TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 126. Gadis SMA


__ADS_3

Waktu terus berjalan, siang berganti malam, dan malam pun berganti pagi. Tak terasa, kini dua bulan sudah usia pernikahan Edward dan Laura.


Banyak hal yang telah mereka lewati bersama. Laura selalu ikut kemana pun suaminya melakukan kunjungan kerja, karena pria itu tidak bisa tidur sendirian.


Entah sudah berapa kali wanita itu mengambil cuti kuliah. Hingga tak terasa ia akan lulus dalam beberapa bulan lagi. Laura pun semakin sibuk dengan tugas kuliahnya yaitu menyusun skripsi.


“Semenjak menjadi nyonya, dia sibuk sekali ya mbak. Jarang sekali bisa kumpul bersama kita.” Melani berujar kepada Yulia, kini mereka tengah makan siang bersama di restoran milik Yulia.


“Iya, Mel. Nyonya muda kita selalu sibuk.” Tambah Yulia.


Namun Laura hanya cuek, ia sibuk melahap makan siangnya. Karena perutnya sudah sangat lapar.


Akhir-akhir ini, nafsu makan Laura bertambah sehingga berat badannya juga ikut bertambah.


Setelah semua isi piringnya habis berpindah ke dalam perut, istri dari Edward itu pun ikut masuk dalam obrolan para sahabatnya.


“Sebulan lalu itu aku sibuk mempersiapkan acara pernikahannya kak Johan.” Ucapnya sambil menyeruput es teh tawar yang ia pesan.


“Wah, asisten tampan itu menikah, La?” Tanya Melani.


Laura mengangguk. Ia juga menceritakan tentang adiknya Leo.


“Jadi Leo tidak mau bertemu kedua orang tuanya, La?” Tanya Melani.


“Iya, Mel.”


“Kalau menurut, mbak. Lebih baik kamu bicara pelan-pelan deh, La sama Leo. Bagaimana pun juga, mereka yang telah membuat Leo ada di dunia ini. Seburuk-buruknya Pak Damian dan Ibu Teresha, mereka tetap orang tua Leo.”


Laura mengangguk setuju.


“Iya, mbak. Akhir pekan nanti aku akan pulang ke panti. Semoga dia mau melunakan hatinya.”


“Iya, La. Aku setuju dengan apa yang di katakan mbak Yulia.”


Mereka pun kembali berbincang. Hingga bunyi dering ponsel menginterupsi obrolan mereka.


“Ssttt..” Laura menaikan telunjuk di depan bibir. Tanda meminta teman-temannya untuk diam.


Melani dan Yulia menurut. Mereka pun mengatupkan bibirnya.


“Ya, pi?” Ucap Laura setelah ponsel menempel di telinganya.


“Kamu dimana, baby?”


“Aku di restoran mbak Yulia.”


“Sudah selesai?”

__ADS_1


Laura mengangguk, meski Edward tak melihatnya.


“Sudah. Ada apa, pi?”


Melani dan Yulia saling tatap. Mereka merasa geli mendengar Laura mengucapkan kata “pi”


“Temui aku di hotel Hugo. Dengan menggunakan seregam SMA. Katakan pada resepsionis, kamu mencari aku.”


Pipi Laura memanas mendengar perintah sang suami. Dia sudah tau apa maksud dan tujuan pria dewasa itu menyuruhnya menggunakan seragam SMA.


“I-iya, pi. Aku akan membelinya dulu.”


“Jangan lama-lama. Aku merindukanmu.”


Sudah hampir seminggu ini, mereka tidak melakukan kegiatan berbagi peluh bersama karena Edward di sibukkan dengan pekerjaannya, dan Laura di sibukkan dengan tugas kuliahnya.


Edward selalu pulang, setelah istrinya terlelap. Bahkan ia pernah harus ke kantor, sebelum istrinya terbangun. Edward merasa kasihan jika harus menganggu wanita muda itu.


“Hmm.. see you, pi.”


Panggilan pun berakhir, melihat Laura yang telah selesai menelpon, Melani dan Yulia pun tidak bisa lagi menahan tawanya.


“La. Kamu manggil suamimu papi?” Tanya Melani tak percaya.


“Memangnya kenapa? Dia 14 tahun lebih tua. Wajar kan, jika aku panggil papi. Daripada aku panggil, Om?”


Melani dan Yulia pun kembali tergelak.


