TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 127. Mewujudkan Fantasi 21+++


__ADS_3

“Maafkan kesalahan saya, pak. Saya janji, tidak akan mengulanginya.” Kepala Laura tertunduk. Tangannya bertaut di atas pangkuan. Entah apa kesalahan yang dia perbuat, tetapi Edward menyuruhnya berbicara seperti itu.


Kini mereka tengah bermain peran. Laura sebagai murid SMA dan Edward sebagai kepala sekolah.


Untuk menyempurnakan penampilannya, Edward menggunakan kaca mata baca, yang ia buat seolah melorot pada ujung hidungnya. Dan rambut yang di sisir rapi.


“Saya tidak percaya, ini sudah kedua kalinya kamu melakukan kesalahan.” Jawab Edward yang tengah duduk bersandar di atas sofa. Satu tangannya menumpang pada pinggiran sofa, dan satunya lagi ia gunakan untuk mengusap dagunya.


Entah darimana Edward mendapatkan ide tidak waras ini. Hingga ia totalitas dalam melakoni perannya.


“Saya tidak akan mengulanginya lagi, pak. Saya janji.”


“Kalau saya tidak percaya? Saya akan mengirim surat panggilan kepada wali kamu. Supaya mereka tau kelakuan kamu.”


Kepala Laura menggeleng, ia kemudian mendekat ke arah sang kepala sekolah jadi-jadian itu. Dan mengambil tempat, tepat di samping kanan pria dewasa itu.


“Pak, saya mohon. Jangan beritahu keluarga saya. Saya akan melakukan apa saja. Asal keluarga saya tidak tahu.”


Tangan Laura dengan berani meraih tangan Edward. Dan menggenggamnya.


“Kamu merayu, saya?”


Astaga ingin sekali Laura memukul pria dewasa itu, namun ia sadar itu berdosa.


“Tidak, pak. Mana berani saya merayu bapak.” Tangan Laura pun mengusap tangan Edward yang ia genggam. Dan sesekali merematnya.


“Saya mohon, pak. Jangan beritahu keluarga saya. Saya janji, tidak akan mengulanginya lagi.” Wajah wanita muda itu mendekat ke arah wajah Edward.


“Saya akan melakukan apapun yang bapak inginkan.” Bisiknya.


Edward menyeringai. Ia kemudian meraih pinggang Laura, dan membawa tubuh semampai itu duduk di atas pangkuannya.


“Aku akan mempertimbangkannya, tergantung dengan apa yang kamu lakukan untuk ku.”


Mereka berdua pun saling beradu bibir. Yang awalnya lembut, lambat laun semakin dalam dan menuntut.


Tangan keduanya pun tak tinggal diam. Saling memberi sentuhan pada anggota tubuh lawan jenisnya. Hingga tanpa di sadari, semua kancing seragam yang Laura gunakan sudah terbuka.


“Ternyata kamu murid yang sangat nakal.” Ucap Edward sembari meremat salah satu bantal kenyal kesukaannya.


“Aw.”


“Sakit? Maafkan aku, sayang.” Edward merasa khawatir.


Laura pun terbahak melihat ekspresi wajah suaminya.


“Dasar gadis nakal.”


Edward pun membawa tubuh sang istri ke dalam kamar. Dengan masih saling menyatukan bibir mereka.

__ADS_1


“Aku mencintaimu.” Ucap pria itu disela pagutan mereka.


“Aku lebih mencintaimu.” Balas Laura.


Sampai di dalam kamar, pria itu membanting tubuh sang istri. Untung saja, kasur ranjang hotel itu sangat empuk, sehingga Laura tidak merasakan sakit saat tubuhnya mendarat.


Edward satu persatu melepas kain yang menutupi tubuh kekarnya. Setelah polos, ia pun menaiki ranjang, dan mengukung tubuh sang istri.


Tangan Laura berinisiatif melepaskan seragam yang ia gunakan. Namun sang suami menahannya.


“Biarkan seperti itu. Aku ingin merasai seorang gadis SMA.”


Pipi Laura mendadak panas mendengar ucapan sang suami. Entah kenapa, ucapan Edward membuat sesuatu di dalam dirinya menjadi tidak sabar ingin di rasai oleh pria itu.


Edward pun memulai sesuatu yang harusnya sudah ia mulai sejak tadi. Di awali dengan mengecup kening sang istri. Kemudian berpindah turun, terus turun hingga tepat dimana kesenangan itu berasal.


SKIP.


*****


Hampir satu jam Edward merasai tubuh sang istri, tidak hanya di kamar. Pria itu juga melakukannya di ruang tamu kamar hotel bertipe President Suite, itu.


