
Suasana ruang makan di penthouse mewah itu, mendadak menjadi mencekam bagi Laura.
Ia yang tadi membayangkan akan makan dengan tenang masakan buatannya, kini mendadak tidak bernafsu makan.
‘Apa dia akan ke kamar Edward setelah ini? Astaga, barang-barangku ada disana.’
“Kenapa kamu melamun, Laura? Ayo makan. Masakan mu enak. Pantas saja Ed jadi jarang pulang sekarang.” Ucap Felisha terkekeh. Ia menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya.
‘Nyonya, apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu menyindirku? Apa kamu tau sesuatu tentang aku?’
Gadis itu benar-benar ingin menghilang dari tempat itu sekarang juga.
Ia merasa seperti sedang di sidang. Gadis itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya tanpa ingin memasukkan ke dalam mulutnya.
“Berapa usiamu, La? Aku panggil La saja, tidak apa-apa, kan?” Felisha berusaha mencairkan ketegangan yang terjadi.
Ia tau, gadis yang duduk bersamanya ini pasti sedang di landa keterkejutan saat ini. Dan lagi, panggilan nyonya Hugo yang Laura berikan kepadanya, membuat Felisha ingin mengerjainya.
“Tidak apa-apa, nyonya.” Sebisa mungkin Laura bersikap biasa saja. “Aku berusia 21 tahun.” Ucapnya lagi.
Felisha menganggukkan kepalanya.
“Ayo makan, kenapa kamu hanya mengaduk-ngaduk begitu?”
“I-iya, nyonya.”
Setelah menghabisi makan siang buatan Laura, kini Felisha tengah berada di ruang tamu. Ia duduk dengan anggun di atas sofa yang di peruntukan hanya untuk satu orang saja.
Laura membuatkan teh hangat untuk tamunya. Tamu? Entahlah, wanita dewasa ini bisa di bilang tamu atau tuan rumah. Gadis itu berusaha untuk tidak perduli.
“Silahkan, nyonya.” Laura meletakkan sebuah cangkir di hadapan Felisha.
“Terimakasih, La. Ayo kamu duduk, kita mengobrol sebentar.”
“Tetapi, nyonya—,”
“Jangan membantah, La. Aku tidak suka.”
‘Suami dan istri yang serasi, tidak suka dibantah.’
Gadis itu pun mendudukkan bo*kongnya di sofa lainnya.
Saat hendak mengobrol, ponsel di dalam tas mahal milik Felisha berdering. Dengan cepat wanita itu mengambil benda pintar itu, untuk menjawab panggilan.
“Sebentar, La. Kamu tunggu disini. Ini dari mamanya Edward.”
Laura hanya menganggukkan kepalanya.
“Hallo, ma? Ada apa?” Ucap Felisha saat ponsel telah menempel di telinganya.
“Aku sudah ada di penthousenya Ed, ma.” Wanita itu diam, memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk berbicara.
“Iya, Ed tidak dirumah. Aku hanya mampir sebentar untuk istirahat. Setelah ini aku akan ke kantornya untuk memberi kejutan.”
Laura merasa dirinya seperti seekor nyamuk disana.
“Dimana Devan? Aku ingin bicara dengannya.”
‘Anak kecil itu.’
“Sayang, mama sekarang ada di tempat papa. Iya sayang, kamu baik-baik dirumah ya sama nenek, nanti malam mama pulang.”
‘Jadi anak kecil itu benar adalah putra mu, Ed.’
Laura benar-benar tidak tahan, mendengar percakapan ibu dan anak itu, membuat hatinya semakin kacau.
“Mama tidak tau sayang, apa papa mu akan ikut dengan mama nanti malam. Kamu tidak perlu menunggu, oke?”
__ADS_1
‘Maafkan aku, nak. Setiap malam kamu pasti menantikan kedatangan papamu.’
“Bye, sayang. I love you.”
Felisha memutuskan panggilan itu, ia menyimpan kembali ponselnya kedalam tas mahalnya.
“Maaf, La. Tadi itu putraku. Dia tidak bisa lama-lama jauh dariku.”
“Namanya juga anak-anak, nyonya.” Ucap Laura menimpali.
“Iya, dia putra kesayanganku dan Ed—, Felisha menghela nafasny kasar, “Dan Ed juga sangat menyayanginya.” Ucap Felisha getir. Pandangannya menerawang jauh.
‘Anda pasti berat membesarkan putra sendirian, sedangkan suamimu bersenang-senang disini.’
Laura bisa menangkap adanya kegetiran di dalam ucapan wanita dewasa itu.
“Oh ya, kamu berasal darimana, La?” Felisha mengalihkan pembicaraan. Ia kembali pada tujuan utamanya. Menyelidiki gadis yang bernama Laura ini.
“Aku berasal dari panti asuhan Angel Heart, nyonya.” Laura menyebutkan nama panti asuhan orang tuanya.
‘Panti asuhan, Angel Heart?’
“Maafkan aku, La. Aku tidak bermaksud—,” Felisha sengaja menjeda ucapannya.
“Tidak apa-apa nyonya, itu panti asuhan yang di bangun oleh orang tuaku.” Ucap Laura tersenyum.
