TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 91. Tidak Hamil?


__ADS_3

Setelah kunjungan ke pemakaman itu, kini Felisha tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi jika hendak ke kamar yang dulu ia tempati bersama sang suami.


Ia juga mengajak Devano ke dalam kamar yang di penuhi dengan foto-foto dirinya dan David.


Mata Devano melebar melihat isi di dalam kamar itu. Kamar yang setiap hari ia lihat selalu tertutup. Ternyata menyimpan banyak kenangan sang ayah.


“Apa itu saat mama dan ayah menikah?” Devano menunjuk bingkai paling besar, yang menempel di dinding. Memperlihatkan Felisha dan David sedang berjalan saling menggenggam tangan, dan membawa buket bunga. Di sekitar mereka juga terlihat hiasan penuh bunga mawar.


“Iya, Dev.” Felisha menjawab dengan penuh senyuman. Dan Devano mengangguk.


“Apa itu saat mama dan ayah bersekolah?” Devano mendekat pada bingkai berukuran sedang yang memperlihatkan ayah dan mamanya menggunakan seragam putih abu-abu.


“Ayah dan mama berteman?” Bocah itu kembali bertanya.


“Iya..” Felisha mendekat ke arah sang putra. Wanita itu mengusap kepala putranya dengan lembut.


“Papa dan mama, berteman dengan ayah. Kami tidak punya teman dekat selain ayahmu. Kamu tau, ayah mu sangat baik. Dia sangat mirib dengan mu, Dev.”


Pandangan Felisha menerawang jauh. Ia teringat kembali akan masa remajanya.


“Kapan ayah meninggal, ma?”


Deg..


Felisha tersentak. Haruskah ia memberitahu putranya sekarang?


“Dev.. apa Dev akan marah, jika tau kapan ayah pergi?”


Kepala bocah itu menggeleng.


Felisha menghela nafasnya pelan. Kemudian ia mengajak sang putra duduk di atas ranjang.


“Ayah pergi saat Dev masih di kandungan mama.”


“Apa ayah meninggal karena kecelakaan?” Bocah itu bertanya membuat sang mama menoleh padanya.


“Bagaimana bisa Devan bertanya begitu?”


“Ma, bukankah aku pernah mimpi buruk. Aku bermimpi papa dan temannya di dalam mobil itu.” Jelas Devano.


Felisha tidak menyangka jika sang putra memiliki ingatan yang begitu kuat. Bahkan mimpi sekalipun anak itu masih mengingatnya.


“Iya, Dev. Saat itu. Papa Ed dan ayah sedang bersama. Mereka kecelakaan. Papa Ed selamat. Tetapi ayah tidak.” Felisha menjeda ucapannya sebentar. Ini belum saatnya Devano tau lebih banyak. Dia masih kecil. Jangan sampai pikirannya terbebani.


“Nanti saat Devano besar, mama akan menceritakan semuanya. Tidak sekarang.“


Wanita berusia 35 tahun itu merengkuh tubuh sang putra. Dan mendekapnya hangat.


“Percaya sama mama, kalau papa Ed sangat menyayangi Devan. Ayah David juga sangat menyayangi kamu. Kamu harus tumbuh menjadi anak yang kuat, pintar dan penyayang, seperti mereka berdua.”


Devano membalas pelukan sang mama.


“Apa ayah juga pintar seperti aku, ma?”


“Iya, sayang. Ayah mu sangat pintar. Dia pandai berenang seperti dirimu. Dia bisa berkuda, pandai ilmu bela diri. Dia juga sering juara kelas.”


Mata Devano berbinar mendengar semua itu. Ayah yang belum pernah ia temui, ternyata memiliki banyak persamaan dengan dirinya.


“Apa aku mirib dengan ayah, ma?” Tanyanya penasaran.

__ADS_1


“Tentu. Kalian sangat mirib. Karena itu, mama tidak bisa jauh dari kamu.” Felisha mengecup pipi sang putra.


“Tetapi nenek selalu bilang aku mirib papa.” Ucap bocah itu dengan bibir yang mengerucut. Dulu ia sangat senang jika sang nenek mengatakan dirinya mirib sang papa. Tetapi sekarang ia justru lebih senang jika ia mirib sang ayah.


“Papa yang nenek kamu bilang itu, adalah ayah David. Karena waktu itu kamu belum tau tentang ayah. Jadi nenek bilangnya papa.”


“Benarkah, ma?”


“Iya, sayang.”


Mereka pun kembali melihat-lihat foto yang terpajang di kamar itu. Bahkan malam ini, Devano ingin tidur di atas ranjang orang tuanya.


*****


Sementara itu, pasangan pengantin baru kini tengah berbagi peluh bersama. Menumpahkan segala kerinduan yang telah lama terpendam.


