
“Aku tidak tau, nona.” Ucap pria itu dengan santai. Ia tidak mau terlihat gugup di depan Laura.
“Aku tidak pernah tidur bersama bos.” Johan bergidik membayangkan tidur berdua dengan Edward.
Gadis itu mendengus, ia merasa kecewa. Misi pertama mencari tau tentang mimpi buruk Edward tidak berhasil.
“Mmm… lalu… apa Edward punya keponakan?” Tanya Laura lagi.
‘Keponakan? Apa bos mengakui bos kecil sebagai keponakannya?’
“Itu—,” ponsel di saku celana Johan berdering. Pria itu lalu merogohnya.
“Nona maaf, sepertinya Monica sudah di bawah.” Ia menunjukkan layar ponselnya yang tertera nama Monica dengan lambang hati merah, sedang memanggil.
“Hmm..” gadis itu menganggukkan kepalanya.
Johan pergi meninggalkan Laura untuk menjemput Monica yang sedang menunggu di depan lift.
Tak berselang lama, pintu utama kembali terbuka. Johan datang menggandeng mesra tangan seorang gadis cantik, tinggi bak model.
“Cantik sekali kekasihnya, pak Jo.” Laura bergumam.
Mereka berdua semakin mendekat. Dan tiba di tempat Laura.
“Nona, perkenalkan ini Monica. Dan Monica, ini nona Laura.” Ucap Johan kepada mereka berdua.
“Hai mbak Monica.” Laura mengulurkan tangannya.
Langsung di sambut hangat oleh Monica.
“Senang bertemu dengan anda, nona.”
‘Ternyata nona Laura ini hanya gadis sederhana, tetapi dia memiliki kecantikan alami. Mungkin itu yang membuat bos begitu terpikat dengannya.’
“Ayo duduk, mbak.” Laura mengajak Monica duduk di sofa. “Mau minum apa?” Tanyanya lagi. Gadis itu bersikap seolah dialah tuan rumah disana.
“Nanti saja, nona. Aku punya banyak waktu disini.”
“Baiklah,. Nanti kita habiskan semua yang ada di dapur.” Kedua gadis itu terkekeh geli.
Johan menyunggingkan senyumnya. Ia mengambil gambar kedua gadis itu dan mengirimkan kepada atasannya.
“Sepertinya mereka sangat cocok, bos.”
Sebuah kalimat yang Johan sematkan pada gambar itu. Ia lalu menyimpan kembali ponselnya.
Kedua gadis itu sibuk bercengkerama, banyak hal yang mereka ceritakan. Laura merasa mendapatkan satu lagi kakak perempuan.
“Mbak, apa boleh aku menganggap mu sebagai kakak?” Tanya gadis itu. Di panti ia memang mempunyai banyak saudara, tetapi usia mereka semuanya di bawah Laura.
“Tentu, nona. Dengan senang hati. Aku juga tidak memiliki saudara. Jadi sekarang aku memiliki satu saudara.” Ucap Monica berbinar.
Laura pun menghamburkan tubuhnya pada Monica. “Jangan memanggilku nona, aku adikmu kan?” Ucapnya.
“Iya, tetapi kamu juga kekasihnya bos Edward. Aku tidak mau kena marah, karena memanggilmu dengan nama saja.” Sahut Monica panjang lebar.
Laura yang mendengar itu tersenyum kecut.
‘Kekasih Edward?’
“Mbak aku—,”
“Hai.. Ladies kalian mau makan siang apa? Hari ini Chef Johan akan memasak untuk kalian.” Johan menginterupsi obrolan kedua gadis itu.
“Ah, tidak perlu pak Jo, bagaimana jika aku dan mbak Monica saja yang masak?” Tawar Laura.
Monica setuju dengan ucapan Laura pun menganggukkan kepalanya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengawasi kalian berdua. Jangan sampai merusak dapur.”
Kedua gadis itu pun bergegas menuju dapur dan mulai memasak makan siang.
*******
__ADS_1
Sementara itu di kediaman keluarga Hugo, nampak Felisha sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk Edward dan Devano.
Hari ini hanya ada mereka bertiga dirumah dengan para asisten rumah tangga. Nyonya Hugo sedang pergi memanjakan dirinya.
Saat sedang sibuk menata makanan, entah kenapa pandangan wanita itu mengarah ke mini bar yang letaknya tidak jauh dari meja makan.
Ia melihat sebuah ponsel tergeletak disana.
“Mbak, tolong lanjutkan ini. Aku mau ke mini bar sebentar.” Felisha menyerahkan hidangan yang ia bawa kepada asisten rumahnya.
“Ed.. Ed.. kebiasan mu belum juga hilang. Selalu saja meletakkan ponsel di sembarang tempat.” Ucap Felisha setelah ia melihat dari dekat benda pipih itu.
Tangan wanita dewasa itu terulur meraih ponsel milik Edward untuk ia simpan, nanti akan di berikan kepada Edward yang kini tengah mengajak Devano berkuda di halaman belakang rumah itu.
Layar ponsel itu tiba-tiba menyala. Mungkin karena tanpa sengaja tersentuh.
