
“Asisten?” Mama dari Devano itu mengerutkan dahinya.
“Bukannya asisten mu, Johan? Apa dia sudah tidak bekerja dengan mu lagi?” Tanyanya lagi.
Edward menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya.
“Johan masih bekerja dengan ku. Hanya saja, akhir-akhir ini pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Jadi dia mencari seorang asisten untuk mengurusku di rumah.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Devano yang sibuk mondar-mandir di dalam air. Ia tidak mau menatap ke arah Felisha, karena wanita itu pasti tau jika ia sedang berbohong.
‘Maafkan aku, Ara.’
“Seorang asisten perempuan dirumah?” Selidik wanita itu lagi.
“Hmm.” Edward menganggukkan kepalanya.
“Dia seorang anak yatim piatu yang memerlukan banyak uang untuk membayar hutang mendiang ibunya.” Pria itu kembali meneguk jus jeruknya. “Johan tidak tega melihatnya kesana kemari mencari pinjaman. Jadi dia menawari gadis itu pekerjaan.”
Yang Edward ucapkan memang tidak sepenuhnya bohong. Hanya saja ia mengatakan jika Johan lah yang menawari gadis itu pekerjaan.
“Kenapa harus menjadi asisten di rumah? Kenapa tidak memberikan pekerjaan di kantor saja?” Tanya Felisha semakin penasaran.
“Dia masih kuliah tingkat tiga. Kamu tau, Johan memiliki jiwa kasih sayang yang sangat besar. Melihat gadis itu, Johan seperti melihat dirinya sendiri. Seorang anak yatim piatu yang suka bekerja keras.” Pria itu tersenyum di akhir ucapannya. Bayangan Laura tiba-tiba terlintas di benaknya.
‘Aku merindukan mu, baby’
Edward memejamkan matanya. Mencoba menghapus bayangan gadis manis yang menghampirinya.
“Apa dia—
“Dia gadis yang baik, Fel.” Edward memotong ucapan Felisha.
“Dia bahkan akan menangis jika mengingat keluarganya. Aku juga tidak tega melihatnya.” Edward membalik badannya yang masih setengah terendam di dalam air.
Ia lalu meletakkan dagunya di atas lutut Felisha yang sedang duduk di pinggir kolam renang, dengan setengah kaki dari wanita itu masuk ke dalam air.
“Kamu tau, aku membayangkan jika seandainya kamu berada dalam posisi gadis itu. Kesana kemari mencari pinjaman tetapi kamu tidak mendapatkannya.” Imbuh pria berusia 35 tahun itu lagi.
Felisha mengusap lembut kepala basah Edward.
“Aku tau, bukan Johan yang menawari gadis itu pekerjaan, tetapi dirimu kan?” Ucap wanita itu sambil tersenyum.
“Fel, itu—
“Aku tau kamu, Ed. Kita sudah menghabiskan waktu bersama hampir seumur hidup kita.”
“Kamu tidak marah, Fel?” Tanya Edward waspada.
“Untuk apa aku marah, Ed. Semasih niatmu baik memberikan gadis itu pekerjaan, aku tidak akan marah. Tetapi jika sampai kamu punya niatan lain, aku akan sangat marah padamu.” Wanita itu membelai wajah Edward.
Pria itu lalu mengecup tangan Felisha lembut.
“Terimakasih, Fel.”
__ADS_1
‘Aku harus mencari cara dan waktu yang tepat untuk mengatakan padamu, jika suatu hari nanti aku akan menikahinya, Fel.’
*****
Setelah makan malam, seperti biasa Edward menyempatkan diri bermain sebentar dengan Devano.
Edward sangat menyayangi Devano, ia tidak ingin bocah berusia 8 tahun itu kekurangan kasih sayang seorang ayah di masa kecilnya.
Ia sudah merasakan, bagaimana hidup tanpa kehadiran seorang ayah disisi nya saat usianya masih terbilang sangat muda.
“Dev.. mama mu menunggu dikamar. Katanya dia perlu bantuanmu.” Ucap nyonya Felisha yang tiba-tiba menyela acara bermain putra dan cucunya itu.
“Ah ya, aku lupa. Aku harus membantu mama sebentar, pa.” Bocah itu bangkit dari duduknya. Lalu berlari ke arah kamar yang biasa ia tempati dengan sang mama.
“Apa mama sengaja mengusirnya dari sini.” Edward memicingkan matanya kepada sang mama.
“Tidak, memang Feli sedang membutuhkan bantuan Devan. Katanya mau membuka oleh-oleh yang kamu bawa.” Ucap wanita berusia 60 tahun itu.
