TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 74. Kamu Menolak Lamaranku?


__ADS_3

Tidak ada yang tau akan jalan kehidupan manusia. Begitu juga Edward dan Laura. Mereka tidak pernah meminta Tuhan untuk mempertemukan mereka.


Sebelum bertemu Laura, kehidupan Edward mungkin berjalan biasa saja. Ia hanya akan menghabiskan waktunya dengan bekerja. Berkutat dengan banyaknya dukomen yang harus ia periksa dan tanda tangani. Bertemu dengan klien untuk menjalin kerjasama. Dan di akhir pekan ia manfaatkan untuk menemani Devano.


Namun kini, semuanya seakan rumit. Hanya karena dia jatuh cinta kepada gadis yang usianya 14 tahun lebih muda darinya.


Kenapa sang mama baru mengatakan jika menginginkan ia menikah dengan gadis pilihannya, di saat hati Edward telah penuh terisi oleh Laura?


Kemana saja sang mama saat Edward belum mengenal Laura? Kenapa baru sekarang mamanya menyatakan niat supaya Edward segera menikah?


Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala pria berusia 35 tahun itu.


Andai masih ada David, sang sahabat sekaligus iparnya, ia mungkin tidak akan sepusing ini. Edward bisa saja meninggalkan kedudukannya sebagai pimpinan Hugo Group, dan menyerahkan kepada sang adik ipar.


Namun kini, tinggal ia, pria satu-satunya di keluarga itu. Beban dan tanggung jawab ada di pundaknya.


Sekarang ia semakin bingung, apa yang akan terjadi dengan bisnis keluarganya jika ditinggalkan?


Ia telah mengutarakan niatnya untuk membawa Laura pergi, dan memulai hidup baru mereka.


“Bos.” Suara Johan menginterupsi lamunan sang atasan. Dengan malas, Edward menoleh ke arah sang asisten.


“Apa ada masalah, bos?” Johan mendekat dan duduk di seberang sang atasan.


Yang di tanya hanya diam. Ia hanya menggoyangkan ke kiri dan ke kanan kursi kebesarannya.


“Bos—,”


“Jo.. apa yang kamu lakukan, jika ibumu tidak merestui hubunganmu dengan Monica?”


Johan menganga mendengar pertanyaan dari sang atasan. Bagaimana bisa ia tau ibunya setuju atau tidak, sedangkan wanita yang melahirkannya itu telah tiada?


“Bos, aku tidak tau. Apa mendiang ibuku setuju atau tidak, jika aku berhubungan dengan Monica.” Johan mengedikan bahunya. Ia bergidik ngeri, membayangkan sang ibu datang menentang hubungan mereka.


“Kenapa bos bertanya seperti itu?” Tanyanya menyelidik.


“Hah.” Edward menghela nafasnya pelan. Ia kini tengah duduk bersandar, dengan tangan kanan menopang dagunya.


“Mama ku ingin aku menikah dengan wanita pilihannya.” Ucap pria itu frustrasi.


“Lalu?”


“Tentu saja aku menolak. Aku sudah mempunyai Laura. Gila saja jika mau berkenalan dengan gadis lain.” Ucapnya lagi.


Johan merasa bosnya ini sudah begitu cinta mati dengan Laura, sampai-sampai berkenalan dengan wanita lain pun tidak mau.


“Bos, kenapa tidak turuti saja keinginan nyonya Hugo, berkenalan saja dulu dengan gadis itu. Lalu katakan jika bos sudah punya kekasih. Minta gadis itu berbicara kepada nyonya Hugo. Mungkin semuanya akan selesai.” Johan memberikan saran kepada sang atasan.


“Apa semudah itu, Jo? Lalu bagaimana jika mama ku tetap ingin aku menikah dengan wanita pilihannya.? Aku tidak mau meninggalkan Laura, Jo. Kamu pasti sudah tau apa yang terjadi di antara kami berdua.”


Setiap kali Edward di landa masalah, Johan adalah tempat ia bercerita. Kesetiaan sang asisten tidak perlu di ragukan lagi. Pria muda itu sangat pandai menjaga rahasia sang atasan.


Dan Johan, pria berusia 30 tahun itu, akan selalu berusaha memberikan saran dan masukkan kepada Edward. Walau terkadang saran yang ia berikan tidak masuk akal. Tetapi sang atasan akan tetap mempertimbangkannya.


“Bos, kenapa tidak kawin lari saja dengan nona?” Sebuah ide gila muncul di benaknya dan langsung ia utarakan pada atasannya.


“Maksudmu? Menikah di bawah tangan?”

__ADS_1


Johan mengangguk.


“Sejenis itu lah bos. Tetapi bos dan nona menikah di pencatatan sipil. Urusan sumpah dan janji pernikahan nanti saja setelah mendapatkan restu dari nyonya Hugo.”


Edward menimbang apa yang di ucapkan oleh sang asisten. Ada benarnya apa yang Johan ucapkan. Setidaknya ia bisa memberikan kejelasan pada hubungannya dan Laura.


“Kenapa kamu baru memberikan saran seperti itu, Jo? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja? Aku sudah terlanjur merusaknya.” Gumam pria itu.


