TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 117. Felisha Dan Teresha.


__ADS_3

Sesuai yang di ucapkan kemarin, hari ini Damian meminta ijin kepada ibu Maria untuk membawa Leo ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.


Ibu Maria merasa tidak punya hak untuk tidak mengijinkan, karena Leo sendiri yang menginginkan melakukan tes genetik itu.


Tepat pukul 9 pagi, mobil Damian sudah terparkir rapi di halaman panti asuhan. Dirinya sudah tidak sabar. Andai bisa, ia ingin hasil tes keluar hari ini juga.


Menunggu hampir 20 menit, akhirnya Leo datang menghampiri Damian yang tengah berbincang dengan ibu Maria.


“Bu, aku pamit dulu, ikut pak Damian.” Leo meraih tangan wanita yang kini menggantikan posisi sang ibu di panti itu.


“Hati-hati, ya. Ibu doa kan semuanya berjalan lancar.”


Tanpa di komando, Damian dan Leo kompak mengucapkan kata “Amiin.” Hal itu membuat kedua pria berbeda usia itu saling menoleh sejenak.


“Kami permisi dulu, Bu.” Damian juga berpamitan kepada ibu Maria.


Damian dan Leo, berjalan beriringan di halaman panti menuju mobil sedan hitam yang di bawa oleh Damian.


Pria itu membukakan pintu untuk Leo, di kursi depan sebelah kiri kemudi, dan remaja itu hanya menurut. Sementara, Damian duduk di sebelah kanannya, memegang kemudi.


Hal itu tak luput dari pantauan Bagas, ia sudah memberi laporan pada sang Atasan. Namun Edward tak kunjung memberi tanggapan.


Pak Toto membuka pintu gerbang agar kereta besi itu bisa keluar dengan leluasa. Damian membunyikan klakson dua kali sebagai tanda terima kasih.


Tidak jauh di depan panti, Teresha mematung. Melihat kejadian di halaman panti. Ia mengenal betul siapa pria yang membawa mobil sedan hitam itu.


Pria yang sangat ia benci, karena pria itu Teresha kehilangan Edward. Ya, Teresha sangat membenci Damian. Pria yang telah merusak masa depannya, meski pria itu mau bertanggung jawab, kebencian tetap mendarah daging di dalam diri wanita berusia 35 tahun itu.


Selain melihat Damian, hal lain yang membuat Teresha tersentak adalah remaja laki-laki yang sedang bersama Damian. Pemuda tanggung itu terlihat sangat mirib dengan mantan suaminya itu. Membuat Teresha bertanya-tanya, mungkinkah itu putra mereka?


Selama ini, Teresha memang menjadi donatur panti asuhan itu, namun ia tak pernah sekalipun masuk ke dalam tempat itu. Mencari tau tentang anaknya pun tidak.


“Apa itu kamu, nak?” Gumamnya lirih.


Namun sesaat kemudian ia tersadar. Jika itu benar putranya dan Damian, berarti Damian sudah tau tentang anak mereka?


“Tidak-tidak, ini tidak boleh di biarkan. Ini sudah waktunya aku masuk ke dalam tempat ini.”


Teresha pun menarik nafasnya dalam, kemudian ia memantapkan diri melangkah memasuki panti asuhan.


“Maaf ada yang bisa saya bantu, nyonya?” Bagas menghadang dengan sopan langkah wanita dewasa itu. Ia juga sudah menghafal wajah Teresha. Jadi dia cukup waspada dengan kedatangan wanita itu.


Sebelum bertugas di panti. Johan telah membekali Bagas dengan dua foto wajah orang-orang yang perlu ia waspadai kedatangannya. Dan Bagas pun telah menghafal kedua wajah itu.


“Aku mau bertemu pengurus panti, selama ini aku menjadi donatur. Namun aku tinggal di luar. Baru kali ini ada kesempatan mengunjungi tempat ini.” Teresha menjelaskan panjang lebar.


Bagas mengangguk. Ia pun mengantar tamunya menuju ruangan dimana biasa tamu di terima.