‘Jadi dia anak pemilik panti asuhan itu?’
“Kenapa kamu bekerja? Bukannya di usiamu sekarang, kamu harusnya masih kuliah?”
“Aku masih kuliah, nyonya. Tinggal 1 tahun lagi aku lulus.” Gadis itu menghela nafasnya. “Tetapi, aku juga harus membayar hutang yang di tinggalkan oleh mendiang ibuku. Supaya panti asuhan itu tidak di ambil orang.” Jawab Laura panjang lebar.
“Kamu anak yang sangat baik, orang tuamu pasti bangga padamu.”
‘Tetapi sayangnya, aku mendapatkan uang itu dengan cara yang salah nyonya.’
Hening sekita menyelimuti ruang tamu itu. Keduanya sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing.
“Maaf nyonya, apa anda ingin beristirahat di kamar, E-maksudku tuan Hugo?” Laura teringat akan barang-barangnya yang berada di kamar Edward.
‘Gadis ini, bahkan memanggil nama kepadamu, Ed.’
“Memang kenapa?”
“I-itu, kamar tuan belum siap, tadi aku sedang membersihkannya, tetapi tiba-tiba perutku lapar.” Jawab gadis itu panjang lebar.
Felisha hanya menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, aku permisi sebentar membereskan kamar tuan, nyonya.”
Laura bangkit dari duduknya, hendak bergegas ke lantai atas.
“Tidak perlu, La. Aku akan ke kantor Ed sekarang. Aku ingin memberi dia kejutan. Aku sangat jarang mau ke kota.” Wanita itu juga ikut bangkit dari duduknya.
“Bahkan ia pernah mengajakku tinggal disini bersama Devano dan mama, tetapi aku malas.” Felisha melanjutkan ucapannya.
‘Jika anda tinggal disini, mungkin aku tidak akan disini sekarang, nyonya Hugo.’
Wanita itu berjalan ke arah pintu, dan Laura hanya bisa mengekor di belakang layaknya seorang asisten rumah tangga.
“Aku pergi dulu. Lain kali kita mengobrol lebih banyak lagi.” Felisha berbalik menghadap ke arah Laura dan mengusap lembut bahu gadis itu.
‘Mungkin tidak akan ada lain kali, nyonya.’
********
Sepeninggal Felisha, Laura bergegas menuju kamar Edward. Tujuannya sekarang adalah mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
Gadis itu mengambil koper kecil yang dulu ia bawa kesini. Tetapi tidak muat, sekarang pakaiannya sudah bertambah.
Ia melihat ke pojok kiri ruang ganti, disana berderet beberapa koper, dari ukuran kecil, hingga ukuran besar.
Melihat barang-barangnya, Laura pun mengambil koper yang berukuran sedang.
Satu persatu pakaiannya, ia masukan kedalam koper. Dari barang yang ada di dalam lemari, sampai barang yang ada di meja rias. Tidak lupa juga obat pencegah kehamilannya.
Laura juga mengemasi buku-buku dan peralatan belajarnya, yang berada di meja belajar di sudut kamar Edward.
Tidak lupa gadis itu meletakkan tiga kartu pemberian Edward di atas meja nakas.
Setelah dirasa semua barangnya telah masuk ke dalam koper dan juga ransel kuliahnya. Gadis itu pun memutuskan untuk pergi dari penthouse mewah itu.
“Bisa saja kan, nanti malam dia pulang ke sini membawa istrinya. Aku tidak mau melihat dia bermesraan di depan mataku.”
Laura menutup dan mengunci pintu kamar mewah yang selama sebulan lebih ini ia tempati.
Gadis itu menuruni tangga menjinjing koper dengan kedua tangannya, dan ransel yang ia gendong di punggungnya.
Laura menyapukan pandangannya ke seluruh ruang tamu saat ia sudah berada di ujung tangga.
“Selamat tinggal, Ed. Aku tidak ingin merusak rumah tanggamu. Aku janji, suatu hari nanti aku akan kembali, untuk mengembalikan uang yang kamu berikan kepadaku.”
.
.
.
T. B. C
Laura mengegeret kopernya sambil nyanyi.
“Maafkan ku harus pergi, ku tak suka dengan ini. Aku tak bodoh seperti kekasihmu yang lain…
Terimakasih oh Tuhan, tunjukkan siapa dia… maaf kita putus… so Thank you so much… I’m sorry Good bye….. 🎶🎶
😅😅😅😅
Woy jangan pada nyanyi woy… 🤸♀️🤸♀️
—————
Yang merasa cerita ini berbelit-belit, boleh di tinggalkan kok. Aku tidak memaksa kalian untuk mengikuti.. mohon maaf atas kekurangan ku, aku baru belajar nulis novel.
Novel ini baru 50 bab, menurutku kalau sampai 100 bab, misterinya belum terungkap itu baru namanya berbelit-belit.
Yah,, namanya juga ‘Penilaian orang berbeda-beda.’
Terimakasih untuk kritik dan sarannya. Akan aku jadikan pelajaran di kemudian hari.
————
Jangan lupa
Like
Komen
Vote atau Gift
TerimaGaji
I LOVE YOU TILL THE END
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1