TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 132. Melindungi Adik.


__ADS_3

Edward mendapati Laura dan Devano sedang tidur dan saling memeluk. Senyum tersungging indah di wajah tampan pria itu, kala mendapati pemandangan yang meneduhkan hatinya.


Tidak ingin menganggu, Edward pun berlalu ke ruang ganti, untuk melakukan ritual malam sebelum tidur.


Baik di penthouse, di rumah baru, maupun di rumah mamanya, sudah tersedia skincare, yang biasanya pria itu gunakan, dari wajah hingga ujung kakinya.


Meski Edward seorang pria sejati, namun ia tetap memperhatikan penampilan dan kesehatan kulitnya.


Ia sering bertemu klien, bahkan dari luar negeri. Pria itu selalu ingin terlihat segar di mata orang lain. Apalagi sekarang ia mempunyai istri yang 14 tahun lebih muda darinya, ia tidak mau jika sampai kulitnya menua, sementara sang istri masih terlihat segar.


Hampir 20 menit, Edward pun keluar dengan menggunakan piyama tidur, yang senada dengan yang di pakai istrinya. Tak lupa, pria itu juga membawa guling, yang akan di letakkan di sisi kanan Devano.


Kembali menatap ke arah ranjang, pria itu tiba-tiba terlonjak. Matanya membulat sempurna kala mendapati kaki kanan Devano berada di atas pinggang istrinya.


“Astaga, Dev. Di perut mami mu ada adikmu.”


Dengan cepat suami dari Laura Anastasia itu meletakan guling di sisi kanan Devano, kemudian dengan hati-hati membalik tubuh bocah itu supaya memeluk bantal panjang itu.


Devano menggeliat, ia memeluk erat guling itu dengan tangan dan kakinya. Namun, matanya masih terpejam.


Edward bisa bernafas lega.


“Maaf Dev, papa tidak bisa membiarkan mu memeluk mami. Kamu bisa saja menendang perut mamimu, itu bisa berbahaya untuk adikmu.”


Pria itu perlahan menaiki ranjang. Ia pun merebahkan diri di tengah ranjang, diantara Laura dan Devano.


“Good night, boy.” Sebuah kecupan Edward berikan di atas kepala Devano, pria itu kemudian membelakangi sang putra, dan memeluk tubuh istrinya.


“Good night, mami.”


Menjelang subuh, Laura merasa ingin buang air kecil. Dengan susah payah, wanita itu membuka matanya.


‘Tunggu, bukannya semalam aku memeluk Devano? Kenapa tubuh Devano berubah besar?’


Laura meraba-raba tubuh seseorang yang ia peluk itu. Ia merasa, seperti mengenal lekuk tubuh itu.


“Jangan memancingku, mami. Kita sedang tidur bertiga.” Suara serak Edward terdengar, membuat mata Laura terbuka sempurna.


“Pi? Kenapa tidur di tengah?” Tubuh Laura setengah bangkit, ia kemudian menyalakan lampu utama.


“Tadi malam, kaki Devano ada di atas pinggangmu. Lihatlah seperti itu.” Edward menujuk ke arah Devano yang tidur membelit guling dengan tangan dan kakinya.


Laura ikut melihat sang putra.


“Itu berbahaya untuk perutmu. Ada anakku di dalam sana, jadi wajar kan, jika aku melindungi kalian?”

__ADS_1


Laura menganga mendengar ucapan sang suami. Ia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Mau kemana?” Tanya Edward melihat kaki sang istri yang mulai menapaki lantai granit berlapis karpet.


“Mau buang air.” Jawab Laura berlalu begitu saja.


Di pagi hari. Felisha mendapati wajah putranya yang tertekuk, kusut.


“Dev, ada apa? Kenapa wajah mu kusut begitu?” Tanyanya penasaran.


“Aku sedang marah sama papa. Dia menghalangi ku memeluk mami saat tidur. Papa tidur di tengah-tengah.”


Felisha menganga mendengar ucapan sang putra. Edward benar-benar keterlaluan. Apa mungkin pria dewasa itu cemburu dengan anak kecil? Yang benar saja.


