
“Tunggu.” Nyonya Samantha mengangkat satu tangan.
“Bisa kamu jelaskan semua ini, Ed?” Nyonya Samantha tersentak, ia tidak percaya jika Laura adalah gadis yang di cintai putranya.
“Kita bicarakan ini di rumahku, ma.” Edward menarik tangan Laura. Keluar dari restoran itu.
“Ed, aku membawa mobil.” Ucap gadis itu pelan. Ia masih terkejut dengan apa yang terjadi.
“Ya sudah, bawa mobilmu pulang. Kita bicarakan ini dirumah.” Pria itu mengecup kening Laura sebelum mereka berpisah.
Dari kejauhan nyonya Samantha menyaksikan semua itu.
“Edward Hugo, beraninya kamu merusak gadis baik itu.” Amarah tiba-tiba menyelimuti hati wanita paruh baya itu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah putranya lakukan pada Laura.
“Pak, kita ke penthouse Edward.” Perintahnya kepada sang sopir pribadi.
“Baik, nyonya.”
Ketiga mobil itu pun beriringan keluar dari halaman restoran mewah itu.
Memakan waktu hampir 30 menit, ketiga mobil itu kini secara bersamaan tiba di basemen gedung bertingkat 20 itu.
Edward turun lebih dulu. Ia membukakan pintu mobil sang mama, dan menuntunnya keluar dari mobil.
Dengan perasaan ragu dan was-was, Laura mengikuti pasangan ibu dan anak itu memasuki lift, menunju unit yang di tempati Edward.
“Kalian harus menjelaskan semuanya padaku.” Nada suara nyonya Samantha terdengar dingin. Ia merasa kecewa kepada keduanya.
Ia kecewa kepada sang putra yang telah merusak seorang gadis baik-baik. Nyonya Samantha juga kecewa dengan Laura, bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya menyerahkan diri kepada Edward.
Mereka tiba di depan pintu masuk kediaman Edward. Pria itu menempelkan kartu akses didepan pintu, yang membuat pintu itu bisa di buka.
“Silahkan masuk, ma.”
Edward menuntun sang mama menunju ruang tamu. Ia juga mengajak Laura ikut bersamanya.
Nyonya Samantha kini duduk di sofa yang di peruntukan untuk satu orang, sementara Edward dan Laura duduk di sofa panjang, di sampingnya.
“Ada yang ingin kamu jelaskan pada mama, Ed?” Ucap sang mama memulai pembicaraan.
“Dia kekasih ku, ma.” Kalimat itu yang pertama Edward ucapkan.
“Dia adalah gadis yang tinggal bersamaku selama ini.” Lanjut pria itu lagi.
Nyonya Samantha berdiri, ia mendekat ke arah sang putra. Kemudian wanita paruh baya itu menampar pipi putranya dengan keras.
“Nyonya.?” Laura tersentak di samping pria itu. Tangan gadis itu terulur untuk melindungi wajah Edward.
Deg..
Edward terkejut. Ini untuk pertama kalinya sang mama menamparnya. Namun ia hanya diam, tidak berani melawan sang mama.
“Berani sekali kamu merusak gadis sebaik Laura, hah.” Kedua tangan nyonya Samantha terulur meraih kerah kemeja yang di gunakan Edward.
“Apa aku pernah mengajari mu berbuat be*jat seperti ini, Edward Hugo?”
Edward hanya diam. Ia tau dirinya salah, tetapi ia juga masih belum mengerti situasi yang terjadi. Pertanyaan di benaknya bahkan belum terjawab. Kenapa sang mama bisa bersama Laura.
“Ma.. tenang dulu..” Edward meraih tangan sang mama kemudian menggenggamnya.
Pria itu menuntun sang mama duduk di samping kirinya, sementara Laura berada di samping kanannya.
“Ma, sebelumnya aku ingin bertanya, kenapa mama bisa bersama Laura? Apa yang mama ketahui tentangnya, ma?”
__ADS_1
“Mama mengenal Lala, jauh sebelum kamu mengenalnya.”
Deg..
Hati pria itu tersentak. Bagaimana dunia bisa sesempit ini. Edward menoleh ke arah Laura.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Dimana mama mengenal, Laura?” Tanyanya lagi.
“Dia anak dari pemilik panti asuhan yang sering mama kunjungi setiap bulan.”
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan.
“Dia juga gadis yang rencananya akan mama jodohkan dengan mu, Ed.” Ucapnya lagi. Kini nada suara nyonya Samantha kembali melembut.
“Apa..?” Mata Edward seketika berbinar mendengar ucapan sang mama. Ternyata gadis yang ingin di kenalkan kepadanya adalah kekasihnya sendiri.
“Baby, sayang. Kamu dengar itu? Ternyata mama ingin menjodohkan kita.” Tanpa tau malu, Edward mendekap tubuh Laura.
“Tunggu, Ed.” Laura melepaskan diri dari pelukan pria itu. Gadis itu juga masih belum bisa menerima situasi ini.
Semuanya begitu aneh baginya. Wanita paruh baya yang ia ketahui bernama nyonya Samantha kenapa bisa menjadi nyonya Hugo?
“Aku belum mengerti semua ini. Bagaimana bisa nyonya Samantha adalah mama mu? Sementara di internet nama mama mu, nyonya Aurora?”
