
Amarah masih terlihat jelas di wajah tampan milik Edward. Di sepanjang perjalanan pulang. Pria itu hanya diam. Sesekali ia memukul setir mobil yang ia kendalikan.
“Sial.” Gumam pria dewasa itu.
“Ed,” Laura yang duduk di kursi penumpang di samping Edward, memberanikan diri mengusap lengan pria itu.
“Tenang lah. Aku tidak apa-apa.” Laura tau apa yang menganggu pikiran pria itu. Ucapan Rendra yang terasa menusuk ke hulu hati.
Saat sampai di penthouse, pria itu masih terlihat marah.
“Pergilah ke kamar terlebih dulu. Ra.” Ucap pria itu dingin.
Gadis itu hanya bisa menurut, ia tidak mungkin melawan Edward yang kini di selimuti amarah.
Setelah Laura menghilang di ujung tangga, Edward menuju ke arah kamar yang di tempati oleh Johan.
Ia menggedor pintu kamar Johan dengan kasar.
Pintu terbuka, menampilkan Johan yang masih segar di jam 10 malam itu.
“Ada apa, bos?” Asisten itu meneliti wajah atasannya. Dan ia tau, kini bosnya itu sedang marah.
‘Bukannya dia pergi makan malam dengan nona? Kenapa datang tiba-tiba memanas begini?’
“Selidiki mantan kekasih Ara itu.” Ucap Edward tanpa basa-basi.
Johan memicingkan matanya.
“Bukannya aku sudah melaporkan tentang pria itu, bos?”
“Cari tau dimana dia bekerja.”
“Ah, soal itu juga ada bos. Tetapi aku tidak sempat melaporkan padamu.” Johan berlalu ke dalam kamarnya, ia mengambil sebuah map berwarna coklat.
Lalu kembali ke arah pintu dimana sang atasan masih berdiri disana. Johan menyerahkan map yang ia ambil kepada Edward.
Pria dewasa itu membaca dengan teliti. Matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras dan ia mere*mas map yang ia pegang.
“Kurang ajar. Jangan katakan jika dia sengaja bekerja disana.” Ia membuang map itu begitu saja.
Johan mengedikan bahunya tanda tidak tahu.
“Hubungi calon mertua mu, minta dia memindahkan laki-laki kurang ajar ke kampus di luar pulau ini!” Ucap Edward geram.
“Tapi bos—,”
“Lakukan atau aku akan memecat calon mertua mu itu.” Nada suara Edward terdengar dingin.
“Baik, bos. Aku akan menghubungi pak Gunawan.” Johan menyebutkan nama ayah dari sang kekasih.
Setelah itu, Edward pergi meninggalkan Johan yang mematung di ambang pintu kamarnya.
Ia kembali memungut map yang sudah tak terbentuk itu.
“Pasti terjadi sesuatu lagi.” Gumam kekasih dari Monica itu.
Edward memasuki kamarnya dengan tangan terkepal, suara dentuman pintu tertutup, mengagetkan Laura yang berada di dalam ruang ganti.
Ia bergegas keluar ruang ganti, di lihatnya kini Edward tengah berdiri di balkon kamar.
“Ed..” gadis itu mendekat dan mendekap tubuh kekar itu dari belakang.
__ADS_1
“Jadi dia dosen menyebalkan yang kamu katakan tempo hari?”
Nada suara pria dewasa itu terdengar dingin. Ia sama sekali tidak membalas dekapan gadis itu.
“Kamu tau darimana, Ed.?”
“Kamu lupa siapa aku?”
‘Ya, aku bahkan tidak tau siapa kamu sebenarnya.’
Gadis itu mengeratkan pelukannya pada pinggang Edward. Sehingga membuat ia semakin menempel pada pria itu.
“Setelah ini kamu tidak akan bertemu dosen menyebalkan itu lagi.”
Deg…
Laura tersentak mendengar ucapan pria itu, ia lantas melepaskan belitan tangannya. Dan membuat Edward membalikkan badannya, berhadapan dengan gadis itu.
“Kenapa?” Tanyanya ketika melihat sang gadis mematung.
“Ka-kamu, kamu memecatnya?” Tanya Laura tidak percaya.
“Tidak.. aku hanya mengirim dia ke pulau lain, agar dia tidak bisa bertemu dengan mu lagi. Dia dan ibunya sama saja. Bisanya hanya menghina orang lain.” Jawab pria itu panjang lebar.
“Tapi, Ed. Dia—,”
Edward mengangkat satu tangannya.
“Jangan membelanya, Ara. Keputusanku sudah bulat.”
