
Seminggu telah berlalu. Banyak hal yang telah di lakukan pasangan pengantin baru, Damian dan Teresha di Bali. Mulai dari mengunjungi beberapa tempat wisata, berbelanja oleh-oleh khas Bali, dan tentunya menghabiskan banyak waktu di dalam kamar hotel.
Dua hari sebelum kembali ke ibukota, pasangan suami istri itu menghabiskan waktu di daerah selatan Bali. Menikmati indahnya hari di daerah pinggir pantai. Dan tentu melakukan kegiatan wisata bahari.
Teresha merasa sangat di manjakan oleh suaminya. Apa yang ia minta, selalu di turuti oleh Damian. Hingga kini mereka kembali ke ibukota, hal pertama yang ingin Teresha lakukan adalah mengunjungi putra mereka di panti asuhan.
Damian pun demikian. Ia juga sudah sangat merindukan putranya itu. Maka, setibanya mereka di bandara, Damian meminta sopir yang menjemput, mengantarkan mereka langsung ke panti asuhan.
“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Leo.” Ucap Teresha saat sang sopir mulai menyalakan mesin mobil yang mereka tumpangi.
Damian tersenyum, ia kemudian meraih pundak sang istri. Dan membenamkan kepala wanita itu pada lekukan lehernya.
“Istirahat lah dulu. Nanti aku bangunkan.”
“Iya.. Dam.”
Meski sudah satu minggu bersama, dan hubungan mereka sudah tidak canggung lagi, entah kenapa Teresha belum mengganti panggilannya kepada sang suami. Mungkin lidahnya sudah terbiasa memanggil nama pria itu.
Sebuah kecupan Damian labuhkan di atas kening sang istri. “Tidurlah.” Ia juga ikut menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
Kurang lebih dua jam di perjalanan, akhirnya Damian dan Teresha tiba di panti asuhan. Seperti biasa mereka di sambut oleh pak Toto dan juga Bagas. Pria bertubuh tegap itu mengantarkan pasangan pengantin baru itu untuk bertemu dengan ibu Maria terlebih dulu. Karena Leo belum pulang dari sekolah.
Teresha menyerahkan dua buah papper bag, kepada ibu Maria, buah tangan dari Bali. Satu untuk ibu Maria, dan satunya lagi untuk bibi Lily.
Mereka pun mengobrol, saling bertukar kabar. Tak lupa membahas perkembangan Leo. Meskipun sebagai orang tua kandung, namun Damian dan Teresha tak berada di dekat putranya.
“Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Leo anak pintar. Dia selalu berprestasi sejak di bangku sekolah dasar.” Ibu Maria menjelaskan. Sementara Damian dan Teresha menyimak dengan seksama.
“Apa Leo sering mendapatkan juara kelas, Bu?” Tanya Teresha penasaran.
“Iya, dia selalu masuk peringkat tiga besar. Paling sering peringkat 2. Pernah sekali peringkat pertama. Namun, saat penyakit Angelina terungkap, prestasi Leo menurun. Ia hanya mampu bertahan di peringkat 3.”
Air muka ibu Maria berubah sendu, kala mengingat tentang sahabatnya, ibu dari Laura.
__ADS_1
“Leo pasti sangat menyayangi ibunya.” Ucap Teresha.
“Ya, nak Tere benar. Leo sangat dekat dengan Angel, wanita itu sangat memanjakannya. Mungkin karena itu, sulit untuk Leo menerima kenyataan jika dia bukan anak Angel dan Adi.”
“Bu. Apa aku boleh tau dimana ayah dan ibu Laura di makamkan? Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah menyayangi dan merawat putraku dengan baik.”
Ibu Maria mengangguk. Ia kemudian mengatakan dimana alamat pemakaman orang tua Laura. Mereka pun kembali mengobrol. Hingga tak terasa waktu berlalu, Leo pun datang menemui mereka.
