
Dua hari setelah memberikan undangan kepada Edward, Teresha dan Damian memutuskan untuk pergi ke panti. Mereka berencana meminta ijin kepada ibu Maria, untuk melakukan acara pernikahan di panti asuhan itu.
“Sudah siap?” Tanya Damian kepada mantan istri yang sebentar lagi akan kembali menjadi istrinya.
“Ya.” Jawab wanita itu singkat. Mereka baru saja selesai menikmati sarapan di rumah Damian. Semenjak di ajak ke rumah pria itu beberapa waktu lalu, Teresha kini terbiasa mengunjungi rumah Damian. Bahkan tadi malam ia menginap di rumah pria itu, namun tidur di kamar tamu.
“Ayo.” Damian meraih jemari Teresha, menautkan dengan jemarinya. Kemudian berjalan bersama menuju pintu.
“Aku gugup, Dam.” Ucap Teresha saat Damian menyalakan mesin mobilnya. Mendengar hal itu, membuat Damian tersenyum.
“Kamu tenang saja. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.”
“Aku takut, mereka tidak mengijinkan.” Ucap wanita itu seraya menundukkan pandangannya.
“Aku yakin mereka mengijinkan. Ibu Maria orang baik. Kita hanya perlu meyakinkan putra kita saja.” Tangan kiri Damian terulur meraih tangan kanan Teresha. Pria itu kemudian melabuhkan kecupan di sana.
“Percaya padaku, semuanya pasti berjalan dengan baik. Leo putra kita, sifatnya pasti tak jauh beda darimu dan dariku. Meski aku merasa, anak itu lebih banyak memiliki sifat sepertimu.” Ucap Damian terkekeh.
“Benarkah?”
“Ya.. dia seperti mu, sulit menerima kehadiran orang baru, bahkan ia bersikap dingin. Namun, kepada orang yang telah lama ia kenal, ia akan sangat hangat, dan penuh kasih sayang.” Damian kembali mengecup punggung tangan Teresha, hal itu membuat pipi wanita itu memanas.
‘Aku pasti bisa meluluhkan mu kali ini, Te.’
‘Kamu memperlakukan aku begitu manis, Dam. Apa ini hanya karena Leo?’
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Untuk mengisi kebosanan, mereka pun melanjutkan obrolan, Damian banyak bertanya tentang kehidupan Teresha saat berada di negara tetangga. Dan Teresha dengan senang hati menjawabnya.
‘Mungkin suatu saat, aku bisa mencintaimu, Dam. Ini hanya butuh waktu. Mungkin, jika dulu aku mau membuka hatiku untukmu, kita pasti sudah bahagia bersama Leo dan mungkin, ada anak kita yang lain.’
Setelah dua jam berkendara, Damian dan Teresha akhirnya sampai di panti asuhan milik orang tua Laura.
Seperti biasa, pak Toto dan Bagas menyambut kedatangan mereka berdua. Setelah berbasa-basi, pak Toto mengantar para tamu ke ruang tamu untuk bertemu dengan ibu Maria.
“Selamat pagi, Bu.” Teresha dan Damian menyapa secara bersamaan. Sontak membuat mereka saling menatap, kemudian tersenyum.
“Selamat pagi.” Balas ibu Maria.
Teresha menyerahkan sebuah bingkisan kepada ibu Maria. Dan wanita paruh baya itu menerimanya.
“Apa kabar, Bu?” Tanya Teresha. Ia mengambil tempat duduk di samping ibu Maria.
“Aku baik, nak. Anak-anak panti juga baik. Kalian apa kabar? Kenapa lama sekali tidak berkunjung kemari?”
“Kami baik. Bu.” Jawab Teresha kemudian menatap Damian.
“Maaf, bu. Kami terlalu sibuk hingga tidak sempat berkunjung.” Imbuh Damian.
__ADS_1
“Bu, maksud kedatangan kami kemari, kami ingin meminta ijin, untuk melangsungkan acara pernikahan kami disini. Boleh kan, bu?”
“Kalian akan menikah? Kapan?” Ibu Maria justru melontarkan pertanyaan balik.
“Dua minggu lagi, Bu.” Teresha menyodorkan sebuah undangan. “Maaf, kami tidak meminta ijin terlebih dulu. Malah mencantumkan panti ini sebagai lokasi pernikahan kami.” Lanjutnya lagi. Jujur ia merasa tidak enak hati, tetapi Damian bersikeras jika ibu Maria pasti mengijinkan.
Ibu Maria meraih undangan itu, wanita paruh baya itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Tentu. Asal digunakan untuk kebaikan, kalian boleh melakukan pernikahan disini.”
“Terima kasih, Bu.”
“Apa Leo sudah tau?” Tanya ibu Maria kembali.
“Leo tau kami akan menikah, Bu. Bahkan dia yang meminta. Tetapi kami belum memberitahu jika kami akan menikah dua minggu lagi.” Jelas Damian.
“Tunggu sebentar lagi, Leo pulang sekolah lebih awal hari ini.”