Pria itu berjalan memasuki kamar dan menuju ke ruang ganti. Laura pun mengikuti pergerakan Edward.
“Bersiaplah, baby. Aku akan menghabisi mu setelah aku mandi.” Ucap pria itu menyeringai sambil berlalu menuju kamar mandi.
Pagi terasa datang begitu cepat, rasanya baru saja Laura memejamkan mata. Gadis itu ingat, ia baru tertidur sekitar pukul 3 dini hari.
Edward yang ia juluki si pria tua me*sum, tiada lelah mengajaknya menuju puncak. Hanya membiarkan gadis itu beristirahat sejenak. Lalu kembali menggempurnya.
“Selamat pagi, baby.” Suara serak khas bangun tidur terdengar di telinga gadis itu. Ia menggeliat, berusaha membuka matanya.
“Ed, aku lelah.” Laura kembali memejamkan matanya, dan merubah posisi tidurnya, memunggungi pria itu.
“Kamu tidak kuliah?” Ia merasakan sebuah kecupan mendarat di bahunya yang terbuka.
“Aku ijin saja.” Gumam gadis itu.
“Baiklah. Ayo kita tidur lebih lama.” Edward mengeratkan pelukannya di pinggang Laura. Ia pun ikut kembali memejamkan matanya.
Sementara dua insan tanpa ikatan itu sibuk tidur berpelukan, di lain tempat ada yang sedang bersiap untuk pergi ke kota.
“Sayang, kamu yakin akan pergi ke kota sendirian?” Tanya nyonya Hugo kepada Felisha. Mereka kini tengah menyantap sarapannya. Setelah di tinggal Devano ke sekolah.
“Aku yakin ma. Lagipula aku pergi dengan pak Didi.” Felisha menyebut nama supir pribadinya.
“Mama ikut ya?” Ada perasaan ragu di benak nyonya Hugo membiarkan Felisha pergi sendirian.
“Ma, jika mama ikut, siapa nanti yang akan menemani Devano saat ia pulang sekolah?” Mama dari Devano itu meletakan alat makannya. Ia lantas meraih jemari nyonya Hugo.
“Ma, aku harus belajar menghadapi masalah sendirian. Aku sudah 35 tahun sekarang. Aku ingin menjadi mama yang kuat untuk Devano.” Ia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum.
“Lagipula aku kesana untuk menemui Edward kan? Jadi, jika terjadi sesuatu dengan ku, dia tidak akan tinggal diam.” Sambungnya lagi. Ia mengusap lembut tangan nyonya Hugo yang kulitnya terlihat sudah mulai mengendur.
__ADS_1
“Trust me, ma.” Felisha menaikan tangan itu lalu mengecupnya.
Nyonya Hugo menganggukkan kepalanya.
“Apa perlu mama menghubungi Edward?”
Dengan cepat Felisha menggelengkan kepalanya.
“Ma, aku ingin menguji ketahanan mentalku dulu. Jika berhasil, aku akan memberi kejutan untuk Ed. Tetapi jika tidak, aku akan langsung pulang.”
“Mama tidak mau dia marah, karena mama membiarkan kamu pergi sendiri, Fel.”
“Maka dari itu, mama jangan menghubunginya. Aku jamin, semua akan berjalan sesuai rencana ku, ma.” Ucap Felisha terkekeh.
‘Ma, aku pergi kesana untuk memastikan sesuatu. Setelah semuanya jelas, baru aku akan memberitahu mama.’
Felisha kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
‘Aku merasa ada sesuatu yang Ed sembunyikan dari kita, ma. Bahkan ia sudah memiliki panggilan khusus untuk gadis yang ia akui sebagai asistennya.’
“Fel.. kamu kenapa melamun?” Tanya nyonya Hugo saat melihat Felisha mengunyah makanannya dengan lambat.
“Ah tidak, ma. Aku hanya membayangkan bagaimana reaksi Ed, jika aku berhasil sampai disana.”
Felisha memang wanita yang sangat pintar. Ia memiliki ingatan dan kepekaan yang sangat tajam. Sedikit saja ada hal yang ia rasa berbeda dari biasanya, ia akan mencari tau sampai mendapatkan jawabannya.
‘Edward, sayang.. Felisha mu datang.’
.
.
.
T. B. C
————
Aduh… ada yang mau on the way ke kota nih..
😫😫😫
Udah gitu aja..
Bye..
Aku mau sembunyi dulu. Takut nanti di jambak sama Felisha
🙋♀️🙋♀️🙋♀️
Jangan lupa
Like
Komen
Vote dan Gift
I LOVE YOU TILL THE END
❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥
__ADS_1
TerimaGaji