“Belum terlambat, bos. Masih ada waktu untuk menikahi nona. Dengan begitu hubungan kalian akan lebih kuat, karena sudah tercatat di badan sipil.”


Edward menganggukkan kepalanya.


“Cari tau apa saja yang harus aku dan Laura persiapkan, Jo. Lebih cepat lebih baik.”


“Tentu, bos. Aku akan menghubungi temanku yang bekerja di kantor pencatatan sipil.”


Johan undur diri, meninggalkan sang atasan yang masih terpaku di tempat duduknya.


“Laura, sayang. Kita akan segera menikah.”


******


Sementara itu, Laura yang menjadi topik perbincangan Edward dan Johan, kini tengah bersiap menemui seseorang.


Setelah ia mengikuti pembelajaran di kampusnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang mengajak bertemu di jam makan siang. Dan gadis itupun menyanggupi.


Setelah berkendara selama 20 menit dari kampus tempat ia menimba ilmu, Laura tiba di salah satu restoran mewah yang menjadi tempat ia melakukan temu janji.


“Selamat siang, nona. Ada yang bisa di bantu?” Seorang pramusaji menyapa di depan pintu restoran bintang lima itu.


“Aku ada janji dengan nyonya Samantha. Katanya beliau sudah menungguku di dalam.” Ucap gadis itu.


Laura pun menganggukkan kepalanya. Sang pramusaji mengantar gadis itu ke salah satu meja, tempat dimana nyonya Samantha menunggu gadis itu.


“Silahkan, nona.” Pramusaji itu menujuk ke arah seorang wanita paruh baya yang duduk memunggungi pintu masuk, sesuai interuksi dari nyonya Samantha.


“Terimakasih, mbak.”


Laura berjalan mendekat ke arah meja yang telah di tempati oleh nyonya Samantha. Tampak beberapa makanan telah tersaji di atas meja dihadapan wanita paruh baya itu.


“Selamat siang, nyonya.”


“Ah, kamu sudah datang?” Nyonya Samantha berdiri dan menyambut sang tamu. Ia memeluk sebentar gadis itu.


“Ayo duduk. Kita makan siang dulu.” Ucapnya lagi.


Mereka lalu makan siang dengan tenang, tanpa ada yang berbicara. Nyonya Samantha memberikan banyak makanan di atas piring Laura.


Gadis itu enggan menolak, supaya nyonya Samantha tidak tersinggung.


Untung saja, Laura sudah terbiasa makan makanan barat, jadi ia tidak terlalu pusing saat di hadapan dengan berbagai jenis makanan itu.


“Kamu suka makanannya?” Nyonya Samantha bertanya di sela acara makannya.


Gadis itu hanya mengangguk. Ia terbiasa makan tanpa mengobrol, karena itu ajaran di panti asuhannya.


Setelah semua hidangan utama habis. Dan meja sudah bersih. Kini mereka menyantap hidangan penutup, berupa puding coklat dengan taburan kacang almon dan irisan buah strawberi.

__ADS_1


“Nyonya, hal penting apa yang ingin nyonya sampaikan kepadaku? Sampai-sampai meminta bertemu disini?”


Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. Ia penasaran, karena sang donatur mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan.


Nyonya Samantha memberikan senyum termanisnya. Wanita paruh baya itu meraih jemari Laura yang berada di atas meja.


“Aku ingin kamu menjadi menantuku, La.” Ucap nyonya Samantha tanpa basa-basi.


Laura menganga mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Seketika kepalanya menggeleng. Ia pun menarik tangannya, dan meletakkan di atas pangkuannya.


“Maaf nyonya, aku tidak bisa.” Ucap gadis itu lirih.


“Kenapa? Kamu menolak lamaranku?”


Laura menganggukkan kepalanya.


“A-aku. Aku tidak pantas nyonya.” Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia meremat jemari-jemari tangannya yang mulai berkeringat.


“Siapa yang mengatakan kamu tidak pantas? Bahkan tidak ada gadis lain yang lebih pantas menjadi menantuku, selain dirimu.”


Kepala Laura kembali menggeleng, ia teringat akan Edward. Di saat mama dari pria dewasa itu menolaknya, tiba-tiba saja ada mama dari pria lain yang meminangnya.


“A-ku, nyonya—,” suara gadis itu seakan tercekat di tenggorokannya. Bagaimana pun, kini ia bukan seorang gadis lagi. Ia tidak mau mengecewakan keluarga nyonya Samantha yang sudah begitu baik kepadanya.


“Aku tau, kamu belum pernah bertemu dengan putraku. Tetapi aku yakin, saat kalian bertemu nanti kalian akan cocok.” Ucap wanita paruh baya itu lagi.


“Nyonya, maaf. Tetapi aku sudah memiliki kekasih.”


Tidak ada cara lain, hanya itu yang terlintas di benak gadis itu untuk menolak permintaan nyonya Samantha secara halus.


“Tinggalkan kekasih mu itu. Dan jadilah menantu ku. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, La.”


.


.


.


T. B. C


Masih semangat Genks ??


Semangat dong ya.. 🤗🤗


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Gift


Yang punya IG, bisa lah follow akunku


@fivenovember_

__ADS_1


TerimaNasib 🙋‍♀️🙋‍♀️


__ADS_2