
Di waktu yang sama, di saat Edward dan Laura baru saja mengudara, keluarga mereka, nyonya Hugo, Felisha dan Devano tiba di kediaman Edward dan Laura.
Mereka sengaja datang untuk memberikan kejutan. Sengaja tidak memberitahu. Selain itu, kedatangan mereka ke kota juga tidak di rencanakan. Kebetulan, Felisha mendapat pemberitahuan jika sekolah Devano memperpanjang libur hingga lusa. Jadi, mereka memutuskan untuk datang ke kota dan memberikan kejutan.
Namun sebaliknya. Sampai di rumah Edward dan Laura, justru mereka lah yang terkejut. Asisten rumah tangga mengatakan jika Edward dan Laura sedang keluar dengan membawa sebuah koper berukuran sedang.
Tidak ada yang tau mereka pergi kemana. Hingga Bu desa, sang asisten rumah yang lain, mengatakan jika pasangan suami istri itu di antar oleh Johan.
Nyonya Hugo pun menghubungi Johan, menanyakan keberadaan putra dan menantunya. Lagi-lagi wanita paruh baya itu tercengang. Asisten sang putra mengatakan, jika ia baru saja mengantar Edward dan Laura ke bandara.
“Memangnya mereka pergi kemana, Jo?”
“Bos dan nona, pergi ke Bali, nyonya. Nona mengidam, ingin makan bebek betutu di salah satu restoran yang ada di sana.”
“Apa?” Bukan nyonya Hugo yang terkejut, tetapi Felisha. Wanita itu ikut menguping pembicaraan sang mama dengan asisten saudara kembarnya.
“Ya, sudah. Mana istrimu?”
“Monica sedang tidur, nyonya.” Jawab Johan yang terdengar berbisik.
Nyonya Hugo mencebikan bibirnya, ia tau Johan dan istrinya masih bisa di katakan sebagai pengantin baru.
“Ya, sudah. Nanti malam, ajak istrimu ke rumah Edward. Kita makan malam bersama disini. Mumpung yang punya rumah tidak ada.”
“Baik, nyonya.”
Panggilan pun berakhir. Nyonya Hugo kembali menyimpan ponselnya.
“Mana mami, ma?” Tanya Devano yang baru datang dari kamar mandi.
“Mami dan papa sedang ada pekerjaan di luar, sayang.” Jelas Felisha kepada sang putra.
“Yah..” bocah 8 tahun itu melengos. “Apa kita akan kembali pulang?” Terlintas di benak Devano, perjalanan yang membosankan menggunakan mobil.
“Tidak, Dev. Sesuai rencana. Kita akan menginap disini.” Sang nenek menjawab pertanyaan Devano. Membuat Devano bersorak gembira.
“Yey.. apa aku boleh bermain, nek?”
“Tentu.” Nyonya Hugo meminta Bu dewa menemani sang putra bermain. Edward memang menyediakan sebuah ruangan yang khusus di gunakan untuk bermain oleh anak-anak.
“Jadi, kita akan menginap, ma?” Tanya Felisha memastikan.
“Ya, tidak mungkin kita kembali sekarang. Kasian juga Devano. Dia membutuhkan suasana baru.”
Felisha menganggukkan kepalanya.
Nyonya Hugo kemudian berbicara dengan Bu desa yang berada di dekat mereka. Wanita paruh baya itu meninta agar pekerja dapur membuatkan makan malam untuk lima orang, karena ia mengundang Johan dan Monica makan malam bersama.
__ADS_1
Asisten rumah itu pun undur diri.
“Ya sudah, Fel. Kita istirahat dulu.”
Felisha mengangguk. Ia pun mengikuti sang mama memasuki kamar.
*****
Sore hari waktu ibukota, Damian menyempatkan diri menjemput Teresha ke tempat wanita itu bekerja.
Setelah pulang dari bertemu dengan Leo, kedua orang itu memutuskan untuk mengakrabkan diri, satu sama lain.
Dan disini lah sekarang Damian berada, di sebuah parkiran di depan lobby gedung bertingkat lima. Menunggu dengan sabar, kemunculan mantan istrinya. Damian berdiri sembari menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil.
Hampir dua puluh menit menunggu, wanita yang ia tunggu pun datang mendekat. Pria itu membukakan pintu penumpang di samping sopir untuk mantan istrinya. Kemudian ia mengambil tempat di belakang kemudi.
