TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 97. Pertemuan.


__ADS_3

Leo kini tengah berjalan menuju panti asuhan, setelah pulang sekolah. Ia baru turun dari angkutan umum di sebuah halte yang tak jauh dari panti.


Remaja yang memasuki usia 16 tahun itu memang sudah pandai mengendarai sepeda motor, berkat ajaran dari pak Toto. Namun ibu Maria melarang Leo untuk membawa motor ke sekolah.


Selain demi keselamatan, pemuda itu juga belum memiliki surat ijin mengemudi. Usianya belum cukup untuk memiliki surat itu.


Dengan langkah ringan, Leo menyusuri trotoar jalanan. Dengan usil kakinya menendang sebuah kaleng bekas minuman, yang tergeletak di atas tempat pejalan kaki itu.


“Buang sampah sembarangan.” Ucap remaja itu, namun bukannya memungut, Leo malah menendang kaleng itu.


Karena ulahnya itu, kaleng bekas yang di buang oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu, mengenai sebuah mobil yang sedang melaju pelan.


“Astaga. Mati aku..” Leo menundukkan kepalanya. Ia meremat jari-jari tangannya. Berjalan perlahan, pura-pura tidak tau.


Sebuah mobil sedan hitam, berhenti tepat di sampingnya. Membuat remaja itu terlonjak kaget.


Pintu depan mobil itu terbuka. Keluar seorang pria dewasa dengan setelan kerja berwarna hitam. Dengan kacamata hitam menghiasi wajah tampannya.


“Hei, anak muda beraninya kamu— ,” pria dewasa itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia terpaku, matanya membulat sempurna di balik kacamata hitamnya.


Sang pelaku penendang kaleng bekas itu, ternyata memiliki wajah yang sangat mirib dengan dirinya saat masih remaja.


Damian.


Ingatannya kembali melanglang buana. Jika sang anak yang di kandung Teresha dulu masih ada, pasti sudah seumuran remaja ini.


“M-maafkan a-aku, pak. Aku tidak sengaja.” Leo berucap dengan kembali menundukkan kepalanya. Ia takut dimintai ganti rugi. Dari penampilan pria dewasa ini, sudah bisa di pastikan dia orang kaya. Karena penampilannya terlihat seperti Edward, sang kakak ipar.


“Kamu, siapa namamu?” Damian penasaran. Remaja ini benar-benar duplikat dirinya saat remaja.


“A-aku Leo pak.” Remaja itu masih menunduk. Ia berpikir bagaimana cara meminta uang pada sang ibu jika pria dewasa ini meminta ganti rugi.


“Tegakan kepalamu, aku tidak akan memarahimu.” Damian tau jika remaja itu sedang di landa ketakutan.


Dengan ragu-ragu, Leo menegakkan kepalanya. Namun ia tidak berani menatap lawan bicaranya.


“Kenapa kamu menendang kaleng itu?”


“Aku bermaksud menyingkirkan dari trotoar, pak.”


Damian menghela nafasnya pelan.


“Kenapa tidak memungutnya dengan tanganmu? Masih untung yang kena mobilku. Bagaimana jika mengenai kepala orang?”


Damian tidak bermaksud memarahi remaja itu. Ia hanya ingin menasihati saja.


“Maaf, pak. Aku salah.” Ucap Leo lirih. Ia memang salah. Ucapan pria dewasa itu ada benarnya juga. Harusnya ia memungut dengan tangannya. Bukan malah menendangnya.


“Ya sudah, aku maafkan. Tetapi lain kali jangan di ulangi. Jika mobil orang lain yang kena, bisa-bisa kamu diminta ganti rugi.” Jelas Damian lagi.


Leo menggangguk paham. Ia pamit permisi meninggalkan pria dewasa itu.


“Tunggu, dimana rumahmu? Biar aku antar pulang.” Damian menyentuh lengan pemuda itu, entah kenapa hatinya berdesir saat bersentuhan dengan Leo.


“Terima kasih, pak. Tetapi rumahku sudah dekat. Itu di panti depan.” Leo menunjuk ke arah panti asuhan yang sudah terlihat dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


Damian ikut menoleh ke arah pandang remaja tanggung itu.


Deg..


‘Dia anak yatim piatu? Apa mungkin dia anakku yang di buang oleh Tere dulu? Apa mungkin anakku masih hidup?’


Entah kenapa Damian merasa jika anaknya masih hidup.


“Tunggu, apa kamu di besarkan di panti itu?” Damian kembali bertanya, saat Leo hendak meninggalkannya.


“Iya pak.”


Hati Damian semakin berharap, mendengar jawaban Leo.


“Orang tuaku pemilik panti asuhan itu. Kami hanya punya tempat itu. Jadi aku di besarkan disitu.” Leo menjelaskan lagi.


Seketika Damian merasa kecewa. Ternyata remaja itu anak pemilik panti. Apa itu artinya sang anak memang benar telah meninggal.


“Maaf, pak. Jika tidak ada yang lain lagi, aku permisi dulu.”


“Tunggu, apa aku boleh mengunjungi panti asuhanmu?”


Leo menganggukkan kepalanya.