Sepanjang perjalanan, Teresha mengamati sekitarnya. Halaman yang luas, dan teduh. Sangat cocok untuk anak-anak.


“Silahkan, nyonya.” Bagas membukakan pintu, disana sudah ada ibu Maria.


“Bu, nyonya ini katanya salah satu donatur panti.” Ucapnya saat ibu Maria menoleh ke arahnya.


Dengan dahi yang berkerut, ibu Maria mendekat ke arah sang tamu. Dan mempersilahkan duduk. Bagas permisi mengambilkan minum untuk tamu mereka.


“Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Ibu Maria merasa asing dengan wajah wanita yang mengaku sebagai donatur pantinya. Selama ini, ia hafal betul wajah orang-orang yang menjadi penyokong biaya hidup untuk anak-anaknya.


“Sebelumnya, perkenalkan, namaku Teresha Hadi. Selama ini aku tinggal di luar, jadi aku menjadi donatur dengan mentransfer uang setiap bulannya ke rekening panti ini.” Teresha menjelaskan, ia juga memeperlihatkan bukti-bukti transfer dari rekeningnya ke rekening panti.

__ADS_1


Ibu Maria merasa terharu. Ia pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Teresha.


Teresha mengamati ruangan itu. Indra penglihatannya tertuju pada bingkai-bingkai yang terpajang indah di setiap sudut, dan dinding ruangan.


“Apa itu pemilik panti dan putrinya, Bu?” Teresha menujuk foto Laura dan sang ibu.


“Ah iya. Itu Laura dan Angelina.”


“Lalu pemuda itu?” Teresha menunjuk foto Laura bersama seorang pemuda.


“Kalau itu, Laura dan adiknya Leo. Dia baru berusia 16 tahun.”


Deg.. seketika Teresha teringat ucapan Laura tempo hari di toilet kafe. Ia pun mendekat ke arah bingkai itu, kemudian meraih dan mengamati wajah pemuda itu.


‘Dia yang pergi bersama Damian tadi. Jadi dia benar putraku?’


Tak berselang lama, Bagas kembali dengan membawa dua cangkir teh. Sebenarnya Bagas sudah sedari tadi berdiri di depan ruangan itu. Ia menguntit sejenak, untuk di jadikan bahan laporan kepada sang atasan.


****


“Dev, jangan marah. Mama yang akan mengantar mu ke panti hari ini.” Felisha berusaha membujuk Devano yang sedang merajuk.


Bocah 8 tahun itu baru saja selesai melakukan panggilan video dengan papa dan maminya.


Kedua orang dewasa yang berjanji menemuinya di akhir pekan, hari ini tidak bisa datang lagi. Katanya mereka akan menemani Johan mengurus persiapan pernikahan. Selain itu, pasangan yang masih bisa di bilang pengantin baru itu, belum beranjak dari tempat tidur mereka.


“Papa dan mami pemalas sekali. Ini sudah jam 9, tetapi mereka baru bangun tidur.” Gerutu Devano. Ia memukul-mukul pinggiran sofa.


Felisha yang mendengar ucapan sang putra hanya bisa menggaruk dahinya yang sama sekali tidak gatal. Ia bingung harus menjawab apa. Saudara kembarnya memang sudah keterlaluan. Melakukan panggilan video dengan masih bergelung di bawah selimut.


“Sudah. Jangan pikirkan papamu yang pemalas itu, ayo kita bersiap. Mama yang akan menemani mu ke panti.”


Kini, Felisha telah kembali menempati kamar yang dulu ia tempati bersama mendiang suaminya. Tak ada lagi perasaan takut di hati wanita itu, karena Devano menemaninya.


Hampir setengah jam bersiap, pasangan ibu dan anak itu kembali menuruni anak tangga. Di lantai satu rumah mewah itu, pengasuh Devano telah menunggu dengan sebuah tas kain besar.


“Itu apa mbak?” Tanya Felisha kepada pengasuh putranya, meski umur mereka tidak terpaut jauh, namun Felisha membiasakan diri memanggil “mbak” agar Devano juga mengikutinya.


“Ini mainan Devan yang tidak di gunakan lagi, nyonya. Kemarin Devan suruh kemas untuk di bawa ke panti.”