“Bu..” seperti biasa remaja itu akan mencium punggung tangan ibu Maria sepulang ia dari sekolah. Namun, kali ini hal itu juga ia lakukan kepada kedua orang tuanya.
Damian dan Teresha saling tatap, ketika remaja itu mencium tangan mereka secara bergantian.
“Apa papa dan mama sudah lama datangnya?” Tanya adik dari Laura Anastasia itu. Ia mengambil tempat duduk di samping ibu Maria.
“Mungkin satu jam yang lalu, nak.” Jawab Damian. Dan Leo menganggukkan kepalanya.
“Mama membeli sesuatu untukmu.” Teresha menyerahkan sebuah papper bag kepada sang putra.
“Terima kasih, ma.” Leo menerima pemberian sang mama.
“Ibu harap, kamu bisa mendekatkan diri dengan orang tuamu, nak.” Ibu Maria bermonolog, ia menatap sekali lagi ke dalam ruang tamu dari ambang pintu. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
“Nak, apa kamu mau menemani kami pergi ke makam ayah dan ibu mu?” Teresha bertanya sebagai pembuka obrolan mereka.
“Kalian ingin pergi kesana?”
Damian dan Teresha mengangguk.
“Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku.”
Leo pun meninggalkan kedua orang tuanya untuk berganti pakaian.
****
__ADS_1
Leo mengantar kedua orang tuanya ke tempat peristirahatan terakhir dari ayah dan ibu angkatnya. Sebelumnya, Leo datang untuk mengadu, namun kali ini, ia datang untuk berbagi kebahagiaan.
Ya, Leo sudah bisa menerima kenyataan jika dia bukanlah putra dari ibu Angelina dan ayah Adi. Namun, ia akan tetap menganggap mereka adalah orang tuanya.
“Yah, Bu. Aku datang. Hari ini aku datang tidak sendirian. Aku datang bersama papa Damian dan juga mama Teresha. Mereka adalah orang tua kandungku. Mereka ingin berkenalan dengan ayah dan ibu.” Leo duduk di antara makam sang ayah dan sang ibu. Di belakangnya, ada Teresha dan Damian yang juga ikut bersimpuh.
Leo mempersilahkan kedua orang tuanya untuk berbicara.
“Pak Adi, Bu Angel.” Damian menatap secara bergantian kedua makam yang berdampingan itu.
“Perkenalkan, aku Damian. Dan ini istriku, Teresha.” Tangan kiri Damian meraih tangan sang istri yang berada di sebalahnya.
“Kami adalah orang tua kandung Leo. Kami ingin berterima kasih kepada kalian. Karena kalian telah merawat putra kami, putra kita dengan baik. Hingga ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan penyayang.” Damian menghela nafasnya pelan.
“Maaf, karena kami telah merepotkan kalian. Maaf karena kami datang terlambat. Kami janji, sebisa kami, akan membahagiakan Leo kedepannya.” Suara Damian terdengar berat. Teresha yang menyadari hal itu, pun mengusap lengan sang suami.
“Mama dan papa tidak perlu berjanji apapun. Cukup buktikan dengan perbuatan kalian.” Damian dan Teresha mengangguk mendengar ucapan sang putra.
Setelah puas berbicara di antara kedua makam mendiang ayah dan ibunya. Leo mengajak mama dan papanya kembali ke panti asuhan. Karena hari juga sudah menjelang sore.
“Apa kamu mau menginap di rumah papa?” Tanya Damian saat mereka akan masuk kedalam mobil.
Leo nampak berpikir sejenak. Sepertinya, ia harus memberikan kesempatan kepada kedua orang tua kandungnya. Dengan sesekali menginap di rumah mereka.
“Tentu. Bukannya besok sudah akhir pekan?”
Damian dan Teresha saling tatap, ada perasaan yang tak bisa terlukiskan di hati mereka, saat sang putra setuju untuk menginap.
“Ayo…”
.
.
__ADS_1
.