Pria itu benar-benar mewujudkan fantasinya. Merasai Laura dengan menggunakan seragam SMA. Ia merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan. Karena sebelumnya ia selalu merasa kurang, dan selalu ingin lagi dan lagi, sampai sang istri benar-benar kalah.


“Pi. Perutku sakit.” Ucap Laura merintih di sela guncangan yang Edward berikan.


Pria itu memperlambat lajunya. Ia memang tidak bisa mendengar Laura kesakitan.


Kepala Laura menggeleng. Wajah wanita itu terlihat meringis menahan sakit. Melihat itu, Edward pun melepaskan diri.


Benda keras tak bertulangnya masih berdiri kokoh, namun ia merasa tidak tega melihat sang istri.


Pria itu berlalu ke arah dapur. Kemudian mengambil air mineral untuk Laura.


“Minumlah, sayang.”


Laura menerima botol itu, kemudian meneguk isinya hingga tandas. Ia menegakkan kembali posisi duduknya.


“Aw.” Tangannya refleks memegang perut.


“Sayang, apa sakit sekali?” Tanya Edward semakin khawatir.


“Ini seperti kram, pi.” Tunjuknya pada perut bagian bawah.


Dengan sigap Edward meraup tubuh sang istri, membawanya kembali ke kamar. Meletakan dengan hati-hati tubuh lelah sang istri di atas ranjang, pria itu kemudian melepaskan seragam SMA yang Laura gunakan.


“Ganti pakaian ya. Aku akan meminta dokter datang kemari.” Laura mengangguk. Ia menurut saja apa yang suaminya katakan.


Edward juga melakukan hal yang sama. Ia kembali menggunakan celana bahan dan kemejanya. Kemudian menghubungi dokter yang bertugas di hotel itu, untuk datang ke kamar yang ia tempati.

__ADS_1


Sambil menunggu sang dokter, Edward merapikan sedikit kekacauan yang ia buat dengan Laura tadi. Ia tidak mau orang lain berpikiran yang tidak-tidak setelah melihat kondisi kamar yang mereka tempati.


“Apa masih sakit?” Tanyanya mendekat ke arah sang istri.


Laura hanya mengangguk. Edward pun duduk di samping wanita itu.


“Apa aku bermain terlalu kasar?” Ucapnya penuh dengan kekhawatiran.


“Tidak, pi. Papi bermain seperti biasa. Aku tidak tau ini kenapa?”


Edward pun merangkul bahu sang istri. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan di atas kepala wanita itu. Sembari ikut mengusap perut sang istri.


Bel pintu depan berbunyi. Edward bergegas membuka pintu. Seorang dokter wanita datang bersama seorang perawat.


“Tolong periksa istriku, dok.” Ucap Edward saat sang dokter dan perawat itu memasuki ruang tamu. Ia mengarahkan kedua wanita berbeda usia itu memasuki kamarnya.


Dokter wanita itu pun mendekat ke arah ranjang. Laura menyambut dengan senyum.


“Maaf ada keluhan apa, nyonya?” Sang dokter berucap sopan, karena tadi Edward menyebut wanita itu dengan istrinya.


“Perut saya tiba-tiba kram, dok.”


Dokter itu mengangguk. Ia pun mulai memeriksa. Sang perawat membantu mengecek tekanan darah Laura.


“Apa pekan ini jadwal periode anda, nyonya?”


Laura berpikir sejenak, ia bahkan lupa, tanggal berapa tamu bulannya datang.


“Saya lupa, dok. Tetapi biasanya awal bulan.”


Dokter wanita itu mengangguk. Ia menyimpan kembali alat yang ia gunakan untuk memeriksa Laura.


“Ada apa dengan istriku, dok?” Tanya Edward yang semakin khawatir.


Dokter wanita itu tersenyum. Ia melihat pemilik hotel itu begitu cemas dengan keadaan istrinya.


“Pak Edward, saran saya sebaiknya bapak mengajak nyonya Hugo untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan. Karena, tidak ada yang salah dengan nyonya. Kemungkinan istri anda sedang mengandung, pak.”


“Benarkah?” Tanyanya tak percaya.


“Ya, dan sebaiknya bapak membawa nyonya segera. Agar mendapatkan penanganan dengan tepat. Takutnya nanti terjadi sesuatu dengan janin, jika benar nyonya sedang mengandung.”


Edward mengangguk. Ia teringat sesuatu. Semenjak datang bulan terakhir kali saat malam pertama mereka, Laura tidak pernah lagi mengalami periode nya.


“Baiklah, dok. Aku akan membawa istriku sekarang.”


.


.

__ADS_1


.


T. B. C


__ADS_2