
Leo mengajak Damian dan Teresha duduk di dalam ruang perpustakaan. Damian dan Teresha duduk bersisian. Sementara, Leo duduk di hadapan mereka. Dengan sebuah meja belajar sebagai pemisah nya.
Hening!
Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Damian ingin sekali memeluk remaja di hadapannya ini. Ia begitu merindukan Leo. Yang sudah hampir sebulan tak di temuinya.
Sementara, Teresha hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat malu kepada Leo. Dosanya begitu besar, hingga mengangkat kepala pun wanita itu tak berani.
“Apa ada yang ingin kalian katakan padaku?”
Leo membuka pembicaraan.
Mendengar sang putra bersuara, Teresha pun mengangkat kepalanya. Wanita itu menoleh ke arah Damian sejenak. Dan kepala pria itu pun menggangguk.
“N-nak.. a-aku, aku ingin meminta maaf padamu. Aku tau, dosaku begitu besar kepadamu, dan aku sadar, dosaku tidak mungkin termaafkan.”
Setetes air menuruni pipi wanita berusia 35 tahun itu, namun dengan cepat tangannya menghapus.
“Nak, jika ada kesempatan kedua, mama mohon. Maafkan mama, nak. Mama akan melakukan apapun, asalkan kamu mau memaafkan mama.”
Leo hanya mencebik, ia pun tak ada niat menjawab ucapan wanita yang telah melahirkannya itu.
“Nak?” Kini giliran Damian yang berbicara. Leo pun menoleh ke arah pria itu.
“Tolong maafkan kami, nak.”
Damian menghela nafasnya pelan. Ia kemudian melanjutkan ucapannya.
“Kami sangat berdosa kepadamu, nak. Karena keegoisan ku, aku memaksa wanita yang tidak mencintai ku, sampai mengandung dirimu. Aku mengira, setelah dia hamil, cintanya bisa ku miliki juga, tetapi aku salah. Di hatinya hanya ada pria lain. Aku mengekangnya, hingga dia melarikan diri, dan meminta berpisah dariku.”
Pandangan Damian menerawang jauh. Ia kembali teringat akan kenangan masalalu dimana ia dan Teresha sempat menjalani hidup berumah tangga.
“Jika kamu mengijinkan, papa akan menebus semua kesalahan papa padamu, papa akan mengganti semua waktu kita yang telah terlewati selama 16 tahun ini.”
“Kalian akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dariku?” Tanya Leo.
Secepat kilat kepala Teresha dan Damian mengangguk. Menjawab pertanyaan sang putra.
“Jika aku meminta kalian jangan pernah menemui aku lagi. Apa kalian akan melakukannya?”
Deg..
Damian dan Teresha saling menatap, kepala mereka menggeleng, tidak mau menuruti keinginan remaja itu.
“Kami akan melakukan apapun, tetapi kami mohon jangan minta kami menjauhimu, nak. Selama 16 tahun ini, mama sudah sangat tersiksa jauh darimu.” Ucap Teresha terisak.
Leo mencebikan bibirnya.
“Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa tidak saat aku berusia kanak-kanak kalian datang? Mungkin saat itu aku belum mengerti apapun. Jadi kalian dengan mudah membawaku.”
“Maafkan papa, nak. Papa tidak tau jika kamu masih ada. Yang papa tau, kamu—
“Yang anda tau, aku meninggal saat dilahirkan, iya kan? Kejam sekali. Apa itu artinya wanita yang melahirkan aku, benar-benar menginginkan aku mati?”
__ADS_1
Kepala Teresha menggeleng keras. Ia tidak pernah menginginkan putranya meninggal. Ia hanya ingin agar Damian tidak menganggu hidupnya lagi.
“Nak, bukan begitu maksud mama. Maafkan mama nak. Semua ini salah mama. Mama yang egois di sini. Mama hanya memikirkan diri mama sendiri, tanpa memikirkan perasaan mu dan papamu. Maafkan mama, tolong berikan kesempatan mama menebus semua kesalahan mama padamu, nak.”
Tangis Teresha semakin keras. Ia tidak bisa lagi menahan diri.
Damian tidak bisa melakukan apapun.
Leo menghela nafasnya pelan. Hatinya sedikit tercubit melihat wanita dewasa itu menangis.
“Baiklah. Aku akan memaafkan kalian. Tetapi dengan satu syarat.”
“Berapa pun syarat yang kamu berikan, kami akan menurutinya, nak. Asalkan, jangan meminta kami menjauhimu.” Ucap Damian.
“Benarkah? Seberat apapun syarat dariku, kalian akan menurutinya?”
Damian dan Teresha kembali menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, menikah lah kembali. Baru aku akan memaafkan kalian.”
Deg..
Damian dan Teresha kembali saling menatap, mereka tersentak mendengar ucapan dari putra mereka.
Tidak ada yang menjawab ucapnya, Leo pun hanya bisa mencebik.
“Apa syaratku begitu berat? Jika iya, aku tidak masalah. Kalian boleh pergi sekarang, dan jangan lagi menemui aku.”