“Kita mau kemana?” Tanya Teresha, sembari memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
“Kamu mau kemana? Terserah padamu, Te. Aku temani.” Ucap Damian sembari mengedipkan satu matanya ke arah sang mantan yang akan menjadi istrinya kembali.
“Hmm, bagaimana jika kita berbelanja, setelah itu membuat makan malam bersama?” Teresha mencoba mendekatkan diri dengan mantan suaminya. Ia ingin, saat mereka kembali bersama, tak ada lagi kecanggungan diantara mereka berdua.
Damian menganggukkan kepalanya. Ia pun melajukan mobilnya ke menuju supermarket terdekat.
Sesampai di supermarket, Teresha membeli beberapa bahan makanan. Seperti beras, sayur, daging dan bumbu-bumbu.
Ini untuk pertama kalinya pria itu mengajak Teresha ke tempat tinggalnya.
“Aku tinggal sendiri, Te. Mama sudah lama meninggal.” Jelas Damian yang melihat keraguan pada diri Teresha.
“Maafkan aku, Dam. Aku turut berduka cita.” Teresha tau, selama ini Damian hanya memiliki mama saja, sementara sang papa telah meninggal sebelum mereka menikah dulu.
“Kamu mau kan?” Tanya Damian lagi.
Kepala Teresha mengangguk. Tidak ada alasan untuknya menolak. Karena suatu hari nanti, mereka juga akan tinggal bersama.
Teresha kagum melihat rumah yang di tempati oleh mantan suaminya. Rumah dua lantai bergaya minimalis. Bentuk rumah yang selama ini, wanita itu impikan.
“Ayo masuk.” Ajak Damian sembari membukakan pintu.
Teresha menggangguk, ia mengikuti langkah Damian memasuki rumah itu.
“Kamu benar tinggal sendiri disini?” Tanya Teresha lagi, sembari meletakan belanjaannya di atas meja ruang makan.
“Ya.”
“Tidak ada asisten rumah tangga?”
__ADS_1
“Panggilan, biasanya datang dua hari sekali.”
Teresha menganggukkan kepala. Ia meletakan tas tangan yang ia bawa untuk bekerja. Melepas blazer yang ia gunakan. Kemudian beranjak ke arah dapur.
Wanita itu kembali terkesima melihat peralatan dapur yang begitu lengkap. Membuatnya tak yakin jika Damian hanya tinggal sendiri.
“Aku suka memasak, makanya perabotan disini lengkap.” Damian datang, menjawab rasa penasaran wanita itu. Pria itu menyerahkan sebuah celemek berwarna hitam kepada Teresha.
Pipi Teresha mendadak panas. Damian seolah tau apa yang dia pikirkan. Mereka pun memulai kegiatan memasaknya.
“Setelah kita menikah, kamu mau kan tinggal disini bersamaku?” Tanya Damian di sela-sela kegiatan mereka.
“Tentu. Bukannya istri harus mengikuti kemana pun suaminya pergi?”
Damian tersenyum mendengar jawaban Teresha.
“Aku akan sangat senang jika kamu mau ikut kemana pun aku pergi, Te.”
Teresha mencebik, ia mengira jika Damian telah salah mengartikan ucapannya.
“Tetapi, apa Leo mau ikut dengan kita?”
“Memangnya kenapa?”
Wanita itu menghela nafasnya pelan.
“Aku takut, Leo tidak mau ikut dengan kita.” Ucapnya lirih.
Damian menghentikan kegiatannya memotong sayuran. Pria itu mendekat ke arah mantan istrinya. Meraih kedua bahu wanita itu, dan membuat Teresha menatapnya.
“Dengarkan aku, bukannya tujuan kita menikah supaya mendapat maaf dari putra kita?”
Kepala wanita itu mengangguk.
“Maka dari itu, yang terpenting Leo memaafkan kita dulu. Urusan dia mau tinggal dengan kita atau tidak, nanti kita pikirkan lagi.”
Kini giliran Damian yang menghela nafasnya.
“Aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi, selain melihat kebahagiaan Leo. Aku hanya punya Leo untuk meneruskan garis keturunan keluargaku. Kebahagiaannya adalah yang paling utama.”
Teresha kembali mengangguk. Dan entah siapa yang memulai, mereka pun saling memeluk satu sama lain.
.
.
.
__ADS_1
T. B. C