“Bagaimana keadaan kantor, Ed?” Tanya nyonya Hugo sembari mendudukkan bo*kongnya di sofa tepat di belakang sang putra.
“Kantor baik, ma.” Jawab Edward sambil tetap fokus menyusun kepingan-kepingan puzzle, yang ia mainkan tadi bersama Devano.
Nyonya Hugo menganggukkan kepalanya.
“Ed, sebenarnya mama ingin sekali kita tinggal bersama seperti dulu. Mama tidak ingin kita terpisah seperti ini lebih lama lagi, Ed.” Pandangan wanita paruh baya itu menerawang jauh.
Ia teringat akan kisahnya dulu, semasa mendiang suaminya masih ada. Hingga lahirnya sang cucu Devano.
“Ma, bukankah sudah aku bilang kita jangan membahas masalah ini lagi? Aku tidak keberatan jika harus pulang kemari mengunjungi kalian.” Pria itu menghentikan kegiatannya lalu duduk di samping sang mama.
“Ma, bagaimanapun juga, kesehatan Felisha lebih penting. Kehidupan di ibukota akan membuatnya tertekan. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya, ma. Mama tau kan, kalian adalah separuh hidupku.” Pria dewasa itu lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama.
Nyonya Hugo mengusap lembut kepala sang putra. Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa kini putranya sudah berusia 35 tahun. Dan 20 tahun sudah ia hidup tanpa sosok suami di sisinya.
“Mama tidak akan membahas ini lagi, Ed. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan mama juga.”
“Terimkasih, ma. Cukup mama percaya padaku saja. Dan mama selalu mendoakan aku, semuanya akan baik-baik saja.”
Nyonya Hugo sedikit membungkuk dan mengecup hangat kening putranya.
*****
“Hallo, baby? Sedang apa?” Setelah perbincangannya dengan sang mama, Edward memutuskan menghubungi Laura. Rasa rindu pada gadis itu semakin terasa.
Ia memilih keluar dari rumah dan menyendiri di taman sang mama. Agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya.
“Halo, Ed. Aku sedang dikamar. Ada apa?” Tanya gadis itu dari seberang panggilan.
“Aku merindukanmu, baby.” Ucap pria itu tanpa basa-basi.
Tidak ada balasan dari kalimat yang pria itu ucapkan. Yang membuat kedua alisnya hampir saja menyatu.
__ADS_1
“Baby, kamu mendengarku.” Tanya pria itu lagi.
“Hmm.” Sahut Laura
“Kenapa kamu diam?”
“Aku hanya merasa aneh saja, kenapa memanggilku begitu? Aku bukan anak kecil.” Protes gadis itu.
“Aku suka saja, terdengar manis saat di ucapkan.” Pria dewasa itu menggigit bibir bawahnya. Bayangan kebersamaannya dengan Laura tiba-tiba saja muncul begitu saja.
“Hah..sial.” Edward mengumpat saat ia merasakan benda lunaknya mulai menegang.
“Kamu mengumpat ku, Ed?” Tanya gadis itu.
“Tidak, Ra. Hanya saja. Saat aku memanggilmu baby, membuat sesuatu memberontak ingin menyerangmu.”
“Dasar pria tua mes*um.” Ucap gadis itu terkekeh.
“Jaga bicara mu, baby. Jangan sampai ada yang mendengarnya.”
“Tidak ada yang mendengarkannya, tuan Hugo. Kamarku berada di sisi lain panti.” Jelas gadis itu.
“Ah, rasanya aku ingin menyelinap kesana dan menghabisi mu.” Suara pria itu terdengar mulai serak.
“Coba saja kalau berani.” Tantang gadis itu.
“Awas saja kamu. Besok aku pulang cepat. Sebelum makan malam aku sudah berada di penthouse, aku akan menghabisi mu .”
“Aku tunggu hukuman mu, tuan Hugo.” Suara gadis itu terdengar mendayu.
“Sial.” Pria itu terkekeh, apa ini yang namanya jatuh cinta. Membuatnya seperti orang yang tidak waras.
Tidak jauh dari sana, nyonya Hugo memperhatikan gerak-gerik sang putra.
Iya yang tadi meninggalkan Edward di ruang keluarga, saat kembali tidak mendapati putranya disana. Dan salah seorang asisten rumah tangganya mengatakan jika Edward berada di taman.
Wanita paruh baya itu sedikit mendengar apa yang putranya bicarakan dengan ponselnya.
“Siapa yang kamu sembunyikan dari kami, Ed?”
.
.
.
To be continue
Terimakasih kepada yang sudah memberi dukungan.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bawah ini teman Readers.
__ADS_1
Bisa berupa Like, komen ataupun Vote.
TerimaGaji ❤️❤️