TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 80. Selamat Bos!


__ADS_3

“Bangun, Ed. Aku lapar.” Laura menusuk-nusuk pipi pria dewasa itu. Namun, sang empunya masih setia memejamkan mata.


“Ayolah, tuan Hugo. Bangun.” Entah bercanda atau serius, tetapi pria itu tetap tak bergeming.


“Baiklah, kalau kamu tidak mau bangun. Aku bangun sendiri saja.” Laura melepaskan dekapan tangan Edward pada pinggangnya.


“Mau kemana kamu?” Suara maskulin yang terdengar serak itu, mencegah Laura untuk bangun.


“Aku lapar. Aku mau keluar mencari makan.” Gadis itu menjawab ketus. Ia tak menghiraukan pria dewasa itu. Memilih bangkit dengan tubuh polosnya. Dan berlenggang menuju kamar mandi.


“Tunggu aku, Laura. Jangan berani-berani kamu keluar malam tanpa aku.” Edward menyergap tubuh semampai itu, kemudian memanggulnya seperti karung beras.


“Aku lapar, dasar pria tua me*sum, kamu hanya ingin tubuhku, tetapi tidak mau memberiku makan.” Gadis itu meronta di atas bahu pria itu.


“Jangan marah, baby. Aku lelah. Tiga kali yang tadi itu benar-benar menguras tenagaku.”


Perdebatan masih terjadi di dalam kamar mandi. Edward tidak henti-hentinya menggoda gadis itu.


“Baby, mau makan apa malam-malam begini?” Tanya Edward saat mereka sudah berada di dalam mobil. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“Cari saja pedagang kaki lima, Ed. Pasti ada yang masih jualan. Aku benar-benar lapar. Kamu sungguh tega kepadaku.” Suara gadis itu terdengar sendu. Membuat Edward yang mendengarnya merasa bersalah.


“Maafkan aku, sayang.” Tangan kiri pria itu terulur mengusap kepala gadisnya.


Kepala gadis itu mengangguk kecil.


Hanya 10 menit berkendara, Edward telah menemukan lapak penjual pecel lele.


Mata Laura berbinar, melihat warung tenda kesukaannya. Dengan langkah riang, gadis itu memesan beraneka ragam pecel, mulai dari ayam, tahu, tempe, terong goreng tentu saja tanpa lelenya.


“Kamu pesan apa, Ed?” Tanya gadis itu.


Edward tidak percaya mendengar pertanyaan sang gadis. Laura sudah memesan begitu banyak. Tetapi masih bertanya dia memesan apa? Apa gadis itu tidak memesan untuknya juga?


“Baby, apa salah satu yang kamu pesan itu bukan untukku?” Pria itu melontarkan pertanyaan.


Sebuah gelengan kepala Laura berikan sebagai jawaban.


“Hah.. Aku pesan tahu dan tempe saja.” Ini sudah tengah malam. Pria itu tidak mau makan, makanan yang terlalu berat.


Gadis itu mengangguk, kemudian menambah daftar pesanannya.


Beberapa saat kemudian, Edward menelan ludahnya kasar. Ia tak percaya melihat apa yang tersaji di hadapan Laura.


Ada daging ayam, tempe dan tahu goreng, terong goreng dan juga nasi. Jangan lupakan sayuran mentah sebagai lalapannya.


“Baby, kamu yakin bisa menghabiskan semua itu?” Edward menunjuk hidangan di atas meja.


Laura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Aku lapar.” Gadis itu mendekatkan bibirnya pada telinga Edward.


“Kamu menguras semua tenagaku, tuan Hugo.” Bisiknya tepat di telinga pria itu, sembari memberi terpaan angin dari dalam bibirnya.


“Jangan menggoda ku, Laura. Atau aku akan menghabisimu disini.” Pria itu mendelik ke arah Laura.

__ADS_1


Gadis itu bergidik ngeri membayangkan ia terbaring di atas meja yang saat ini penuh dengan makanan kesukaannya.


“Ayo kita makan, papi sayang. Aku lapar.” Laura buru-buru mencelupkan tangannya ke dalam mangkok berisi air dan irisan jeruk nipis. Kemudian ia menarik piring nasi ke hadapannya.


“Papi?” Edward menyeringai mendengar itu.


Mereka pun menikmati makan malam, di tengah malam itu dengan tenang.


*****


Keesokan harinya, Johan telah menunggu sang atasan dengan perasaan cemas.


Pria berusia 30 tahun itu sudah berulang kali menghubungi sang atasan sejak kemarin sore, tetapi ia tidak mendapat jawaban.


Menunggu Edward tepat di depan pintu ruangannya, Johan sedikit was-was. Ini sudah 30 menit berlalu dari jam masuk kantor, tetapi sang atasan belum juga muncul.