“Boy, jangan marah. Setelah sarapan, papa dan mami akan mengajak mu jalan-jalan dan bermain di pusat perbelanjaan.” Suara Edward menginterupsi pasangan ibu dan anak itu. Membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.


Edward turun sembari mengandeng tangan istrinya.


“Kamu keterlaluan, Ed. Apa kamu cemburu melihat Devano memeluk Laura?” Tanya Felisha dengan tatapan memicing.


“Tentu tidak, tetapi Fel, aku hanya melindungi perut Laura dari tendangan kaki Devano. Tadinya aku membiarkan mereka berdua saling memeluk, tetapi setelah aku kembali dari ruang ganti, aku melihat kaki Devano berada di atas pinggang maminya. Karena itu aku tidur diantara mereka.” Edward menjelaskan panjang lebar.


Felisha pun menoleh ke arah sang putra.


Devano pun mengangguk paham.


“Maafkan aku, papa. Maafkan aku, mami.” Devano pun memeluk pinggang Edward dan Laura bergantian.


“Iya, sayang. Setelah ini, kita jalan-jalan ya.” Ucap Laura.


“Iya, mami.”


******


Sudah hampir sebulan berlalu, tidak tahan lagi menahan rindu. Damian memutuskan untuk menemui Leo.


Pria dewasa itu sudah siap akan resiko yang ia dapatkan. Karena akan melanggar janji kepada sang putra. Mungkin remaja itu akan semakin marah padanya, dan tak ingin lagi bertemu. Namun ia tidak perduli.


Rindu yang menumpuk di hati Damian sudah tidak bisa di tahan lagi. Ia ingin bertemu sang buah hati, darah dagingnya.


Memarkirkan mobilnya di halaman panti dengan rapi, Damian terpaku tatkala mendapati Teresha sudah lebih dulu berada disana.


Wanita yang dulu sangat di cintainya, sehingga membuatnya gelap mata dan melakukan tindakan kotor untuk membuat wanita itu menjadi miliknya.


Namun, meski raga Teresha menjadi miliknya, hati dan cinta wanita itu bukan untuknya. Hanya ada nama Edward di dalam hati Teresha.

__ADS_1


“Selamat pagi, pak, Bu.” Bagas datang menghampiri para tamu yang datang pagi ini.


“Selamat pagi.” Jawab Damian dan Teresha serempak.


“Apa kalian ingin bertemu dengan Leo?”


Alis Damian berkerut mendengar pertanyaan penjaga panti itu.


“Leo memberi pesan padaku, jika kalian datang, dia ingin berbicara dengan kalian. Sekarang dia sedang berada di perpustakaan. Kalian bisa menemuinya disana.”


Hati Damian bergemuruh mendengar Leo ingin berbicara dengannya juga Teresha. Begitu pula Teresha, dalam hati bertanya-tanya, apa yang akan di katakan sang putra padanya.


“Kami akan menemui ibu Maria terlebih dulu.” Ucap Damian.


“Ibu Maria sedang ada kegiatan di luar panti. Jadi kalian bisa langsung bertemu dengan Leo.” Jelas Bagas.


Damian dan Teresha mengangguk. Mereka lantas berjalan menuju ruang perpustakaan untuk menemui putra mereka.


“Dam, aku gugup sekali.” Ucap Teresha memecah kesunyian diantara mereka.


“Aku takut, Leo akan meminta kita untuk tidak menemuinya lagi.” Ucapnya lagi.


Damian mencebik. “Kenapa baru sekarang? Bukannya dari dulu kamu yang sudah meninggalkannya?”


“A-aku…” Teresha tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia memang bersalah disini. Karena keegoisannya, ia tega membuang anaknya sendiri.


“Maafkan aku, Dam.” Ucapnya lirih.


“Jangan meminta maaf padaku. Minta maaf lah pada putramu sendiri. Jika dia memaafkan mu, maka aku juga akan memaafkan mu.”


“Apa Leo akan memaafkan aku?”


“Cobalah. Kamu belum mencobanya. Bagaimana bisa tau.”


Langkah mereka pun tiba di depan pintu perpustakaan. Saat Damian hendak mengetuk, daun pintu perpustakaan itu terbuka dari dalam.


“Kalian sudah datang?”


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2