Dan hal itu membuat Laura berpikir. Dan memang benar, Edward sudah seperti sugar daddy, untuk dirinya.


******


Turun dari dalam mobil, Laura menyuruh sang sopir untuk kembali pulang, karena ia akan pulang dengan Edward nantinya.


Dengan perasaan yang tidak karuan karena merasa aneh dengan tampilan gadis SMA nya, wanita itu melangkah memasuki lobby hotel milik sang suami.


Saat membeli pakaian putih abu-abu tadi, Edward kembali menghubunginya, meminta agar Laura tidak mengenakan jaket atau blazer, untuk menutupi pakaian yang ia gunakan. Laura hanya boleh menggunakan seragam SMA saja.


Entah fantasi apa yang dimiliki pria 35 tahun itu. Sehingga ia begitu mengatur tampilan istrinya.


“Selamat siang, selamat datang di HUGO’S HOTEL. Ada yang bisa kami bantu?”


Dua orang wanita yang bertugas di meja resepsionis menyambut kedatangan Laura dengan ramah. Karena sudah menjadi SOP dalam bekerja, dalam keadaan apapun, mereka harus tetap ramah kepada para tamu.


“A-aku, aku ingin bertemu tuan Hugo.” Ucap Laura dengan gugup.


“Maaf boleh tau siapa nama anda, nona?”

__ADS_1


“Aku Laura Anastasia.”


Kedua wanita itu saling menatap. Kemudian kembali tersenyum pada Laura. Salah satu dari mereka memanggil seorang Bell boy, menggunakan HT.


Dan seorang pemuda pun datang mendekat.


“Tolong antarkan nona ini ke kamar Presdir.” Perintah salah satu petugas resepsionis itu. Sebelumnya mereka telah mendapat perintah dari sang pemilik hotel jika akan ada seorang wanita bernama Laura Anastasia yang akan menemui pria itu.


Pemuda itu mengangguk, kemudian mengantar Laura menuju ke kamar dimana Edward berada.


“Aku kira, nona Laura itu seorang wanita pekerja kantoran atau seorang model. Ternyata seorang murid SMA.” Ucap salah satu petugas resepsionis saat melihat Laura telah jauh dari mereka.


“Aku dengar, Presdir sudah menikah, apa jangan-jangan gadis tadi sugar baby, nya Presdir?”


“Apa iya?”


Obrolan kedua wanita muda itu terputus, karena ada tamu yang datang. Dan mereka kembali bekerja.


“Silahkan, nona.” Petugas Bell boy, itu mempersilahkan Laura untuk keluar dari dalam lift.


Berjalan sekitar 50 meter, mereka sampai di depan sebuah kamar bertipe President Suite. Kamar termahal di hotel itu.


Petugas Bell boy, menekan bel pada pintu kamar. Tak berselang lama, pintu itu terbuka. Menampilkan Edward yang hanya menggunakan celana bahan hitam dan kemeja putih tanpa dasi.


Tangan pria itu merogoh saku, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kepada pemuda yang telah mengantarkan istrinya dengan selamat.


Perasaan Laura semakin tak karuan saat ia melangkah memasuki ruang tamu kamar hotel itu.


“Kamu sangat manis dengan tampilan anak sekolahan ini.” Edward berbisik sambil mendekap tubuh Laura dari belakang. Meski terhalang oleh ransel yang sang istri bawa.


Pria itu kemudian melepas tas punggung sang istri. Meletakan di atas meja. Kemudian beralih menatap Laura dari ujung kepala, hingga ujung kaki.


Laura yang di tatap penuh damba seperti itu, hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia merasa seperti seorang murid yang tengah berhadapan dengan kepala sekolah untuk pertama kali.


Edward mendekat, kemudian melepas dua kancing paling atas, seragam yang Laura gunakan. Pria itu kemudian menyeringai.


“Kalau begini, kamu jadi terlihat seperti gadis SMA yang nakal.” Bisiknya di telinga Laura.


Pipi Laura semakin panas. Ia pun tak mampu mengangkat kepalanya. Namun Edward tak membiarkan wanita itu terus menunduk. Ia pun mengangkat dagu Laura menggunakan jari telunjuknya.


Kemudian mengikis jarak diantara mereka. Menyatukan bibir, dan melepas semua kerinduan yang terpendam beberapa hari ini,


“Aku merindukan mu. Sayang.”


.


.

__ADS_1


.


T. B. C


__ADS_2