Mengusap wajah gusarnya dengan tangan kanannya, Johan memutuskan untuk menghubungi Edward.


“Jangan panik, sayang.” Monica berbicara dari meja kerjanya. Sedari tadi ia melihat sang kekasih seperti setrika, berjalan mondar-mandir, sesekali berhenti, dan kembali bergerak.


“Aku tidak tenang, sayang.” Pria itu menempelkan ponsel di telinganya.


Namun lagi-lagi, panggilan itu tidak terjawab.


“Astaga, bos. Kemana dirimu?” Johan kembali mengotak-atik benda pipih pintarnya. Kali ini ia menghubungi Laura. Mungkin gadis itu tau, kemana kiranya sang atasan.


“Hallo, selamat pagi pak Jo?” Suara Laura menyapa terdengar riang.


“Selamat pagi, nona. Nona sedang dimana? Apa sedang bersama bos?” Johan langsung bertanya pada intinya.


“Astaga.” Johan terlonjak mendengar ucapan Laura.


Sang atasan yang ia khawatirkan ternyata baru saja berangkat ke kantor.


“Ada apa, pak Jo?”


“Ah, tidak apa-apa nona, ini sudah lewat jam masuk kantor. Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan bos.” Johan menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang tersedia di depan meja kerja sang kekasih.


“Maafkan aku, pak Jo. Aku yang membuat dia terlambat bangun, pagi ini.” Gadis itu tergelak. Namun sekejap kemudian tawanya menghilang.


“Ya sudah, nona. Maaf telah mengganggumu.” Johan memutus panggilan itu. Ia memijat pelipisnya yang tidak sakit.


‘Mereka sudah seperti pengantin baru saja.’


“Bagaimana, sayang?” Sekretaris Edward itu kembali bertanya.


“Dia dalam perjalanan.”


Beberapa saat kemudian, pintu lift yang berada di sebelah kiri dari meja kerja Monica, terbuka. Menampakkan pria tampan dengan setelan kerja berwarna gelap. Tak lupa dengan kaca mata hitam yang ikut menyempurnakan penampilannya pagi ini.


“Lihatlah, sayang. Brad Pitt menuju kemari.” Ucap Johan sembari mencebikan bibirnya.


“Selamat pagi, bos.” Ucap sepasang kekasih itu serempak.


Edward berhenti di tengah mereka. Ia melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi menempel di pangkal hidungnya.

__ADS_1


“Apa kalian sudah siap untuk menikah?”


Johan dan Monica saling pandang mendengar pertanyaan dari sang atasan. Kedua bawahan Edward itu mengangguk dengan kompak.


“Kami sangat siap, bos.” Ucap Johan.


“Kalau begitu, persiapkan dari sekarang. Minggu depan aku akan menikah, setelah itu kalian bisa menyusulku.”


Bukannya bahagia mendengar perkataan sang atasan, sepasang kekasih itu justru menganga tak percaya.


Atasan mereka akan menikah, dan itu minggu depan? Dengan siapa?


Johan bergegas menyusul Edward yang kini tengah berjalan menuju ruangannya.


“Bos, tunggu.”


Johan ikut masuk saat pintu hampir tertutup kembali.


“Bos akan menikah minggu depan? Dengan siapa?”


Edward menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang asisten.


“Tentu saja dengan Ara. Siapa lagi?” Kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi kebesarannya.


“Apa nyonya Hugo sudah setuju?” Johan ikut mengambil tempat duduk di seberang sang atasan.


Ia lebih tertarik mendengar cerita Edward daripada ijin menikah yang telah pria itu berikan kepadanya.


Edward menyeringai. Hal itu membuat Johan bergidik ngeri.


‘Apa bos kemasukan penunggu gedung ini?’


Pria itu mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.


“Mama sangat setuju. Bahkan, dia sudah merencanakan perjodohan kami sebelum aku dan Ara bertemu.” Edward menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Senyum terus saja terkembang di wajah pria tampan itu.


“Benarkah?” Mata Johan berbinar mendengar ucapan sang atasan.


Pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri sang atasan.


“Selamat, bos. Akhirnya bos akan menikah juga.” Johan setengah membungkuk dan merangkul bahu atasannya.


Edward membalas rangkulan itu. Ia juga sedang bahagia sekarang.


“Pantas saja, dari kemarin panggilan ku tak terjawab satu pun, pagi ini juga terlambat datang ke kantor. Bos pasti sedang bekerja keras untuk menghasilkan penerus keluarga Hugo, kan?”


Johan kembali mengambil tempat duduk di depan Edward.


“Kamu memang selalu tau tentang aku, Jo.”


.


.


.

__ADS_1


T. B . C


__ADS_2