Felisha terharu mendengar ucapan pengasuh itu. Ia tak menyangka jika sang putra memiliki jiwa sosial.


“Ya sudah, ayo kita ke panti bersama.” Mereka pun berjalan menuju pintu utama.


“Mbak, nanti kalau mama pulang, katakan aku dan Devano pergi ke panti ya.” Felisha berpesan kepada asisten rumah yang sedang membersihkan ruangan depan.


“Baik, nyonya.”


Seperti biasa, seorang sopir telah siap menemani perjalanan ibu dan anak itu.


Setelah berkendara selama 20 menit, mobil alphard berwarna putih yang mereka tumpangi, tiba di depan panti.


Pak Toto dengan sigap membuka pintu gerbang. Dan mobil itu pun memasuki halaman panti.


Ketiga penumpang telah berdiri di halaman panti, dengan satu orang di antara mereka membawa tas kain berisi banyak mainan.


Bagas mendekat, meski ia di tugaskan untuk mengawasi Damian dan Teresha, ia juga harus terlihat profesional dengan menanyai setiap tamu yang datang.


“Gas, beliau adalah keluarga pak Edward.” Sebelum pria bertubuh tegap itu bertanya, pak Toto terlebih dulu menjelaskan.

__ADS_1


Bagas mengangguk. Ia pun mempersilahkan tamunya lewat.


“Dia siapa, pak?” Tanya Felisha saat berjalan menuju raung tamu.


“Petugas keamanan, Bu. Pak Edward yang mempekerjakan, katanya akhir-akhir ini sering terjadi kejahatan, pak Edward takut terjadi sesuatu disini.”


Felisha hanya mengangguk, ia tak merasa curiga apapun, karena memang kebiasaan saudara kembarnya memberi perlindungan kepada orang-orang terdekatnya.


Sampai di depan ruang tamu, langkah Felisha terpaku. Pandangannya beradu dengan orang yang baru saja keluar dari dalam ruang tamu bersama ibu Maria.


“Mama, ayo. Aku mau bertemu teman-teman.” Devano menarik-narik blazer yang di kenakan oleh sang mama.


“Mbak, tolong bawa Devan bertemu teman-temannya.”


Sang pengasuh pun menurut. Ia menuntun anak majikannya ke tempat dimana anak-anak bermain.


“Felisha?”


“Teresha?”


Ucap kedua wanita itu bersamaan. Dan mereka pun saling mendekat.


“Kalian saling mengenal?” Ibu Maria menatap bergantian kedua wanita yang lebih muda darinya itu.


“I-iya, Bu. Kami dulu teman semasa sekolah.” Jawab Felisha sedikit terbata. Ia tau betul siapa wanita di depannya. Orang yang dulu sering mengirim hadiah untuk sang kakak, bahkan tak jarang Teresha menitipkan kepada dirinya.


“Apa kabar, Fel?”


“Aku baik. Kamu apa kabar Te?”


“Aku juga baik. Tidak menyangka bisa bertemu kamu disini. Apa kamu juga donatur panti ini?”


Felisha terdiam. Hanya kepalanya yang sedikit menggeleng.


“Dia adalah saudari ipar dari anak pemilik panti. Ibunya adalah donatur tetap panti.” Ibu Maria menjawab.


Teresha berpura-pura terkejut. Meski ia sudah tau, jika Edward menikah dengan anak pemilik panti.


“Wah, ini suatu kebetulan sekali ya. Jadi Edward sudah menikah?”


“Ya.”


“Aku kira dia tidak akan menikah.”


“Kenapa tidak? Selama ini Edward hanya belum menemukan pasangan yang tepat, dan Laura adalah tipe wanita yang selama ini dia cari.”


Felisha menghela nafasnya pelan.


“Setiap manusia sudah di takdirkan memiliki jodohnya masing-masing. Jika memang tidak berjodoh, sekuat apapun kita mengejarnya, pasti tidak akan kita dapatkan.”


Ucapan Felisha seolah menyindir Teresha. Membuat wanita itu menjadi geram.


.


.


.


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2