Mereka pun kembali mengobrol. Hingga tak terasa waktu berlalu. Dan Leo telah kembali dari sekolahnya.
Seperti biasa, sepulang sekolah anak itu akan menyempatkan diri untuk menyapa ibu Maria. Dan hari ini, ketika ia mendatangi ruang tamu, Leo sedikit terkejut, karena mendapati kedua orang tuanya disana.
“Kamu sudah kembali, nak?”
“Ya, Bu.” Leo meraih tangan wanita paruh baya itu, kemudian menciumnya.
“Duduk lah dulu. Ada yang ingin pak Damian dan ibu Teresha sampaikan padamu.”
“Ada apa?” Tanya remaja itu. Ia menatap bergantian kedua orang tuanya.
“Nak, kami akan menikah dua minggu lagi, di panti asuhan ini.” Ucap Damian, sembari menatap lekat ke arah sang putra.
“Apa kalian sudah yakin? Tidak ada yang terpaksa?” Tanya remaja itu.
“Ya, kami sudah sangat yakin, nak. Tidak ada yang terpaksa diantara kami.” Kini giliran Teresha yang berbicara.
“Benarkah?” Tanya Leo sekali lagi.
“Benar, nak.” Ucap Damian dan Teresha bersamaan.
Leo mencebikan bibirnya. Ia ingin kedua orang taunya benar-banar menikah, tanpa ada orang lain lagi di hidup mereka.
“Kalau begitu, berikan aku hadiah, jika kalian benar-benar tidak terpaksa melakukan pernikahan ini.”
Damian dan Teresha saling tatap. Mereka kemudian menganggukkan kepalanya.
“Hadiah apa yang kamu inginkan, nak? Katakan saja, sebisanya papa dan mama akan memberikan mu.”
__ADS_1
“Aku minta seorang adik. Tidak banyak. Hanya satu. Karena aku sudah memiliki banyak adik disini. Tetapi aku ingin memiliki satu adik kandung.” Remaja itu menatap kedua orang tuanya yang sedang menganga mendengar permintaan konyol itu.
“Kenapa? Apa kalian tidak sanggup? Bukannya, ibu Teresha masih bisa memberiku adik?” Leo meyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia membuang nafasnya pelan.
“Aku tau, kalian hanya terpaksa menikah karena aku. Kalian tidak perlu memberi apapun padaku. Aku tidak membutuhkan sesuatu dari orang yang terpaksa.” Leo bangkit dari duduknya. “Aku permisi dulu, Bu.” Ucapnya ke arah ibu Maria. Ia pun meninggalkan ruang tamu itu, tanpa permisi kepada orang tuanya.
“Nak?” Teresha hendak mengejar, namun Damian mencegahnya.
“Jangan Te. Dia akan lebih marah lagi.”
Dan wanita itu menurut. Ia kembali duduk, namun dengan perasaan yang tidak tenang.
****
Hari ini, Laura merengek ingin ikut ke kantor bersama suaminya. Sudah lama ia tak menginjakkan kakinya di tempat sang suami mencari nafkah.
Edward pun menurutinya. Ia mengajak wanita hamil muda itu ikutnya.
“Mbak Monica masih cuti, pi?” Tanya Laura melihat meja kerja sekretaris suaminya kosong.
“Ya, kata Johan, Monica mengalami mual yang sangat parah di pagi hari.” Edward membuka pintu ruang kerjanya, kemudian menuntun sang istri untuk masuk.
“Wah,, untung saja aku tidak mual ya.” Ucap wanita itu sembari mendekat ke arah sofa. Dan meletakkan tas yang ia bawa di atas meja.
Edward mencebik. “Bukannya kamu mual jika mencium bau minyak wangi?” Tanyanya sembari menghempaskan bokong pada kursi kebesarannya.
“Itu lain cerita, papi. Kalau mbak Monica, tidak mencium bau pun, dia akan mual dan muntah di pagi hari.” Laura kemudian berjalan ke arah mini pantry. Ia membuatkan teh hijau untuk suaminya.
“Karena tidak ada mbak Monica, jadi aku yang membuatkannya.” Ucap calon ibu itu sembari meletakkan cangkir teh di hadapan sang suami.
“Terima kasih, mi.”
Laura duduk di seberang meja kerja suaminya. Ia memperhatikan pria dewasa yang kini mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Tangan Edward terulur meraih cangkir teh. Kemudian mendekatkan ke bibirnya.
“Pi, bagaimana jika nanti kita jodohkan anak kita dengan anaknya kak Johan?”
Edward seketika tersedak teh hijau yang ia minum.
“Pelan-pelan, pi.” Laura bangkit, ia mengambil air putih untuk suaminya.
“Laura Anastasia Hugo. Perut kalian bahkan masih rata, kamu sudah berencana menjodohkan mereka?” Ucap Edward setelah batuknya mereda. Pria itu menggelengkan kepala. Istri mudanya sungguh sangat ajaib.
.
.
__ADS_1
.
T. B. C