“Tidak, nak. Kami akan melakukan yang kamu ingin kan.” Ucap Damian. “Ya kan, Te?” Tanyanya pada Teresha.
“Kalian tidak perlu terpaksa. Pikirkanlah dengan hati kalian masing-masing, tanyakan pada hati kalian. Aku berikan kalian waktu satu bulan. Apapun keputusan kalian satu bulan nanti. Aku terima. Maafku, tergantung jawaban dari kalian.”
Leo berdiri, “Dan satu lagi. Jika anda— Leo menatap Teresha. “Masih mengharapkan kakak iparku, jangan pernah berharap mendapat maaf dariku sekalipun kalian kembali menikah.” Setelah mengucapkan kalimat itu, ia lantas meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terpaku di tempatnya.
“Dam.”
“Aku mau pulang, Te. Benar apa kata Leo. Kita pikirkan dulu. Aku juga tidak ingin kita melakukannya karena terpaksa. Dulu mungkin hanya dirimu yang tersakiti, tetapi sekarang, tidak hanya dirimu, tetapi juga Leo.”
“Dan satu lagi. Seandainya kita memang tidak bisa bersama, tolong pikirkan perasaan Leo. Lupakan kakak iparnya. Karena tidak mungkin juga dia memilihmu.”
Damian pun menyusul Leo meninggalkan tempat itu.
******
“Papa aku mau main trampolin bersama mami, boleh?” Tanya Devano di dalam mobil.
“Kamu boleh main apapun, tetapi tidak dengan mami. Ingat Dev, di dalam perut mami itu ada adik mu. Dia masih sangat kecil. Kalau kamu ajak mami bermain yang berat-berat, nanti adiknya sakit, maminya juga sakit.” Edward mencoba memberi penjelasan supaya anak itu tidak merajuk lagi.
“Terus mami boleh main apa, pa?”
“Mami hanya boleh menonton saja, kamu main bersama papa.”
“Pi—.” Tangan kiri Edward terangkat, ia tidak membiarkan sang istri berpendapat.
__ADS_1
“Jangan membantah, ingat kehamilan mu baru 5 minggu, jaga baik-baik. Aku akan selalu mengingatkan mu, sampai kamu bosan.” Tegas Edward.
“Iya, pi.” Ucap Laura pasrah.
Mobil Edward sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang sering mereka kunjungi. Menapaki gedung berlantai 5 itu, Laura teringat dulu ia pernah salah paham terhadap Edward, Felisha, dan Devano.
Pipinya seketika memanas, mengingat hal tersebut.
“Ada apa?” Tanya Edward yang melihat sang istri seperti terlihat gugup.
“Aku hanya kembali teringat dulu pernah melihat papi, mbak Felisha dan Devano disini.”
Edward menyunggingkan sudut bibirnya.
“Dan kamu salah paham dengan kami, kamu cemburu, sampai-sampai tidak jadi makan disini.”
Kembali diingatkan Laura merasa jengah.
“Sudah jangan diingat-ingat lagi.”
Edward, Laura dan Devano terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Wajah Devano yang sekilas mirip dengan Edward, membuat orang yang melihat mengira mereka adalah pasangan ayah dan anak.
Puas menjelajahi semua arena permainan, Devano merengek meminta makan.
Edward dan Laura menuruti, karena perut mereka juga telah meronta meminta diisi.
“Papi, aku mau makan di tempat itu.” Laura menunjuk sebuah outlet penjual makanan Korea.
“Tunggu, tanya putra mu dulu, dia mau makan disana atau tidak?”
“Kalian kalau mau di tempat lain, tidak apa-apa, biar aku sendiri di sana.”
Laura seperti sangat menginginkan makan makanan khas negeri ginseng itu. Membuat Edward tak tega menolaknya.
‘Mungkin dia sedang mengidam.’
“Dev. Mami mau makan disana.” Edward menunjuk tempat itu, “apa Dev juga mau?”
Devano melihat arah tangan sang papa. Ia melihat ada gambar mangkok berisi mie kuah. Matanya berbinar, sudah lama bocah itu tidak makan mie.
“Aku mau papa. Apa adik juga mau? Ayo mami. Kita kesana.” Devano menarik tangan sang mami, sebelum papanya berubah pikiran.
Senyum tersungging di wajah Edward, ia sangat bahagia melihat kedua orang yang dicintainya bisa seakrab itu.
Tak jauh dari sana, Teresha melihat interaksi yang terjadi diantara mereka bertiga. Hatinya sedikit tercubit, kala mendapati Edward begitu perhatian kepada Laura.
Ia hendak menghilangkan sejenak kekalutan pikirannya, karena itu ia memutuskan mampir ke pusat perbelanjaan setelah dari panti asuhan. Namun, tanpa sengaja ia melihat Edward, Laura dan Devano.
“Kamu sangat bahagia, Ed. Dan aku sadar, aku tidak mungkin mampu mendapatkan mu.”
.
.
__ADS_1
.
T. B. C