Disana menampilkan sebuah pesan bergambar yang di kirim oleh Johan.
Hati Felisha tergelitik untuk membuka ponsel Edward. Ia tau betul apa sandi ponsel itu, karena sama dengan sandi ponselnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, mama dari Devano itu membuka aplikasi pesan berwarna hijau di ponsel Edward.
Tidak pernah ada rahasia di antara ia dan Edward, tidak pernah ada larangan dari pria itu jika ia ingin membuka ponselnya. Begitu juga sebaliknya.
Alis wanita cantik itu mengerut sempurna. Ia melihat Johan mengirim gambar dua orang gadis sedang duduk di sofa, dengan latar belakang ruang tamu penthouse Edward.
“Siapa mereka?” Gumam Felisha.
Ia membaca pesan yang terdapat pada gambar itu.
“Apa salah satu dari mereka bernama Laura?” Ucapnya lagi.
Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia di depan meja mini bar itu.
Entah kenapa, wanita itu begitu penasaran dengan gadis yang bernama Laura. Ia ingin mencari tau siapa sebenarnya gadis itu.
Deg…
“I miss you, baby.”
Dan gadis itu hanya membalas dengan emoticon wajah yang menjulurkan lidah.
“Siapa Laura sebenarnya?” Gumam wanita itu, ia lalu memencet foto profil atas nama Laura itu.
Terlihat wajah seorang gadis, yang sedang tersenyum manis dengan dua jari tangan kanan terangkat di samping pipinya.
Felisha kembali melihat foto yang Johan kirimkan.
“Jadi gadis yang di sebelah kanan ini bernama Laura?” Ia memperhatikan dengan seksama wajah gadis itu.
“Sepertinya dia bukan sekedar asisten untuk mu, Ed.” Gumamnya. “Sekarang kamu mulai menyembunyikan sesuatu dari ku.”
Felisha mengirim foto itu ke nomor kontaknya sendiri. Tak lupa ia menghilangkan jejak di ponsel Edward, agar pria itu tidak tau tentang ini.
“Maaf aku menghapus pesan yang Johan kirim, Ed.”
Gelak tawa Devano terdengar mendekat ke arah ruang makan. Dengan pelan, Felisha meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya.
Wanita berusia 35 tahun itu, secara perlahan menuju meja makan. Ia menata kembali makanan yang telah tersedia di meja makan.
“Mama…” suara Devano menggema di dalam rumah mewah itu
“Jangan berteriak, Dev. Ini bukan hutan.” Sahut sang mama.
Edward mendudukkan Devano di salah satu kursi. Ia mendekat ke arah Felisha.
“Aku lapar.” Ucapnya dengan manja.
Felisha mencebikan bibirnya. “Manja sekali. Ingat umur, Ed.” Wanita itu mencubit pinggang Edward.
“Aww… sakit, sayang.” Ucap Edward mengusap pinggangnya. “Dev, lihat.. mama menyakiti papa..” adunya pada sang putra.
“Mama, tidak boleh nakal.” Bela bocah 8 tahun itu.
__ADS_1
“Kalau di ibukota tidak ada aku, kamu bermanja-manja dengan siapa, Ed?”
Deg…
Edward tersentak mendengar ucapan Felisha.
‘Apa dia tau sesuatu?’
“Ed..”
“Ah.. i-iya.”
“Kamu kenapa? Duduk dulu. Kamu pasti lelah setelah berkuda.” Felisha menuntun Edward menduduki kursi kepala keluarga.
“Fel, apa maksud ucapanmu tadi?”
Felisha mengerenyitkan alisnya. Ia berpura-pura bingung.
“Aku hanya bercanda. Aku tau kamu hanya tinggal dengan Johan. Mana mungkin kamu bermanja dengannya, kan?” Ucap Felisha tergelak.
Entah kenapa, Edward merasakan udara di sekitarnya menjadi panas. Ia merasakan air mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Dan jantungnya seperti berdetak lebih cepat.
‘Aku tau kamu gugup, Ed.’
“Minumlah dulu, Ed.” Felisha memberikan segela air kepada Edward.
“Thanks, Fel.”
‘Aku akan mencari tau, apa yang kamu sembunyikan dari ku, Ed.
.
.
.
T. B. C
—————
Nah lho… semuanya mau mencari tau sendiri apa yang Edward rahasiakan 🤪🤪
Kira-kira siapa yang lebih dulu tau ya 🤔🤔
Au ah… hidup babang Ed terlalu rumit.
😪😪😪😪
—————
Terimakasih untuk yang selalu setia mendukung ku… 🤗
Apapun dukungan yang kalian berikan
Like
Komen
Vote atau Gift
Selalu membuat aku terharu, karena tidak menyangka ada yang mau baca tulisan aku.
Dan komentar-komentar kalian di bab kemarin, sungguh buat aku terharu. Ada yang ngasih aku Tips juga.
🥲🥲🥲
Terimakasih semuanya… Sayang Kalian
🤗🤗🤗🤗🤗
I LOVE YOU SAMPAI PUNCAK KEJAYAAN
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1