“Asalkan niat bapak baik, kapan saja bapak boleh mengunjungi panti asuhan itu. Mendiang orang tua ku selalu mengajarkan ku, untuk menerima siapa saja, yang ingin berbuat baik kepada kita.” Imbuhnya lagi.


“Aku permisi, pak.” Dan pemuda itu benar-benar pergi meninggalkan Damian yang masih terpaku di tempatnya.


Sambil menatap punggung remaja itu, Damian menghubungi orang kepercayaannya. Ia ingin menyelidiki tentang remaja itu. Hatinya masih berharap Leo adalah putranya. Wajah pemuda tanggung itu sangat mirip dengan dirinya saat masih remaja.


Leo mungkin tidak menyadari kemiripan diantara mereka berdua. Karena ia tidak berani menatap wajah lawan bicaranya. Selain itu, Damian juga menggunakan kacamata hitam yang menyembunyikan sorot matanya.


Damian mencengkeram kuat ponsel pintarnya. Ia tergerak untuk mengikuti Leo. Secara perlahan ia mengemudikan mobilnya ke dekat panti asuhan itu.


“Panti asuhan Angel Heart.”


******


“Sayang, ada apa? Aku lihat sepertinya kamu dan bos sedang bersitegang?”


Monica bertanya kepada Johan. Karena sedari tadi pagi, ia tidak melihat interaksi baik antara sang kekasih dan atasannya.


Dua tahun mendampingi mereka berdua, membuat Monica mengetahui banyak hal tentang kedua pria berbeda usia itu.


Johan membuang nafasnya kasar. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kemudian menumpangkan kedua sikunya di pinggiran kursi.


Johan kemudian menceritakan kejadian apes yang menimpanya di rumah baru sang atasan.


Monica menganga tak percaya mendengar cerita sang kekasih.


“Asyik ya pagi-pagi mendapat pelukan dari gadis muda.” Sindir Monica dengan memicingkan matanya.


“Sayang. Ayolah, kamu jangan ikut-ikutan menghakimi ku. Sudah aku katakan. Nona yang tiba-tiba datang memelukku, aku bahkan tidak membalas pelukannya.”


Pria itu memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut, hanya karena sebuah pelukan saja, sang atasan sudah mendiaminya seperti ini.

__ADS_1


“Seperti anak kecil saja.” Dengus pria muda itu.


Monica bangkit dari seberang meja kerja Johan. Kemudian berdiri di belakang kursi kerja yang pria itu tempati.


Wanita berusia 25 tahun itu, membantu memijat kepala sang kekasih dengan penuh kasih sayang.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud ikut-ikutan menyalahkanmu.”


Johan hanya memejamkan matanya. Ia menikmati sentuhan lembut yang Monica berikan padanya.


“Mengertilah, sayang. Posisiku serba salah saat ini. Di satu sisi, nona menganggap ku seperti kakaknya. Di sisi lain, bos tidak suka nona berdekatan dengan pria lain.” Johan berucap lirih. Ia ingin menyalahkan Laura atas semua ini, tetapi wanita muda itu tidak sepenuhnya salah. Wanita muda itu pernah mengatakan jika dirinya ingin memiliki seorang kakak laki-laki.


Yang salah disini adalah Edward, pria dewasa itu memiliki sifat cemburu yang berlebihan, dan tidak pada tempatnya.


“Tinggalkan aku sebentar, sayang. Aku masih banyak pekerjaan.”


Johan mengusir secara halus sang kekasih. Ia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak.


Monica pun keluar dari ruangan pria itu. Sampai di mejanya, ia melihat Edward telah berdiri di sana.


“Darimana kamu?” Hanya basa-basi. Edward sudah tau darimana sang sekretaris.


“Tadi ke ruangan Johan, pak. Aku membawa berkas yang harus dia periksa.” Jawab Monica jujur.


“Sudah puas berpacarannya?”


Monica menggelengkan kepalanya.


“Johan sedang tidak ingin di ganggu, pak. Dia mau sendiri. Mungkin dia punya masalah lain.” Monica berdusta. Ia ingin sang atasan berbicara seperti bisa dengan Johan.


Kedua alis Edward hampir menyatu mendengar ucapan sang sekretaris. Masalah apa yang di miliki asistennya, jika bukan masalah dengan dirinya.


“Apa sampai seperti itu?” Edward masih belum percaya.


“Aku tidak tau, pak. Dia tidak mau bercerita. Bapak kan yang lebih dulu mengenalnya. Mungkin sebelumnya, Jo pernah seperti ini?” Gadis itu mengedikan bahunya tanda ia tidak tau.


Monica memasang wajah sendunya. Masih berusaha agar sang atasan menurunkan egonya, dan menemui Johan.


“Dia bahkan tidak perduli padaku. Apa masalahnya lebih penting daripada—,”


Ucapan Monica terhenti, ketika ia melihat sang atasan berjalan ke arah ruangan Johan.


“Yes. Berhasil.”


.


.


.


T. B. C


Selamat hari senin Genks..


Jangan lupa

__ADS_1


Like—> Komen—> Vote—> Gift


Terimakasih banyak ❤️❤️


__ADS_2