“Sayang, Samantha itu adalah nama panggilan sayang dari kakek ku untuk mama. Menurut kakek, mama adalah hadiah pemberian dari Tuhan untuk keluarganya. Karena itu kakek memanggil mama dengan sebutan Samantha.” Edward menjelaskan panjang lebar kepada Laura.
“Ma.. lalu kenapa mama mengancamnya dan membawa-bawa keluarganya?” pria itu kembali bertanya.
“Dia menolak lamaran ku. Jadi aku menggunakan cara lain untuk membujuknya.”
Edward mendekap tubuh sang mama dari samping.
Nyonya Samantha atau nyonya Hugo, melepaskan pelukan putranya. Hatinya masih kecewa dengan kelakuan Edward.
“Tetapi sekarang mama berpikir ulang untuk menikahkan kalian.”
Deg..
Edward tersentak mendengar ucapan sang mama. Ia tau bagaimana sifat mamanya. Sifat yang sama persis dengan dirinya.
Saat berkata tidak, berarti tidak. Dan saat berkata iya, berarti harus iya.
“Ma, jangan katakan itu, ma.” Kepala Edward menggeleng. Ia tidak mau di pisahkan dengan Laura.
“Baby, tolong yakinkan mama. Kita berdua saling mencintai dan tidak akan pernah berpisah.”
Pria itu meminta dukungan kepada Laura.
Gadis itu hanya menggeleng kecil. Jujur ia masih bingung dengan semua ini.
“Kamu sudah merusaknya, Ed. Bagaimana bisa kamu melakukan itu kepada gadis kesayangan mama?” Nyonya Hugo berucap sendu.
“Maafkan kelakuan ku, ma. Tetapi aku akan menikahinya. Bahkan aku sudah meminta Johan menyiapkan berkas-berkas untuk kami menikah.”
“Ed.”
Kali ini, Laura memberanikan diri untuk bersuara.
“Sayang, kita akan secepatnya menikah. Apalagi mama sudah setuju dengan hubungan kita. Bahkan sebelum kita saling mengenal.” Edward meraih jemari tangan Laura kemudian mengecupnya.
“Bukan begitu, ma? Mama setuju kan jika kami segera menikah?” Edward kini meminta dukungan dari sang mama.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan. Rasa kecewa di hatinya belum hilang. Tetapi jika dia tidak merestui hubungan mereka, ia akan merasa bersalah kepada mendiang orang tua Laura.
“Katakan padaku, La. Kenapa kamu begitu saja menyerahkan dirimu pada pria ini? Tidakkah kamu memikirkan masa depan mu?”
Sebelum memberi jawaban persetujuan, nyonya Hugo ingin tau alasan kenapa Laura begitu mudahnya menyerahkan diri kepada putranya.
Ia tau, Laura gadis yang baik, pekerja keras dan penyayang keluarganya. Tetapi ia tidak habis pikir dengan apa yang ia dapati saat ini.
“Maafkan aku, nyonya. Aku melakukan ini, karena untuk membayar hutangku pada putramu.” Gadis itu berucap sendu. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Kamu meminjamkan uang padanya, Ed?”
“Tidak, ma. Aku hanya membantunya menebus sertifikat tanah panti asuhannya.”
“Ceritakan dengan jelas awal mula pertemuan kalian. Jangan ada yang kalian tutupi. Jika tidak, aku tidak akan memberikan restu pada kalian.” Nyonya Hugo menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia siap mendengar cerita dari sang anak dan calon menantunya.
Edward menghela nafasnya pelan. Ia kemudian menceritakan bagaimana awal mula pertemuannya dengan Laura.
Tidak ada hal yang pria itu tutupi. Sesekali Laura menimpali ucapan pria itu.
“Aku tidak pernah memaksanya, ma. Dia sendiri yang menyerahkan diri padaku. Aku pria normal, tidak mungkin bisa menolak. Apalagi, aku belum pernah melakukan itu sebelumnya.”
Laura menoleh ke arah pria itu. Ia tidak percaya dengan ucapan Edward yang mengatakan jika pria itu belum pernah melakukan itu sebelumnya.
“Kamu yang pertama dan satu-satunya, Laura.” Ucap Edward saat mendapati dirinya di tatap oleh gadis itu.
“Jadi kamu melakukannya karena merasa berhutang pada putraku? Bukan karena mencintainya?”
Laura menganggukkan kepalanya.
“Saat itu terjadi kami baru mengenal beberapa hari, nyonya. Aku akui rasa itu memang belum ada.” Gadis itu kembali menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku, jika ibumu mempunyai hutang sebanyak itu? Aku bisa saja memberikanmu uang itu.” Nyonya Hugo kembali bertanya.
“Aku saat itu dilanda kebingungan, nyonya. Di benak ku hanya ingin cepat mendapatkan uang, agar panti tidak di ambil orang itu.”
Nyonya Hugo bangkit dari duduknya. Ia menghampiri gadis itu. Tangannya terulur meraih bahu Laura dan membuat gadis itu berdiri.
Sesaat kemudian wanita paruh baya itu mendekap tubuh semampai Laura.
“Kamu memang satu-satunya gadis yang cocok untuk menjadi menantuku, Laura.”
.
.
.
T. B. C
—————
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift.
Terimakasih semuanya ❤️
__ADS_1
I LOVE YOU FULL 🥰🥰