Setelah semua masalah teratasi, dan kegelisahan hati tak lagi menghantui. Edward tidak bisa lagi membendung keinginannya untuk menjalankan malam pertama mereka sebagai suami istri.


Tanpa rasa malu, Edward memboyong istrinya ke dalam kamar, di saat wanita itu tengah asyik bercengkerama dengan sang mama mertua.


Nyonya Hugo pun mencebikan bibirnya melihat kelakuan sang putra. Seperti tidak bisa nanti saja. Bahkan waktu baru menunjukkan pukul 8 malam.


“Kamu selalu memabukkan, Laura sshhh..”


Pria itu terus merancau di belakang punggung Laura yang sedang tengkurap diatas peraduan. Mengucapkan kata-kata cinta, agar sang istri dapat merasakan betapa ia mencintai wanita itu.


“Ohh, Ara.. tidak hhh Lauraa.. sayangg.. mmm”


“Pa—mm pi.. pe—lan, pelan.” Tubuh Laura pun bergetar hebat.


“Aku mencintai mu.” Edward mengecup punggung istrinya.


Edward menarik diri, ia ingin merubah posisi. Namun keningnya berkerut, saat mendapati bercak darah pada benda keras tak bertulangnya.


“Baby, apa sakit? Apa aku terlalu kasar?” Pria itu mendadak panik. Ia teringat pertanyaan sang adik sebelum hari pernikahannya.


Bagaimana jika benar Laura hamil? Dan sekarang, ada darah. Apa wanita itu keguguran?


Dengan sigap Edward membalik tubuh sang istri, membuatnya tidur terlentang. Tanpa rasa ji*jik pria itu memeriksa bagian yang selalu membuat dia terlena.


“Baby, kamu berdarah lagi. Ini sama seperti saat pertama kita melakukannya, baby.”


Laura yang sejatinya tengah malas, terpaksa bangkit dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


“Papi kenapa? Aku tidak apa-apa. Bukannya papi bermain seperti biasa?”


“Tetapi ini darahmu banyak baby.” Edward memperlihatkan miliknya.


Deg..


Laura tersentak. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas. Melihat tanggal yang tertera di layar ponsel. Ia meletakkan kembali benda itu.


Seketika istri Edward itu, berlari ke dalam kamar mandi.


“Baby, ada apa?”


Pria dewasa itu menyusul sang istri yang kini tengah duduk di atas tempat pembuangan air.


“Aku datang bulan, papi.” Ucap wanita itu dengan santai.

__ADS_1


“Datang bulan?” Edward mengerenyitkan alisnya.


‘Datang bulan? Bukannya Felisha mengatakan jika dia—.’


“Baby, kamu tidak hamil?” Pria itu bertanya dengan penasaran.


“Hamil? Tidak papi. Aku masih minum obat itu. Bagaimana bisa hamil?”


Seketika tubuh kekar yang masih polos itu luruh di atas lantai kamar mandi mewah itu.


“Papi, ada apa?” Laura membasuh dirinya. Kemudian mendekat ke arah sang suami. Ia memegang kedua bahu pria itu, dan membuatnya berdiri.


“Ada apa?” Wanita kembali bertanya.


Edward meraih tubuh istrinya, ia membutuhkan tempat bersandar dari rasa keterkejutannya.


“Aku kira kamu hamil, baby. Akhir-akhir ini, makan mu banyak. Aku kira— Edward tidak mampu melanjutkan ucapannya lagi.


“Papi, aku masih rutin minum obat itu sebelumnya. Jadi—


“Tidak bisakah kamu berhenti meminumnya? Aku ingin kita segera punya anak, baby.” Edward memotong ucapan sang istri.


“Apa begitu ingin punya anak denganku?”


“Tentu saja. Bahkan sebelum kita melakukannya dulu, aku ingin hanya kamu yang menjadi ibu dari anak-anakku.”


Edward menenggelamkan wajahnya pada cerukan leher sang istri.


“Baiklah. Setelah datang bulan ini berakhir, aku tidak akan minum obat itu lagi.” Laura mengusap kepala sang suami dengan lembut.


“Benarkah kamu bersedia? Bukannya kamu ingin lulus kuliah dulu?” Edward ingin memastikan, ia tidak mau di beri harapan palsu.


“Itu cuma alasan. Aku hanya ingin meyakinkan diriku, apa aku sudah mencintai mu? Aku tidak ingin anak kita hadir tanpa adanya cinta dari kedua orang tuanya. Bukankah orang-orang mengatakan, jika anak adalah hasil dari buah cinta ayah dan ibunya? Maka, aku juga ingin begitu. Anak kita ada, karena kita saling mencintai, bukan karena terpaksa.”


Ucapan panjang lebar Laura membuat sang suami semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku mencintaimu, Laura.”


“Aku lebih mencintaimu, Ed.”


.


.


.


T. B. C


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Terimakasih banyak ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2