
Beberapa hari berlalu, sejak kepulangan Edward dan Laura dari liburan singkat di pulau dewata, Bali. Kini Edward telah kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dan sang istri kembali mengerjakan skripsinya.
Laura ingin, sebelum ia melahirkan sang buah hati, dirinya sudah lulus kuliah. Karena, setelah melahirkan ia ingin fokus merawat anaknya. Laura ingin merasakan menjadi seorang ibu, yang waktunya hanya untuk mengurus anak dan istri yang selalu ada untuk suaminya.
Meski nanti Edward akan mempekerjakan pengasuh, namun Laura ingin tetap berada di rumah dekat dengan sang buah hati.
“Bos, ini beberapa berkas yang harus di tanda tangani. Aku sudah memeriksa. Bos bisa mengeceknya lagi.” Johan meletakkan beberapa map di hadapan Edward yang tengah sibuk dengan komputer lipatnya.
“Letakkan saja dulu. Aku masih banyak pekerjaan.”
“Siang ini, pak Aditama mengundang kita untuk makan siang bersama, bos.” Ucap Johan kembali.
Mendengar ucapan sang asisten, tangan Edward berhenti bekerja. Ia menatap sejenak sang asisten.
“Kamu saja yang datang dengan Monica. Aku malas.” Edward yakin, pasti ada Teresha disana. Meski wanita itu mengatakan akan menikah dengan Damian, tetap saja Edward merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan wanita itu.
“Kenapa, bos? Apa karena ada Teresha Hadi itu?”
“Ya. Kamu tau aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu.”
Johan menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau banyak bicara lagi. Ia tau sifat Edward yang tak suka di bantah.
Dan saat siang hari menyapa, Johan dan sang istri pun memenuhi undangan makan siang dari pak Aditama. Dan benar yang Edward perkirakan, Teresha ada disana.
“Pak Johan, datang dengan siapa? Dimana pak Edward?” Tanya Teresha sembari mempersilahkan tamunya duduk.
“Perkenalkan, dia istriku. Sekaligus sekretaris dari pak Edward. Maaf, pak Edward berhalangan untuk hadir.” Ucap Johan dengan sopan.
Monica dan Teresha bersalaman. Begitu juga dengan pak Aditama. Makan siang berjalan dengan tenang dan lancar. Meski di selingi pembahasan masalah proyek pembangunan rumah sakit.
Setelah hampir dua jam, jamuan makan siang itu pun berakhir. Namun, sebelum berpisah Teresha menitipkan sesuatu Johan.
“Pak Johan, aku ingin menitipkan undangan padamu. Tolong berikan pada Edward dan Laura.” Wanita itu menyodorkan sebuah undangan kepada suami Monica itu. Johan pun menerimanya.
“Nanti aku sampaikan, nyonya.”
Mereka berempat kemudian membubarkan diri.
“Sayang, dia siapa? Kenapa mengundang pak Edward dan Laura?” Tanya Monica, tangan wanita itu sedang memegang undangan yang di berikan Teresha tadi, mereka kini berada di dalam mobil.
Johan menghela nafasnya pelan. Ia kemudian menceritakan tentang Teresha dan hubungannya dengan Edward dan Laura.
Monica hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Wanita itu kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tiba-tiba merasa pusing.
Sesampai di kantor, Johan langsung menemui sang atasan. Dan memberikan titipan Teresha tadi.
__ADS_1
“Bacakan!” Perintah pria itu. Ia kini sedang duduk di sofa, sembari memangku komputer lipatnya.
“Undangan Pernikahan. Damian Wicaksana dengan Teresha Hadi. Dua minggu lagi, jam 10 pagi di panti asuhan Angel Heart.”
Edward mengerenyitkan alisnya. Akan ada pernikahan di panti asuhan milik istrinya, namun ia dan Laura tidak tau?
“Kenapa tidak ada yang memberitahukan?” Gumam pria itu, ia kemudian mengambil ponselnya di atas meja, dan menghubungi Bagas.
Pria bertubuh kekar itu mengatakan tidak tau, jika akan ada pernikahan di tempat itu. Ia juga mengatakan, keadaan panti masih biasa-biasa saja, tidak ada yang membahas masalah pernikahan.
Bagas juga mengatakan, Damian dan Teresha belum terlihat mendatangi panti asuhan lagi, setelah beberapa waktu lalu bertemu dengan Leo.
***
Di malam hari, Laura menunggu suaminya dengan cemas. Tidak biasanya Edward pulang terlambat seperti ini. Semenjak menikah, Edward selalu pulang tepat waktu, bahkan saat Laura di nyatakan hamil, pria itu sering pulang lebih awal.
Ia beberapa kali menghubungi nomor kontak sang suami, namun pria itu tidak mengangkatnya. Membuat perasaan wanita hamil itu menjadi semakin gundah.
