Bos kecil, memang tau saja dimana tempat makan yang enak.” Imbuhnya lagi, berharap suasana hati wanita hamil muda itu membaik.
Laura seketika menatap kedepan. Matanya pun kembali berbinar.
__ADS_1
“Kak Jo benar, sepertinya dia akan sepintar papinya.” Ucap wanita itu mengusap perutnya.
Seketika Edward dan Johan saling tatap melalui kaca spion. Wanita hamil itu memang ajaib.
Hampir 45 menit di perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di bandara.
“Urus kantor besok. Aku mungkin kembali besok malam.” Ucap Edward kepada sang asisten.
Johan pun hanya mengangguk, menuruti perintah atasannya.
“Hati-hati, bos dan nona.”
Mereka pun berpisah. Dengan Johan yang kembali pulang.
*****
“Sayang, memangnya bos dan nona Laura pergi kemana?” Tanya Monica kepada sang suami yang baru sampai di rumah. Tak lupa ia mengambilkan air putih untuk pria yang di cintainya itu.
“Mau ke Bali makan bebek betutu.”
“Apa?” Monica menganga, tak percaya mendengar apa yang di ucapan oleh suaminya.
“Kamu tidak percaya?”
Kepala Monica mengangguk.
“Aku juga tidak. Tetapi namanya wanita mengidam, kalau tidak di turuti takutnya nanti menangis.” Ucap Johan sambil mengedikan bahunya
Ia kemudian meraih pinggang sang istri. Membawa wanita itu duduk di pangkuannya.
“Nanti kalau kamu hamil, ngidamnya jangan yang aneh-aneh ya, jangan juga yang jauh-jauh, aku bukan bos Edward yang bisa menuruti semua keinginan istrinya.”
Monica melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami. Ia sangat gemas melihat wajah pria itu.
“Memang orang mengidam bisa di atur dari sekarang? Aku belum juga isi. Kamu sudah memikirkan masalah mengidam begini.”
Johan menghela nafasnya pelan. Senyum licik tiba-tiba terbit di bibirnya.
“Kalau begitu, ayo kita buat sekarang. Supaya kamu cepat merasakan mengidam seperti nona Laura. Aku juga ingin seperti bos Edward, yang sangat antusias mencari makanan yang di inginkan istrinya.”
“Benarkah?” Goda Monica.
Tanpa banyak bicara lagi, Johan langsung berdiri, dengan mengendong tubuh sang istri. Membuat wanita itu memekik dengan keras.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C.