Berusaha untuk terap tenang, Laura mencoba menghubungi nomor ponsel Johan, namun sama tak ada yang menjawabnya. Ia kemudian menghubungi nomor Monica, namun sialnya, nomor wanita itu tidak aktif.
“Astaga,, ada apa ini? Papi kemana?” Laura mulai frustrasi. Ia sempat mengobrol dengan suaminya melalui sambungan telepon tadi siang, saat pria itu makan siang.
Mereka mengobrol seperti biasa, tak ada pesan yang Edward ucapkan kepadanya.
“Bu, tolong hubungi rumah depan, apa kak Jo dan mbak Monica sudah pulang.” Laura masih mencoba untuk tidak berpikiran yang tidak-tidak. Meski sang suami, sudah terlambat selama dua jam, dari waktu biasanya ia pulang.
“Nyonya, tuan Johan dan nyonya Monica belum kembali.”
Deg!!
Kini pikiran buruk Laura tidak bisa di kendalikan lagi. Bayangan tentang kecelakaan pun melintas di benaknya.
Ayah, papa mertua, dan saudara iparnya, meninggal karena kecelakaan. Ia takut hal itu kini menimpa suaminya. Kepala wanita muda itu mendadak berputar. Ia hampir tumbang, jika saja Bu desa tak menahan tubuhnya.
“Nyonya?” Wanita paruh baya itu menyanggah tubuh Laura, kemudian menuntun ke arah sofa.
“Bu.. dimana suami ku? Kenapa mereka tidak ada kabar?”
Bu desa ikut duduk di samping Laura, kemudian mendekap tubuh wanita hamil itu.
“Mungkin ada pekerjaan mendadak, nyonya. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.” Bu desa mengusap lembut lengan Laura.
“Aku takut, Bu. Aku tidak mau, anakku memiliki nasib seperti Devano.”
“Sudah, doakan saja. Semoga mereka semua baik-baik saja.”
__ADS_1
“Bu aku—
Suara daun pintu yang terbuka lebar membuat Laura dan Bu desa menoleh. Di sana muncul Edward dengan tampilan lelahnya, pria itu bahkan melepas jas yang ia gunakan, dan menentengnya begitu saja.
“Papi?” Laura bangkit dan berlari menghambur ke arah sang suami. Wanita itu bahkan tidak perduli, jika suaminya belum berganti pakaian, dan masih ada aroma minyak wangi.
“Hati-hati, kenapa berlari?” Ucap Edward menangkap tubuh sang istri.
Bukannya menjawab, wanita itu justru menangis. Ia menumpahkan segala kekhawatiran yang ada di dalam hatinya dengan tangisan.
“Hei, ada apa?” Edward melepas belitan tangan sang istri, kemudian menangkup kedua pipi wanita itu, ia bahkan membuang jasnya begitu saja di lantai.
Tangis Laura semakin kencang. Membuat Edward bingung. Pria itu meminta penjelasan kepada asisten rumahnya, yang berada tak jauh dari mereka.
“Nyonya mengkhawatirkan tuan, nyonya menghubungi tuan, bahkan tuan Johan, dan nyonya Monica, tetapi tak ada satupun dari kalian yang menjawab. Saya juga sudah menghubungi rumah depan. Tetapi tuan Johan dan nyonya Monica belum kembali.”
Bu desa menjelaskan panjang lebar. Membuat Edward menghela nafasnya pelan. Ia kemudian menuntun sang istri kembali duduk di atas sofa.
“Tolong ambilkan air minum.” Perintahnya kepada Bu desa, dab wanita itu pun undur diri. Tak lama kemudian ia kembali datang membawa segelas air putih. Ia pun meninggalkan para majikannya disana.
“Minumlah.” Dengan telaten Edward menyuapi air kedalam mulut sang istri.
“Baby, sayang. Maafkan aku. Tidak bermaksud membuat kamu cemas.” Ucap Edward yang kembali menangkup pipi sang istri, ia pun mengusap pipi basah wanita itu.
“Aku takut. Apalagi, ayah, papa, dan kak David meninggal karena kecelakaan. Aku—.”
Edward menutup bibir sang istri dengan jari telunjuknya.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu harus selalu mendoakan aku, supaya selamat dimana pun berada.” Laura menganggukkan kepalanya.
“Tadi ada sedikit masalah, Monica tiba-tiba jatuh pingsan. Jadi Johan membawanya ke rumah sakit, dan aku menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, maaf tidak sempat mengabarimu.”
Mendengar ucapan sang suami, Laura sontak menatap pria itu.
“Mbak Monica pingsan? Kenapa?”
“Aku juga belum tau, Johan belum ada mengabari.”
.
.
.
T. B. C
__ADS_1